
Kiara membiarkan Agam memeluknya, karena dia tidak ingin mengganggu Agam yang sedang sedih, untuk beberapa saat sampai Agam pun berhenti terisak.
"Kiara. Apakah kau tidak ingin menanyakan sesuatu, mengapa aku menangis?" tanya Agam.
"Tidak, aku ingin kau bercerita sendiri kepadaku, Sayang," sahut Kiara.
"Hari ini aku bertemu Paman Alex dan juga Clara di perusahaan tempat aku bekerja."
"Benarkah, sedang apa mereka ke sana?" sahut kiara.
"Mereka merencanakan kerjasama dengan perusahaan itu," sahut Agam.
"Apakah pertemuan itu disengaja? jangan-jangan Alex pamanmu sengaja ingin menjatuhkan mu di sana?" ucap kiara.
"Tidak, sepertinya paman dan Clara tidak tahu kalau aku sedang bekerja di sana," balasnya.
"Ooh, terus apa yang mereka lakukan saat melihatmu bekerja di sana?"
"Mereka kaget, namun kemudian diam, mereka bersikap biasa-biasa sqja, sepertinya Tuan Hendri mengetahui kalau mereka adalah bagian keluargaku," ungkapnya.
"Maksud Abang? berarti Tuan hendri sengaja mengundang paman alex dan juga Nyonya Clara ke sana?" tanya Kiara dengan wajah berkerut karena penasaran.
"Iya, sepertinya begitu, terlihat seperti itu, oh iya aku belum bercerita kepadamu, dulu Hendri pernah mengajakku kerjasama di perusahaannya, namun aku menolaknya, saat ini aku menjadi bawahannya, mungkin dia merasa senang kalau melihatku bekerja untuknya," terang Agam pada Kiara.
"Kalau begitu, berhenti saja dari sana! kita jual bubur saja, jualanku sangat laku kok! kemarin kami mendapatkan uang 300 seribu dalam sehari, sedangkan model membuat bubur itu cuma 100 ribuan!" ajak Kiara.
"Jadi kau untung 200.000 perhari," ucap Agam.
"Iya, 200.000 itu sudah termasuk hasil kotor, seandainya kami menyuruh orang tentu saja memerlukan upah, aku juga menyisipkan untuk mama setiap hari 50.000, mungkin saja mamah dia mau berbelanja sesuatu, sementara 50.000 buat aku tabung, yang 100.000 aku bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita," papar Kiara lagi.
"Sayang, maafkan aku, sungguh, aku sungguh minta maaf kepadamu, kau sedang hamil, namun kau harus banting tulang membantuku mencari uang, gaji ku sebanyak 5 juta itupun mungkin tidak cukup untuk kita makan satu bulan," ucap Agam dengan wajah sedih.
"Mas, jangan seperti itu, sebagai suami istri itu, kita harus saling mendukung, semangat! sebentar lagi kita punya baik, jadi apapun yang kita lakukan sekarang, itu adalaj untuk bayi yang ada di kandungan ini," ucap Kiara sambil tersenyum.
__ADS_1
Senyum Kiara adalah obat mujarab bagi kegalauan Agam. Agam pun kembali memeluk istrinya dan juga membelah perut Kiara lembut.
***
"Nenek! aku ingin mandi, aku ingin menunggu kiara datang, Kiara janji akan menemui ku, kalau aku mandi lebih cepat!" teriak Adi dari kamarnya.
"Kamu mau mandi? baguslah. biar nenek ambilkan air dulu!" sahut sang Nenek.
"Tidak usah Nek, aku bisa kok ambil air sendiri di sumur, aku kan sudah besar, jadi aku akan membantu nenek mulai sekarang, menimba air di sumur."
Adi pun dengan berjalan seolah dia masih berusia 10 tahun, berlenggak lenggok sambil membawa ember menuju sumur. Setelah dia mengambil air dan memenuhi semua ember yang ada di dapur sang nenek. dia istirahat dan duduk termenung di teras dapur.
Kilasan kebahagiaannya bersama Kiara terbayang-bayang di kepalanya, dia menangis, air matanya menetes begitu saja, membuat sang nenek bingung.
"Adi, kenapa kau menangis? Ayo mandi! kan kamu menunggu kiara!" ucap sang nenek.
"Oh nenek, aku tidak menangis, aku hanya kasihan sama nenek, nenek sering mengambil air untukku, sedangkan aku kan laki-laki, mana boleh aku membiarkan nenek capek, ternyata susah juga nil air, pundak ku sampai sakit, sekarang nenek diam saja di rumah, biar Adi yang akan ke kebun, memanen sayur-sayuran nenek, untuk dijual ke pasar," ucap Adi.
Sdengan cepat Adi pun membersihkan diri dan mandi layaknya anak kecil berusia 10 tahun, setelah selesai mandi, dia bersiap untuk ke kebun memetik daun ubi kayu untuk dijual sang nenek ke pasar.
"Nek! sudah siap nih, sekarang kita berangkat ke pasar yuk!" ajak Adi.
"Kamu tidak usah ikut Nak! biar Nenek saja ya jualan!" tawar sang nenek.
"Tidak Nek, aku ikut sama nenek. Apa Nenek takut membawaku? Mereka bilang kalau aku ini gila, aku ini kan hanya anak-anak Nek."
Adi terus menxesak sang Nenek agar bisa ikut ke pasar.
"Baik lah," sahut nenek.
Dia merasa sangat sedih dengan tingkah laku Adi, jadi kali ini dia akan menuruti permintaan Adi.
"Semua ini eperbuatan orang tuamu Di! aku tidak tahu , didikan dari mana orang tuamu itu, sehingga saat kau memilih wanita mu, mereka malah melarangnya!" jengkelv nenek.
__ADS_1
"Nenek bicara apa sih? Adi nggak ngerti, masa Adi yang masih kecil ini mau di nikah kan?" sahut Adi.
Kali ini dia benar-benar marah,marah seperti anak kecil, entahlah, kelakuan Adi memang kadang berganti-ganti, kadang dia kan menjadi anak yang sangat kecil, manja. Namun kadang dia akan jadi orang dewasa yang sangat jatuh cinta dengan seseorang yang terus di panggilannya kiara, seperti itulah keseharian Adi.
Nenek nerpikir, kalau sia di bawa ke pasar tradisional, mungkin Adi akan terobati.
"Nanti Adi janji ya! tidak akan membuat masalah di pasar, saat nenek jualan!" pinta sang nenek.
Adi hanya mengangguk. Mereka pun berangkat ke pasar dengan menggunakan sepeda masing-masing. setelah sampai di pasar, nenek menggelar dagangannya di pinggir jalan, wajah Adi yang sangat tampan itu membuat para pembeli berdatangan, dan menawar sayur-mayur yang dijual oleh nenek.
Adi layaknya seperti orang normal saat si pasar. belum sampai 20 murid berjualan, dagangan Adi semuanya sudah terjual.
Tiba-tiba Adi berdiri dan berjalan sepertinya dia sedang melihay seorang.
"Adi, kamu mau ke mana?" panggil sang nenek masih sibuk mencari kembalian untuk membeli.
"Aku melihat Kiara nek, tunggu di situ, Aku harus mengejar Kiara!" teriak Adi sambil terus berlari.
Adi terus mengejar seseorang yang dia yakin itu adalah Kiara, Adi terus berlari mengejar seorang pengendara motor, dia yakin orang itu sangat mirip dengan Kiara.
"Adi kembali! Nak kembali Nak!" Panggil nenek.
Namum Adi tidak menghiraukan nya, saat motor itu menyeberang Adi pun ikut menyeberang.
Tiba-tiba
Brukh
Sebuah mobil pribadi yang saat itu melaju kencang pun mengenai tubuh Adi. sehingga dia terpental cukup jauh. Orang-orang yang ada di sana pun kaget dan mengejar Adi, darah pun mengucur dari kepala dan bagian tubuh adi lainnya, sang nenek histeris.
Asi... cucuku!"
Nenek berlari sekuat tenaga mengejar gerombolan orang yang sedang menatap tubuh Adi di tengah jalan.
__ADS_1
Bersambung