
Alex sangat kaget saat melihat wajah ponakannya itu kini babak belur, dia merasa takut dan juga kasian, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, semua ini karena dia yang melakukannya.
"Tuan, tolong lepaskan, lepaskan dia!" ucap Alex.
Bodyguard itu pun melepaskan Agam, sehingga Agam pun kembali terjatuh ke tanah.
"Sebaiknya kalian pergi tuan tuan Oh ya, jangan lupa kau untuk transfer uang itu secepatnya kepadaku!"
"Baiklah. Kami akan pergi."
Mereka pun pergi meninggalkan warung tersebut. sementara Alex memanggil taksi dan menyuruh Paman taksi untuk membawa Agam pulang.
"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini, aku kalah berjudi Agam, dan aku mempunyai hutang yang sangat banyak," ucap Alex.
Agam berusaha untuk bangun, namun dia tidak bisa.
mata Agam pun tampak sesekali ditutupnya dengan keras, karena merasa berkunang-kunang, setelah Alex memanggilkan taksi Alex pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Agam dimasukkannya ke dalam taksi dan dibawa oleh Paman taksi menuju alamat Agam. Sepanjang jalan Agam merasa kesakitan, badannya terasa remuk, Agam pun sudah sampai di halaman rumah mewahnya. saat berhenti di depan gerbang. Paman satpam pun mendekati mobil taksi yang berhenti.
"Maaf, ada apa Pak?" tanya Pak paman satpam kepada Paman sopir.
"Itu Tuan Anda ada di belakang!" ucapan sopir.
__ADS_1
Paman satpam segera menengok ke dalam alangkah kagetnya dia saat melihat Agam berbaring di bangku belakang sopir.
"Tuan Agam?"
Segera Paman sopir pun membuka pintu dan membantu Agam untuk bangun, Paman supir kini sudah memapah Agam membawa masuk ke gerbang.
"Maaf, ongkos taksinya belum Pak!" teriak Paman sopir.
"Oh benarkah? Maaf sebentar aku akan mengambilkannya ke dalam, dengan istri beliau."
Agam pun di bawa masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama dia kembali keluar membawa uang dan menyerahkan uang ongkos taksi, kepada Paman sopir.
Sementara di dalam rumah, Kiara dan Ny.Mentari sudah datang, mereka sangat histeris melihat tubuh Agam babak belur.
Sementara sang mertua lebih histeris lagi. Bahkan dia menangis dan mengelus-elus tubuh Sang anak.
"Agam! Ada apa Nak? Kenapa kamu begini nak? Siapa yang telah menyakitimu? Siapa yang telah melukaimu seperti ini? Ayo katakan!" ucap sang ibu sambil terus menangis.
"Pam-an Al-ex mah. Pa-man Alex... yang... melakukan ....semua... ini... kita bangkrut ...kita sekarang bangkrut..
Mah,... kita tidak... punya apa-apa.... lagi... Mah rumah... ini... pun sebentar lagi ....pasti akan ...diambil oleh mereka... semua sudah habis... ma...." ucap Agam.
"Apa Mas? apa yang kau katakan? Bagaimana bisa? bagaimana bisa kita bangkrut? Kita kan punya perusahaan yang banyak? punya uang? kenapa kau bisa mengatakan bangkrut?"
__ADS_1
"Clara! Kau diam dulu! dengarkan Agam bicara."
Ny. Mentari kesal dengan ucapan menantunya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mempertahankan perusahaan milik papa, aku tidak bisa bertahan. semuanya... semua berkas-berkas telah dijual Paman Alex, kepada pembisnis lain, mah. kita tidak bisa apa-apa lagi sekarang! kita tidak punya apa-apa lagi sekarang mah!" ucapnya.
"Sayang... jangan khawatirkan itu, sekarang ayo kita berobat!" ucap mamahnya.
"Mas! jangan bercanda Kau! Bagaimana mungkin Perusahaan kita yang sangat besar yang punya cabang dimana-mana bisa bangkrut? kita ini orang terkaya mas! tidak mungkin semudah itu kita bangkrut. Aku tidak akan percaya Mas, kau ingin menipuku?" ketus Clara.
"Jaga omongan mu! Kenapa kau tidak sopan kepada suamimu# Lihatlah! dia sedang terluka parah, sahut mamahnya.
BBang. Tidak usah memikirkan perusahaan, ataupun rumah ini. sekarang ayo kita berobat!" ajak Kiara.
"Ya Kiara, terima kasih, tapi aku tidak bisa memberikanmu apa-apa, aku sekarang tidak punya apa-apa Kiara," ucap Agam merasa sangat lemah.
"Tidak mungkin! tidak mungkin semua ini!" ucap Clara.
Clara pun pergi meninggalkan mereka dan naik ke atas loteng, entah apa yang akan dia lakukannya, apa mungkin dia akan pergi dari rumah itu dan kembali menjalani perselingkuhannya dengan Han.
Bersambung
__ADS_1