Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Sangat Sedih


__ADS_3

Agam dan Kiara terhenti, ketika Adi memanggil mereka. Rupanya Adi sedang berlibur dari kuliahnya di Luar Negeri.


"Hai, Kiara! Tuan Agam, kalian juga di sini?" sapa Adi mendatangi Pasangan suami istri itu.


"Mas Adi, iya, kami baru mau melihat-lihat." sahut Kiara.


"Baiklah, kami permisi dulu!" ucap Agam sambil menarik tangan istrinya kembali.


"Tunggu! Kiara, aku mau mengenalkan seseorang padamu," ucapnya.


Adi pun kembali berbalik ke toko perhiasan dan menarik tangan seorang wanita cantik dan terlihat seksi dan berkelas.


"Dia siapa?" tanya Kiara.


"Kenalkan, ini Gea, calon istriku, Gea, ini Kiara dan juga Agam suaminya," ucap Adi memperkenalkan diri sang tunangan.


"Helo, salam," sapa Gea sambil mengulurkan tangan pada Kiara dam Agam. Namun Agam hanya menyatukan tangannya saja di atas dada.


"Oh, salam juga," sahut Kiara.


"Kalian mau cari perhiasan juga? Kiara, bolehkah kau menemani Gea untuk menemani Gea memilih cincin kawin untuk kami?" pinta Adi.


"Maaf, kami tergesak-gesak, karena Kiara sering kelelahan membawa perutnya yang sudah membesar," potong Agam.


"Tapi sebentar saja kok, sebagai teman, boleh ya?" pinta Adi lagi.


"Bagaimana ya? Kami juga harus mencari barang untuk keperluan kami," sahut Kiara.


"Mas, kalau mereka sibuk, tidak apa-apa, aku bisa kok milih sendiri, ngapain minta di temenin?" ucap ketus Gea, sambil mendelik pada Adi.


"Tapi ini sangat berkesan Ge, kalau teman lama bisa menemani menilai cincin kawin kita," paksa Adi lagi.


"Maaf, kami harus pergi! Ayo Sayang!"


Agam pun merangkul pundak sang istri dan berjalan meninggalkan Adi dan pacarnya.


Adi terlihat kecewa, sementara Gea segera menarik tangan Adi dan kembali ke toko perhiasan.


"Sayang, kenapa diam?" tanya Agam pada Kiara yang terlihat merenung.


"Oh ..., tidak kok, ayo! Sekarang ke mana lagi?" tanya Kiara.


"Beli perhiasan jadi?",tanya Agam.


"Nggak usah, kita makan saja, aku laper." ucapnya.


"Baiklah, ayo!"


Agam kembali melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang memang ada yang iri dan sinis dengan kemesraan mereka.


"Ayo kita,makan di sini, makan yang bergizi ya!"


Agam pun memesan makanan yang sehat untuk bayinya dan juga istrinya. Berbagai macam menu sehat terhidang, sehingga meja mereka penuh makanan.


"Bang, kenapa sebanyak ini? Ini mubazir Bang!" Protes Kiara, saat melihat meja itu penuh makanan.


"Makan saja, kalau tidak habis nanti kita bawa, kalau di rumah nanti banyak aja yang makan."

__ADS_1


"Itu nanti jadi barang sisa Bang, kan nggak enak," sahut Kiara.


"Asal jangan di aduk-aduk aja, ayo makan! Jangan banyak protes."


Kembali Kiara terdiam, selalu seperti itu. Kiara selalu males berdebat dengan sang suami.


Selesai makan akhirnya mereka bermaksud pulang ke rumah, dan membawa barang belanjaan yang begitu banyak.


Saat di lampu merah, Kiara asyik ngobrol dengan Agam, dan terkadang Agam juga membelai lembut kepala Kiara, tiba-tiba, mata Kiara menangkap pemandangan yang tidak akan pernah ingin di lihatnya.


"Ayah!" batinnya.


Ya. Seorang laki-laki yang sangat di kenalnya sedang berjalan-jalan di lampu merah, sambil membawa sapu bulu, dan tampak membersihkan kaca mobil orang-orang yang sedang berhenti.


"Hei Pak tua! Jangan kau sentuh kaca mobilku, nanti tambah kotor, aku,sudah mencucinya!" bentak seorang pemuda kepada lelaki tua itu.


Hati Kiara terasa teriris dan sangat sedih, ketika, lelaki yang dulu pernah menyakiti dirinya, kini tersakiti oleh orang lain. Tak terasa sebutir air mata pun menetes.


"Sayang! Kenapa menangis? Kau melihat apa?"


Ternyata Agam melihat adegan Kiara menangis tersebut. Agam pun menatap lelaki yang sedang di hardik oleh seseorang.


"Kamu sedih ya melihat kakek itu?" tanya Agam.


"Iya Bang, kasian sekaki dia."


Ayah Kiara pun kembali ke mobil lainnya, ada yang bersedia memberinya uang 2000, 1000, dan ada juga tidak memberi apa-apa. Ketika lelaki itu menuju mobil Kiara. Dengan cepat Kiara pura-pura batuk dan menutupi mulutnya dengan kerudung. Kemudian dia mengeluarkan uang 100.000 rupiah dan menggulungnya, sehingga tidak terlihat nominalnya.


Perlahan Kiara membuka sedikit kaca dengan tetap menutup separo wajahnya. Dan ketika dekat, Kiara pun mencolek lelaki itu dan menyerahkan uang.


"Ayah, mudahan kau bahagia di luar sana, maaf, aku belum bisa memaafkan mu," batinnya.


"Siapa lelaki itu? kenapa Kiara tampak perduli sekali? Apa jangan-jangan?"


Otak Agam yang pintar pun berpikir keras. Pati Kiara mengenal lelaki itu, bahkan kini tebakannya pun benar.


"Ayah Kiara," batinnya.


Agam membiarkan Kiara melamun dan mengHalu sendiri. Agam bahkan pura-pura tidak tau kalau Kiara memberi lelaki itu uang, padahal, Agam sudah mengintip lewat kaca spion, kalau Kiara memberi uang 100.000 pada lelaki tua itu. Saat berada di belakang mobil, lelaki tua itu membuka dan menentengnya.


Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya Agam dan Kiara pun sampai, namun tak ada respon dari Kiara, dia hanya duduk manis, setelah Agam membukakan pintu pun Kiara masih duduk melamun.


"Sayang, ayo turun!" ajak Agam.


"Oh iya, sudah sampai ya?" tanya Kiara terlihat bingung, dan memindai sekitar.


Agam pun seperti biasa menggandeng sang istri. Mereka berdua sangat mesra.


"Bibi dan mbak-mbak, tolong bawakan belanjaan ku di mobil ya?" panggil Agam kepada pembantu-pembantunya.


"Iya Tuan Besar."


Semua belanjaan yang memenuhi bagasi dan juga jok belakang lun dikeluarkan dari mobil. Agam dan Kiara tampak memasuki rumah besar itu. Namun...


"Mas Agam! Akhirnya kau datang juga," sapa Clara yang berdiri dari duduknya semula. Dia pun mendekat dan ingin cipika-cipiki.


"Eeet ..., kita bukan siapa-siapa lagi." elak Agam menghindar dengan berjalan ke sisi lain Kiara.

__ADS_1


"Mas ..., kau kenapa sih? Kita akan kembali menikah, harusnya tidak masalah kan?" percaya diri Clara berujar demikian, membuat Kiara merasa mual.


Pasti dede bayi yang mual mendengar perkataan Clara tersebut. Enak saja papahnya di goda wanita lain di hadapan sang mamah.


"Kau itu istri Alex, pamanku, jadi kau adalah Tanteku sekarang." ucap Agam menyindir.


"Mas, kau ini kenapa sih? Kita akan menikah kembali, dan seperti semual, aku akan merawat anak Kiara, dan Kiara akan....-


"Tak ada yang perlu kau rawat, Kiara dan aku bisa kok merawat anak kami sendiri!" potong Agam, sebelum Clara melanjutkan kata-kata pedesnya.


"Baaaaang ..., aku letih, mau istirahat," ucap manja Kiara.


Sepertinya Kiara sengaja berkata seperti itu. Membuat bibir Clara manyun saat mendengar suara manja Kiara.


"Ayo Sayang!"


Agam pun dengan sengaja merangkul pundak sang istri dan membawanya menuju kamar.


"Mas! Kau tega mengabaikan ku begini? Kau itu duku siapa? Aku yang menemanimu hingga perusahaan mu sukses berat!" teriak Clara.


Aswin dan Mentari,yang ada di atas pun turun dari kamarnya.


"Apa-apaan sih,,berisik sekali!" ucap Mentari.


"Clara? Kau masih di sini?" heran Aswin.


Clara yang sudah di suruh pulang oleh Mentari tadi, ternyata masih ada di rumah ini.


"Aku tidak akan pulang Mah, ini rumahku, dan aku akan tinggal di sini!" ketusnya.


Agam dan Kiara sudah masuk ke dalam kamar tamu. Karena memang di situlah mereka tidur sejak Kiara hamil.


"Hei ..., kau itu bukan siapa-siapa kami lagi! Untuk apa kau,tinggal di,sini?" ketus Mentari.


"Mah, dulu kau sangat menyayangiku, sekarang ke mana rasa Sayangmu itu mah?"


"Sudah terkubur, saat kau pergi di hari kebangkrutan Agam!" sahut Mentari lagi.


"Aku tidak terima, rumah ini dulunya kecil, akulah yang mendesain rumah ini, sehingga menjadi seperti ini."


"Tapi kau ingatkan di hari itu, kau meninggalkannya?" ketus Mentari.


Ceklek.


Tampak Agam dan Kiara kembali keluar dari kamar, kali ini mereka seperti membawa koper.


"Kalian mau kemana?" tanya Mentari.


"Mencari Rumah baru mah," sahut Agam.


"Mas!" pekik Clara.


Agam dan Kiara berjalan tanpa perduli dengan Clara. Namun.


Hap


"Dasar Pelakor, dasar jal**ng, pergi kau dari kehidupanku!"

__ADS_1


Pl**a ....


3 tamparan mendarat di pipi Clara.


__ADS_2