Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Seksi Saat Hamil


__ADS_3

Agam sangat kaget saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, suara sang Papa yang juga kebetulan membeli empek-empek.


"Papah." lirih Agam spontan.


Kiara menoleh ke arah sang suami heran.


"Papa? ada apa dengan Papa?" tanya Kiara.


"Oh tidak, Ayo duduk! aku mau duduk," ajak Agam.


Agam pun duduk namun membelakangi laki-laki yang dikenalnya itu.


"Banyak sekali bapak beli? Pasti buat cucu-cucunya ya?" tanya penjual empek-empek.


"Tidak Paman, aku akan memakannya sendiri, sambil mengingat kenangan masa laluku yang pahit," ucap Pak Aswin.


"Oh ..., kirain buat cucu-cucunya, emangnya Bapak jauh ya dari anak-anak? masa empek-empek sebanyak ini mau dimakan sendiri?" kepo tukang empek-empek.


"Saat ini aku sedang berusaha mencari mereka. Aku terpisah dengan mereka sudah berpuluh-puluh tahun, aku tidak bisa menemukan mereka."


"Benarkah? Apakah Bapak bercerai dengan istri bapak?" tanya tukang emlek-empek lagi kepo.


"Tidak, kami tidak pernah bercerai, namun aku kecelakaan dan amnesia selama berpuluh-puluh tahun, sekarang Aku mencari mereka. Namun aku belum menemukannya."


Kiara mendengar cerita Bapak tersebut pun kaget, kemudian menatap Agam agam mengerti bahwa sekarang Kiara bisa menebak apa yang ada di pikirannya.


"Jadi dia papamu?" bisik Kiara pada Agam.


Agam hanya mengangguk. ada ide yang keluar dari otak Kiara, tiba-tiba ..., kemudian Kiara pun sedikit bergeser dan mendekati lelaki itu, duduk di dekat sang bapak tua.


"Aku langganan empek-empek di sini, rasanya sangat enak, makanya aku selalu beli di sini, biasanya suamiku yang membelikan aku saat oulang kerja. aku sangat suka empek-empek," ucap Kiara.


Kiara sengaja ikut nimbrung di percakapan Aswin dan juga paman empek-empek.


"Benarkah? aku baru lewat sini dan aku ingin membelinya," ucap Aswin.


"Aku dengar tadi Bapak terpisah dari anak anak bapak? Apakah sekarang Bapak sangat ingin bertemu dengan mereka?" tanya Kiara.


"Iya, tentu saja, aku sangat ingin bertemu dengan mereka, saat kecelakaan itu Aku tidak sempat mengatakan maaf ku pada mereka. Karena aku banyak salah kepada mereka, untung saja aku masih diberi kesempatan untuk hidup, namun aku tidak bisa menemukan anak dan istriku, aku sudah mengirimkan identitas ku ke media sosial. Apakah mereka tidak membacanya? tapi tidak mungkin anakku tidak membacanya? secara dia kan bisnisman," ucap Aswin.


"Oh begitu ya Pak, sekarang Bapak tinggal dengan siapa?"


"Aku hanya tinggal sendirian di rumah besar itu, aku juga mengerjakan segala sesuatunya sendiri, tanpa pembantu, cuma ada satu satpam yang aku tempatkan di depan gerbang, aku ingin menikmati hari tuaku, dan sebenarnya sangat ingin menemukan anak dan juga istriku, mungkin saja sekarang anakku sudah memiliki anak yang banyak," ucapnya.


"Oh susah juga ya Pak, kalau sudah tua hidup sendirian, kenapa sampai saat ini anaknya tidak menghubungi bapak ya? Kasihan bapak sudah tua," ucap Kiara.


Bukan tanpa alasan Kiara berkata demikian, dia ingin menyentuh hati Agam agar lelaki itu mau memaafkan sang ayah, dan kembali bersama.

__ADS_1


"Iya, aku memang banyak salah lada mereka...."


"Ini Pak, punya bapak," ucap paman penjual.


"Baiklah, terima kasih banyak," ucapnya.


"Sama-sama," sahut penjual.


Setelah membayar belanjaannya Aswin pun pergi meninggalkan tempat tersebut, memasuki mobilnya namun...


"Pak... tunggu!" panggil Kkara.


"Ada apa?" Agam merasa was was.


"Aku harus mengatakan sesuatu pada bapak itu," ucap Kiara.


"Mengatakan apa? jangan kau buka rahasia kami, aki belum siap!" pinta Agam.


"Ya entah? aku merasa kasihan pada lelaki itu...."


"Ada apa Nak?" potong Aswin, yang masih menunggu Kiara mendekat.


"Sebentar."


Kiara pun berjalan mendekati Bapak itu. Dan berhenti di depan pak Aswin.


"Kenapa? Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Aswin.


Rupanya Bapak tadi setelah membayar, dia meletakkan dompetnya di atas meja, dan lupa untuk mengambilnya kembali.


"Oh, terima kasih banyak Nak," ucapnya.


"Oh iya pak, sekarang Aku sedang ngidam dan sedang hamil muda, mohon Bapak mendoakan agar kandungan saya ini sehat," ucapc Kiara.


"Oh benarkah? Selamat ya! mudah-mudahan sehat sampai lahiran ya! Sehat wal'afiat aamiin," doa Aswin untuk Kiara. Tanpa dia sadari, dia telah mendoakan calon cucunya sendiri.


"Terima kasih banyak Pak," sahut Kiara.


Kiara pun,berbalik dan akan kembali ke warung emlek-emlek.


"Tunggu Nak!" oanggil Aswin lagi.


Dia mengeluarkan uang Rp100.000 dan menyerahkan kepada Kiara.


"Ini untukmu. Kau bisa beli sesuatu kalau kau sedang mengidam san menginginkannya," ucap Aswin lagi.


"Oh ..., terima kasih banyak Pak."

__ADS_1


Kiara langsung menyambut pemberian sang mertua itu, dia sangat terharu. Sebenarnya Kalau itu bukan pemberian dari Aswin, Tentu saja dia tidak akan menerimanya. Namun karena ini akan menjadi kenang-kenangannya, uang ini akan dia simpan Dan tidak akan pernah dia belanjakan,jado dia nil.


"Sama-sama, hei anak muda, jaga istrimu baik-baik!" titah Aswin lada Rangga.


Aswin pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Kiara yang masih menatap mobil Aswin.


Kiara merasa terharu, dia tetap uang Rp100.000 itu dan air matanya pun menetes.


"Ayah, seandainya Ayahku sebaik engkau, pasti aku sangat bahagia sekarang, Ayahku ada di mana? dia pergi meninggalkan aku utang yang begitu banyak, hingga akhirnya aku sampai ke titik sekarang," batinnya.


"Sayang! sini! sudah selesai nih," panggil Agam.


Kiara pun kembali dan memperlihatkan uang Rp100.000 kepada Agam dengan menenteng-nentengnya.


"Kenapa ada uang? Apakah lelaki itu memberimu yang?" tanya Agam.


"Iya, Mertuaku memberiku uang Rp100.000, dan aku akan menyimpan ini baik-baik," sahutnya.


"Kenapa kau menerimanya?" protes Agam.


"Karena aku sedang mengandung cucu pertamanya, aku akan menyimpan ini untuknya, bukan untukku."


Agam terdiam, setelah membayar empek-empek dia pun kembali menaiki motornya.


"Ayo sekarang kita pulang!- ajak Agam.


Mereka berdua pun pulang, sepanjang jalan Agam hanya diam, sementara Kiara, sesekali dia akan menanyakan hal yang membuat Agam tersentuh hatinya.


"Bang, sebenarnya aku sangat merindukan Ayahku, Tapi aku tidak tahu dia di mana, walaupun aku sangat membencinya, namun kadang-kadang aku juga merindukannya, kita sama-sama mempunyai masa lalu yang pahit, aku ditinggalkan Ayahku dengan setumpuk hutang, sementara kau ditinggalkan ayahmu dengan wanita lain dan ibumu sakit hati yang mendalam."


"Kiara, Apakah aku harus memaafkan Ayahku?" akhirnya Agam angkat bicara.


"Tentu saja, kalau dia meninggal, pasti kau akan menyesal, walau menangis darah pun kau tidak akan bisa menemukannya. Temui lah dia selagi dia masih ada," saran Kiara.


"Tapi ..., bagaimana dengan mamah? apakah dia bisa memaafkan papah" ragu Agam.


"Kau harus menjelaskannya pada mamah, mereka kan sama-sama tua, kalau mereka meninggal mereka tidak akan bertemu lagi, ini kesempatan terakhir kalian untuk bersama lagi, untuk memperbaiki masa lalu yang pernah hancur, aku pun kalau suatu saat aku akan bertemu dan diberi kesempatan lagi dengan ayah, aku pasti menerimanya, tapi Entahlah dengan ibuku, Aku akan memberi penjelasan kepada ibu."


"Hatimu sangat baik, Aku tidak menyangka Aku mempunyai istri sangat baik sepertimu, kita mempunyai masa lalu yang sama-sama pahit.


Kiara pun mengeratkan pelukannya pada Agam.


"Sayang, nanti kalau kandunganku sudah besar, pasti sudah tidak bisa seperti ini lagi Kan?"


"Aku melihat wanita hamil besar itu seksi lho!"


"Seksi dari mananya?"

__ADS_1


"Pokoknya seksi."


****


__ADS_2