
Agam dengan cepat membayar es kelapa mudanya, lalu pergi meninggalkan warung es kelapa tersebut, dia belum siap, tidak sekarang. Kemudian dia memasang helmnya dan kembali menatap lelaki yang duduk membelakanginya. Lama dia terdiam dan hanya menatap punggung lelaki itu. Tiba-tiba lelaki itu menoleh dan menatap Agam. Karena sang pemuda memberitahu Pa Aswin, kalau Agam sedang menatapnya tajam.
Agam kaget dan buru-buru menghidupkan motor dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Dia menatap Bapak sangat lama tadi, apakah Bapak mengenalnya?" tanya Hasan lada Pa Aswin.
"Aku tidak melihat wajahnya, jadi aku tidak bisa mengatakannya, mungkin dulu dia pernah melihatku, atau mungkin dia melihat foto di sosmed mungkin, karena aku sedang mencari anakku kan?" sahutnya.
"Iya, mungkin saja. Sekarang ayu kita mencari penginapan Pak, semua berkas Asli sudah bapak miliki, jadi besok kita akan kembali ke mana dulu? Perusahaan, atau rumah?"
"Kita harus mengunjungi alex ke rumah sakit, aku ingin melihat wajahnya yang akan kaget melihat aku kembali," sahut Pa Aswin.
"Baiklah Pak, siap."
Hasan pun membayar minumannya dan mereka pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit. Tentu saja rumah sakit yang di datanginya adalah rumah sakit terdekat.
***
Agam sudah sampai berada di halaman rumah mungilnya. Wajahnya tampak dengan kebimbangan, terlihat dari tatapan yang kurang fokus dan aneh.
"Bang ..., kau sudah pulang? Tumben lebih cepat?" tanya Kiara yang sudah santai duduk di ruang tamu.
"Iya Sayang, hello, apa kabar anak Papa? Emch."
Agam pun mencium perut Kiara yang masih tidak terlihat.
"Ih apaan sih Bang? belom juga lahir, bawa apaan tuh Bang?" tanya Kiara setelah saliman dengan sang suami, matanya berbinar saat melihat bawaan Agam.
Emang sekarang Kiara sangat senang kalau sang suami membawa makanan, kalau Agam pulang dengan tangan kosong Kiara merasa hampa, atau mungkin karena bawaan orok.
"Es kelapa kesukaan mu nih, mamah sama ibu mana?" tanya Agam.
"Mereka udah duluan ke musholla, buat dengerin ceramah ustad Hamka malam ini."
"Semangat banget mereka, apa kamu juga mau ke sana?"
"Kalau Abang izinin, ya ke sana lah," sahut Kiara, sambil membuka Es kelapa dan menyeruputnya langsung di plastik.
"Tapi ada yang ingin aku omongin sama kamu, sebelum mereka datang," imbuh Agam.
"Masalah Apaan Bang? Apakah masalah kerjaan?" Kiara tampak penasaran dan memasang wajahnya menatap sang suami.
"Aku mau mandi dulu, baru kita ngobrol enak ya, emch."
Agam pun berjalan meninggalkan Kiara dan pergi menuju kamar mandi di belakang. Kini dia sudah berada di dalam kamar mandi berukuran kecil itu.
"Papah, sebenarnya apa yang terjadi padamu? kenapa baru sekarang kau datang? Lihat kami, semuanya sudah habis oleh keserakahan adik kandungmu pah!" batin Agam.
Lama dia memandangi air di dalam kolam sambil termenung. Entah,sudah berapa lama dia melamun.
__ADS_1
"Bang ..., kenapa lama sekali? Bahkan air pun tidak terdengar jatuh, apa kau tidur di kamar mandi?" teriak Kiara di depan pintu kamar mandi.
"Oh iya, sebentar, aku masih sakit perut," bohongnya.
"Ooh, baiklah, aku siap-siap dulu buat makan malam ya!"
Kiara sibuk menata makanan di meja makan, menu kesukaan Agam lun,selalu dia sajikan di atas meja.
Ceklek
Agam sudah keluar dengan wajah fres, seperti baru di petik dari pohonnya. Hi hi.
"Wah, enak sekali ini, masakan mu slalu ku rindukan saat Ku akan pulang, bahkan sepanjang jalan aku slalu mengingat masakan mu ini Sayang.!" goda Agam, dengan memasukkan makanan itu ke mulutnya.
"Gombal," cetus Kiara.
Mereka pun makan bersama tanpa suara. Selesai makan mereka tetap duduk manis di dapur.
"Jadi apa yang ingin Abang sampaikan?" tanya Kiara penasaran.
"Kamu jangan kaget dan dengarkan baik-baik."
"Serius amat sih Bang?" canda Kiara lagi.
"Iya, Papah sudah kembali...."
"Apa? Papah? Bangkit dari kubur?" cicit Kiara kaget.
"Benarkah? Kayak di film-film aja sih Bang, trus di mana Abang bertemu dengannya?"
"Dia mencari kami di media sosial, dan kebetulan tadi juga aku sudah bertemu langsung dengannya."
"Kenapa Abang tidak mengajaknya ke mari?"
"Tidak, aku tidak mau dia tau kalau kita di soni, masih hidup bahagia."
"Kok gitu?"
"Ingat! Mamah jangan sampai tau ini, sekarang kita sudah bahagia, jadi jangan sampai mama membuka medsos lagi, takutnya nanti mamah malah melihat foto Papah."
"Kenapa kamu tidak ingin menyatukan Mamah sama Papah? Mereka pasti akan bahagia."
"Kiara, Papah sudah sering nyakitin hati Mamah, bahkan dulu Papah sering marah-marah karena ketahuan dapat chat mesra dari cewe cewenya."
"Itu dulu Bang, sekarang nggak kan?"
"Pokoknya aku nggak mau bertemu sama Papah, biar kami menjalani kehidupan kami masing-masing saja, selama puluhan tahun ini kan papah bisa menjalani hidup tanpa kami, jadi biarlah begini saja."
Wajah Agam tampak murung. Terlihat sebenarnya dia sedih dan kecewa dengan keadaan hidup yang dia alami, namun dia tidak mau mengulangi kebersamaan yang pernah membuatnya sakit, saat sang Mamah pernah menangis berjam-jam di depan pintu karena Papahnya pergi saat ketahuan dapat chat mesra malam itu.
__ADS_1
***
Di rumah mewah Alex. Tampak sebuah mobil polisi masuki halaman dan segera memasuki rumah tersebut di temani laman satpam.
"Nyonya Clara, anda kami tangkap!"
Clara yang lagi asik makan di dapur pun kaget. Dan langsung berdiri.
"Kenapa saya di tangkap?"
"Anda telah menembak Tuan Alex. Kami sudah ada buktinya, Tuan Alex sudah sadar sekarang."
"Apa, bagaimana mungkin aku menembak suamiku sendiri? Ini pasti salah paham Pak," ucapnya.
"Nanti Nyonya jelaskan di kantor polisi, sekarang mari ikut kami!"
Clara pun di tangkap dan di bergol. Clara meronta, namun apa daya wanita lemah itu, dia kalah tenaga dengan aparat.
"Pak, tolong lepaskan saya, saya tidak salah, tolong pak!" berontaknya.
***
Agam dan Kiara tampak udah berada di kamar untuk melakukan sholat maghrib berjamaah, sekarang Agam sudah mau menjadi imam sholat, dia banyak belajar dari Kiara. Yang dulunya dia tidak mengenal tuhan, dan tidak pernah sholat, sekarang sudah berubah 180c.
Tring tring
Ketika telepon Agam berdering.
"Hello!"
"Mas, aku di tangkap polisi, tolong aku Mas?"
"Clara, apa maksudmu? Di tangkap polisi? Emangnya apa yang kau lakukan?"
"Aku,dituduh menembak Alex pamanmu Mas, tolong aku Mas!" teriaknya sabil menangis.
"Astagfirullah, Clara, baiklah aku akan ke sana setelah,sholat magrib."
"Cepat Mas, aku tidak mau di penjara."
"Iya, tunggu daja."
"Ada Bang?"
"Clara di tangkap polisi, aku akan ke sana setelah ini."
"Astagfirullah."
Bersambung...
__ADS_1