
Agam sudah datang membawa nasi pesanan Kiara. Mereka pun berkumpul di dapur untuk makan, namun Pak Aswin ternyata tidak terlihat turun ke bawah. Ini adalah rencana Kiara dan Pak Aswin agar Pak Aswin terlihat sakit dan tidak turun bekerja.
"Mah, Papah mana? Kenapa tidak turun?" tanya Agam .
"Sebentar, Mama juga tidak tahu, tadi baik-baik saja kok."
Mamanya pun ke atas karena dia sudah turun duluan tadi, saat menemani Kiara turun ke bawah.
"Ap appa sakit?" tanya Agam.
"aku juga nggak tahu, tadi masih baik-baik saja. Sebentar ya! aku lihat!"
Sang mama pun berjalan dan menaiki tangga, kemudian memanggil sang suami.
"Pah, Ayo makan!" ucap Mentari saat membuka pintu.
Namun sang suami terlihat melingkur di kamarnya, dengan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.
"Papa merasa tidak enak badan Mah tiba-tiba kepalaku merasa pusing, perutku juga malerasa sakit, aku tidak bekerja saja hari ini, baiknya kau saja yang pergi ke kantor menemani Agam," ucapnya.
"Kenapa tiba-tiba mendadak sakit Pah? baiklah tapi aku juga tidak perlu ke kantor, kau kan sakit, aku juga perlu menjaga Kiara di bawah, takutnya dia melahirkan mendadak."
"Aku tidak apa-apa kok, kasihan kalau Agam sendirian di kantor, nanti bisa was-was kalau kau tidak menemaninya, dia kan sudah lama tidak ke kantor," rayu Aswin, agar sang istri mau ke kantor.
"Pasti tidak apa-apa Mas, kalau Agam sendirian ke kanyor, Mas mau makan apa? makan nasi uduk apa nasi outih saja?"
"Nasi uduk aja."
"Emang boleh? Kan lagi sakit perut?"
"Terserah ajalah, kayaknya cuma masuk angin," ucapnya.
"Baik, di tunggu ya!"
"Iya, kayaknya aku tidak bisa turun ke bawah,"
"Kalau begitu, Aku bawakan kemari ya! tunggu sebentar!" Mamah Agam pun ke bawah dan mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Kenapa Mah? apa Papa sakit?" tanya Kiara, padahal dia tahu yang sebenarnya, dia hanya berpura-pura.
"Iya Kiara. Papa Kamu demam, aku akan mengantarkan ini dulu, Oh ya Gam, katanya kamu yang ke kantor ya!"
__ADS_1
"Masa aku mah, aku lagi cuti, aku kan lagi nemenin Kiiara?"
" lTidak apa-apa Bang, aku ini baik-baik saja kok, lagian kantor lebih penting, nanti kalau ada lagi yang nyerobot Perusahaan kita? bagaimana dengan masa depan kita dan anak kita?- ucap Kiara sambil terus memakan makanan yang ada di piringnya tersebut.
"Baiklah, tapi kamu nggak papa?" akhirnya Agan pun mau ke kantor.
"Nggak papa, kan ada bibi."
Dan entah bagaimana juga sang Mamah juga mau ikut bersama Agam untuk menemani sang anak itu ke kantor. Rencana berhasil, setelah kepergian Agam dan juga sang mama, Aswin dan Kiara pun duduk di ruang tamu untuk membicarakan hal tadi.
Sementara Bibi disuruh membeli makanan ke depan, karena tidak ada orang lain di rumah, tidak mungkin dengan keadaan Aswin dan Kiara berbicara di dalam kamar hanya berdua. Jadi mereka hanya memanfaatkan tempat ruang tamu dan duduk mengarah pintu, agar ketika Bibi datang mereka tahu bahwa ada orang lain yang masuk.
"Pah, aku minta kejelasan Papa, apa yang terjadi dengan papa dan juga Mbak Kiara?" tanya Kiara dan menatap tajam sang mertua.
"Dulu saat aku menggantikan posisi Mamahmu di rumah, dan juga saat itu kan ada di Clara di rumah ini, saat itulah dia menipuku, dia membuatkan minum dan membubuhkan obat perangsang di dalamnya, dan saat itulah Clara memanfaatkan waktu dia menggodaku, dan masuk dalam kamarku, kemudian memvideo semua kelakuan yang kami lakukan saat itu, aku sudah memintanya pergi namun Clara tetap saja merayuku, dan akhirnya saat obat itu benar-benar sudah menghantui dan menjadi iblis dan jiwaku, aku kalah."
"Benarkah? apa ini bisa aku percaya Pah?"
"Kiara, aku mohon. Hanya Kamu satu-satunya orang yang saat ini tahu," pinta Aswin.
"Tapi kenapa papa menikahinya?"
"Jadi selama ini papa yang memberinya uang setiap bulan?"
"Benar," sahut sang Ayah dengan menunduk malu.
"Terus bagaimana dengan penyakit itu? apakah Papa juga sudah tes, dan apa hasilnya?"
"Kiara, aku memang menikahinya, namun hanya satu kali itu kami melakukannya. Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya,aku hanya sebatas menikahinya saja, dan aku juga sudah tes untuk mengetahui apakah aku tertular atau tidak!"
"Benarkah, Ayah tidak bohong kan? kalau Papa hanya satu kali berhubungan dengannya?"
"Benar! untuk apa aku bohong? aku sudah tobat Kiara, aku sudah mendapatkan Mamahmu, perusahaanku, anak dan juga calon cucuku yang ada di dalam perutmu ini."
"Baiklah, kalau begitu, Bagaimana rencana selanjutnya?"
"Sekarang Clara sedang sakit, dari hasil tes kemarin dia akan memerlukan uang yang sangat banyak. Aku bingung harus berkata apa? kalau sampai aku membobol uang perusahaan, pastilah itu sangat tidak mungkin. Agam dan juga mamamu pasti akan tahu."
"Untuk apa aku uang sebanyak itu? Apa untuk berobat?"
"Ya."
__ADS_1
"Kalau begitu kita jujur saja pada Mama."
"Kiara, tidak mungkin aku jujur sama mamamu? mamamu pasti marah dan akan membuang ku ke laut, bahkan mungkin ke neraka sekalian."
"Pah, kalau kita tidak jujur. Bagaimana kita tahu? ini bukan kesalahan Papa! ini juga kesalahan Mama kan? saat itu dia memaksa pergi ke kantor, sementara Papah diam di rumah, inilah kesempatan Clara menggoda Papah,."
"Bener juga sih, tapi bagaimana kalau mamamu tidak menerima alasan itu?"
"Mama pasti bisa menerimanya, aku akan membujuknya, aku kan pintar dalam hal membujuk?" percaya diri Kiara sangat tinggi.
"Tapi bagaimana dengan Clara?"
"Sebaiknya Papa curi saja HP Mbak Clara. kalau video itu di hapus, agar Papa tidak bisa lagi diperas olehnya."
"atapi bagaimana aku mengambil hp-nya? Memangnya handphone Clara itu merk apa Pah? biar kita tukar saja dengan HP yang lain, agar dia tidak tahu. Kita bawa ke ponsel dan buka sandinya, bereskan?"
"Oh iya, kamu pintar juga Nak, terima kasih ya!Baiklah Hari ini aku akan ke rumahnya Clara dan mencari handphone yang sama dengan merk hp-nya."
"Baiklah, kalau begitu semuanya sudah beres kan? tapi ingat# Papa jangan sampai tergoda lagi olehnya, Papa tahu kan dia sekarang sudah mempunyai penyakit kelamin? sementara Papa masih menunggu hasil tes."
"Ya Kiara."
"Sebelumnya aku sangat takut Pah, aku mengikuti Papa di rumah sakit itu, saat aku mendengar Clara karena penyakit kelamin. Aku kaget, bagaimana dengan aku, Mas Agam dan juga Mamah? kalau Papa terjangkit, semuanya kan juga kena?"
"Nggak Kiara mudahan tidak."
"Oh iya. Bagaimana dengan Bang Agam? Bagaimana aku menyuruhnya untuk tes? atau aku dulu yang tes?"
"Kiara, kamu sabar dulu! kita tunggu saja hasil dariku, kalau aku tidak kena, mungkin Agam juga tidak akan terkena. Mungkin saja Clara baru saja mendapatkan penyakit itu?"
"Baiklah Pah."
Percakapan mereka pagi ini selesai.
***
Sementara di kediaman Clara. Dia tampak mondar mandir di halaman ranjangnya.
"Bagaimana ini? Dari mana aku mendapatkan penyakit kotor ini? Aku hanya berhubungan dengan Dion akhir-akhir ini, aku,harus menghubunginya."
Clara pun mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang yang bernama Dion.
__ADS_1