Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Serumah Kembali


__ADS_3

Clara dibawa ke ruangan perawatan intensif, dia pun diberi kejut listrik berulang kali, namun dia masih tidak sadarkan diri. Sementara Agam yang menemani Clara merasa sangat cemas. Dia terus berdoa agar Clara diberi kesempatan dan bisa bertobat.


"Bagaimana dok? bagaimana dengan Clara?" tanya Agam sangat khawatir.


"Tuan, kita hanya menunggu keajaiban saja, mudahan masih diberi kesempatan, saat ini penyakitnya mengalami infeksi berat."


"Apakah ada kemungkinan untuk dioperasi saja?"


"Ini bukan penyakit seperti kanker tuan, jadi hanya perlu pengobatan saja. Namun kami tidak tahu apakah ini bisa disembuhkan total? atau tidak," sahut Asisten dokter.


"Baiklah dok, aku mohon bantulah dia, aku akan membayar berapapun biayanya."


"Baiklah Tuan, kami akan berusaha sebisa mungkin," sahut asisten lagi.


Agam terus menunggu kabar tentang Clara yang masih di dalam ruangan tersebut Sementara di rumah Kiara, tampak Dia mondar-mandir sambil menggendong bayinya, saat sang mertua turun dari tangga, beliau terlihat bingung melihat tingkah menantunya yang aneh.


"Kiara! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap seperti itu? apa terjadi sesuatu?" tanya Mentari.


"Tidak Mah, tapi Mbak Clara lagi kritis."


"Syukurlah. Itu karma baginya, karena terakhir kali, dia suka sorong sana sorong sini, tanpa memperdulikan akibatnya. Kemarin dia menikah dengan Alex itu Iddahnya saja belum genap 3 bulan 10 hari. Masa dia menikah dengan Alex? berarti dia berzina dong," ketus Mentari.


"Iya Mah. Tapi kasihan kan? sekarang dia benar-benar kritis, dan sekarang lagi mengalami koma, mudahan saja dia dimaafkan oleh Tuhan Mah, sebaiknya kita mengampuni saja kesalahannya, Karena walau bagaimanapun, dia juga pernah menjadi menantu Mama kan?" ucap Kiara.


"Kiara. Aku sungguh sangat merasa istimewa memiliki menantu seperti kau, orang yang sangat baik hati, hatimu sungguh bersih seperti kapas," puji Mertua.


"Mah, jangan terlalu memujiku, aku juga hanya manusia biasa, aku dulu adalah orang yang sangat miskin, bahkan aku membayar hutang dengan memberikan diriku kepada Bang Agam, dan semua ini juga karena Mbak Clara...."


"Ah Kiara, jangan kau ungkit masalah itu, karena itu sudah takdir dari Tuhan, jodoh itu kan datangnya dari Tuhan? andainya Tuhan tidak menjodohkan dengan Agam, ini tidak akan terjadi?"


"Iya Mah, tapi aku harap mama bisa memaafkan Mbak Clara, aku juga sudah melupakan kesalahan Mbak Clara padaku, juga kepada Fathan, sebaiknya kita semua memaafkannya. Kalau mungkin ajalnya sudah dekat, agar dia bisa lebih tenang."


"Ya, kalau saja dia meninggal. Aku ikhlas, aku sangat ikhlas, aku merelakan semuanya, tapi kalau seandainya dia sehat kembali, dan berbuat ulah aku pasti mengutuknya. Oh iya, emangnya ke mana ibunya Clara? Kenapa tidak pernah ada kabar?"


"Aku juga tidak tahu Mah. bahkan Mbak Clara sendiri pun tidak tahu katanya."


"Mungkin wanita itu malu memiliki anak seperti dia. Tapi kasihan kan Clara? sebaiknya kau cari kabar, kalau misalnya Clara meninggal, paling tidak, ada ibunya yang mengantarkannya ke liang lahat, untuk yang terakhir kalinya."


"Mama, kenapa berkata seperti itu? mudahan saja Mbak Clara bisa sembuh kembali," doa Kiara.


"Kan sekarang dia lagi kritis? jadi kita berpikir ke depannya bagaimana kan?" sahut Mentari.

__ADS_1


"Iya Mah, nanti aku akan mencoba mencari mamahnya Mbak Clara, tapi apakah Mama tahu di mana alamat rumahnya waktu masih menikah dengan Bang Agam?" tanya Kiara.


"Oh ya, aku tahu, nanti akan aku kirim alamat lewat WA saja ya? biar lebih detail."


"Mudahan saja dia tidak pindah kampung ya Mah."


"Iya, ini sudah ku kirim."


Kiara pun membuka alamat itu dan menelepon seseorang untuk mencarinya.


***


Burhan baru saja menyelesaikan rapat di kantornya, ketika teleponnya berdering, dia pun segera mengangkatnya.


"Hello ..., Tuan Agam. Ada apa?" tanyanya .


"Tuan Burhan. Apakah kau bisa ke rumah sakit sekarang? Clara kritis. Mungkin saja kau ingin melihatnya."


" Ha? Benarkah? Rumah Sakit mana? Tolong kau berikan sherlock-nya ."


"Ya Tuan, baiklah."


Burhan pun bergegas meninggalkan kantornya, saat di parkiran.


Bibi dan Nisa anak Burhan tampak mencegat perjalanan Burhan. Burhan pun segera menggendong anaknya.


"Ada apa sayang? papa kan lagi sibuk kerja."


Burhan menciumi gadis imutnya itu, sejak Ibunya meninggal, Burhan sendiri yang merawatnya saat sia pulang dari bekerja.. Usia Nisa sekarang sekitar 10 bulan, dia tampak tersenyum saat melihat sang ayah memeluknya Dan menggendongnya erat.


"Bi, Ayo#"


"Mau ke mana Tuan?"


"Kita harus ke rumah sakit, nanti biar Bibi tunggu di luar rumah sakit ya? aku harus menemui temanku di sana."


"Baik tuan.-


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit, yang ditempati Clara.


"Clara, mengapa kau sakit separah ini? Aku tidak menyangka kau berakhir seperti ini? Clara, inilah akhirnya dari keserakahan mu, kau serakah dengan harta, sehingga membuatmu menerima akibatnya. Hanya karena harta kau mengejar laki-laki ke sana ke mari, ini juga salahmu. Kenapa kamu jodohkan Agam dengan wanita itu?" batin Burhan.

__ADS_1


Burhan juga sudah berulang kali mendatangi Clara di penjara, saat Clara sudah sakit parah, Burhan juga beberapa kali membujuk Agam agar bisa mengeluarkannya dari penjara, namun Agam tidak merespon, karena Mentari melarangnya. Tak berapa lama, Burhan pun sampai di rumah sakit tersebut. Dia segera mendatangi tempat di mana Agam berada.


"Tuan Agam, bagaimana?"


"Tua Burhan, tampaknya dia semakin parah, Oh ya, apakah kau tahu di mana ibunya berada sekarang?"


"Aku tidak pernah bertemu dengan ibunya, tapi aku akan menelpon seseorang yang ada di kampung, mungkin saja Ibunya masih ada di kampung."


"Baiklah, kau Segera hubungi, aku khawatir akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dengan Clara."


"Tuan sebentar."


Burhan pun menelpon seseorang dan berbicara dengan seseorang itu. Tak berapa lama.


"Alhamdulillah, ternyata ibunya masih ada di kampung, aku sudah menyuruh wanita itu agar ibunya ke kota ini, masalah ongkos ke kota, Aku yang Akan mengurusnya."


"Terima kasih, Tuan Burhan," ucap Agam.


"Sama-sama, tapi kau tidak usah berterima kasih begitu? karena Clara juga adalah sahabatku di masa kecil, aku pun bahkan pernah tergila-gila padanya, namun dia lebih memilih kau daripada aku saat itu, ha ha ha," tawa renyah Han.


"Iya, aku minta maaf."


"Kenapa kau minta maaf?"


"Karena dia memilih Aku, padahal Kalian kan teman masa kecil?"


"Oh ha ha ha, tidak apa-apa Tuan, itu adalah jodoh dari Tuhan kan? mereka menunggu hasil akhir dari para dokter yang sudah membantu Clara di dalam.


***


5 tahun berlalu sejak kejadian Kritis Clara. Kini dia tampak di dorong kursi roda dengan wajah pucat. Seperti tak ada gairah hidup. Penyakit itu,telah menghabisi daging di dalam kulitnya.


"Ibu, apa ibu mau makan?" tanya Fathan kecil.


Kini Clara hidup kembali bersama di rumah Agam, walau ini hanya karena kasian.


Clara menggeleng saat di tawari makan. Dia hanya asik menatap kupu-kupu yang terbang be as di,taman milik Kiara. Kiara sengaja menanam banyak bunga di samping rumahnya, sangat indah.


"Fathan! Ayo makan! Biar bibi yang jaga Ibu, sekalian di suapin makan sama bibi," panggil Kiara.


"Iya Bunda."

__ADS_1



__ADS_2