
Kesibukan terlihat di pagi ini. Fathan juga sudah bersekolah di TK ternama di kota tersebut.
"Bunda, kapan Ibu bisa jalan? Kenapa Ibu bicara mulutnya miring gitu?" pertanyaan polos Fathan saat makan.
"Sayang, Ibu lagi sakit, nanti kalau sudah sehat pasti baik lagi."
"Sayang! Di mana kaos kakiku? Aku tidak bisa menemukannya nih?"
Suara teriakan dari kamar membuat Kiara berhenti menyuapi anaknya yang sedang makan.
"Fathan tunggu ya! Bunda mau ke kamar sebentar," ucap Kiara.
Kiara pun berjalan ke kamar mendatangi sang suami. Seperti biasa, Agam memang selalu lupa di mana dia menaruh kaos kaki dan juga barang lainnya, sepertinya Kiara'lah tangan kanannya sekarang.
"Ini Bang, kan Kaos kaki emang di sini tempatnya," ucap Kiara.
"Oh iya, sekalian saja ya, ini pasangkan dasi untukku!" titahnya.
Kiara pun melilitkan Dasi di leher sang suami dengan Khusus, Agam menatap istrinya itu intens.
"Sayang, aku semakin menua, dan nanti mungkin aku benar-benar amnesia, semua benda pasti aku lupa di mana menaruhnya, apakah kau tidak bosan padaku?" tanya Agam.
"Abang kenapa sih kasih pertanyaan yang aneh-aneh kayak gitu, kita jalani saja hidup ini Bang, jangan berpikir terlalu jauh."
"Trus kalau nanti aku sudah lupa diriku, atau mungkin aku sudah pikun? Apa kamu akan menikah lagi?"
"Ish, Abang apaan sih? Nah sudah, ayo kita makan?"
Hap
Namun Agam malah merangkul pinggang sang istri. Dan membawanya mendekat.
"Jawab dulu pertanyaan ku, apa kau,akan menikah lagi?"
"Nggak."
"Masa? Kau kan masih muda? pasti masih haus kasih sayang!" sahut Agam.
"Bang, hidup itu takdir dari tuhan, sekarang aku jawab tidak! Tapi nanti kalau tuhan yang atur? Mana aku tau?" sahut Kiara.
"Bunda!" panggil Fathan dari dapur. Karena merasa sangat lama menunggu.
"Iya Sayang, sebentar, papa lagi ngomong," sahut Agam.
__ADS_1
"Bang sudah ah, Fathan mau makan lagi tuh, lepasin!" pinta Kiara.
"Sebentar, kenapa anak itu menggangguku ketika aku lagi nyaman begini?" gerutu Agam lagi.
Kiara hanya tersenyum. Dia tatap wajah sang suami yang mulai banyak kerutan di sana.
Agam mendekatkan wajahnya ke wajah sang Istri, membuat Kiara merasa malu, di usia yabg sudah tidak muda itu, Agam tetap romantis sepagi ini.
"Oooh... Papah sama Bunda pacaran ya? Pantes saja nggak perduli sana Fathan?"
Door
Kiara dan Agam segera melepas diri masing-masing.
"Sayang! Kenapa ke mari? Kata Papa tunggu kan?" ucap Agam langsung mendekati Fathan dan berjongkok.
"Kelamaan, Fathan laper, nasi Fathan saja sampai ada lalat nya, Bunda nggak balik-balik, ternyata papa yang ganggu Bunda." ucap Fathan terdengar kesal.
Kiara hanya tersenyum dan mendelik saat menatap Agam.
"Iya Sayang, ayo!" ajak Kiara.
"Gendong," ucap Fathan.
"Tadi papa ngapain minta di peluk? Dia kan udah tua?" Fathan memang ngena tuh.
"Ah,sudah, sini!"
Akhirnya Agam lah yang menggendong anak Raja tersebut. Kasih sayang yang tulus selalu dia dapatkan dari keluarga besar di rumah itu.
"Kalau begini terus, bisa-bisa jatah bermanja-manja ku sama kamu akan habis Sayang," bisik Agam di telinga Kiara saat menuju dapur.
"Abang gimana sih? Sama anak sendiri aja cemburu, apalagi sama orang!" ketus Kiara sambil tersenyum menyindir.
"Hey! Apa maksudmu dengan orang? Jangan coba-coba ya!" ancam Agam sambil melotot.
"Ha ha. Iya iya."
"Agam, Kiara. Kalian sudah makan?" sapa Mentari di dapur.
"Ini baru mau Mah, lho nasi di meja tadi mana?"
Kiara menatap meja bekas Fathan makan, piringnya sudah tidak ada.
__ADS_1
"Ooh, sudah aku buang tuh ke bak sampah, tadi dihinggapi banyak lalat," ucap Mentari santai.
"Tu kan Bun, ini semua gara-gara Papah," suara kesal Fathan menyalahkan Papanya.
"Lho kok Papa?" tanya Agam bingung.
"Tadi Fathan lagi makan, trus papa manggil Mama, jadi Fathan nggak selesai makan."
Wajah Fathan cemberut menatap sang Ayah.
"Maaf Sayang, ambil lagi yang baru," ucap Kiara.
"Nggak, aku nggak mau makan, ayo Bun, kita sekolah saja." ajak Fathan merajuk.
"Emangnya kamu ngapain manggil Kiara yang lagi suapin Fathan?" tanya Mentari heran.
"Hi hi, tadi nyari kaos kaki dan pasangin dasi Mah," sahut Agam.
"Begitu saja minta di layanin, istrimu itu capek urus anak, belum lagi sekarang kamu nggak mau makan masakan orang lain, jadi suami itu harus pengertian, Kiara itu capek!" ketus Mentari, menatap sang Anak kesal. Secara sekarang Mentari lebih menyayangi Fathan dari pada Agam.
"Mah, kenapa Mamah seperti memperlakukan aku seperti menantu?"
"Iya emang! Loe itu menantu gue, ayo Fathan, kita makan di luar! mau makan apa? Biar Nenek beliin?" bujuk sang Nenek.
"Iya Nek, Bun, Fathan dama nenek saja berangkatnya."
"Oooh? Jadi Bunda di tinggal nih?"
"Iya, sana sama Papah! biar papah nggak merajuk kaya Fathan, pacaran terus!"
"Ha ha ha, dasar anak ini!" ucap Agam merasa lucu namun greget.
Nek
Mampir yuk di
Nikahi Aku, Ustadz
Buat bacaan bulan puasa
Biar nggak mengurangi pahala puasa, jangan baca yang hot hot ya!
__ADS_1