
Tiba-tiba entah mengapa Kiara merasa mual, mungkin karena terlalu banyak makan angin, eh masuk angin kali ya. Kiara pun ingin muntah di kantor polisi itu.
"Huak ..., huak ...,"
"Sayang, kau kenapa? Ayo kita keluar dulu?" ajak Agam sambil merangkul Kiara.
Clara yang masih di introgasi pun menoleh saat mendengar Agam mau keluar.
"Mas, tunggu! Jangan tinggalkan aku di sini! Aku takut di penjara Mas!" panggil Clara.
"Kiara mual, aku harus membawanya keluar, kalau tidak, dia malah akan muntah di sini," sahut Agam kemudian terus berjalan.
Clara tak bisa berbuat apa-apa, melihat kepergian mantan dan madunya itu. Kiara sudah di luar dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya saja. Namun tidak bisa. Kiara masih Huak berulang kali, Agam dengan setia mengolesi minyak kayu putih yang memang sudah di sediakan Kiara sebelum berangkat.
Hingga akhirnya Kiara pun tenang, di kembali bisa bernafas lega dan duduk manis di kursi.
"Kita pulang ya, biar aku bilang sebentar ke dalam," ucap Agam.
"Iya Bang."
Kiara pun tersenyum menatap pundak Agam yang berjalan ke dalam untuk menemui Kiara sebelum pulang.
Introgasi Clara sudah selesai untuk sementara ini, dia kembali duduk di kursi istirahat, sebelum lanjut kepertanyaan berikutnya. Agam lun masuk dan berdiri berjarak di hadapan Kiara.
"Clara, kami akan pulang sekarang! Kau jawab saja pertanyaan mu dengan jujur, agar hukuman mu ringan," titah Agam.
"Mas, jangan tinggalkan aku, aku tidak mau sendirian di sini Mas aku takut, aku mohon!" pintanya sambil tiba-tiba menangis.
Betapa paniknya Clara saat ini, perasaan takutnya di penjara dan bertemu dengan orang-orang jahat lainnya.
"Clara, harusnya kau sudah pikirkan ini sejak awal, ini tak mudah bagimu, namun ini semua juga kau yang melakukannya. Dari awal aku,sudah bilang, jangan gegabah dan terima saja semuanya, namun? Kau nekad."
"Mas, jangan pergi!"
Clara kembali berdiri dan menggenggam tangan Agam erat. Agam tidak tega. Apa yang harus dia lakukan,sekarang? Kalau dia memilih menemani Clara, tentu saja Kiara terabaikan, sedang dia sekarang sedang mual mual karena angin.
Tapi kalau dia pulang, Agam tidak bisa membayangkan, Clara wanita glamor trend dan yang dulu bergelimang harta itu akan tinggal sendirian malam ini tanpa keluarga di kantor itu.
"Aku akan mengantar Kiara pulang dulu, setelah itu aku akan ke mari lagi." ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Kau janji?" tekan Kiara.
"Uhm ..., " Agam hanya mengangguk.
Clara pun melepaskan tangan Agam dan membiarkannya pergi dari kantor tersebut.
Agam berjalan menghampiri Kiara. Sebenarnya dia bingung, apa yang akan dia katakan untuk meminta izin pada istrinya tersebut.
"Kiara."
"Kota pulang? Aku mau mampir dulu di pinggir jalan untuk jajan ya!" pinta Kiara mendahului.
"Iya Sayang, ayo!"
Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Kiara tampak senang dan memeluk mesra sang suami. Sementara Agam tidak karuan dan bingung. Dia pun menyusun kata kata di sepanjang jalan untuk meminta izin pada Kiara.
"Itu Bang, di sana!"
Mereka pun berhenti di sebuah jajanan yang berjejer di pinggir jalan. Agam masih tampak kebingungan, wajahnya datar tanpa ekspresi, mungkin dia masih bingung dengan izin yang ingin di sampaikannya pada Kiara.
"Abang mau apa?" tanya Kiara ketika sudah sampai di gerobak kaki lima tersebut.
"Bang!" panggil Kiara sambil menyenggol pundak Agam.
"Oh Cla....."
Agam keceplosan dan membuat Kiara kaget saat sang suami akan menyebut nama Clara. Wajah Kiara tiba-tiba berubah.
"Ayo kita pulang!" ajak Kiara tiba-tiba.
"Sudah beli?" tanya Agam.
"Iya." sahutnya.
Agam tidak memperhatikan, kalau saat ini Kiara belum membawa apa-apa. Mereka pun kembali menuju jalan pulang. Kali ini Kiara diam tanpa kata-kata. Tak berapa lama mereka pun sampai di rumahnya, Kiara merasa jengkel dan berjalan mendahului Agam.
"Makanannya mana?"tanya Agam yang heran melihat sang istri tak membawa kantong kresek apa pun.
"Emangnya beli apa?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Siomay?" tanya Agam.
"Udah ku telen!" sahut Kiara. Namun Agam tau bahwa nada itu adalah nada kemarahan sang istri. Setelah Agam memarkirkan motornya, dia pun masuk.
"Kalian sudah datang? Dari mana?" tanya sang mamah.
"Dari kantor polisi Mah, Kiara di tangkap. Karena menembak paman Alex."
"Apa? Kapan?"
"Nanti aku ceritakan Ma," sahut Agam sambil masuk ke dalam kamar.
Agam tau sang istri kaki ini pasti sedang merajuk.
"Maaf ya! Tapi boleh nggak aku malam ini ke tempat Clara pagj, malam ini dia akan terus di introgasi sampai pagi." izin Agam.
"Iya," sahutnya singkat.
"Aku minta maaf, tadi aku merasa kasian sama dia, tapi cuma kasian kok," ucap Agam.
"iya nggak papa."
Kiara mencoba tetap bersuara biasa walau hatinya sangat kesal, bahkan kali ini, dia ingin menangis saja.
"Bener boleh?" tanya Agam lagi.
"Iya boleh kok."
Agam lun berdiri dan menyambar jaketnya dan lergi meninggalkan Kiara.
Akhirnya Kiara menangis.
"Dasar tua bangka tidak mengerti hati istri!" umpetnya dalam hati.
Dia sangat kesal dengan sifat Agam yang tak memahami hati sang istri. Kiara terus terisak hingga akhirnya tertidur pulas. Bahkan kali ini dia sengaja berbaring menguasai ranjang mungil itu, karena sangat jengkel.
Entah berapa lama Kiara tertidur jingga akhirnya dia merasakan belaian lembut di pipinya.
"Sayang, ini siomaynya!"
__ADS_1
Bersbung...