
Terlihat Agam memeluk mesra istrinya. Mereka masih berada di dalam satu selimut yang sama, tanpa mengenakan sehelai benang pun kecuali hanya selimut yang menutupi mereka.
Kiara tampak memejamkan mata di pelukan sang suami, walaupun sebenarnya dia tidak tidur, namun dia begitu menikmati kenyamanan bersama sang suami.
"Kiara, kenapa kau terlambat datang di dalam hidupku? perbedaan usia kita sangat jauh. Apakah kau tidak merasa malu, kalau sedang berjalan denganku?" tanya Agam.
"Abang apaan sih? kamu itu masih terlihat muda, bahkan sangat... masih... terlihat muda, apa karena aku mencintaimu, hingga mataku mengatakan begitu?aku mencintaimu, sehingga aku merasa kau itu masih seusia diriku, hi hi hi," ucap Kiara, sambil mendongak menatap wajah sang suami.
Kecupan bertubi-tubi pun di daratkan Agam di jidat sang istri. Dia melupakan wanita pertamanya yang sekarang berusaha untuk mendapatkan perhatian Agam. Ya... Clara bahkan sekarang berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian penuh dari Agam.
Kemarin saja... setelah kecelakaan, Agam tidak diijinkan jauh dari Clara, sehingga Agam tidak punya kesempatan untuk menemui Kiara.
"Sayang, hari ini kita cari rumah buat ibu ya! biar Ibu pindah dan kamu bisa sering menjenguk ibu. Kamu jenguk tiap hari juga tidak apa-apa, nanti aku akan tiap hari juga jenguk kamu, hi hi hi," goda Agam.
Ada udang di balik bakwan ternyata. Agam ternyata punya otak Mes**um untuk menemui istri mudanya tersebut di rumah ibunya.
"Apa tidak kena marah Nyonya Clara Bang?" tanya Kiara.
"Eh... jangan sampai dia tahu, kalau ibu kamu pindah rumah, dan kita harus merahasiakannya, Oh iya. Bagaimana kalau kita beli tespek dulu, mungkin kamu sekarang sudah hamil," ucap Agam, sangat antusias dengan istri mudanya tersebut.
"Abang Apaan sih? Ini kan baru dua hari, orang hamil biasanya kan ada yang berbulan-bulan baru ketahuan, bahkan sampai 2 bulan atau 3 bulan," ucap Kiara.
"Oh... begitu ya? Kukira kalau kita bercocok tanam, langsung tumbuh tuh kayak benih yang ditanam paman-paman di sawah, 1 Minggu kan langsung tumbuh," canda Agam lagi.
"Ayo! sekarang kita bersihkan diri dulu, dari lada menghayal yang nggak-nggak, apa Abang enggak ada meeting hari ini?" tanya Kiara.
"Semua meeting ku hari ini aku delay, aku ingin menemani kamu hari ini, khusus untuk kamu. Oh iya..., kamu ingin punya anak berapa?" tanya Agam.
Seketika wajah Kiara berubah mendung, sangat cemberut. Bagaimana mungkin dia membayangkan punya anak banyak? sedangkan rahimnya telah terkontrak untuk Nyonya Clara. Setelah dia hamil dan melahirkan, dia harus pergi dari kehidupan Agam.
"Aku tidak tahu Bang, sekarang ayo kita mandi dulu!"
"Kamu ngajak aku ke kamar mandi bareng? Berarti sekali lagi doong," canda Agam.
"Kok sekali lagi, udah ah katanya mau carikan rumah untuk ibu," ucap Kiara.
Kiara pun memaksa bangun dan melepaskan diri dari pelukan suaminya. Namun Agam kembali memeluknya dengan erat.
"Sebentar lagi ya Sayang, sekali lagi dong, aku kayaknya ketagihan nih, soalnya beda sih," ucal Agam, sambil tersenyum licik.
Hingga akhirnya dia pun kembali menindih sang istri.
***
__ADS_1
Di sebuah perusahaan kecil, di ruangan pribadi, tampak dua orang lelaki sedang berbincang-bincang serius, Mereka tampak menyusun strategi sepertinya mereka akan melakukan sebuah rencana yang tidak terduga.
"Mikail, ingat! kamu harus bersikap baik kepada kakak sepupumu itu, agar kau bisa masuk perusahaan tersebut dan mengambil berkas-berkas yang ada di ruangan Agam, kita tidak boleh gagal, kita harus mengambil alih perusahaan itu," ucap Alex, Paman Agam.
"Iya Ayah, aku pasti bisa, apalagi sekarang aku sudah mengirim mata-mata di perusahaan itu, katanya dia jarang turun ke kantor, mungkin dia lagi sibuk dengan istri barunya itu."
"Istri baru? Bukankah dia tidak menyukainya? bahkan Clara bilang kalau Agam menolak keras pernikahan itu," ucap Alex.
"Iya Ayah, mulanya memang Agam sangat menolak perjodohan gi*la itu, namun sekarang setelah mereka menikah, Agam bahkan terlihat candu, aku sudah mengintai mereka. Bahkan hari ini, katanya mereka berada di sebuah hotel mewah, tentu saja Clara tidak tahu itu."
"Benarkah? Wah... bisa jadi berita seru ini, bagaimana kalau kita siarkan saja agar Para investor menarik saham mereka?" saran sang Ayah.
"Tidak usah ayah, nanti malah kita yang rugi, kita tidak dapat apa-apa kalau Agam bangkrut, sebaiknya kita kembali ke rencana awal saja," ucap Mikail.
"Benar juga ya, Pintar juga otakmu. Baiklah sekarang cepat! kau ke kantor Agam, selagi Agam sedang tidak ada di kantor!" ucap Alex.
Mikail pun meninggalkan perusahaan kecilnya tersebut, menuju perusahaan Agam. Mereka akan merebutnya dari tangan Agam.
***
Agam dan Kiara sudah pergi meninggalkan hotel tersebut, untuk mencari rumah baru untuk ibunya Kiara. Agam juga membaca sebuah berita, bahwa ada sebuah rumah yang ingin dijual di sebuah perkampungan, yang tidak begitu jauh dari tempat mereka diam.
Mereka pun meluncur ke tempat perkampungan tersebut, dan menemui RT setempat.
"Silakan masuk tuan, nona!" ucap istri Pak RT tersebut.
Mereka pun duduk di ruang tamu, sedang Pak RT sudah tampak duduk di ruang tamu.
"Pak salam, saya Agam," ucap Agam.
"Ya silakan duduk!"
Mereka pun berbincang cukup lama, dan akhirnya Pa RT tersebut membawa Agam menuju rumah yang akan dijual oleh orang kampung tersebut.
"Inilah rumahnya Tuan, silahkan diperiksa!" ucap pemilik rumah.
Agam pun masuk rumah yang lumayan besar di dalamnya ada 3 kamar, kamar utama memiliki kamar mandi, sementara dua kamar tersebut ada kamar mandi khusus di samping dapur.
"Kiara, Bagaimana, Apakah kau suka?" tanya Agam.
"Rumah ini bagus, suka sih suka Bang, tapi pasti harganya mahal," ucap Kiara agak sedikit berbisik saat mencek di dapur.
Mereka cuma berdua di dapur, sementara Pak RT dan pemilik rumah duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Tidak masalah, kita tanyakan saja dulu harganya, gampang."
Mereka pun keluar.
"Bagaimana Tuan? Apakah Anda berminat?"
"Oh iya, kamu sangat berminat, tapi kami perlu tahu juga berapa harga rumah ini?"
"Tuan..., Sebenarnya rumah ini kemarin mau aku jual seharga 500 juta, tapi karena aku sekarang terdesak untuk biaya pengobatan anakku yang keterbelakangan, aku membutuhkan biaya banyak, dan aku tawarkan rumah ini seharga Rp350 juta," ucapnya.
"Benarkah, aku...."
"Tunggu!" cegat Kiara.
"Kenapa?" heran Agam.
"Apa tidak bisa kurang lagi Tuan? ibuku juga sedang sakit, kami memerlukan biaya untuk pengobatannya," ucap Kiara.
Karena Kiara merasa tidak enak dengan Agam, kalau terlihat dari wajah Agam tadi, sepertinya Agam langsung ingin membeli rumah itu dengan harga 350 juta.
"Maaf Nona, itu sudah murah, sisa tanah juga di sana masih ada sedikit, sisa 3 meter untuk garasi mobil," ucapnya.
"Bang, kita pikir-pikir dulu ya? Nanti kalau kita ada uang kita kabarin lagi," ucap Kiara.
Kiara pun memberi isyarat kepada Agam, sambil mencengkram erat tangan suaminya, agar suaminya mengerti bahwa Kiara sepertinya menolak rumah ini.
"Bagaimana kalau kurang sedikit lagi?" ucap Agam.
"Emangnya Tuan mau berapa?" tanya penjual.
"Bagaimana kalau 340 juta," pinta Agam.
Kiara melotot. Bagaimana mungkin Agam memberikan rumah seharga fantastis begitu?
"Baiklah, aku setuju," ucap pemilik rumah.
Akhirnya pemilik rumah pun di bawa ke bank untuk transaksi, dan mengurus akte2 lainnya. Sementara Kiara tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Kenapa kamu cemberut Kiara?" ucap Agam, saat sudah kembali menuju rumah utama, setelah selesai transaksi dengan pemilik rumah.
"Kenapa Abang belikan rumah itu? rumah itu sangat mahal," ucap Kiara.
"Rumah itu tidak berharga Kiara, 350 juta itu kecil bagiku, yang mahal itu kebersamaan ku denganmu, satu kali aku bertemu denganmu itu, seharga 500 juta tahu!" ketus Agam.
__ADS_1
Sementara Kiara hanya terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Setelah dia melahirkan anak Agam nanti, dia sudah berjanji dan tidak mungkin mengingkari janji itu dengan Clara.
Bersambung...