Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
So Sweet


__ADS_3

Kiara dan nyonya Mentari sudah sampai di sebuah gang kecil yang ada di pinggiran kota. pak Sopir pun memarkirkan mobil di pinggir jalan, karena memang tidak mungkin mobil itu bisa masuk ke dalam gang kecil tersebut.


"Kiara! di mana kamu menyimpan ibumu? Apakah di gang kecil ini?" tanya Nyonya Mentari sambil menunjuk Gang tersebut.


Gang kecil yang ada di sisi jalan itu sangat sempit, hanya muat satu buah motor yang lewat.


"Iya Nyonya, karena aku hanya mampu membayar kontrakan kecil untuk Ibu dan upah Bibi," ucap Kiara.


"Kamu ke mana kan uangmu yang banyak itu? katanya kau meminta banyak kan dari Clara?" tanya Nyonya Mentari.


"Iya Nyonya, tapi sebelum aku hamil, aku belum mendapatkan uang itu, aku hanya mendapat 50 juta untuk menebus ibu, dan juga bayar kontrakan," sahut Kiara.


Kiara pun mempersilahkan mertuanya untuk berjalan lebih dulu.


"Kau saja duluan, aku takut nanti malah menginjak jalan yang salah," kata Sang Mertua.


Kiara pun berjalan lebih dulu, diiringi oleh sang mertua, dia sengaja berjalan begitu pelan, biar sang mertua bisa mengikutinya di belakang, tak berapa lama, Kiara dan nyonya Mentari pun sudah sampai di sebuah kontrakan kecil.


"Nona sudah datang? dari tadi ibu mencari Non, ayo non masuk!" ucap Bibi sang penjaga ibu Kiara.


Kiara pun mengajak sang mertua masuk ke dalam kontrakan kecil tersebut, tampak Nyonya Mentari merasa risih saat berjalan di lantai yang hanya beralaskan tikar plastik biasa.


"Kiara, kau datang Nduk?" ucap sang Ibu sambil melambai tangannya.


Tiba-tiba Ibu Kiara memeluk Kiara dan menangis. Seeprti rindu yang baru saja tertumlahkan.


"Ibu ada apa? kayak lama nggak ketemu aja? tiga hari yang lalu juga aku kan ke sini, Apakah ada yang sakit?" tanya Kiara.


Sementara Nyonya Mentari hanya berdiri di samping pintu, melihat takjub ke arah Kiara dan ibunya yang tampak sangat akrab dan saling menyayangi, jauh beda dengan dirinya dan Agam, walaupun serumah namun tampak cuek-cuek saja antara satu sama lainnya.


"Entahlah Kiara, Aku sangat merindukanmu, kamu baik-baik saja Nduk? Apakah mereka memperlakukanmu dengan baik? coba sini! Ibu lihat," ucapnya.


Ibu Kiara pun membolak-balik wajah Kiara, memeriksa leher dan juga tangan Kiara. Mungkin dia ingin memastikan, kalau tidak ada luka ataupun memar di tubuh anak kesayangannya tersebut.


"Ibu ada apa sih? aku baik-baik saja kok. Mereka sangat baik kepadaku. Percayalah Bu!" ucap Kiara.


"Benarkah? Apakah mereka tidak menyakitimu? Apakah orang-orang kaya itu memperlakukanmu layaknya manusia? kalau kau sakit, kau terluka, lebih baik kau kabur saja dari sana!" ucap sang ibu.

__ADS_1


"Bu, aku baik-baik saja kok, ibu Jangan memikirkan aku ya! Oh iya, nanti sore kita pindah aja dari sini ya! biar aku carikan Ibu kontrakan yang lebih bagus dari ini, aku sekarang punya uang kok Bu. Mereka memberi uang sangat banyak," ucap Kiara.


"Benarkah? Apakah ada orang kaya sebaik itu? Tapi tidak udah Nduk, di sini saja, untuk apa besar dan bagus, kakau ibu juga nggak bisa jalan," ucapnya.


"Oh ya, ini perkenalkan, mertua aku, Ny.Mentari," ucap Kiara sambil menatap Nyonya Mentari yang berdiri di samping pintu.


Sebenarnya Kira merasa takut kalau ibu mertuanya itu berbuat ulah, namun...


"Salam kenal, saya Mentari," ucap Nyonya Mentari sambil mengulurkan tangannya.


"Oh..., jadi kau mertua Kiara? terima kasih kau sudah baik padanya, aku sungguh beruntung memiliki besan sepertimu, bahkan kau rela kemari untuk menjengukku," ucap Ibu Kiara.


Ny.Mentari ternyata baik. Nyonya mentari yang selama ini judes bukanlah orang yang seperti itu sekarang, dia sepertinya menjaga perasaan Ibu Kiara.


"Ibu, makan ini, aku bawa makanan dari rumah, aku suapin ya Bu!" tanya Kiara.


"Ini kamu yang masak Nduk?" tanya ibunya.


"Iya Bu, suami Kiara juga sangat suka masakan Kiara, bahkan ibu mertua juga sangat suka," ucapnya, sambil menatap sekilas kepada Ibu mertuanya itu, meminta persetujuan agar wanita itu bisa mendukungnya.


Kiara pun tersenyum karena Ibu mertuanya yang selama ini judes kini mau mendukungnya, di hadapan ibunya sendiri. Kiara pun mengambilkan makanan itu dan menyuapi ibunya setelah selesai makan mereka tampak berbincang ringan.


"Kita mandi dulu Bu! hari ini biar Kiara yang mandiin ibu."


"Tidak usah Nduk, aku bisa mandi sendiri kok, nanti dibantu Bibi ke belakang," ucap ibunya.


"Tapi hari ini Kiara mau mandiin Ibu. Ayolah Bu! sebelum Kiara pulang."


Akhirnya sang Ibu pun mau dimandikan Kiara, dengan telaten Kiara pun membawa ibunya ke belakang, menaiki kursi roda dan memandikannya duduk di atas kursi biasa. Setelah selesai mandi, Kiara juga memberi pakaian yang baru dan wangi.


"Nah, sekarang Ibu Kiara sangat cantik," puji Kiara.


"Ah Kiara, kamu ini Nduk, kalau semakin seperti ini, ibu malah semakin merindukanmu," ucap sang Ibu lagi.


"Ya udah, Kiara akan sering-sering ke sini nanti Bu, nanti kita cari kontrakan yang lebih dekat dengan rumah Kiara, do'akan Kiara biar biar cepat menyelesaikan masalah Kiara dengan mereka," ucap Kiara saat di dalam kamar.


Namun percakapan ibu dan anak itu terdengar oleh sang mertua, yang memang memasang telinganya dari tadi, entah perasaan seperti apa di hatinya, kini dia merasa tersentuh dan merasa kasihan kepada ibu dan anak itu.

__ADS_1


"Bu, Hari semakin siang, aku harus pulang. Nanti kalau di izinin, aku akan kemari untuk menginap," ucap Kiara.


"Baik Nduk, kamu harus sabar sama suamimu, harus taat, apalagi mereka sangat baik padamu," nasehat ibunya.


"Iya Bu," sahut Kiara.


Akhirnya Kiara dan mertuanya pun pergi meninggalkan kontrakan tersebut. Sepanjang jalan sesekali Nyonya Mentari menatap Kiara yang terlihat termenung.


Lain dengan Kiara, tetesan air mata tampak di sudut matanya. Mungkin dia merasa sedih karena harus meninggalkan ibunya demi membayar hutang kepada keluarga kaya itu.


"Kiara." Lirih Ny.Mentari serasa merangkul pundak Kiara.


Kiara pun kaget dan segera menyapu pipinya yang sudah basah oleh air mata.


"Ke,marilah!" ucap mertuanya.


Kini kepala Kiara di sandarkan ke pundak sang mertua.


So Sweeeet.


***


Jam sudah menunjukkan jam 10.00 pagi, namun tampak Agam belum berangkat kerja, dia pun mondar-mandir di ruang tamu, sesekali menatap ponselnya.


"Kiara..., Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku? Memangnya ke mana mereka pergi selama ini? masa iya Ibu mengajaknya shopping? selama ini kan Ibu kurang suka sama dia!" ucap Agam.


"Mas...." teriak Clara dari atas loteng.


Secepat kilat Agam pun berlari ke dapur dan mendatangi Bibi.


"Bi, bilangin sama Clara, kalau aku sudah pergi bekerja," ucap Agam.


Tergesa-gesa Agam pun pergi meninggalkan rumah tersebut menuju garasi mobil.


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2