
Agam sangat panik saat melihat darah mengucur dari jidat Kiara. Bahkan dia tidak lagi mendengar panggilan dari Clara yang juga mengharapkan perhatian darinya, dan sangat kebetulan di tepi jalan itu ada sebuah apotek yang buka.
Agam pun menggendong Kiara dan membawanya ke dalam toko obat tersebut.
"Mbak, istriku terluka, tolong beri dia obat," ucap Agam.
Apoteker tersebut pun mengambilkan bahan untuk membalut luka Kiara.
Syukurlah, karena apoteker tersebut juga pernah sekolah di bidangnya, jadi dia tahu apa yang harus dilakukan.
"Tuan Tenang saja, ini tidak apa-apa kok, lukanya cuma sedikit. Cuma memang kalau luka di atas kepala seperti ini, sering banyak darahnya, walaupun tidak membahayakan, asal tidak terbentur hebat saja, tidak apa-apa Tuan, jangan khawatir!" ucap wanita itu.
"Benarkah? Coba kau periksa dulu!"
Setelah dinyatakan tidak apa-apa, barulah Agam ingat dengan Clara yang juga ada di dalam mobil tersebut. Agam pun berlari mendatangi Clara.
"Clara...!"
Agam juga panik saat melihat Clara yang menyandarkan kepalanya di setiran mobil, Agam mengira Clara sedang pingsan.
Tiba-tiba ada niat jahil di otak Clara, saat mendengar Agam panik dan memanggilnya berulang kali.
"Aku akan memberimu pelajaran Mas, kau melupakanku dan langsung mengambil wanita itu, sebaiknya Aku pura-pura pingsan saja," batin Clara.
"Bangun Clara! Bangun!"
Agam pun menggoyang-goyang tubuh Clara. Namun karena memang Clara pura-pura pingsan, dia tidak menghiraukan panggilan Agam. Agam pun mengangkat tubuh Clara dan membawanya ke Apotek tersebut.
"Mbak, tolong juga dia, Sepertinya dia pingsan," ucap Agam.
Apoteker itu pun memeriksa Clara dan memberikan minyak kayu putih dioleskan di pundak Clara dan juga mendekatkan minyak kayu putih itu di hidung Clara, agar Clara bisa menghirup aroma dari minyak kayu putih tersebut.
"Bang. Bagaimana dengan Nyonya? apa dia terluka?" tanya Kiara.
"Sepertinya dia tidak terluka Nona, cuman dia mungkin terkejut, lalu pingsan," ucap apoteker tersebut.
Namun apoteker tersebut seperti curiga, saat memperhatikan mata Clara yang bergerak-gerak, bukan seperti orang pingsan.
"Maaf, Sebenarnya dia siapa kalian?" tanya apoteker itu.
"Dia juga istriku," ucap Agam.
"Ooh."
Apoteker tersebut merasa bingung.
"Oh begitu ya Tuan," ucapnya.
Sekarang dia tahu yang sebenarnya, Clara hanya pura-pura pingsan, hanya ingin mendapatkan perhatian dari Agam suaminya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita beri suntikan saja, agar dia cepat siuman?" ucap apoteker tersebut.
__ADS_1
Apoteker hanya ingin menakut-nakuti saja, dan sengaja berbicara di depan Clara.
"Di beri suntikan? untuk apa? Mbak, Biasanya kan kalau orang pingsan bisa bangun sendiri?" protes Agam.
Dia tidak tahu maksud hati perawat tersebut.
"Ya Tuan, kalau dia terlalu lama pingsan, itu bisa mempengaruhi organ dalam tubuhnya. Jadi kalau disuntik, dia akan cepat bangun kok," ucap apoteker.
Benar-benar jahil apoteker tersebut, karena dia tahu kebohongan Clara.
"Uhuk ..., uhuk...."
Tiba-tiba Clara pura-pura batuk dan perlahan membuka matanya, sang apoteker pun tersenyum.
"Akhirnya kau bangun juga," ucap apoteker dalam hati.
"Mas, di mana aku?aku sangat pusing," ucap Clara manja.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Agam
"Aku hanya sakit kepala," sahutnya.
"Apa kau terluka?" tanya Agam.
Clara merasa sangat senang karena suaminya sangat memperhatikannya. Sementara Kiara biasa saja, namun dia juga sedikit khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Nyonya Clara, pastinya Clara akan marah-marah.
"Kepalaku sangat pusing, mungkin tadi terkena benturan saat tertabrak pohon itu," ucap Clara.
Sementara Kiara diperintahkan Agam agar duduk di kursi depan, sementara Agam sendiri menyetir. Kali ini tentu saja kembali Clara lah yang kalah, karena kepura-puraannya membuat Kiara punya kesempatan untuk duduk berdua.
"Sangat menjengkelkan. Kenapa aku selalu kalah," gerutu Clara di dalam hatinya.
"Kalau begitu Sekarang kita pulang saja!" Ajak Agam.
Agam pun menyetir dan putar balik arah menuju pulang ke rumahnya, sepanjang jalan Clara terus menggerutu di dalam hatinya, perasaan benci kepada Kiara pun kini semakin menjadi-jadi.
"Kenapa wanita itu sangat beruntung? Kenapa sekarang aku yang kalah? Mas Agam juga, tidak mau menceraikannya, Apakah Mas Agam sudah mencintainya? Baiklah kalau begitu, aku akan lebih lama lagi berpura-pura. aku tidak akan membiarkan Mas Agam bertemu dengan wanita itu. Bahkan aku tidak akan mengizinkannya kalau mereka akan bercocok tanam. Wanita itu tidak boleh hamil. gerutu Clara di dalam hatinya lagi.
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka pun sampai di halaman mewahnya. Agam tergesa-gesa membuka pintu dan menggendong Clara menuju rumah. Sementara Kiara yang hanya memiliki luka ringan di dahi pun berjalan sendiri tanpa rasa cemburu, ataupun curiga kepada Clara.
"Kiara, kau istirahat saja ya! Aku akan menemani dan mungkin aku akan mengambil tukang pijat untuk Clara," ucap Agam.
Sambil terus berjalan menggendong Clara menuju tangga loteng.
"Baik bang," sahut Kiara.
Kiara masuk ke kamarnya dan mencoba untuk tidur.
***
Pagi-pagi sekali Kiara tampak sudah berada di dapur, membantu bibi memasak. Tiba-tiba Nyonya Mentari masuk ke dapur dan duduk di muka meja makan.
__ADS_1
"Nyonya besar? Apakah anda mau makan?" tanya bibi.
"Tidak, aku hanya ingin bersantai di sini, aku merasa sumpek di dalam kamar terus ucapnya.
"Sebenarnya aku ingin melihat Kiara memasak. Bagaimana mungkin dia bisa memasak seenak itu? bahkan makanannya pun seperti layaknya makanan restoran yang sering aku makan," batin Nyonya Mentari.
Dia terus menetap Kiara yang memotong-motong sayur, dan juga mengulek beberapa bumbu dapur.
"Nyonya perlu sesuatu?" tanya Kiara pada Ny.Mentari.
Kiara merasa tidak enak selalu ditatap oleh Nyonya Mentari.
"Tolong ambilkan aku air putih saja," titahnya.
Kiara pun mengambilkan air putih dan menyuguhkannya ke mertuanya. Kiara kembali melanjutkan pekerjaannya, kemudian tak berapa lama, HP Kiara yang ada di atas meja berdering.
"Maaf, sebentar," ucap Kiara dia pun mengambil telepon itu, dan menerima telepon.
"Kiara, Apakah kau bisa pulang? ibumu mencari mu. Sepertinya dia merindukanmu," ucap seseorang di seberang telepon.
"Oh baiklah Bi, aku akan segera ke sana, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu di sini, sekarang aku lagi memasak untuk persiapan sarapan suamiku," ucap Kiara.
Sementara wajah Ny.Mentari tampak sinis, seperti mengejek saat mendengar Kiara Menyebut Nama suamiku.
"Baiklah Kiara, kalau sudah selesai, kau kemari ya!" ucap suara di seberang.
"Baik Bi."
Telepon pun ditutup. Secepat kilat Kiara menyelesaikan masakannya, saat Kiara memasak dengan sangat cekatan, bahkan Ny.Mentari melongo dan takjub melihat menantu mudanya itu begitu pintar mengatur siasat, agar makanan tersebut cepat selesai disajikan.
Tak sampai 30 menit, semua hidangan sudah tersaji sempurna di atas meja.
"Nyonya, maaf, saya harus menemui Ibu, karena ibu ingin bertemu saya hari ini," ucapnya.
"Kenapa kau tidak makan dulu?" tanya Ny.Mentari.
"Nanti saja, saya masih kenyang, saya akan izin kepada Tuan Agam untuk pulang hari ini," ucapnya.
"Tidak usah, kau tidak usah izin, mungkin mereka sedang sibuk di kamarnya, oh ya kalau begitu ayo kita pergi berangkat sekarang! kita pergi bersama sopir, aku ikut denganmu," ucap mertuanya.
"Nyonya mau ikut? tapi di sana sangat kumuh Nyonya, hanya bedakan-bedakan kecil," ucap Kiara.
"Aku tidak peduli, kalau aku Ikut ya Ikut!" kata Sang mertua.
"Baiklah Nyonya."
Akhirnya Kiara pun mengalah dan pergi bersama mertuanya menuju rumah ibunya.
Sepanjang jalan Kiara tampak merasa takut. Kalau Ny.Mentari akan mengejek atau mempermalukannya di hadapan ibunya. Karena selama ini Kiara selalu berkata bahwa selama ini dia sangat bahagia bersama suaminya.
Bersambung
__ADS_1