Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Ingatan yang Memudar


__ADS_3

Untung saja polisi itu ada di sana juga, sehingga dia melerai dan menarik paksa Agam keluar dari UGD tersebut.


"Pak lepaskan saya! Lepas! Saya mau bertemu dengan istri saya, cepatlah! Istri saya sedang sakit."


Agam meronta, namun ternyata Pak polisi lebih kuat dari Agam.


"Kalau Anda tenang, maka akan saya lepaskan," ucap Pak polisi.


"Baiklah, saya akan tenang, tapi tolong suruh pergi lelaki itu dari sini!" geram Agam.


Agam pun tenang dan kembali stabil. Dia berjalan kembali masuk ke UGD dan menemui sang istri.


"Mas..., hiks hiks hiks," panggil Kiara.


Kiara menangis, dan langsung di peluk oleh Agam di pembaringannya. Adi yang melihat pun menjadi bingung. Dan merasa marah.


"Hei, siapa kau? apa-apaan ini?"


"Adi, ayo kita keluar dulu, ayo Nak!"


Sang Mamah pun menarik tangan Adi membawanya keluar dari situ.


"Tidak Mah, aku takut terjadi sesuatu pada Kiara, hey menyingkir kau dari Kiara ku!"


Adi pun menarik tangan Agam, untung saja polisi itu masih ada di situ dan menarik Adi, sesuai. permintaan Agam tadi.


Adi pun di bawa keluar dengan paksa. Dan di bawa duduk di taman rumah sakit oleh sang ibu.


"Adi dengarkan Mamah, mamah ingin kau tenang dan dengarkan baik-baik!" pinta sang mama.


"Iya Ma, sebenarnya ada apa? Mengapa Kiara membalas pelukan lelaki itu?"


"Adi Sayang, ini sudah tahun 2023, dan kamu mungkin terbangun di tahun 2020. Di mana kamu masih pacaran sama Kiara, tapi sekarang Kiara sudah menikah Nak."


Dor


Adi termangu dan tak berkata apa-apa, dia menatap tajam wajah sang Mamah, dengan wajah bingung dan sedikit memicingkan matanya.


"Adi, sadar Nak, semua sudah berubah, mamah mohon maaf Sayang. Mamah salah."


Mamah nya pun menangis dan mendekati Adi kemudian memeluk anak semata wayangnya itu.


"Sebenarnya, apalagi yang telah terjadi denganku Mah? kenapa aku tidak bisa mengingat apapun? aku masih berpacaran dengan Kiara, kenapa Mama bilang Kiara sudah menikah?" sungut Adi dengan wajah muram.


" Iya Adi, kemarin kamu kecelakaan, kepalamu terbentur hebat dan memori ingatanmu kembali ke masa lalu, di saat kau masih berpacaran dengan Kiara," jawab mamahnya.


"Bagaimana mungkin semua itu terjadi Mah? kenapa Kiara meninggalkanku? Bukankah kami saling mencintai?" timpal Adi lagi.


"Maafkan Mamah, Mamah yang salah Nak!" sesalnya.


"Kenapa Mamah minta maaf? apa yang Mamah lakukan kepada ku dan juga Kiara? kenapa kami tidak bisa menikah? kami sudah berjanji untuk menikah Mah, tapi kata Mamah, Kiara menikah dengan orang lain?" heran Adi dalam kebingungan.


"Adi, Mamah mohon maaf, semua ini salah Mamah, Apakah kau ingat sebelumnya Mamah tidak merestui kau dengan Kiara saat itu? Dan setelahnya Kiara pin menikah dengan lelaki lain," ungkap Mamah Adi sedih.


Adi terdiam, dia mencoba mengingat apa yang dikatakan mamahnya, mengingat hal buruk yang pernah dialaminya dengan Kiara, namun memorinya teringat saat Kiara ikut ke rumah Adi dan terciptalah bayangan-bayangan di mana Kiara dan Adi tidak direstui.


Adi terdiam, namun tiba-tiba kemudian dia berdiri dan berjalan meninggalkan Rumah Sakit tersebut,


"Adi! kamu mau ke mana Nak?"


Tak Ada jawaban dari mulut Adi sang Mamah terus mengikutinya, karena takut akan terjadi sesuatu pada Adi.


"Ayo kita pulang biar kita bicarakan di rumah baik-baik!" ajak mamahnya. Adi tetap tidak menjawab. Apakah adik kembali seperti dahulu


***


Sementara Agam dan Kiara tampak Agam masih memeluk sang istri, dia pun meneteskan air mata, tangisan bahagia, karena sekarang rasa khawatirnya sudah hilang.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau sampai begini?"


"Apakah anda keluarga pasien?" tanya Seorang perawat.

__ADS_1


Kiara dan Agam pun menoleh


"Iya, saya suaminya."


"Mari ke ruangan dokter sebentar."


"Sayang, aku tinggal dulu ya!"


"Iya Bang."


Agam pun mengiringi perawat tersebut mendatangi dokter, setelah Agama masuk ke ruangan dokter dia dipersilahkan duduk.


"Pak, maaf sebelumnya, istri anda itu kan sedang hamil muda..., dan hari ini dia pendarahan...."


"Apa? istriku pendarahan? Bagaimana bisa terjadi? apa yang terjadi dengannya?"


"Apa kau tidak tahu? ibu tadi mengatakan, kalau istri anda itu jatuh dengan posisi duduk, jadi tentu saja kandungannya pun terhempas sehingga mengakibatkan pendarahan."


"Jadi bagaimana dengan istriku?"


"Saat ini kami belum bisa memprediksinya, pendarahannya pun lumayan banyak, tapi kami sudah memberikan obat penguat kandungan, mudahan saja berhasil."


"Dok, tolong istri saya, saya mohon dok, Ini sudah saya nanti berpuluh-puluh tahun, ini adalah anak pertama saya dok, Lihatlah usia saya! kasihani lah usia saya ini, dok."


"Pak, maaf, saya tidak bisa mengasihani anda karena hanya usia anda sudah tua, ini semua takdir Pak. Jadi kami ini hanya berusaha membantu agar istri anda tidak keguguran," sahut dokter merasa aneh dengan pak tua yang kebelet punya anak.


"Jadi apa yang harus saya lakukan dok?"


"Untuk sementara, batasi aktivitasnya sebaiknya sekarang dia hanya boleh tidur-tiduran saja, bermalas-malasan begitulah. Apakah istri anda seorang pekerja keras?"


"Tidak dok, sama sekali tidak, istri saya hanya berjualan bubur ayam di depan rumah."


"Oh begitu ya, untuk sementara mungkin sebaiknya dia istirahat saja dari jualannya."


"Iya dok, pasti. Terima kasih banyak, jadi apa yang harus saya lakukan."


"Dia tidak boleh stress, harus rileks jangan ada yang mengganggunya di dalam rumah, jangan sampai ada yang membuat pikirannya tidak nyaman."


"Baik dok, terima kasih banyak."


"Ya Dok, Saya bersedia."


"Apakah anda punya BPJS?"


"Ya Dok, saya punya, tapi istri saya belum saya masukkan ke BPJS saya pak, Pak bagaimana ini?"


"Ooh?" dokter heran. Dan mengerutkan alisnya.


"Sebenarnya kami baru saja menikah."


"Oh Baiklah, Anda bisa menanyakannya kepada istri anda, kalau istri anda belum mempunyai BPJS Anda bisa membikinkannya atas nama Anda."


"Baik, terima kasih."


Agam pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, setelah semua penjelasan sudah di pahaminya.


Agam kembali mendatangi sang istri ke ruang UGD.


"Sayang, aku minta maaf, apa kamu kecapean? apa yang terjadi sehingga kamu terjatuh?"


"Bang, tadi tiba-tiba Mas Adi datang dan mengajakku pergi, dia menarik ku memasuki mobil untuk membawaku ke KUA, untuk menikah dengannya, aku memberontak hingga aku terjatuh."


"Kurang ajar lelaki itu! aku ingin menghajarnya sampai babak belur," berang Agam, wajahmu pun sampai memerah.


"Bang. Sudahlah, semua ini juga bukan salah dia, karena ingatannya lah dia seperti itu."


"Kau selalu saja toleransi padanya, Apa kau masih mencintainya?" emosi Agam meluap ketika Kiara membela Sang Mantan.


"Bang, bukan begitu, dia kan memang kurang sehat? Jadi sebaiknya kita yang sehat lah yang sedikit mengalah," sahut Kiara memperbaiki kata katanya.


"Tapi semua ini keterlaluan, Kiara!"

__ADS_1


"Dia tidak bermaksud jahat Bang, dan dia juga tidak tahu kalau aku lagi hamil kan? dia bahkan tidak tahu kalau aku sudah menikah."


"Tapi sekarang dia harus tahu."


"Mungkin mamanya sudah menjelaskannya, sehingga dia tadi memaksaku untuk menikah. Bahkan dia sempat bilang tadi padaku 'kenapa Mamah bilang kalau kamu sudah menikah? Padahal kita berpacaran' nah seperti itu tadi dia bilang."


"Baiklah, kali ini mungkin aku bisa toleransi, tapi aku tidak ingin lagi kamu bertemu dengannya! dan sebaiknya kita pindah rumah saja, kita jual saja rumah itu, biar kita beli rumah yang baru."


"Bang, rumah itu sudah nyaman bagiku."


"Tapi aku tidak nyaman Kiara, Bagaimana kalau tiba-tiba aku tidak ada di rumah, ibu dan mama juga tidak ada, lalu dia datang ke rumah itu, apa yang akan kau lakukan? kondisimu sangat lemah, kata dokter mulai sekarang kau hanya boleh malas-malasan di dalam rumah, tidak boleh kemana-mana."


"Apakah separah itu?"


"Iya, Kau kan pendarahan, kandungan mu itu masih sangat muda, jadi kau jangan bandel kali ini, kamu ngerti kan? Aku sudah lama menantikan bayi ini, jangan sampai kau mengecewakanku!" kata Agam sambil membelai lembut di kepala Kiara .


"Iya Bang, terima kasih banyak, Oh iya bagaimana dengan Mbak Clara?"


"Aku tidak bisa memikirkan itu, biar dia ngurus dirinya sendiri, aku sudah pusing, sebelumnya juga aku sudah memberi saran padanya, agar dia jangan nekat."


"Tapi Bang, kasihan dia."


"Kenapa kau ini? Selalu kasihan kepada orang lain, Lihatlah dirimu sendiri?"


"Iya Bang, maaf." suara lirih Kiara kemudian.


Kiara pun memilih diam agar tidak berdebat dengan suaminya.


"Oke, sekarang kau istirahat aja! kau tidur ya!"


Kiara pun memenuhi permintaan sang suami, mencoba untuk meminjamkan mata walaupun sangat sulit.


***


Sementara di kantor polisi. Clara sudah menjadi tahanan sementara, sebelum semua bukti-bukti terkumpul, tampak Burhan hari ini mengunjungi Clara.


"Clara!" sapanya saat polisi sudah mengizinkannya untuk bertemu.


"Han, kau datang? siapa yang mengabari mu?"


"Agam yang mengatakannya padaku."


"Benarkah? dia sama sekali tidak peduli denganku."


"Clara, Apa kau tahu apa yang dihadapi Agam sekarang? Bahkan ia pun sangat dalam kesulitan."


"Makanya aku ingin membantunya, Aku ingin mengembalikan perusahaannya padanya, namun dia bahkan malah tidak menghargai sedikitpun usahaku."


"Bukan itu Clara."


"Terus apa? bahkan setelah aku dimasukkan ke sini, dia tidak ada kemari."


"Clara, sekarang Agam bekerja di sebuah perusahaan sebagai cleaning servis, sebagai tukang sapu di perusahaan itu."


"Apa?" Clara terbelalak.


"Ya."


"Bagaimana mungkin?"


"Mana aku tahu? aku sudah bertemu dia beberapa kali di perusahaan itu."


"Kenapa kau tidak membawanya untuk bekerja di perusahaan mu?"


"Aku sudah menawarkannya, namun dia belum menerimanya."


"Dasar laki-laki keras kepala! Mungkin dia masih marah kepadamu karena peristiwa dulu, dia memergoki kita berdua."


"Entahlah, sekarang apa yang harus aku lakukan untukmu?"


"Keluarkan Aku dari sini !"

__ADS_1


"Aku akan berusaha."


Mereka pun terus asik ngobrol hingga tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat.


__ADS_2