Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Menjahili Calon Istri


__ADS_3

Naira terus berjalan mengiringi Fathan dalam kebingungan, kini mereka sudah dekat ke sebuah pintu ruang pribadi Fathan, seorang laki-laki paruh baya, yaitu pa Sukro yang selalu setia pada keluarga Agam pun membukakan pintu sebelum Fathan Sampai ke pintu itu.


"Siapa lagi dia? Kenapa Fathan di bukakan pintu?" batin Naira.


Naira semakin dibuat bingung oleh orang itu. Kini beribu pertanyaan berjibun di otaknya. Dia pasti akan memberondong Fathan dengan ribuan pertanyaan itu nanti.


Fathan dan Naira kini sudah berada di dalam ruangan sejuk itu. Naira menyapu ruangan yang terlihat bersih dan nyaman.


"Ayo duduk!" ucap Fathan.


"Pintu tidak usah di tutup!" pinta Naira.


"Kau sangat takut ya, kalau aku apa-apain? sebentar lagi halal, kenapa meski takut? Ha ha ha," kekeh Fathan.


"Siapa tau nanti malah habis manis sampah di buang?" ucap Naira.


"Ha ha ha, emang wajahku ini wajah mes*um ya? Aku bukan lelaki seperti itu. Aku ini lelaki terhormat. Oh iya, apa kau ingin kisah tentangku?"


"Kisah apaan?"


Tok tok tok


"Masuk!" ucap Fathan.


"In airnya Bos," ucap sekretaris berkerudung itu.


"Sebenarnya siapa dia ini? Mengapa dia tidak pernah menceritakan pekerjaannya?" batin Naira makin meronta-meronta dalam kebingungan.


Air pun di letakan di atas meja di depan Naira. Wanita itu menatap wajah cantik Naira takjub.


"Ini Nona Bos airnya, silahkan di minum, kalau ada yang kurang panggil saja saya, saya ada di depan," ucap wanita cantik itu.


"Nona Bos," suara pelan Naira makin bingung.


Wanita itu pun pergi meninggalkan ruangan Fathan. Fathan menghampiri Naira dan menatap intens wanita pujaan hatinya itu dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Siapa Kau?" tanya Naira sambil menatap wajah tampan Fathan tanpa berkedip.


"Fathan."


"Bukan itu. Siapa kau sebenarnya?"


"Fathan, pujaan hatimu, yang sebentar lagi akan menjadi ayah bagi anak-anakmu," ucapnya lagi.


"Heh, kau membohongiku, kau bilang pekerja, apakah kau bos?" ketua Naira terlihat tidak suka.


"Sayang ada apa denganmu? Aku memang pekerja, aku bekerja di sini."


Tok tok tok


"Ada apa?" tanya Fathan.


"Ada berkas yang harus di tanda tangani Bos," ucap sekretaris yang tadi memberikan air.


"Masuk!"


Fathan pun membaca berkas itu dan membubuhkan tanda tangannya.


"Tolong tutup pintunya," ucap Fathan.


"Untuk apa menutup pintu?" tanya Naira merasa takut.


"Aku ingin berbicara pribadi denganmu."


Pintu sudah di tutup.


"Fathan, tidak baik,behini, kita berduaan di sini."


Fathan mendekat dan menggenggam tangan Naira.


"Aku akan menikahi mu, segera, ayo kita ke rumah ku, kita bertemu dengan Bunda dan juga papahku!" ajak Fathan.

__ADS_1


"Aku takut."


"Kenapa takut?"


"Sepertinya ada perbedaan kita, kau bagai langit dan aku bak bumi yang merindukan bulan," ucap Naira.


"Ha ha ha..., kau menilai keluargaku seperti itukah? Ayo!" ajak Fathan menarik tangan Naira.


"Aku ..., benar benar takut Fathan."


"Mereka tidak akan memakan mu, paling mereka sedikit menggihgit mu, ada aku yang akan melindungi mu," ucap Fathan.


"Seperti Bunda mu? pasti dia orang yang gaul dan ...," Naira tidak meneruskan kata kayanya.


"Apa kau setakut itu?"


"Aku takut dengan orang kaya."


"Ha? Naira, kau ini aneh."


"Ya, karena aku takut di kucilkan."


"Ayo cepat, percaya padaku!"


Naira dan Fathan pun berjalan ragu. Dia menggenggqm tangan Fathan erat. Tangannya mulai terasa dingin.


"Ish gadis ini, baru juga mau bertemu mertua, baiknya aku kerjain saja dai, hi hi," batin Fathan.


"Nanti kalau kau bertemu Bunda, kau harus diam dan jangan melawan perintahnya ya! Kau jangan sampai salah bicara, bisa-bisa nanti benda yang berada di dekatnya bisa melayang."


Fathan berbisik di telinga Naira dan tersenyum jahil.


"Apa segalak itu? Itulah yang aku takutkan, aku mau pulang saja, aku belum siap. Pantas saja kau tidak pernah membuka jati dirimu, pasti sudah puluhan wanita kau bawa dan di tolak," ucap Naira


"Ha ha ha, apa kau sangat takut? Nanti aku akan terus memelukmu dan melindungi mu, aku tidak mau menunda pernikahan kita, aku kebelet, mulai bulan ini semua kebutuhanmu aku yang cukupi, sebagai nafkah lahir, nanti setelah kita menikah, baru aku akan memberikan nafkah bathin, atau...? Kau ingin nafkah batin sekarang juga?" gida Fathan.


"Ih ogah! Tapi aku sangat takut.," ucap Naira.


Mereka sudah masuk di dalam mobil dan meluncur menuju istana Fathan.


*


Sebuah mobil dealer berhenti tepat,di depan musholla dekat rumah Naira. Semua orang yang kebetulan sedang asyik ngobrol di halaman mushollamaklim ibu-ibu menoleh bersamaan, kebetulan ada ibu julid di situ.


"Wow, itu pasti motorku, akhirnya datang juga," ucap bu bujulid bercanda.


"Ha ha, itu punyaku Bu, sebentar, mana kuncinya ya?" ucap ibu yang lain.


Mereka asik ngobrol saling mengakui dalam candaan.


"Rumah Naira Azzahra yang mana ya Bu?" tanya karyawan.


Mata Bu julid melotot.


"Itu di samping." sahut ibu Leha.


"Terima kasih."


Karyawan itu pun mendwkati rumah Naira.


"Eh ..., eh, ada apa? Apa Naira beli mitir?" tanya bu Leha.


"Tidak mungkin, paling cuma nanya-nanya doang," protes bu Julid


Mereka pun menatap rumah Naira penasaran.


"Bu, Ini rumah Naira?"


"iya."


"Ini tolong tanda tangani di sini," ucap Karyawan

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Ibu Naira


"Ini mitor Naira." ucap karyawan.


"Ha?"


Ibu Naira menengok mobil dan melihat motor gede di sana.


"Tidak mungkin, mungkin Mas salah rumah, tidak mungkin motor itu untuk anak saya," sahut ibu bingung.


Ternyata Naira lupa menghubungi sang ibu, atau sang ibu lupa membuka HPnya.


"Ini atas nama Naira dan alamat juga nomor rumah benar kok," ucap Karyawan memeperlihatkan berkas.


"Sebentar."


Ibu Naira lun menelepon Naira. Setelah percakapan singkat barulah Ibu Naira yakin.


"Ya Allah, mimpi apa aku, iya Mas, turunin di sini aja."


"Ada apa Bu?" tanya Abah Naira.


"Itu motor pemberian calon Naira Bah, Buat Naira."


"Masa?"


Bu Julid dan ibu yang lain pun tampak syok mendengar percakapan itu.


*


Di rumah Fathan, Naira dan Fathan sudah sampai di halaman istana megah itu.


"Ini ..., rumahmu?" tanya Naira kagum.


"Bakal akan menjadi rumahmu juga," sahut Fathan sambil tersenyum. Kemudian membukakan pintu.


"Kamu membohongiku."


Terlihat wajah Naira kesal.


"Berbohong apa? Perasaan aku tidak pernah berbohong?" tanya Fathan heran.


"Kenapa wanita ini malah tidak terlihat senang akan menjadi calon mantu orang kaya," batin Fathan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Eh Babang tampan udah datang? emch."


Aisya langsung nyosor mencium tangan sang kakak sambil salim dengan girangnya, berlari menyambut Fathan.


"Bunda mana?"


"Ini siapa?" tanya Aisya menatap Naira.


"Saingan kamu," sahut Fathan.


"Ha?" Naira kaget, di sebut saingan, apakah wanita itu juga pacar Fathan? Lirih hati Naira.


"Haiiiii, Kakak, ayo masuk!"


Aisya mengerti dan langsung menarik tangan Naira yang hanya mematung di depan pintu di belakang Fathan. Naira kaget dan heran, Wanita itu malah menariknya, bukan marah dan cemberut.


"Sayang udah datang? Ini calon mantu Bunda?"


Sapa ramah Kiara pada Naira. Naira pun kaget dan menatap sadis pada Fathan. Fathan hanya tersenyum kecut.


"Awas kau!" batin Naira


Naira melihat tak ada wajah angkuh yang di tunjukkan Bunda Fathan. Malah sebaliknya.


Nex

__ADS_1


__ADS_2