
Clara terus masuk ke dalam rumah tersebut. Dia pun menaiki tangga, sementara para pelayan bingung harus bagaimana, karena memang foto besar Clara masih tersimpan di kamarnya, dan para pelayan juga pernah melihatnya saat mereka membersihkan kamar itu. Itu yang membuat para pelayan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mas Agam! Kau di kamar?" teriak Clara sambil menaiki tangga.
Agam dan Kiara pun kaget, karena saat ini Agam dan Kiara sedang berbaring di ranjang mereka. Sejak semalam Kiara masih merajuk dan tidak mau di bujuk, bahkan dengan sengaja dia tidak mau makan dari kemarin.
"Kenapa ada suara,Clara?" tanya Agam.
Dia pun bangun dan berjalan mendekati pintu, membukanya perlahan.
"Hei... Siapa yang memanggilku?" tanya Agam pada seorang pelayan.
"Katanya dia pemilik rumah ini, dia wanita yang ada di foto atas Tuan," sahut Kiara.
"Gawat."
Bruk
Agam langsung menutup pintu kamar dan menyambar kerudung, lalu membangunkan istri dan menggendongnya.
"Mau kau bawa ke mana aku Bang?" tanya Kiara dengan nada marah dan kesal.
Agam hanya diam, tampak dia kesulitan menggendong wanita hamil itu menuju garasi mobil.
Dengan cepat Agam menghidupkan mobil, dan meluncur meninggalkan rumah.
"Kenapa terburu-buru Bang? Siapa yang memanggilmu tadi?" tanya Kiara penasaran.
"Nggak tau, kita sekarang shoping!" ajaknya.
"Bang, aku belum mandi, aku bahkan belum gosok gigi, aho kita pulang!" ucap Kiara panik, dan meminta kembali ke rumah.
"Kita mandi di mesjid saja, itu ada mesjid besar."
__ADS_1
Agam pun berhenti di warung dekat mesjid dan membeli perlengkapan mandi. Kemudian kembali maju dan berhenti di mesjid.
"Ayo kita mandi di sini," ajak Agam.
Agam pun dengan hati-hati menurunkan istrinya dari mobil dan menggandengnya menuju mesjid di pinggir jalan.
"Kamu dulu mandi," ucap Agam.
"Tapi aku tidak ada baju ganti Bang, masa masih memakai yang udah kotor ini?" protesnya sambil menatap pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Nanti kita beli, sekarang mandi duku!" titah Agam.
"Nggak mau, kotor, masa di lepas trus di pakai lagi!" ketus Kiara.
"Baiklah, kamu mandi dulu, biar aku beli baju, di sana tadi ada toko baju kecil."
"Baik."
"Mbak, mau beli baju dan perlengkapan dalam, apa ada?" tanya Agam.
"Ada," sahut penjual.
Wanita penjual itu pun mengeluarkan perlengkapan laki-laki.
"Bukan untuk saya, tapi untuk istri saya," pinta Agam lagi.
"Ooh, ada, ukuran berapa?" tanya penjual baju.
"Ukuran? Ukuran apa mbak?" Agam bingung.
"Ukuran pakaian dalamnya."
"Ooh ..., aku tidak tau, sekarang dia hamil 7 bulan," sahut Agam.
__ADS_1
"Harus tau ukurannya, kira-kira badannya seperti apa?"
"Kayaknya seperti Mbak, agak kurus sedikit."
"Kalau ukuran Bh nya berapa?"
Ha? Agam tambah bingung lagi kalau di tanyain itu. dia pun merasa malu, masa dia harus tau dengan ukuran bukit mainannya itu.
"Aku tidak tau mbak."
"Baiklah, kalau begitu, sesuai ukuran ku saja ya!"
Wanita itu pun mengambil beberapa pakaian dalam dan baju.
"Ini Tuan."
Agam membayar dan segera kembali ke mesjid.
Tok tok
"Sayang, udah mandi?" tanya Agam pada sang istri dengan menempelkan telinganya di daun pintu.
Brukg
Tiba-tiba tendangan keras di pintu seperti orang sedang marah. Agam bingung dan kemudian menjauh dari pintu dan menatap daun pintu.
"Apa aku salah pintu ya?" humam Agam.
"Bang Agam, apa kau di luar?" panggil Kiara dari pintu sebelahnya.
Ternyata benar Agam salah pintu. Dengan cepat Agam berjalan mendekati pintu Kiara dan menyerahkan baju, kemudian dia ngacir menjauh, sebelum orang yang ada di dalam itu keluar.
__ADS_1