Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Fathan terus Cemburu dan Merajuk


__ADS_3

Tampak Kiara sudah terbangun dari pingsannya, Fathan sangat senang karena Ibunya sudah siuman, begitu juga sang mertua.


"Bunda, jangan sakit! Fathan sangat sedih, Fathan tidak mau sekolah lagi kalau Bunda sakit," lirih Fathan.


"Iya Sayang," ucap Kiara.


"Fathan mau temenin bunda di rumah, Fathan tidak mau sekolah," ucapnya lagi.


"Sayang, kalau kamu tidak sekolah, bagaimana nanti kamu mau pintar? Bagaimana kalau Bunda sakit-sakitan, sementara kamu tidak sekolah dan tidak bisa bekerja, kita mau makan ala nantinya?" ucap Kiara.


"Kan ada perusahaan papa," sahutnya.


"Sayang ..., kamu itu harus mandiri, tidak boleh membanggakan perusahaan Papa. Karena perusahaan papa itu suatu saat bisa saja terjadi sesuatu kan?"


"Lah kok Bunda berdoa yang tidak baik sih? katanya kata-kata adalah doa!" ucap Fathan.


"Bukan begitu sayang, ini demi masa depan kamu, kamu harus belajar di luar sana. Mandiri agar kelak kamu bisa bikin perusahaan sendiri, dengan tangan kamu sendiri."


"Ish, Kiara, apaan sih? untuk apa Fathan bersusah payah membangun perusahaannya sendiri? dia kan pewaris tunggal perusahaan kita? jadi sudah tentu dia yang akan mewarisi semua perusahaan."


"Mah, sekarang kan aku lagi hamil, dan kita belum tahu anak yang ada di kandunganku ini laki-laki atau perempuan. Siapa tahu saja kalau sama laki-laki kan berarti mereka harus berbagi, saling mengasihi satu sama lainnya," sahut Kiara.


"Ya bikin lagi perusahaan satu, kan kemarin Agam juga sudah bikin perusahaan cabang," sahut Mertua.


"Tapi mereka harus belajar mandiri mah."


"Ya terserah kau lah, kalau begitu...."


"Selamat siang. Sudah bangun Nyonya Kiara?"


"Iya Bu, Apakah anda bisa berjalan untuk tes urine dulu kita akan mengetahui hasilnya. Apakah anda hamil atau tidak?"


"Oh begitu ya! Baik Bu."


Kiara Pun bangun dan mengambil wadah yang diberikan Ibu perawat, kemudian dia ke kamar mandi dan membuang urine nya. Setelah selesai dia pun kembali menyerahkan wadah tersebut kepada perawat.


"Kita tunggu hasilnya, di sini saja ya?"


Bu perawat itu pun mengeluarkan tespek dan mencelupkannya ke dalam urine Kiara. Setelah ditunggu beberapa detik akhirnya tampaklah dua garis merah di sana.


"Alhamdulillah, hamil. Nyonya benar-benar hamil sekarang."


"Yeeee...."


Fathan sangat gembira dia pun bahkan berjingkrak-jingkrak, karena merasa sangat senang. Tiba-tiba telepon Mama Kiara berdering.


"Mah. Bagaimana dengan Kiara? apakah dia baik-baik saja?" tanya Agam,di telepon.


Dia merasa khawatir dengan kondisi sang istri, yang di kabarkan pingsan saat di sekolah Fathan. Sementara dia merasa tidak berdaya, karena sekarang dia pun sedang sakit.

__ADS_1


"Iya Gam, Alhamdulillah, istrimu hanya kelelahan, karena dia sekarang sedang hamil."


"Hamil? benarkah dia hamil?" tanya Agam terdengar sangat senang.


"Alhamdulillah. jadi bagaimana kondisinya sekarang? Apakah dia sudah boleh pulang? aku merasa sangat rindu dengannya."


"Agam kau ini kenapa sih? dia itu harus istirahat total, jangan sampai kau minta dilayani lagi sama dia, pokoknya mulai sekarang harus istirahat total. Titik," ucap Mentari.


"Iya Mah, aku hanya ingin melihatnya. Aku sangat merindukan wajahnya Mah."


"Iya, ini juga kami akan pulang, setelah kami menebus obat, karena Kiara sudah sadar dan dia tidak ingin dirawat berlama-lama di sini. pusingnya itu hanya karena hamil saja, dia pun di izinkan untuk pulang."


Agam lega dan menutup teleponnya.


***


Kiara menatap wajah Agam yang sedang tertidur pulas, dia merasa kasihan sama lelaki yang sudah terlihat tua itu


"Bagaimana mungkin Bang, kehamilanku ini adalah kehamilan simpatik bagimu, aku yang hamil kamu yang ngidam, pantas saja kau terlihat sangat loyo dan juga muntah-muntah, bahkan kau juga tidak menyukai beberapa makanan," batin Kiara.


"Mah, jadi hari ini bagaimana? Siapa yang mengantar aku sekolah


" tanya Fathan yang tiba-tiba datang dari dapur karena selesai makan pagi.


"Kamu sama nenek ya! Kamu tahu kan Bunda lagi kurang sehat?"


"Iya Bunda, tapi kenapa Papa juga sakit?"


"Fathaaaaan ..., kalau kamu tidak makan nanti sakit, nanti kamu gak ketemu sama adik, apa kamu tidak sayang sama adik kamu?" bujuk sang nenek.


"Kenapa tidak bertemu, Nek? kan nanti kalau Adik Fathan lahir, bisa bertemu dengan Fathan?" balasnya bingung.


"Tapi kalau kamu sakit terus meninggal? bagaimana?"


"Masa iya sih Nek, gara-gara tidak makan satu hari meninggal? Tapi Fathan kan sering ngumpetin makanan di kamar, cuma makan nasi aja yang nggak, karena pura-pura merajuk sama Papa yang terus sakit."


"Oh ..., jadi kamu bohong ya? bilangnya nggak mau makan, tapi kamu nyembunyiin makanan, nggak boleh bohong Sayang."


"Abis Bunda perhatian terus hanya sama Papah," gerutunya.


"Ha ha ha kamu cemburu ya?"


"Jangan bilang-bilang sama bunda, ini buat papa biar dia cepet sembuh," ucap Fathan sambil meletakkan telunjuknya di hidung.


"Tapi Sayang ..., papamu itu sedang ngidam."


"Ngidam? Emang apaan ngidam Nek?"


"Maksudnya Bunda sedang hamil, tapi papahmu yang sakit," tutur sang nenek.

__ADS_1


"Masa bisa? yang hamil itu kan Bunda? masa yang ngidam Papa."


"Ya bisa Nak, itu papa kamu sekarang ngidam."


Fathan jadi tambah bingung. Dan garuk-garuk kepala.


"Aku jadi bingung, maksudnya Nek, apaan sih? Aneh tahu! misalnya nih yang luka Fathan, tapi kok yang sakit nenek? kan lucu?"


"Ah sudahlah, pokoknya kamu nggak boleh maksa papa kamu untuk sembuh, karena itu sudah takdir dari Tuhan. Ayo! sekarang kamu minta beliin apa sama nenek? biar kita pergi ke mall. Kamu mau nggak?"


"aku mau nemenin Bunda saja, aku takut Bunda kenapa-kenapa."


Fathan pun kembali berlari ke kamar Agam dan Kiara, saat masuk ke kamar itu, tampak Agam muntah-muntah di kamar mandi.


"Papa kenapa lagi sih? Apa benar Papah yang hamil? Emang bisa laki-laki hamil?" gsrutu Fathan.


"Siapa yang bilang Sayang?"


Kiara kaget saat Fathan malah berkata yang aneh-aneh.


"Papa pasti bohong kan? karena ingin dapat perhatian dari Bunda," Fathan protes dengan tingkah sang papa.


"Sayang. Papa itu beneran sakit. Kamu kenapa sih nggak percaya banget sama papa? sudah kamu mau tidur atau mau gimana sekarang? kamu sudah izin beberapa hari loh! nanti malah nggak naik kelas!" ketus Kiara mulai jengkel dengan tingkah Fathan.


"Biarin Sayang, nggak papa, lagian masih TK juga," bela sang Papah.


"Kalau nggak naik kelas, nanti Fathan bisa satu kelas dengan Dede bayi kan Bunda?" sahutnya snatai.


"Eh apa kamu nggak malu satu kelas dengan dede bayi?"


"Ya enggak lah Bunda, kan bisa ngelindungin dedek bayi kalau ada yang ngeselin."


"Kiara! cepat ke mari!"


Ketika suara teriakan di luar mengagetkan Kiara yang lagi mengoleskan minyak kayu putih pada Agam.


"Abang. Sebentar, aku mau keluar."


Kiara dan Fathan pun berlari keluar mengiringi arah suara.


"Kenapa Mah?"


"Clara, dia tidak sadarkan diri."


Kiara pun langsung mendatangi kamar Clara dan melihat tampak Clara tersungkur di lantai, sepertinya tadi dia sedang duduk di kursi roda, sementara sang Mamah tidak berani membangunkan karena tidak kuat juga.


"Ke mana Bini? Kenapa tidak ada di kamar?" tanya Kiara, karena biasanya ada Bibi yang menemani Clara.


"Non Kiara, kenapa Non? aku baru dari kamar mandi, Aku sakit perut."

__ADS_1


Tiba-tiba Bibi datang sambil memegangi perutnya yang belum selesai BAB.


"Ayo kita bawa Rumah sakit! Tolong panggil paman sopir


__ADS_2