
Clara sudah sampai di rumah, dia tersenyum Saat memasuki rumah tersebut, kemudian dia berjalan ke dapur dan membuat satu cangkir kopi dan membubuhkan bubuk yang tadi dia beli dari Apotek.
"Bibi, kau di mana?" Clara berteriak memanggil Bibi, ketika rumah itu terlihat sepi.
Bibi yang berada di belakang sedang menjemur pakaian pun segera memasuki dapur.
"Iya Nyonya."
Sekarang pembantu di rumah itu cuma ada dua orang, tukang masak yang datang pagi pulang sore, dan tukang sapu, tukang cuci pakaian yang menginap di rumah itu.
"Tolong kau antarkan kopi ini ke kamar papah, karena biasanya jam segini beliau selalu ngopi," ucap Clara.
"Iya Nyonya."
Bibi pun membawa secangkir kopi tersebut ke kamar papa Aswin, tanpa curiga apapun. Bibi mengetuk pintu pak Aswin
Tok tok
"Tuan, ini kopinya," ucap Bibi.
"Masuklah! letakin saja di atas meja itu," ucap Aswin.
Bibi pun masuk dan meletakkan kopi tersebut di atas meja yang ada di ruangan itu, setelah itu Bibi segera keluar, sementara Aswin tampak sibuk dengan handphonenya di atas tempat tidur. Setelah Bibi keluar, barulah Aswin berjalan mendekati kopi dan meminumnya hingga habis.
Bibi sudah sampai di dapur, dan kembali berjalan menuju belakang rumah, untuk menjemur sisa baju. Tiba-tiba ...
"Bibi! Apakah Papa ada di kamar?"
"Iya Nyonya."
"Apakah Dia meminum kopinya?"
"Aku tidak tahu Nyonya, dia bilang letakkan saja di atas meja. Jadi aku hanya meletakkannya, dan aku langsung pergi."
"Oh baiklah, terima kasih."
Kemudian Clara pun naik ke atas, dia menempelkan telinganya di pintu kamar. Berharap ada sesuatu yang dia dengar dari dalam, namun kamar tersebut tampak sepi, Clara pun berjalan ke kamarnya sambil tersenyum.
Dia membuka lemari bajunya, mencari sesuatu yang dia perlukan. Setelah dia menemukan apa yang dia cari, dia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tampak Clara duduk di depan meja rias dan merias wajahnya. Dia tampak sibuk dengan perlengkapan mike up nya dengan mengolesnya tipis-tipis.
"Kelihatannya usiaku ini masih berusia 30 tahun, Siapa yang bisa menolak ku, hanya Agam yang bod*oh saja yang menyia-nyiakan diriku," gumamnya.
Selesai berdandan, dia pun keluar, perlahan mendekati pintu Aswin, dia mendorong pintu sang mertua pelan, saat dia masuk sang mertua tampak berbaring di ranjang dengan memeluk erat gulingnya.
Clara pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Pah, kau kenapa?" tanya manja Clara.
"Clara, tolong aku," suara rintihan sang Papa sambil terus memeluki guling itu.
"Tolong kenapa Pah?"
"Tolong panggilkan mamamu, cepat! aku sudah tidak tahan...."
Suara rintihannya begitu pilu.
"Emangnya kenapa Pah?" Clara pun mendekati sang mertua, kemudian duduk di sisi ranjang.
"Clara ...."
Aswin berbalik, alangkah kagetnya dia saat menatap tubuh polos yang hanya menggunakan lingerie tersebut, terpampang di depannya.
Clara yang masih muda dan segar membuat mata Aswin tak bisa berkedip saat menatap perempuan itu.
__ADS_1
"Clara.., kenapa kau di sini? Kenapa kau begini, Clara? cepat pergi dari sini!" usir Aswin,.
Sepertinya Aswin sangat tertekan saat melihat pakaian Clara yang begitu menggodanya, dengan sengaja Clara berbaring di sisi Aswin dan menyentuh tubuh lelaki itu.
Aswin semakin tak kuat, namun Clara juga semakin berani.
"Clara! apa yang kau lakukan? menjauh lah dari sini! menjauh lah Clara!"
Dengan sisa kekuatan, Aswin mencoba mengusirnya, namun memang Clara menantu durhakim. diam-diam dia tersenyum sangat lebar. Clara melepaskan baju sang mertua. Dan....
*
Aswin dan Clara tampak terbaring lemas di ranjang tersebut.
"Clara, apa yang kau lakukan? mengapa kau memberikan itu kepadaku? aku sudah bilang agar kau menjauh dari sini! tapi apa yang kau lakukan Clara!" bentak Aswin.
"Pah, aku ini bukan siapa-siapa lagi disini, aku juga bukan Istri Agam lagi, jadi kita bisa memulai hubungan dari sin," Sahut Clara santai.
"Clara, apa maksudmu? aku ini mertua mu, walaupun kau sudah bercerai dengan Agam," tekan Aswin lagi.
"Tapi kau menikmatinya kan? ayo kita mulai saja hubungan ini!" ajak Clara sambil tersenyum.
"Clara, kau jangan gil*a!"
"Ha ha ha, kita memulai saja hubungan ini pak, kita sudah melakukannya dan aku sedang merekam semua perbuatan kita hari ini, aku hanya ingin bisa hidup tenang tanpa perlu memikirkan pekerjaan, dan... aku ingin kau menikahi ku, kau berikan uang jajan bulanan buatku."
"Clara kau sudah gila! jangan bermimpi kau!" bentak Aswin.
"Aku memang bermimpi sekarang, tapi semua yang telah kita lakukan telah aku rekam dengan baik, jadi siapkan segera penghulu untuk pernikahan kita, permisi."
Clara pun berdiri, dia memasang kembali pakaian dan mengambil Hp yang tadi diletakkan di atas meja dengan video terbuka. Dengan santai dia pergi dan kembali ke kamarnya.
Setelah sampai di di kamarnya, Clara kembali tersenyum.
Dia pun ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah habis kikuk kikuk dengan ayah mertuanya.
Sementara di kamar sang mertua. Dia tampak panik dan bingung.
"Apa yang aku lakukan? tidak! tidak mungkin aku menikahi wanita itu? dia adalah mantan istri Agam, Tuhan, apa yang telah kulakukan?"
Aswin di jebak oleh Clara, wanita itu memang sangat licik.
***
Sementara di apartemen Kiara. Mentari tampak menyusun berbagai macam perabotan dapur yang dibeli dari pasar hari ini, dia sangat senang bisa membantu menantunya itu pindah rumah, karena dia tidak ingin Kiara stress karena memikirkan satu atap dengan Clara.
"Sayang, apakah sudah minum susu?" tanya Mentari pada Kiara.
"Sudah Mah," sahutnya.
"Buah-buahan juga ya! kamu harus banyak makan buah! semua buah-buahan aku beli dari pasar tradisional dan sudah ku masukan dalam kulkas," ucap Mentari.
"Ya Mah, tapi tidak perlu terlalu banyak, nanti tidak habis dan malah busuk," sahut Kiara.
"Jangan sampai busuk Kiara, kau harus menghabiskan nya!"
"Bagaimana mungkin aku menghabiskannya Mah, terlalu banyak."
"Ibumu juga harus makan, pembantu juga harus sehat, semua makanan yang masuk ke tubuh kamu harus sehat dan bergizi."
"Assalamualaikum ."
"Waalaikumsalam."
"Mamah? kok malah di sini? kenapa tidak ke kantor?"
__ADS_1
"Untuk apa aku kantor?"
"Kau kan Direktur utama! kenapa tidak ke kantor?"
"Cuma Formalitas, yang asli ya kamu Direkturnya," sahut Mentari.
"Eh Mamah curang," sahut Agam.
"Kenapa? kamu aja Direktur utamanya, mamah nebeng doang," sahutnya.
"Yaa...."
"Ha ha ha, iya sajalah, mengalah untuk mamah yang sudah tua ini," pinta Mamah.
"iyalah, terserah mama..., Sayang..., aku mau makan apa bini sudah memasak?"
"Sudah Bang, sebaiknya kita makan bersama!"
Mereka pun menikmati makan siang bersama, penuh kebahagiaan.
"Mamah sering sekali ninggalin papa di rumah, mama juga kalau pulang, sering malam dari sini, apakah papa tidak masalah?"
"Ya tidak lah Gam."
"Mamah, Papah itu masih pengantin baru lho! kasihan papah kalau ditinggal terus."
"Pengantin baru dari hongkong kami kan sudah lama menikah, lagian usia juga sudah kadaluarsa."
"Kadaluarsa apaan sih? papah kan masih produktif."
"Ih malu-maluin saja,masa udah tua masih ingin sering begituan?" protes Mentari.
"Siapa tahu saja kan? laki-laki itu kan lebih gitulah dari perempuan."
"Udah ah, ayo habiskan makannya."
Mentari sudah selesai makan dan berdiri meninggalkan dapur, menuju ruang tamu, paling penhen telepon sang suami, karena tadi di panas-panasin Agam.
Agam berdiri dan mendekati sang istri.
"Bagaimana Sayang, apakah kau senang tinggal di sini?"
"Tentu Bang, aku lebih senang tinggal di sini, sederhana, dari lada di rumah besar, jadi di sini aku bisa lebih cepat dari kamar langsung ke dapur, untuk mengambil sesuatu."
"Tapi nanti kalau anak kita sudah lahir, aku ingin mencari rumah yang lebih besar."
"Terserah Abang."
Agam sudah selesai makan siang.
"Sayang, aku berangkat sekarang ya! ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
Tidak seperti biasanya Agam lebih cepat meninggalkan rumah, biasanya jam 3 sore, barulah dia ke kantor kembali. Namun kali ini dia pergi setelah selesai makan siang.
Kiara pun mengantar sampai pintu apartemennya.
Agam pun pergi meninggalkan gedung apartemennya, namun bukan ke arah kantor.
Agam pergi menuju lampu merah, di mana Agam pernah melihat Kiara menangis. Agam akan menyelidiki lelaki tua itukah?
"Siapa laki itu sebenarnya? Aku harus tau," batinnya.
Agam pun berhenti tidak jauh dari lampu merah, dan memarkirkan mobilnya di halaman toko orang.
"Itu dia!" lirihnya pelan. Dengan cepat Agam berjalan mendekati sosok yang dicarinya.
__ADS_1