
Fathan berlutut di kaki Kiara, bukan karena dia minta maaf karena kesalahannya, namun dia tidak tahu apa salahnya kepada Bundanya, sehingga Bundanya berkata demikian.
Selama ini mereka baik-baik saja, namun hari ini Fathan merasa ditampar oleh perkataan Bundanya, yang sangat menyakitkan hatinya.
"Bunda, tolong katakan! di mana salahku? Kenapa bunda berkata begitu kejam padaku? apa yang aku lakukan pada Bunda?" tanya Fathan sangat sedih.
Bahkan lelaki tampan itu meneteskan air matanya dan menyapunya berulang kali.
"Aku ingin kau Jujur! aku akan memaafkan mu kalau kau jujur padaku," ucap Kiara Sinis.
Bahkan Kiara sama sekalj tidak mau menatap wajah putranya yang berlutut itu.
"Aku harus berkata jujur apa Bunda? aku tidak mengerti maksud Bunda?"
Fathan terus memegang erat kaki sang Bunda, walau Kiara sudah berusaha untuk melepaskan cengkraman sang anak, namun Fathan sama sekali tidak mau melepaskannya.
"Kiara, Fathan, apa yang kalian lakukan? ada masalah apa dengan kalian berdua? Apakah kalian merasakan sesuatu? Apakah kalian bertengkar di belakangku?" tanya Agam bingung mendengar perkataan Kiara tadi, dan juga mendengar permohonan maaf dari Fathan.
"Pa, maaf, mungkin aku baru bisa mengatakannya sekarang, karena aku juga baru tahu kenyataannya," sahut Kiara.
"Kenyataan apa Bunda? kenyataan apa tentang aku? Apa salahku? kalau Bunda tidak mengatakannya dan tidak bertanya kepadaku. Mana mungkin aku bisa tahu Bunda?" Fathan terlihat sangat frustasi dengan masalah misterius Bundanya dengan dirinya.
Dia sangat sedih saat Ibunya marah besar padanya, bahkan perkataan ibunya itu sangat menusuk hatinya, teman-temannya yang ada di ruang itu pun merasa heran, karena selama ini Fathan dikenal adalah anak yang sangat baik dan Alim. Tak sedikitpun Dia pernah melukai hati sang Bunda, apapun yang disuruh oleh Kiara, dia selalu mengikuti dan menuruti semua permintaan Bundanya.
"Fathan, kau jangan bohong! katakan saja semuanya, bahwa kau dan ibu Clara, kalian merencanakan sesuatu sebelum dia meninggalkan!" ketua Kiara.
"Bunda, Bagaimana mungkin Bunda berpikir demikian? aku memang dekat dengan Ibu Clara sejak kecil, aku sering bermain bersamanya sampai Ibu meninggal, saat itu aku masih berusia 15 tahun, tapi apa yang Bunda katakan? Bunda itu adalah ibu kandungku. Bagaimana mungkin aku merencanakan sesuatu yang akan menyakiti Bunda?" ucap Fathan terdengar sedih dan bergetar atas tuduhan sang Bunda.
"Apa kau yakin apa yang kau katakan itu? dan ..., Aisya pasti kau yang telah menculiknya kan? kau ingin menghancurkan hatiku, Iya kan?" tanya Kiara penuh penekanan.
"Astaghfirullah, Ya allah Bunda, demi Allah ..., aku tidak tahu sama sekali Bunda, gosip dari mana ini? siapa yang bisa meracuni pemikiran Bunda seperti itu?" heran Fathan.
Kali ini Fathan benar-benar remuk, saat di tuduh menculik Aisya dan juga tuduhan lainnya.
"Tidak ada yang meracuni pemikiran ku, aku mendapat bukti sendiri yang ada di kamarmu," sahutnya.
__ADS_1
"Bukti? bukti apa yang Bunda dapatkan di kamarku? tolong perlihatkan Bunda!" pinta Fathan.
"Baik, tunggu sebentar!" Kiara pun masuk ke kamarnya dan membawa buku diary itu, kemudian menghempaskan nya di hadapan Fathan kasar.
"Lihat! apakah kau bisa berkelit sekarang?" ucap Kiara dengan melotot tajam.
"Apa ini Bunda? Bahkan aku baru kali ini melihatnya?" sahut Fathan heran dan meraih buku itu.
"Terus saja kau berpura-pura. Lihat saja tulisan yang ada di dalam situ," ketua Kiara lagi.
Tulisan itu memang seperti tulisan-tulisan Fathan, Fathan pun membuka lembaran kertas dan membacanya, matanya bahkan melotot saat membaca bait demi bait tulisan yang ada di dalamnya, dia membaca satu persatu bahkan di sana terlihat tulisan curhatan dari Clara, yang sangat dendam kepada Kiara, yang telah mengambil suaminya darinya. Dan ..., di bait terakhir lah tulisan yang sangat dia,kenali, yaitu tulisan tangannya sendiri.
"Tidak Bunda! apa kau mengira ini ada tulisan tanganku? demi Allah, Aku bersumpah dengan Alquran. Aku tidak pernah menulis semacam ini, ini adalah fitnah, pasti ada orang lain yang ingin menghancurkan keluarga kita!" ucap Fathan dengan suara yang lumayan meninggi, karena dia sangat ingin membuktikan, bahwa itu bukan dia.
"Apa kau yakin itu bukan tulisanmu?"
"Kiara, jadi kamu menemukan buku itu di kamar Fathan? terus kau menghakimi dan menghukumnya tanpa mempertanyakannya dulu padanya? Kiara, kenapa kau sampai tertipu seperti ini?" ucap Agam.
"Pah, kalau tulisan itu tidak mirip dengan tulisan Fathan. Aku tidak akan berpikir macam-macam, aku sudah membandingkannya tulisan itu dengan tulisan Fathan, 100% aku nilainya sama."
Agan pun membuka tulisan itu karena penasaran. Agam juga sangat kenal dengan tulisan Fathan selama ini, dia pun sempat melotot dan kaget saat membaca tulisan terakhir yang memang benar-benar mirip.
"Bunda, aku sungguh bersumpah demi apapun, demi diriku sendiri, itu bukan tulisanku, Bunda."
"Baiklah, aku akan mengambil tulisanku."
Fathan pun mengambil buku dan membawanya, kemudian membandingkan tulisan-tulisan itu, tulisan itu memang sangat mirip, namun tentu saja ada sedikit perbedaan antara huruf demi huruf, seperti huruf-huruf tertentu. Huruf Y dan juga huruf G yang jauh berbeda. Dan ada banyak huruf lainnya kalai di lihat seksama.
"Jadi siapa kira-kira yang meletakkan buku ini di kamarmu? Apakah ada seseorang yang sengaja meletakkannya? Apakah bibi...? bibi ..., bibi kemari lah?" Kiara berteriak memanggil Bibi yang ada di dapur.
Dengan suara yang sangat lantang dia memanggil bibi. Membuat Agam dan yang lainnya heran, tidak pernah Kiara seperti ini selama ini, apakah ini karena menyangkut anak gadisnya yang hilang?
Dengan segera Bibi pun datang.
"Maaf Nyonya. Ada apa?"
__ADS_1
"bibi. Apa kau tahu ada seseorang yang masuk ke kamar Fathan?"
"Tidak Nyonya, aku tidak pernah melihat ada orang masuk."
"Fathan! Kalau kau bisa membuktikannya, kalau ini bukan milikmu, maka aku akan percaya padamu, tapi selama tidak ada bukti, tentu saja kau masih tersangka utamanya."
"Bunda, begitu tipis kah kepercayaan Bunda kepadaku? Bagaimana mungkin aku berbakti kepada orang yang sudah meninggal? Lalu akan menyakiti ibu kandungku sendiri yang masih hidup? Yang masih ada di hadapanku? Bunda tahu kan seperti apa ajaran Bunda selama ini padaku?" ucap sedih Fathan yang sudah tidak di percayai oleh ibunya sendiri.
"Aku percaya padamu, jadi kau penuhi saja permintaan Bunda mu, sekarang kita fokus untuk mencari adikmu, kita harus menemukannya, kalau memang bukan kau yang menculiknya, aku takut terjadi sesuatu kepada adikmu," ucap Agam dengan membelai pundak sang anak lembut.
Sementara Kiara masih keras kepala, karena dia sekarang sedang dalam kekhawatiran yang sangat mendalam kepada anak gadisnya Aisyah.
**
*
**
Ini adalah hari kedua Aisya di sandera.dia benar-benar tidak mau makan, dia sengaja membuat dirinya sakit, mungkin dengan demikian mereka akan mengatakan apa keinginan mereka sebenarnya.
"Nona, sebaiknya Nona makan dulu, kalau Nona begini terus, bagaimana Nona mau sehat?" bujuk wanita penjaga.
"Tidak! aku tidak akan makan dari makanan kalian, kalian yang telah menculik ku, bagiku makan kalian haram aku sentuh," ketus Aisya.
"Nona tidak boleh seperti itu, Nona harus sehat, walau kami tidak bisa membantu Nona untuk keluar dari sini, mungkin saja suatu saat nanti Nona bisa pergi dari sini. Bagaimana Nona pergi dari sini kalau Nona aja tidak makan, tenaga Nona pasti lemah."
"Jangan sok baik, kalau kau ingin membantuku, lepaskan saja aku, lepaskan aku dari sini," ketuanya.
"Itu tentu saja tidak bisa Nona."
"Sudah aku katakan pada kalian, kalau kalian ingin tebusan. Katakan padaku! bahkan 1 M pun aku akan memberikannya pada kalian kedua."
2 wanita itu pun terbelalak mendengar 1 M.
Next
__ADS_1