Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Apakah Kau mencintaiku Kiara?


__ADS_3

Agam terlihat tergesak-gesak pergi meninggalkan dapur, dia pun berjalan menuju pintu utama, dia juga mengeluarkan kunci mobilnya dari kantongnya seperti ingin mengejar sesuatu.


"Mas Agam, kau mau ke mana? tergesa-gesek sekali. Apakah sudah selesai makan?" tanya Clara.


Clara yang tadi di kamar ternyata asik chat-an hingga tak merasa waktu sudah berjalan 20 menit, sejak Agam makan tadi.


"Ya, aku ada keperluan mendesak, kau makan saja, aku sudah selesai kok," ucap Agam.


Agam pun pergi meninggalkan Clara tanpa bersalaman, karena itu memang jarang dilakukan Clara dan Agam, palingan mereka cuma cipika-cipiki saat akan pergi bekerja.


Agam menghidupkan mobilnya dan pergi menuju kediaman Kiara, di tempat kontrakan yang pernah ditunjukkan oleh Clara istrinya.


"Apakah kau mencintaiku? Mengapa kau tidak mengatakan padaku? Aku juga begitu bodoh. Mengapa aku tidak mengatakannya saja kalau ada perasaan lain di hatiku? tapi semua itu aku lakukan demi menjaga hati Clara, agar tidak terluka, tapi sekarang mungkinkah aku telah melukai hati Kiara?" gumamnya sambil terus menyetir dengan kecepatan penuh.


Setelah 25 menit tibalah Ia di depan sebuah gang kecil, karena Agam belum pernah masuk ke dalam, Agam pun bertanya kepada orang yang ada di situ. Karena waktu itu Clara hanya menunjukkan Gang tersebut tanpa mendatangi kontrakan Kiara langsung.


"Maaf ..., Bu, aku ingin menemui seorang ibu yang sakit, dia tidak bisa berjalan. Apakah ibu bisa menunjukkan rumahnya?" tanya Agam pada seorang ibu yang saat itu sedang duduk di depan rumahnya.


"Ooh, rumah Ibu Clara ya?di sana. Mari aku antar kan," ucapnya.


Ibu itu pun berjalan masuk ke dalam gang yang sempit, di ikuti Agam, sementara terpaksa Agam meninggalkan Mobilnya di pinggir jalan, setelah berjalan kurang lebih 2 menit, Agam pun sampai di sebuah kontrakan kecil.


"Tuan, ini rumah Kiara ..., eh bu Vita, apa Mereka ada di dalam?- tanya ibu itu kepada tetangga sebelahnya.


"Kiara? dia sudah pindah, Bu Rudi, pagi-pagi sekali mereka sudah pindah dari sini, tidak tahu ke mana? mereka juga tidak bilang. Sepertinya mereka mencari kontrakan baru," ucap Ibu Vita.


"Tuan, katanya Mereka sudah pindah, tapi aku tidak tahu mereka pindah ke mana?"


"Benarkah? Bu, apakah ibu tahu atau mempunyai nomor teleponnya?" tanya Agam sangat berharap pada Bu Vita.


"Maaf Tuan, tadi mereka hanya pamitan, mereka juga orang baru, baru satu minggu di sini, jadi aku tidak mempunyai nomor teleponnya."


"Oh ..., begitu ya? Apakah Kiara ada teman Di sini? mungkin saja temannya itu ada menyimpan nomor teleponnya," ucap Tuan Agam lagi mendesak.


"Maaf, Tuan, karena mereka orang baru, mereka belum punya teman di sini, Ibunya pun sakit kemarin, cuma ada seorang pembantu dan sekarang pembantunya juga sudah dipulangkan Kiara, karena Kiara sudah pulang."


"Oh ..., begitu ya Bu, Terima kasih ya bu."


"Sama-sama Tuan."


Agam pun pergi meninggalkan tempat tersebut, kemudian dia pun masuk ke dalam mobilnya dan bersandar sebentar.

__ADS_1


"Kiara. Apa yang kau lakukan? mengapa kau begitu cepat pergi dari kontrakan ini? bukankah kontrakan ini disewa selama beberapa bulan penuh oleh Clara?"


Telepon Agam berdering.


"Hello pa Sukro."


"Pak, Rapat segera di mulai, Anda di mana?"


"Kau mulai saja rapatnya, aku tidak bisa datang."


"Bagaimana...."


TUUUT


Telepon di putus Agam sepihak.


Agam lun menjalankan mobilnya tak tau arah. Dia terus menyisiri jalanan yang terlihat ramai.


***


Sementara di tempat lain, di sebuah kontrakan yang juga berada di dalam gang kecil, tampak Kiara sedang merapikan bajunya ke dalam lemari kecil yang ada di ruangan tersebut. Kini Kiara sudah pindah tempat kontrakan yang baru, lumayan jauh dari kontrakan sebelumnya, di depan rumahnya juga ada tersedia sebuah gerobak kaki lima, mungkin Kiara akan memulai usahanya dengan berjualan, tapi entah berjualan apa.


"Bu, Apakah ibu mau mandi dulu?" tanya Kiara. Karena pagi tadi Ibunya belum sempat mandi, karena Kiara sibuk merapikan pakaian.


"Ibu, sini! biar aku bantu," ucap Kiara.


"Sini Kiara. Biar aku saja," ucap lelaki itu tiba-tiba.


"Kau sudah datang?" tanya Kiara.


Ternuata Adi yang datang, dia adalah pacar Kiara, namun selama ini sebenarnya Kiara dan Adi tidak direstui, karena Kiara hanyalah penjaga restoran, sementara Adi adalah seorang anak pengusaha, walaupun hanya pengusaha kecil biasa, namun orang tua Adi itu sangat sombong dan angkuh.


"Iya Kiara, aku pasti datang satu minggu ini kita tidak ada bertemu, aku sangat merindukanmu," ucap lelaki itu.


Adi tidak tahu, kalau sebenarnya Kiara sudah menikah dalam satu minggu ini. Untung saja Kiara menikah hanya nikah sirri, jadi tidak ada yang tahu, ditambah Kiara masih Ting Ting. Jadi Kiara tidak perlu mengatakan hal yang akan membuat hubungan mereka hancur.


"Iya Mas," hanya itu sahutan Kiara.


Adi pun membantu Ibu berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


Adi pun duduk di luar kamar mandi, sambil mengajak ngobrol Kiara yang sedang memandikan Ibunya.

__ADS_1


"Kiara, minggu depan aku akan melamar mu, aku akan membawa orang tuaku. Apa kau siap?" tanya Adi.


"Tapi Mas, Bukankah orang tuamu tidak merestui kita pacaran?"


"Kiara, walau bagaimanapun, aku akan tetap memilih kamu, ya kamu. Jadi kamu jangan berpikir, kalau orang tuaku akan menolak ku untuk melamar mu. mereka harus menerimamu. Karena itu adalah pilihanku."


"Tapi aku takut Mas, aku takut ditolak," ucapnya.


Dia merasa sangat sakit saat Agam menolak untuk mencoba hubungan mereka kemarin.


"Kita lihat aja nanti? bagaimana tanggapan orang tuaku, kalau mereka tidak merestui kita, aku rela minggat bersamamu Ra!" ucapnya.


"Ah, jangan terlalu egois, cinta tanoa restu itu kadang tidak bertahan lama," ucap Kiara.


Kiara pun sudah selesai memandikan ibunya,. Adi pun nampak setia menunggu di ruang tamu beralaskan tikar yang ada di lantai itu.


"Bu, aku izin untuk membawa Kiara pergi hari ini," izin Adi


"Baiklah, hati-hati y! tolong jaga anakku!" ucap Ibu Kiara.


"Tapi bagaimana dengan ibu? Apakah ibu memerlukan sesuatu sebelum aku berangkat? " tanya Kiara.


Kiara khawatir, kalau dia pergi, ibunya memerlukan sesuatu yang tidak bisa ibunya lakukan sendiri.


"Jangan khawatir Kiara, aku bisa kok. Lihatlah! aku bisa mengambil sesuatu yang aku inginkan," ucapnya.


Ibu Kiara memang tidak bisa berjalan, namun dia masih bisa mengandalkan pantatnya untuk ngesot di lantai tersebut.


Akhirnya Adi dan Kiara pun pergi dengan berboncengan motor. Kiara tampak duduk di belakang Adi, memang selama pacaran mereka tidak pernah aneh-aneh. Kiara tidak pernah berpegangan di tubuh Adi, walau Adi sering menyuruhnya.


Dia hanya duduk biasa, seperti layaknya orang yang tidak kenal. Mereka sudah tempak di jalan besar, Adi sengaja menjalankan motornya santai, namun Adi kaget ketika dia merasa ada seseorang yang memanggil Kiara. Adi pun menengok ke kaca spion.


"Kiara, Siapa orang yang di dalam mobil di belakang kita? kenapa dia melambai-lambai dan memanggil namamu? Apakah kau mendengarnya?" tanya Adi.


"Maksudmu? ada orang yang melambai ke arah Kita?"


"Iya betul. Coba lihat mobil yang hitam di belakang sana!"


"Kiara pun menoleh, alangkah kagetnya dia saat melihat mobil itu adalah milik Agam suaminya, karena kan Kiara dan Agam belum bercerai resmi?


Bersambung

__ADS_1


Yuk mpir di


WANITA SATU MALAM


__ADS_2