Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Salah Paham hingga Melukai


__ADS_3

Aswin dan Agam pun sudah sampai di rumah sakit untuk mengambil hasil tes LAB Aswin.


"Atas nama bapak Aswin#" panggil perawat.


"Ya, saya."


"Mari, ikut saya, bukankah bapak ingin di bacakan hasilnya?" ajak perawat itu.


Aswin dan Agam pun mengiringi perawat itu ke sebuah ruangan dokter, sang perawat menyerahkan amplop. Tiba di depan ruangan dokter.


"Ini Pak. Kalau anda ingin dibacakan hasilnya, silahkan Anda bertanya sama dokter yang ada di dalam."


"Baik, terima kasih."


Aswin pun masuk ke ruangan dokter dan menyerahkan amplop hasil lab pada dokter.


Sang dokter pun membaca dengan seksama.


"Sebenarnya apa alasan Anda sehingga Anda mengajukan tes kesehatan seperti ini?" tanya dokter.


"Begini dok, sebenarnya ada seseorang di keluarga kami yang mengidap penyakit kel**min tersebut. Jadi aku sebagai anggota keluarga yang paling dekat, aku ingin berhati-hati."


"Tapi ini kan penyakit yang hanya menular lewat anu itu?" tanya dokter heran.


"Iya dok, karena sebenarnya ..., dia adalah istri mudaku."


"Oh begitu ya! maaf ya. oh ya untuk hasilnya. Alhamdulillah bapak tidak terkena, tapi kalau istri Anda terkena. Tentu saja Anda tidak boleh lagi berhubungan dengan dia!"


"Iya pak, kami sudah tidak pernah berhubungan lagi, dan kami sudah saling berjauhan, dan akan menyelesaikan perceraian."


"Baiklah, ada yang mau di tanyakan lagi?"


"Tidak dok, terima kasih," ucap Aswin.


Aswin dan Agam pun pamit pulang.


"Aku sangat lega, oh iya , bagaimana dengan Fathan, apakah ada kabar dari intel dan bawahan lainnya?"


"Oh iya, aku tegang dan belum buka medsos ku, sebentar."


Agam pun membuka Medsosnya dan ada ratusan chat di sana yang membalas di kolom komenan status Agam.


Ada ucapan duka ada ucapan prihatin dan ucapan lainnya. Namun belum ada tanda-tanda ada yang melihat bayi itu.


Telolet....


Tiba-tiba Hp Agam berdering. Agam segera mengangkatnya.


"Hello... Aku Bona, aku mendapatkan info kalau anda sedang mencari wanita yang anda bagikan tadi, tadi pagi aku melihat wanita itu bersama tetangga ku. Dan sekarang kayaknya masih ada di rumah tetangg ku itu."


Suara dari sebrang sana itu membuat hati Agam gembira, walau sebenarnya Agam tau, kalau Clara tentu saja sudah tidak ada di rumah tetangga orang itu.


"Baik, sekarang,kau awasi rumah, bahkan aku rela memberikan mobil mewahku ini kalau memang anakku ada di sana."


"Baik pak."

__ADS_1


"Kau kirimkan alamat atau lainnya, agar aku bisa segera ke sana."


"Baik Pak."


Agam sangat bersemangat. Dia bergegas menuju alamat yang di share oleh lelaki di dalam telepon itu.


"Bagaimana? Apakah ada kabar baik?"tanya Aswin.


"Ya Pa, mudahan saja Fathan ada di sana."


Agam pun segera meluncur dengan kecepatan penuh menuju rumah orang itu.


***


"Kenapa kau tidak mau diam sih? Bikin ribet saja, Clara ke mana ini? kok nggak datang-datang? Aku udah cape ngegendong!" ketus wanita itu.


Tampak wanita itu terus membawa bayi yang terus menangis. Sementara orang yang tadi menelpon Agam pun terus mengintip dari kaca jendelanya yang tak begitu jauh dari kontrakan ibu itu.


"Kenapa bu Mimin? Anak siapa? Kok nangis terus?" tanya tetangga lainnya.


"Ini anak kerabat ku, aku juga bingung, di kasih susu nggak mau," sahutnya.


"Mungkin dia suka Asi Bu, Ibunya ke mana emang?" tanya tetangga itu.


"Anu, tadi lagi cari keperluan bayi ini, kasian kalau di bawa panas-panas," sahut Bu Mimin.


"Ooh, kasian itu nangis kejer Bu, baik di telpon saja Ibunya," saran tetangga lagi.


"Iya."


Bu Mimin pun masuk ke dalam dan menelpon nomor Clara namun tak ada sahutan.


Brukh


Agam dengan emosi langsung mendobrak pintu itu. Ketika suara bayi terdengar menangis Agam segera masuk, dan kebetulan Bu Mimin ada di kamarnya sedang membujuk Fathan untuk minum susu.


Hap


Agam segera mengambil anaknya yang berbaring di ranjang, dan .e.eluknya erat.


"Siapa kalian? Kenapa kalian masuk tanpa permisi? mau di apakan bayi itu? kembalikan! Kalian rampok ya!" teriak Mimin histeris dan berusaha merebut bayi itu dari pelukan Agam.


Dengan kasar Agam mengibas tangan perempuan paruh baya itu hingga terpental dan kepalanya membentur dinding, hingga dia meringis.


"Kau berani menculik pangeran ku heh! Kau akan berakhir di penjara!" ketus Agam sangat berang.


"Apa maksud Tuan? Dia adalah anak temanku! Jangan macam-macam kalian!" ketus Mimin lagi.


Dia kembali berdiri dan berusaha merebut Fathan. Namun kembali Agam mendorong perempuan itu hingga kepalanya membentur meja dan kali ini mengeluarkan darah segar.


"Agam, sabar dulu, kita dengarkan dulu penjelasannya. Mungkin saja dia memang tidak tau apa-apa," ucap Aswin bijak.


Barulah Agam tenang dan keluar dari kamar itu dan duduk di ruang tamu beralaskan tikar plastik.


"Nyonya, sebenarnya siapa yang menyerahkan bayi ini padamu?" tanya Aswin.

__ADS_1


"Temanku yang bernama Cla, dia yang memintaku menjagakannya hari ini, namin dia belum kembali, sudah 2 jam pergi," sahut Mimin.


"Bu dia adalah cucuku, Clara menculiknya dari kami," ucap Aswin.


Aswin pin menceritakan semuanya dengan rinci, hingga ibu itu mengerti.


"Astaghfirullah, berarti aku salah menolong orang ya?" ucapnya dengan perasaan yang sangat menyesal.


Setelah semuanya beres akhirnya Agam juga meminta maaf kepada wanita tua itu. Sekarang kepala wanita tua itu tampak mengeluarkan darah, Agam memberikan uang sebanyak satu juta, agar wanita tersebut bisa mengobati dirinya yang sedang terluka.


"Kalau begitu, kami pamit, aku sungguh minta maaf Nyonya, aku telah menyakiti Nyonya, karena aku sangat menyayangi anakku ini, aku sudah 20 tahun lebih menunggunya, namun dia baru lahir satu minggu dan sekarang malah menghilang."


"Iya Tuan, aku juga minta maaf, karena aku telah salah dan bahkan aku hampir saja memisahkan anak dari orang tuanya. Maafkan aku Tuan. Terima kasih karena Tuan tidak melaporkanku ke polisi. Aku benar-benar tidak tahu yang sebenarnya" ucap wanita itu.


"Tidak apa-apa, sekarang kau Bisa berobat. Ambillah uang ini!"


"Tidak usah Tuan, ini Paling luka sedikit, dikasih obat merah juga akan sembuh."


"Jangan! Ambillah ini!" ucap Agam memaksa.


Kemudian Agam pun pergi meninggalkan kontrakan wanita itu menuju rumah Bano, dan masuk ke dalam rumah Bano.


"Aku sangat berterima kasih padamu, seperti yang telah aku janjikan, maka aku memberikan sebuah mobil untukmu, tapi apakah kau bisa menyetir? Karena sekarang aku harus pulang dulu ke rumah," ucap Agam.


"Tuan, Apakah ini mimpi? Benarkah kau akan memberikan mobil mewah mu itu padaku?" ucap Bano masih tak percaya.


"Ya tentu saja# aku harus menepati janjiku bukan?" sahut Agam.


"Tapi Tuan ..., sebenarnya saat ini aku sangat memerlukan pekerjaan, mungkin mobil itu akan aku jual dan akan habis sia-sia, bagaimana kalau Tuan berikan saja pekerjaan padaku," pintanya bijak pada Agam.


"Benarkah? jadi kamu perlu sebuah pekerjaan? Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau aku beri pekerjaan dan aku belikan sebuah motor untuk kau berangkat kerja?" tawar Agam.


"Oh tentu saja Tuan, aku sangat berterima kasih, aku,sangat,tidak menyangka bisa bertemu orang,baik seperti Anda," puji Bano.


"Baiklah, ini kartu mamaku, besok kau boleh datang ke kantorku, namun mungkin aku tidak ada di sana, ada orang kepercayaan ku yang akan menyambut kedatangan mu."


"Baik Tuan. Terima kasih banyak," ucap Bano dengan meraih,tangan Agam dan menciumnya.


"Tidak usah seperti itu, aku yang sangat berterima kasih. Besok kita akan interview dulu, pekerjaan Apa yang bisa kau kerjakan."


"Iya Tuan. Terima kasih."


Agam pun pulang bersama Aswin setelah,urusan mereka selesai. sepanjang jalan Agam terus mencium Fathan tanpa henti, dan aneh, Fathan juga berhenti menangis, dia tampak Diam dan tertidur, dia tahu bahwa sekarang dia sudah aman bersama sang ayah yang sangat mencintai, dengan segenap jiwanya.


"Kiara, aku sudah menepati janjiku untukmu, aku akan menemukan anak ini. Kau pasti senang, mulai sekarang aku tidak akan membiarkannya celaka, aku akan merawatnya," batin Agam.


"Jadi bagaimana sekarang? apakah kita perlu beli susu formula dulu? Kasihan dia mungkin perjalanan kita pun masih sangat lama, sekitar 40 sampai 50 menit," ucap Aswin.


"Pah, sepertinya dia tertidur, biarlah kita teruskan saja perjalanan kita, mungkin dia sangat merindukan ASI ibunya."


"Tapi dia sudah berapa jam ini dia belum minum?" ucap Aswin.


"Tapi dia tidur Pah, dia hanya ingin minum ASI dari ibunya sendiri, langsung dari pabriknya Pah," ucap Agam lagi.


"Baiklah kalau begitu, kita akan meluncur pulang ke rumah saja," sahut Aswin.

__ADS_1


Aswin yang sedang menyetir pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat, sementara Agam masih terlihat meneteskan air mata karena Haru.


Nex


__ADS_2