
Alex terus menatap Sang Putri tanpa berkedip, kini Alex duduk di samping Kiara dan menggenggam erat tangan sang anak, seakan tak mau terlepas.
Sedang Kiara hanya bisa menangis tanpa berkata-kata apapun, saat menatap wajah tua sang ayah yang keriput dan terlihat kelelahan.
"Oh iya, ini silahkan diminum yah, ini kopi pertama bikinan ayah, biar ayah sendiri yang minum, karena hari ini adalah hari pertama ayah bekerja, namun hari ini juga Ayah saya pecat sebagai karyawan di kantor saya."
"Tuan Bos? Tapi? aku sangat perlu pekerjaan ini, bagaimana aku mendapatkan uang kalau kau pecat? Walau kau adalah menantuku kau jangan sungkan untuk menyuruhku," pinta Alex pada Agam.
"Bukan begitu Yah, aku akan meletakkan ayah di perusahaan cabang sebagai supervisor langsung. Tentu saja aku tidak mau kalau ayah bekerja di sini, nanti aku malah menjadi menantu durhakim," ucapnya.
"Oh..., benarkah? tapi aku kan tidak berpengalaman bekerja sebagai atasan?"
"Nanti ayah bisa belajar kok, sekarang sebaiknya kita pulang saja, Ibu juga pasti sangat merindukan Ayah, sekarang ibu sudah agak baikan," ajak Agam.
Sementara Kiara benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam dan meremas jemari sang ayah.
"Terima kasih Tuan...."
"Ayah, kenapa memanggilku begitu? aku ini anak ayah, panggil saja Agam, Namaku Agam," ucapnya.
Mereka pun kemudian berdiri dan meninggalkan gedung tersebut. Namun ternyata kali ini Agam kembali lupa kalau tadi mereka berangkat ke kantor dengan sang Mamah, Mentari.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan perusahaan Agam dan benar saja, ternyata Kiara pun melupakan sang Mama yang tertinggal di pabrik, karena memang pikirannya sedang kacau karena baru bertemu dengan sang ayah, tak berapa lama mereka sudah sampai di gedung apartemen mereka.
Kiara langsung saja masuk dengan air mata yang masih menetes.
"Kalian sudah pulang? Kenapa sebentar sekali?" tanya ibu.
Dia terlihat menonton televisi sambil membelakangi pintu, dan tadi sekilas dia menatap kedatangan Kiara dan Agam, namun karena Alex masih berdiri di luar pintu, jadi tidak terlihat.
"Ibu. Maukah Ibu kupertemukan dengan ayah?" ucap Agam.
"Ah kamu ini ada-ada saja, emangnya kau tahu ayah Kiara ada di mana?" tanya sang Ibu.
"Ya tahu dong, menantu mu ini adalah menantu yang super, jadi selalu tahu," ucap Agam.
Tentu saja membuat Tuan Alex merasa getir untuk bertemu sang istri.
"Tapi bener loh Bu, Apakah ibu mau bertemu dengan ayah?"
"Pengennya sih Pengen, tapi..., dia saja sudah lupa dengan kami, dan sekarang entah ke mana dia pergi? mungkin dia sudah menikah dan punya anak?"
Kemudian Agam pun melambai menyuruh sang ayah masuk, dan Agam juga memberi isyarat agar Alex penutup mata sang Ibu dari belakang, sang Ibu kaget dan menggapai tangan itu.
__ADS_1
"Ah Agam ngapain sih Kamu? pakai tutup mata Ibu segala, enggak lucu ya! Kiara, apaan nih suamimu nakal deh sama ibu!" ketus Ibu.
"Aku tidak tahu Bu! aku sudah di dapur, aku kehausan," ucap Agam.
Sang Ibu pun kaget kemudian dia menarik tangan tersebut dan menengok ke belakang, alangkah kagetnya saat melihat wajah yang sangat dia kenal, air mata pun tiba-tiba mengucur di kedua pipinya.
Diam tanpa kata, hanya air mata jadi saksi bertemunya hati yabg lama terpisah.
"Pa? Kau!"
"Ibu, maaf," ucap Alex.
Mereka pun saling berpelukan, begitu juga Kiara. Agam yang melihat persatuan mereka pun tersenyum, dan juga menangis dalam diam.
***
Satu bulan telah berlalu, kini Clara resmi dinikahi oleh Pak Aswin, tanpa sepengetahuan siapapun, namun Pak Aswin tidak pernah mengunjungi Clara, dia hanya memberi uang bulanan untuk belanja kebutuhan Clara.
Pagi ini Clara tampak baru bangun tidur, dan dia sepertinya merasa tidak enak dengan dirinya sendiri, ada sesuatu yang dia rasa berbeda.
"Kenapa ya? Kok Gatel banget sih?" ucap Clara.
__ADS_1
Dia terus menggaruk-garuk alat sensitifnya, apa yang terjadi dengan Clara?
Bersambung