
Agam dan Kiara sudah tampak berada di sebuah parkiran warung makan yang begitu besar. Agam dengan tergesa-gesek turun dan berlari ke samping pintu Kiara, untuk membukakan pintu wanitanya tersebut.
"Bang, tidak usah seperti ini. Aku merasa malu," ucap Kiara.
"Malu? kenapa kau malu? Apakah karena aku terlalu tua bagimu?" tanya Agam.
"Bang, bukan begitu, walaupun kau lebih tua dariku, tapi kau masih sangat tampan kok," lirih Kiara pelan.
"Ah kau bisa aja Kiara, kamu sudah pintar merayu ya?" ucap Agam merasa grogi.
"Bener kok, bahkan kelihatannya kau dan aku itu seumuran, apa kah aku yang terlihat tua? ataukah kau yang terlihat awet muda?" ucap Kiara.
"Ah sudahlah. Ayo cepat!"
Kiara pun turun setelah pintu ditutup, tiba-tiba Agam meraih tangan Kiara, sejenak Kiara pun menatap wajah suaminya tersebut, karena merasa aneh.
Ini adalah kali pertama Kiara jalan berdua dan digandeng oleh suaminya, mendapat tatapan begitu, Agam malah mengeratkan genggamannya di tangan Kiara. Saat masuk ke restoran tersebut, orang-orang yang makan di sana tidak memperdulikan mereka, karena ini adalah kota besar, dan mereka sedang asyik menikmati makanan mereka sendiri.
"Kau mau makan apa?" tanya Agam.
"Terserah Abang saja, aku semuanya bisa makan kok, asal makanan yang halal," ucap Kiara.
Agam pun memesan makanan yang biasa Kiara masak di dapur, mereka sengaja memilih tempat di pojokan, agar mereka leluasa untuk bercakap-cakap berdua.
"Ehem ..., Bolehkah aku memanggilmu Sayang, kalau kita sedang berdua?" tanya Agam.
Agam merasa benar-benar bucin kali ini, bahkan saat duduk pun dia selalu menggenggam tangan Kiara, dan duduk samping Kiara mepet.
"Abang apaan sih? Abang nggak malu tuh di lihat orang duduk beginian?" tanya Kiara yang merasa tidak enak, saat Agam duduk begitu dempet di sampingnya.
"Sayang, aku ingin seperti ini selamanya, bahkan kalau aku boleh kembali ke masa lalu, aku ingin menjadikan kau sebagai istri pertamaku," bisik Agam.
"Abang gombal ah," lirih Kiara.
Mereka berbicara sangat pelan, sehingga orang yang ada di restoran tersebut pun tidak mungkin mendengar.
"Benar kok, Oh ya, setelah ini bagaimana kalau kita mencari Villa atau mencari rumah yang ada di pinggiran kota, agar ibu bisa pindah ke sana dan kau pun juga bisa ke sana sesekali nanti, dan kita bisa berduaan di sana, hi hi hi."
__ADS_1
Ternyata ujung-ujungnya ya Agam lah ingin berduaan dengan Kiara. Dasar otak mes**um hi hi.
"Untuk apa rumah Bang? nanti kalau ketahuannya Nyonya Clara, pasti dia sangat marah, apalagi kalau abang buang-buang uang untukku.," sahut Kiara. Sebenarnya hatinya senang, Agam hari ini bisa menjadi miliknya.
"Kamu kenapa sih Kiara, selalu saja memikirkan Clara? kamu itu istriku, istri sahku, walaupun tidak terdaftar di kantor agama, Apakah kau tidak takut, kalau nanti aku tiada, kau tidak dapat apa-apa? misal nih kau hanya dapat anak dariku, Apakah tidak menyesal?" ucap Agam.
"Ya tidaklah Bang, awalnya mungkin semua ini hanya sebuah perjanjian, karena aku ingin mendapatkan uang 30 juta untuk menebus ibuku, tapi semakin ke sini, aku merasa semakin serakah ya?" ucap Kiara.
"Serakah? Serakah yang bagaimana maksudmu? apa kau ingin menguasai hartaku?" tanya Agam sedikit tersenyum. Karena sebenarnya dia hanya bercanda.
"Eh apaan sih Bang? aku sama sekali tidak ada berpikiran ke sana tahu? niat awal itu kan aku cuma ingin mendapatkan uang 30 juta, terus menebus Ibu dari rantenir tersebut, namun sekarang aku malah serakah ( Kiara terdiam sesaat) sekarang aku ingin memiliki Abang seutuhnya," ucap Kiara.
Kiara tertunduk karena merasa malu, telah mengakui perasaannya begitu dalam.
Agam pun kembali meremas tangan Kiara., Perasaan menggebu yang ada di dalam jiwa Agam, sama besar dengan perasaan yang ada di dalam jiwa Kiara.
"Bagaimana kalau kita kabur saja!" ajak Agam.
"Ah abang apaan sih? kabur ke mana coba?" tanya Kiara heran.
"Ha ha ha, aku cuma bercanda, tapi benar kok, saat ini rasanya aku ingin kabur saja denganmu, kita pergi ke Luar Negeri dan kita hidup di sana, bersama anak-anak kita," ucapnya.
"Benar juga sih, tapi aku tidak bisa jauh dengan kamu sekarang Kiara! Apa kau telah memelet ku?" jujur Agam sambil menatap Kiara sangat dekat.
"Abang apaan sih? Mana mungkin aku syirik begitu?"
"Ini Tuan, makanannya."
Tiba-tiba seorang pelayan memberikan makanan ke hadapan mereka, mereka pun kaget dan segera menjauhkan wajah mereka yang tadi sangat dekat. Kiara merasa sangat malu, tidak menyadari pelayan tersebut datang.
"Terima kasih," ucap Kiara.
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang ada di depannya, tiba-tiba...
"A... A...," ucap Agam pada Kiara. Agam ingin menyuapi Kiara, Kiara melirik ke kiri dan ke kanan, karena merasa malu kalau ada yang melihat, hasilnya Kiara pun membuka mulutnya, setelah Kiara mengunyah makanannya dan menelannya.
"Abang, kok lebay gini sih? Ada apa sih Bang? malu ah," ucap Kiara.
__ADS_1
"Kita ini pengantin baru loh! biasa ..., wajar kan kalau kita begini?" ucap Agam.
"Tapi malu Bang, ini tempat umum," ucap Kiara.
Tiba-tiba Agam berdiri. Hey mau apa dia?
"Permisi, minta waktunya sebentar! Karena aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Agam.
"Bang, mau ngapain?"
Kiara tampak was-was, ada apa dengan Agam? sepertinya dia sedang tidak waras hari ini.
"Perkenalkan, ini Kiara, istriku, kami baru menikah, untuk merayakan pernikahan ini, kian boleh makan sepuasnya di sini, aku yang traktir," ucap Agam.
Kiara terbelalak. Bagaimana mungkin Ceo sebuah perusahaan besar ini bersikap ke kanak-kanakan?
"Horeee...."
"Alhamdulillah...."
"Terima kasih Tuaaaan... Mudahan langgeng dan cepat di beri momongan."
"Amiin."
Do'a dari mereka semua.
***
Clara tampak sudah berada di kantor Han, dia pun masuk ke ruangan pribadi Han, terlihat wajah cemberut Clara begitu jelas di wajahnya, membuat Han bertanya-tanya. Ada apa wanita ini? wanita yang pernah disukainya dahulu.
"Clara, Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau jadi seperti ini? Bukankah selama ini hubunganmu dengan Agam baik-baik saja?" Han pun mendekati Clara yang duduk di bangku panjang.
"Sebenarnya aku mandul Han, dan aku ingin Mas Agam memiliki anaknya sendiri, bukan dari hasil Adopsi, terus aku memilihkan seorang wanita, sebelumnya dia tidak menyukainya, dan bahkan marah padaku, saat dia tahu aku menjodohkannya, namun sekarang dia malah bermain-main dengan wanita itu, dia pergi seenaknya dengan wanita itu, hik hik hik."
Clara menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu Han. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memoto dari jarak yang jauh. Karena kebetulan, pintu Han sengaja di buka lebar.
Orang itu tersenyum.
__ADS_1
"Pasti akan menghasilkan cuan," Batin lelaki itu.
Bersambung...