Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Ketahuan Bermesraan


__ADS_3

Kiara sangat malu. Bagaimana bisa mertuanya yang selama ini terkenal judes dan cuek itu menanyakan perihal ranjang dirinya dan Agam. Kiara terdiam, dia bingung harus menjawab apa kalau ditanya pertanyaan yang aneh seperti itu.


"Kiara, Kok bengong? Tidak apa-apa kok, aku kan ibunya Agam, tidak usah malu," ucap sang mertua.


"Anu Nyonya. Mungkin dua kali, Nyonya. Eh tapi kami bertemu baru dua kali, di dalam tempat tertutup, tapi mungkin kami melakukannya ada 3 atau 4 kali," ucap Kiara lupa lupa ingat dan malu-malu.


"Kenapa kau ragu begitu? Kiara! masa iya kamu lupa?" tanya sang mertua lagi.


Bahkan Ny.Mentari sampai menetap tajam ke wajah Kiara, yang sekarang sudah seperti kepiting rebus.


"Iya Nyonya," sahut Kiara.


"Syukurlah kalau begitu, berarti kau dan Agan tidak ada masalah kan? Agam sekarang menyukaimu kan?" tanya Nyonya Mentari.


"Sepertinya begitu Nyonya, aku kurang tahu," jawabnya lagi.


"Baiklah, Oh ya, kapan kau belanja? uang yang aku berikan kemarin kan banyak, kau bisa belanja sepuasnya. Mungkin suatu hari nanti kau akan dibawa Agam menemui rekan bisnisnya, Oh iya, kau juga harus perawatan mulai sekarang, biar Agam tidak meninggalkanmu," ucap sang mertua lagi.


"Iya Nyonya."


"Sekarang kau boleh pergi!"


Kiara pun pergi meninggalkan kamar mertuanya tersebut, dan menutup pintu dari luar.


"Waaaah..., beruntung sekali Aku ini, mudahan saja Kiara cepat hamil, aku ingin sekali menimang cucu, walaupun sebenarnya aku kasihan sama Clara. Kenapa juga wanita itu tisak hamil? padahal Agam dan Clara sangat serasi."


Ny.Mentari menggumam sendiri.


***


Agam sudah tampak di ruangan meeting bersama rekan bisnisnya, di sana juga hadir Alex dan juga Mikail, namun Agam tidak menyadari ada beberapa berkas yang hilang di ruangan kerjanya. Agam sangat gelisah, sesekali dia menatap teleponnya untuk melihat jam, dia ingin sekali mengakhiri meeting tersebut, dan ingin pulang ke rumah menemui Kiara.


"Jadi bagaimana Tuan Agam, Apakah bulan depan kita mulai membuka cabang baru?" tanya seorang rekan bisnisnya.


Sementara Agam sedang melamun dan menatap layar teleponnya, dia tidak mendengar ada rekan bisnisnya yang menanyakan hal tentang perusahaan mereka.


"Tuan... Tuan" colek orang kepercayaannya dari samping.

__ADS_1


"Oh iya, ada apa?" tanya Agam tiba-tiba, dengan suara nyaring, semua orang yang ada di ruangan itu pun menjadi heran, saat menatap bos besar itu tampak linglung dan tidak loading dengan rapat hari ini.


"Tuan... apakah Tuan sedang sakit?" tanya seorang rekan bisnis yang lain.


"Oh iya, aku sedang tidak enak badan, aku sedang merasa pusing, maaf kalau Rapat ini menjadi tidak maksimal karena aku kurang enak badan," ucap Agam.


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita akhiri meeting ini saja," ucap seorang lagi.


Akhirnya Meeting itu pun berhenti, Agam juga orang-orang yang ada di ruang itu pun keluar satu persatu.


"Tuan. Sebenarnya ada apa dengan Tuan? Bukankah Tuan saat kembali ke sini tadi sangat ceria? Kenapa tiba-tiba tuan sakit?" tanya orang kepercayaan Agam yang beenama Haki.


"Kau sudah tahu kan? kau jangan pura-pura tidak tahu? sekarang ini aku lagi kasmaran sama istri mudaku, Itu yang dijodohkan Clara untukku, sudahlah aku mau pulang sekarang, tolong urus semuanya dan tolong kunci ruang pribadiku juga ya!" titah Agam.


"Siap Bos l."


Pak Haki pun tersenyum mendengar penuturan bosnya tersebut, yang lagi kasmaran sama istri mudanya.


"Tentu saja lagi bucin mangga muda, mangga muda emang enak," Batin Pak Haki.


Agam pun pergi meninggalkan gedung perusahaannya tersebut. Sementara Alex dan Mikail tampak menatap kepergian Agam.


Dia sangat antusias saat mengetahui Agam tidak fokus dalam meeting dan sekarang malah pikiran Agam terganggu oleh istri mudanya.


***


Tepat jam 05.30, Agam sudah berada di rumahnya, dia pun hanya memarkirkan mobil di depan teras tanpa masukannya ke garasi mobil, dia berlari menuju rumah dan menuju dapur, dia tahu kalau saat ini Kiara sedang memasak di dapur.


Dan sangat benar, tampak Kiara sedang asyik memasak di dapur. Dia sedang menggoreng ikan di depan kompor, Agam melihatnya dan tersenyum, kemudian mendekatinya.


Hap.


Memeluknya dari belakang...


"Sayang... apa kau mweindukanku? Apa kau sudah selesai memasak?" tanya Agam beruntun.


Bahkan Agan tidak menyadari kalau ternyata di dapur itu pun ada Bibi yang sedang merapikan lemari, tempat penyimpanan bahan-bahan bumbu dapur di pojokan dapur. di depan lemari kecil.

__ADS_1


"Abang apaan sih? malu tahu?" bisik Kiara mengisyaratkan kalau tidak mau dilihat orang lain sedang berpwlukan.


"Ngapain malu? Lagian di sini juga tidak ada orang kok," ucap Agam sambil mencium leher sang istri, dan menyingkap rambut Kiara.


"Tuh ada Bibi di belakang," ucap Kiara.


Spontan Agam pun mundur dan berbalik menatap Bibi yang saat ini juga sedang menatap mereka.


"Bibi sedang apa kau di sana?" ketus Agam membuang rasa malunya.


"Maaf Tuan, aku hanya merapikan bahan."


"Sekarang pergilah! biar Kiara yang melayaniku makan sore ini," ucap Agam ketus, karena merasa sangat malu, namun dia tidak mau kalah.


Akhirnya Bibi pun pergi meninggalkan dapur tersebut, kembali Agam memeluk Kiara dan kembali mengulangi peebuatannya menciumi leher sang istri.


"Agam! Mengapa,kau mengganggu orang memasak?"


"Mamah?"


"Apakah benar cucuku sudah on the way?"


Tiba-tiba suara menggelegar datang dari belakang mereka, tepat seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu dapur tersebut.


"Mamah apaan sih?"


Rencana Agam pun kembali gagal ingin berdua dan bermesraan dengan Kiara di dapur, malah ini ibunya lah yang datang.


Ibu Agam tersenyum saat melihat Agam dan Kiara berpelukan di depan kompor.


"Kenapa kau mengganggu Kiara yang sedang masak? Apakah tidak ada pekerjaan lain?" ketus sang Mamah seperti pura-pura marah, padahal di dalam hatinya dia sangat geli, saat melihat adegan anaknya yang sudah berumur itu sesuka hati, bermesraan di tempat terbuka, seperti orang pacaran.


"Ibu ngapain kemari?" tanya Agam juga dengan pertanyaan cuek.


sebenanya Agam sangat malu, namun dia tidak mau menunjukkan rasa malunya itu.


"Ya aku mau makan lah, kita kan biasanya makan bersama?" ucap sang Mamah dengan masih mengulum senyum merasa geli.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2