Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Sangat Sakit


__ADS_3

Agam, Alex dan Clara takjub, terpana, terdiam tanpa kata-kata, mulut mereka seakan terkunci. Sementara Clara, hatinya pun bagai teriris sembilu, saat menyaksikan lelaki yang pernah sangat dicintainya itu kini menjadi seorang cleaning service di sebuah perusahaan.


"Jadi kalian saling mengenal?" pura-pura Tuan Henry kepada Alex dan Clara.


"Iya kami mengenalnya, Oh iya, kalau begitu kita lanjutkan saja pembicaraan kita!" ucap Alex mengalihkan pembicaraan, karena sebenarnya Alex pun merasa tidak enak, sekarang keponakannya itu malah menjadi cleaning service, karena keserakahan dirinya.


"Saya permisi dulu, Tuan," ucap Agam, sia pun meninggalkan ruangan tersebut.


Agam merasa sangat sok melihat Clara yang kini bersama Alex, berada di perusahaan itu.


"Clara... ternyata benar kau sudah menikah dengan Alex. Kenapa dunia ini begitu kejam padaku!" lirih Agam, tanpa terasa, air mata Agam pun menetes, dia tidak menyangka, akhir cintanya dengan wanita pertamanya itu berakhir tragis, bahkan perusahaan yang dia Rintis dari awal pun kini direbut oleh sang pamannya sendiri. karena keserakahan.


Agam terlena dalam kesedihan, kemudian dia pun masuk ke dalam gudang dan menangis sepuasnya. Setelah puas menangis, dia pun bertekad dalam hati.


"Baiklah, ini adalah Air Mata terakhirku untukmu, Clara, untukmu Alex, dan juga untukmu perusahaan ku, aku harus bangkit sekarang, aku memiliki Kiara dan juga memiliki calon bayi yang harus aku jaga. aku berjanji aku harus melewati semua ini," tekadnya.


Agam pun mengusap kedua matanya, dengan tangannya, kemudian melangkah keluar dengan membawa alat perlengkapan kerjanya menuju ruangan yang lain, yang belum dia selesaikan.


***


Sementara Kiara dan sang mertua sudah berada di dalam mobil Mama Adi menuju luar kota untuk menemui Adi.


"Huak... Huak...."


"Kiara? Kau sakit?" tanya sang mertua saat Kiara mual-mual.


"Nggak kok Mah, biasa... cuma mual aja," sahut Kiara.


Sang mertua pun memijat pundak Kiara dan mengoleskan minyak kayu putih di pundaknya.


"Kau sangat beruntung Nyonya, mendapatkan menantu sebaik Kiara," ucap Mama Adi.


"Iya, Bu, aku merasa sangat beruntung, sebenarnya sebelumnya pun kami punya sedikit masalah, saat itu aku bahkan sempat tidak merestui hubungan Agam dan Kiara, pada saat itu kami masih jaya, namun aku tidak menyangka, karena Kiaralah Agam bisa setegar ini, padahal dia baru kehilangan perusahaan besarnya. Perusahaan yang sudah berpuluh-puluh tahun dia Rintis, direbut oleh pamannya tanpa menyisakan sedikitpun," ungkap mertua Kiara.


"Benarkah? jadi anak anda sekarang sedang mengalami kebangkrutan?"


"Benar Bu, tapi berkat Kiara lah anakku bangkit."


"Kau sungguh sangat beruntung, aku ini sangat bod**oh, aku menolak menikahkan Adi dengan Kiara, hanya karena status kami berbeda, namun kini apa yang aku dapatkan? anakku malah depresi karena dia sangat mencintai Kiara, seandainya boleh memilih, ingin kurebut saja menantu mu ini dan kujadikan menantuku!" akunya.


"Ha ha ha, kurang asem kau Bu! walau kau suguhkan seribu wanita cantik bak bidadari, aku tidak akan mau menukarkan menantuku ini dengan mereka, walau kau beri aku perusahaan besar sekalipun, aku tidak akan tergoda," ucap Ny.Mentari.


"Ah Ibu, bisa aja, aku merasa tidak enak, tapi masa sih Ibu sesayang itu sama aku?" celetuk Kiara merasa tersanjung atas perkataan mertuanya tersebut.


"Iya Sayang, aku tidak akan menggantikanmu dengan apapun. Bagiku kaulah harta berhargaku. Seandainya bisa memilih, aku ingin Kaulah yang jadi anakku, dan Agam adalah menantuku," ucap Nyonya Mentari lagi.


"Sebenarnya... kenapa Ibu menyerahkan Adi kepada neneknya? Bukankah lebih baik kalau dia bersamamu?" tanya Ny.Mentari.


"Tidak Nyonya, setiap kali Dia melihatku, dia selalu berteriak. Bahkan dia beberapa kali ingin mencekikku, mungkin karena Akulah penyebab dia tidak jadi menikah dengan Kiara, sehingga dia benci melihat wajahku."

__ADS_1


"Ya Tuhan... berarti luka hatinya sangat dalam. Bahkan dia sendiri membenci mu."


"Ya nyonya. Sepertinya dia sangat membenciku."


Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di perkampungan yang disebutkan oleh ibu Adi. Ayah Adi pun memarkirkan Mobilnya di bawah pohon Rindang, yang lumayan jauh dari sebuah rumah mungil yang ada di desa tersebut.


"Kenapa parkir di sini Bu?" tanya Nyonya Mentari.


"Adi tidak boleh melihat mobil ini, kalau dia melihat ini adalah mobil kami, maka dia akan mengamuk mungkin saja mobil ini akan dia hancurkan, dan dia bakar. Sepertinya Adi sangat membenci kekayaan," ucap Ibu Adi.


"Lalu bagaimana dengan menantuku? aku takut akan terjadi sesuatu kalau Adi melihatnya," was was Ny.Mentari.


"Aku sudah mengatakan sama ibuku, agar ada beberapa orang yang hadir hari ini di rumah ibuku, agar bisa berjaga-jaga," ucapnya.


"Sekarang mari kita ke sana#"


Mereka berempat pun berjalan beriringan menuju sebuah rumah mungil yang ada di tepi sawah. Mereka sampai di depan rumah itu.


"Ibu, kami datang."


Terlihat ada beberapa sandal di situ, berarti sudah ada beberapa pemuda yang juga ada di dalam. Beberapa orang pemuda pun keluar.


"Mana Adi?" tanya mamanya.


"Asi sedang tidur-tiduran, hari ini sepertinya dia tidak enak badan, makanya dia berbaring saja."


"Jangan sampai terjadi sesuatu kepada menantuku, kalau terjadi sesuatu kepada menantuku, yang sedang hamil. Aku akan melaporkan kalian semua!" gertak Nyonya Mentari.


Perlahan Kiara pun dibawa kamar yang ada di rumah mungil tersebut, Kiara membuka tirai yang terbuat dari kain, dan melihat pundak seseorang yang sedang berbaring. Entah mengapa air mata Kiara langsung jatuh. Dia sangat sedih, lelaki yang pernah dipacarinya selama 3 tahun itu kini mengalami depresi, hanya karena keegoisan orang tuanya.


"Mas Adi!" panggil Kiara.


Tiba-tiba Adi spontan langsung bangun dan duduk, dan berbalik menatap Kiara yang berdiri di depan pintu.


"Kiara!" panggilnya.


Dia bahkan langsung mengenali bahwa itu adalah Kiara. Adi pun mendekat dan meraih tangan Kiara.


"Kiara? kaukah ini? Kaulah yang datang untukku Sayang?" ucapnya.


"Iya Mas. Boleh kita bicara sebentar?" ucap Kiara.


"Ya. Aku sudah lama mencarimu, kau ke mana saja? kenapa kau tidak pernah menemuiku?" tanya Adi.


"Aku lagi sibuk Mas, bukankah kau tahu aku sedang bekerja di sebuah restoran?" ucap Kiara.


"Ya, aku tahu itu," sahutnya.


"Lhoh kok Mas Adi bau? apa belum mandi?" tanya Kiara

__ADS_1


"Belum hi hi, Kiara, aku menunggumu, tapi kau tidak pernah datang, aku lupa bagaimana caranya aku menemukanmu, sehingga aku lupa kalau aku belum mandi," ucapnya.


"Ayo biar mandi! Aku temenin."


Kiara pun membawa Adi ke belakang ditemani oleh beberapa pemuda, dia pun menurut, saat Kiara memandikannya pun dia hanya duduk, semua yang Kiara lakukan, Dia tidak pernah melawan, sepertinya ikatan batinnya dengan Kiara kini mulai membaik.


"Kiara, setelah ini Apakah kau akan tinggal denganku?" ucapnya.


"Mas, kau kan tahu aku harus merawat Ibu yang sakit, setelah ini aku harus bekerja lagi Mas, kau harus baik-baik ya! nanti aku akan balik lagi kok," ucapnya.


Kiara sudah selesai memandikan Adi, dan Adi terlihat segar dan kembali tampan seperti semula, Kiara pun mengantarkannya ke kamar, memberikannya makan. Adi terlihat sangat lahap.


"Sayang kapan kita menikah?" tanya Adi tiba-tiba.


Kiara bingung harus menjawab apa. Dia takut menyakiti perasaan Adi.


"Mas, Kiara harus bekerja dulu, Kiara harus beli rumah untuk ibu, Mas. Mas harus baik-baik ya, jangan sampai sakit lagi, Mas Adi juga harus baik kepada Mama...."


"Mama? aku tidak mempunyai Mama, aku hanya punya Nenek!" ketusnya, wajahnya pun berubah tegang.


Sepertinya Adi benar-benar benci kepada ibunya. orang yang telah memisahkannya dengan Kiara, Kiara dan Adi tampak berbicara panjang lebar, dan terlihat pembicaraan Adi itu pun layaknya orang normal, dan hingga akhirnya Kiara pun pamit, Adi juga tidak menolak saat Kiara akan pulang.


"Mas harus baik-baik, Mas harus mau makan dan juga mandi, bersama nenek!" pesan Kiara saat berada di dalam mobil, bahkan Adi tidak mengamuk saat melihat mobil, namun ayah dan ibu Adi tidak berani menampakan wajahnya di depan Adi. Karena mereka takut, kalau Adi akhirnya akan berubah buas. Hingga akhirnya Kiara dan rombongan pun pulang ke kota.


Hati Kiara sangat sakit. Bahkan sepanjang jalan dia terus menangis.


"Menangislah! Tapi jangan sampai Agam melihat air matamu nanti saat di rumah," ucap mertuanya.


***


Sementara di kantor Agam.


Semangat Agam untuk bekerja hari ini terasa berkurang, karena kejadian tadi pagi, namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin dalam pekerjaannya, hingga tak terasa, sore pun telah datang, saatnya Agam kembali pulang, dan sangat kebetulan hari ini Hendri tak lagi mengganggunya sampai jam pulang datang.


Agam pun pulang dengan perasaan yang sangat tenang,. Ingin rasanya Dia berlari dan langsung memeluk istrinya, Kiara.


"Aku berjanji, kalau suatu saat nanti aku kembali jaya. Kaulah satu-satunya dalam hidupku, Kau akan kujadikan ratu dalam hidupku, Ya Allah... dengarkanlah doa seorang suami yang sedang terzalimi oleh pamannya sendiri ya Allah," doanya dalam hati, saat pulang di perjalanan.


Agam pun sudah sampai di halamannya, dengan cepat memarkirkan motornya sembarangan, dia berlari masuk ke dalam rumah.


"Mamah, Kiara mana Mah?" tanyanya pada sang mamah yang sedang asyik duduk di ruang tamu. mungkin lagi di dapur lagi Menyiapkan makan, untukmu." ucap sang Mama.


Agam berlari ke dapur dan melihat sang istri yang lagi menata piring di meja.


Hap.


Agam langsung memeluk sang istri erat. Membuat Kiara bingung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2