
Kiara merasakan sentuhan demi sentuhan dari suaminya tersebut, kemudian dia pun menutup matanya, merasakan lembutnya sentuhan sang suami, perlahan Agam menggendongnya dan membawanya ke suatu ruangan rahasia yang ada di kantornya tersebut, ruangan yang sering dipakai bersama Clara kalau mereka sedang bosan berada di kantor.
Sebuah ruangan kecil namun bersih dan sejuk. Kiara membuka matanya, menatap se sekeliling ruangan itu, tampak dinding-dinding yang bercahaya sepertinya ada kaca yang menutupi ruangan tersebut, dan dalam kaca-kaca itulah ada lampu-lampu kecil yang menyala.
"Bang, ini di mana?" tanya Kiara heran.
"Ini adalah ruangan pribadiku," ucap Agam.
"Apakah Abang sering kemari bersama Nyonya Clara?" tanya Kiara.
"Jangan kau sebut dia saat kita sedang berduaan," ucap Agam.
Tentu saja Agam tidak mau mengatakan kalau memang ruangan ini didesain untuk dia dan istrinya dulu, memadu kasih, perlahan Kiara pun diletakkan di atas dipan kecil, yang ada di ruangan tersebut. Perlahan Agam pun membuka kancing baju Kiara, membuka kancing itu satu persatu, sehingga Agam bisa menyaksikan pemandangan yang luar biasa.
Seorang wanita yang masih singgle, dan tentu saja Virgin. Tampak buah yang menggantung di sana pun setengah matang, sangat membangkitkan ga**rah Agam.
"Apakah kau siap?" lirih Agam di telinga Kiara.
Membuat Kiara merasa geli. Kiara hanya mengangguk dan akhirnya Agam dan Kiara pun berlayar mengarungi lautan kasih, yang sudah beberapa hari ini mereka tunda, ruangan kecil itu membuat Kiara takut kalau suaranya terdengar keluar, dia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kiara, kenapa kau menutup mulutmu?" tanya Agam di tengah-tengah permainan mereka.
"Malu...," lirih Kiara terbata.
Karena dia begitu menikmati permainan sang suami.
"Ha ha ha kau tidak usah takut, ruangan ini kedap suara, kau Keluarkan saja semua suaramu, biar terdengar seksi di telingaku," ucap Agam menggoda sang istri.
Mereka terus berlayar hingga akhirnya sampai ke puncak gunung berapi. Hi hi hi.
🥀🥀🥀
Kiara dan Agam tampak bermandikan keringat, mereka sudah menyelesaikan ritual siang ini, Ketika Kiara melihat darah di spray yang ada di ranjang tersebut, membuat Kiara panik dan berdiri mendadak.
"Aduh," jeritnya pelan.
"Kiaira, Maafkan Aku, tapi aku sudah pelan-pelan kok tadi," ucap Agam.
Dari tadi Agam sengaja bermain lebih lama, sebelum memulai bercocok tanam dengan Kiara, sebelum memulai pengalaman pertama Kiara bersamanya.
"Apakah memang sakit seperti ini?" tanya Kiara pada Agam.
"Aku tidak tahu!" ucap Agam.
"Bagaimana tidak tahu? Abang kan sudah menikah?" tanya Kiara heran.
"Sepertinya dulu dengan Clara tidak seperti ini?" ucap Agam.
"Benarkah? Apakah Clara istri pertama Abang?" tanya Kiara.
"Iya, tapi aku merasa Clara dulu tidak seperti ini," sahut Agam lagi.
__ADS_1
"Maksudnya? tidak berdarah?" tanya Kiara.
"Iya."
"Benarkah? tapi aku pernah mencari di Google, kalau perempuan baru pertama kali itu pasti mengeluarkan sedikit darah."
"Entah?"
Agam mengangkat bahunya cuek.
"Bagaimana dengan ini Bang?" ucapnya Kiara menu juk ke arah sprei.
"Buang saja, nanti kita beli lagi yang baru," ucap Agam.
"Di ibuang? Jangan Bang! aku ingin menyimpannya, apa boleh?" tanya Kiara.
"Disimpan? buat apa? itu kan kotor Kira!?" ucap Agam.
"Hi hi hi, Aku ingin, ini adalah kenang-kenangan ku, kenangan di mana aku adalah seorang wanita yang menjaga kehormatan ku hanya untuk suamiku saja," ucap Kiara.
"Terserah kau lah, ayo mandi dulu!" ajak Agam.
"Mandi berdua?" tanya Kiara.
"Ya Iyalah, biar cepat selesai," ucap Agam.
"Aku malu Bang."
"Untuk apa malu? aku suamimu. Lagian sudah ku jebol kok pertahanan mu itu, hi hi hi," ucap Agam sambil tertawa licik.
"Ya sudah, sana cepat! selesai ini kita keluar untuk makan siang," ucap Agam.
Akhir Kiara pin masuk ke sebuah kamar mandi yang sangat mewah, bahkan besarnya pun sama seperti ruangan yang tadi mereka pakai untuk berduaan. Selesai mandi. Kiara diberi sebuah baju yang masih baru.
"Pakai baju itu, baju itu sebenarnya punya Clara, namun karena Clara tidak pernah memakainya, mungkin saja juga dia sudah lupa, kalau itu adalah bajunya, pakai dulu baju itu!" titah Agam.
"Bagaimana kalau Nyonya Clara marah Aku memakai barangnya?" ucap Kiara.
"Nanti kita beli yang baru, nanti kamu ganti baju, sementara pakai dulu yang ini, ini pakai hair dryer dulu, biar rambutmu kering."
Kiara pun mengeringkan rambutnya setelah benar-benar kering, barulah mereka berdua keluar dari ruangan tersebut. Kiara yang merasa masih perih di bawahnya pun berjalan pelan, membuat Agam berbisik.
"Kenapa jalanmu seperti bebek?" godanya.
Kiara hanya melotot. Semua mata memandang mereka penuh misteri, ada yang berbisik-bisik, namun Kiara tidak memperdulikannya. Seperti yang diperintahkan oleh Agam, bahwa dia adalah Nyonya di kantor itu. Mereka pun sudah sampai di di halaman parkir. Agam membukakan pintu untuk Kiara layaknya seorang Ratu.
"Bang. Tidak usah seperti ini! aku bisa kok buka Sendiri," lirih Kiara.
"Kau adalah istriku, mungkin saja saat ini kau langsung hamil kan?" canda Agam.
Kiranya hanya bisa tersenyum, merona, alhasil, Kiara hanya bisa mengalah dan masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan kantor tersebut mencari restoran untuk makan siang tepat jam 11.00 siang.
__ADS_1
***
Sementara di rumah mewah Agam. Clara tampak baru bangun jam 11.00 begini. Clara tampak menggeliat dan duduk di sisi ranjang.
"Apakah Mas Agam sudah pergi bekerja?" gumamnya, setelah melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 11.00 siang, dia pun berjalan ke kamar mandi dan mencuci mukanya, kemudian karena merasa lapar dia turun ke bawah tanpa mandi terlebih dahulu.
Sesampainya di dapur, dia langsung duduk di meja makan.
"Bi... aku mau makan, siapin dong Bi!" ucap Clara sedikit berteriak.
Matanya pun masih terasa berat untuk dibuka.
"Iya Nyonya."
Dengan tergopoh-gopoh Bibi pun datang dan mengambilkan piring nasi dan berbagai lauk menyajikannya di atas meja.
"Mas Agam sudah pergi kerja Bi?" tanya Clara.
"Sudah Nyonya."
" Ini siapa yang masak?" tanya Clara lagi.
"Semua ini masakan Non Kiara Nyonya," ucap Bini.
Clara tidak perduli dengan itu, dia pun terus memakan makanan itu, dia rasa memang sangat lezat di lidahnya.
"Oh ya, Ke mana Kiara?" tanya Clara lagi.
"Sepertinya tadi diajak Tuan pergi?"
"Apa? Kiara pergi bersama Mas Agam!" kaget Kiara sambil menghentikan makannya.
"I_iya Nyonya,- sahut Bibi guhup saatnya
" Hufs."
Clara pun menghela nafas dalam, kemudian berdiri menghentikan makannya.
"Nyonya, Kenapa tidak dihabiskan?" tanya bibi.
"Nereskan saja semuanya bi! aku sudah selesai," ucapnya.
Clara pun pergi meninggalkan dapur tersebut, menuju kamarnya, sampainya di kamar dan mengambil handphonenya. Dia memencet no seseorang.
"Hello, Han, Apakah kau ada waktu?" tanya Clara.
"Ada apa lagi Clara? aku sudah kapok bertemu denganmu, kemarin saja aku dimarahi oleh Agam, hampir babak belur Aku olehnya," sahut Burhan.
"Aku ingin bercerita sesuatu tentang kami, sebenarnya Mas Agam telah menikah lagi dengan wanita lain. Aku ingin curhat denganmu," ucap Clara.
"Benarkah? Baiklah, kau datang saja ke kantorku! Aku akan menunggumu, kita bercerita saja di kantor pribadiku," ucap Burhan.
__ADS_1
Bersambung...