Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Menggoda Istri Sendiri


__ADS_3

Agam terdiam sejenak, bagaimana caranya dia membawa mertuanya ini ke rumah, kalau dia membawa langsung takutnya Kiara syok, sedangkan Kiara sedang hamil, dia berpikir berulang kali, namun masih dalam kebingungan.


"Tuan, Tuan, kenapa Tuan melamun?"


Panggilan Pak Alex membuyarkan lamunan Agam.


"Oh iya. Apakah Bapak mau bekerja di kantorku? tapi mungkin sementara ini hanya sebagai pengantar kopi ke ruang pribadiku!" tawar Agam pada Pak Alex.


"Benarkah? mau, aku mau Tuan."


"Aku juga mau. Apakah ada lowongan lain ?" tanya pak tua yang satunya, namanya Pak Tono.


"Baiklah, Ayo sekarang berkemas! kalian bisa tidur di gudang bawah kantorku. Nanti kalian bisa bersihkan tempat itu, sekarang mari ikut aku naik mobil!"


"Terima kasih Pak, kalau begitu, aku mau kemas-kemas barang dulu,"


"Barang, Oh ambil yang kalian perlukan saja ya? tidak terlalu banyak."


Agam berniat membelikan baju baru.


"Baik Pak, terima kasih," ucap Pak Tono.


Mereka pun mengemas barang-barang yang perlu dibawa, setelah itu mengiringi Agam dan masuk ke dalam mobil.


"Alex, mimpi apa aku kemarin? bakal dapat pekerjaan seperti ini," ucap Tono.


"Iya, aku juga, sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan anak dan istriku, tapi aku merasa takut dan malu pada mereka, aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Aku meninggalkan utang yang sangat besar kepada anakku, aku harus giat menabung," ucap Alex.


"Iya, kau harus bekerja keras, kau harus menabung, bisa saja hutang sebanyak itu belum anak mu bayar, atau jangan-jangan dia menjadi tebusan untuk melunasi hutang-hutangmu itu? secara kan katamu anakmu itu anak gadis dan juga sangat cantik?" papar Tono.


Agam yang mendengar hanya tersenyum.


"Memang benar pak, anak anda yang menjadi tebusan untuk membayar hutangmu, namun bukan orang itu yang mengambilnya, akan tetapi akulah yang membayar hutangmu, dengan anakmu menjadi istriku," gumam Agam hanya di dalam hatinya.


Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di gedung bangunan Agam yang sangat megah. Kedua kakek tua itu kaget dan sangat bersyukur, karena mendapatkan pekerjaan di sana.


"Oh iya, kalau boleh tahu, sebenarnya gaji seperti apa yang kalian inginkan?- tanya Agam.


"Kalau itu terserah kamu saja Tuan Bos, dapat pekerjaan pun kami sangat bersyukur," ucap Tono.


"?Benarkah? begini ..., masalah beras nanti akan aku kasih setiap bulan untuk keperluan kalian, kalau habis, kalian tinggal bilang! nanti kalau gaji aku bayar 2 juta perorang, bagaimana?"


"Waah itu banyak Bos, sangat cukup," sangat Tono.


"Pak Tono hanya sebagai cleaning service, menyapu lantai ruangan. Sementara Pak Alex akan menjadi pembersih ruangan pribadiku, dan juga membikin kopi untukku#" ucap Agam.


"Gajih segitu sangat banyak Pak. Terima kasih banyak, terima kasih banyak Pa."


"Tidak usah sungkan paman. Ayo kita turun!"


Mereka pun turun dan berjalan ke arah bangunan.


"Satpam! Tolong antarkan merwka ke gudang, mereka akan membersihkan gudang dan juga tinggal di sana mulai hari ini!"


"Oh ya Pak."


"Maaf, kalau WC terpisah dengan gudang ya! kalian bisa tanyakan sama teman satpam."


"Terima kasih Tuan Bos. Terima kasih Bos."


"Kalian jangan sungkan, panggil saja aku Agam."

__ADS_1


"Ah, tidak mungkin kami manggil nama bos bwhitu saja."


"Iya, biarkan saja kami manggil Bos ya?"


"Baiklah, aku akan ke kantorku, kalau kalian sudah beres, Pak Alex silakan datang ke kantor ku!"


"Ya."


"Aku tunggu kau di kantor atas," pinya Agam.


"Ya Bos,"


"Satpam, Tolong antarkan nanti dia ke atas ya!"


"Iya Bos, terima kasih."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam"


Agam pun pergi meninggalkan gudang tersebut, dia tersenyum, namun dia belum tahu apa yang harus dia katakan kepada Kiara, tidak mungkin dia memperlakukan mertuanya selamanya begitu, dia harus menyusun rencana agar Kiara bisa bertemu dengan sang ayah.


Agam pun memasuki ruang pribadinya, dan duduk termenung. Kemudian mengambil teleponnya.


"Hello, Sayang! kau sedang apa?"


"Aku sedang istirahat siang, Bang. kenapa menelpon ku? Abang kan baru saja pulang?"


"Memangnya tidak boleh menelpon istri sendiri? yang tidak boleh itu mah menelpon istri orang!" canda Agam.


"Iya iya. Memangnya Abang nggak ada kerjaan ya?"


"Terus ngapain Abang nelpon? kalau pekerjaan Abang banyak! Nanti malah enggak selesai-selesai, nanti kan kalau aku melahirkan pasti Abang akan libur banyak di kantor."


"Ya salah satu pekerjaanku itu ya nelpon kamu Sayang," godanya lagi.


"Eh gombal."


"Kamu nggak suka ya di gombalin? Nggak papa kan ngegombalin istri sendiri? Atau aku terlalu tua buat gombalin seorang wanita yang masih sangat muda?"


"Bukan begitu Bang, udah ah, abang selalu saja begitu, suka Cepet tersinggung, padahal yang hamil itu kan aku, bukan Abang."


"Hahaha Nggak kok Sayang, aku cuma bercanda. Ya udahlah, besok kamu ikut ke kantor ya?"


"Ngapain Bang ke kantor,"


"Ya ikut saja, Nggak ngapa-ngapain kok."


"Insya Allah deh."


"Oke, udah ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tok tok tok.


Tiba-tiba pintu Agam diketuk.


"Masuk!" perintah Agam.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


Pak Alex pun masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Selamat datang Pak, Oh iya ..., bapak hanya melayani aku untuk mengambilkan kopi saja, masalah merapikan ruangan ku, akan ada orang lain kok."


"Maaf, bagaimana dengan gajiku, tuan Bos?"


"Oh iya, gaji bapak tetap kok 2 juta sebulan."


"Benarkah? Apakah pekerjaan hanya menyediakan kopi itu tidak terlalu ringan?"


"Memangnya Bapak mau pekerjaan yang seperti apa?"


"Maksudnya ..., kalau cuma menyediakan kopi kan terlalu ringan untuk gaji 2 juta sebulan?"


"Nggak papa kok, pak, nanti sesekali juga pasti ada aku suruh sesuatu yang lain, semisal mencarikan aku belanjaan keluar dari gedung ini."


"Oh ..., begitu ya?"


"Iya."


"Oh iya Pak, maaf. Apakah bapak sebenarnya ingin sekali bertemu dengan anak dan istri bapak?"


"Iya Bos, sebenarnya aku ingin bertemu mereka, namun aku merasa malu dan juga takut, sementara aku pernah meninggalkan utang yang sangat besar padanya, dan aku juga belum tahu apakah sekarang anak itu bisa membayar hutang itu?"


"Kalau misal anak Bapak mau menerima bapak? Apakah bapak akan bersedia kembali kepada keluarga Bapak?"


"Aku belum bisa membayangkannya Bos, karena saat ini aku bingung, aku masih memperbaiki diri dan mempersiapkan diri, setidaknya aku bisa menabung dan kembali ke keluargaku dengan membawa uang banyak."


"Baiklah kalau begitu. Bapak bekerja saja di sini dengan baik, karena beras juga sudah akan aku berikan kepada bapak berdua, sama bapak Tono, jadi mungkin Bapak bisa menabung lebih banyak. syaratnya Bapak tidak usah berfoya-foya, gaji dua juta itu pasti cukup untuk bapak menabung setiap bulan."


"Terima kasih Pak Bos."


"Iya, kalau begitu Bapak bisa kembali untuk membersihkan gudang itu, hanya itu tempat yang kosong di perusahaan ini, maaf kalau itu kurang layak."


"Pak Bos, kenapa harus minta maaf, sebelumnya juga kami diam di bawah kolong jembatan, kami yang sangat berterima kasih banyak kepada bos. Terima kasih, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam"


Dia pergi meninggalkan kantor Agam, sementara Agam menatap bahagia sang mertua yang kini sudah ada di tangannya, tinggal dia membujuk Kiara dan membawanya ke kantor besok.


"Kiara ..., aku dan mama sudah bisa membuka hati untuk papaku, sekarang giliran kau dan ibumu yang harus membuka hati untuk ayahmu!"


batin Agam


***


Pak Aswin tampak gelisah, apa yang harus dia lakukan? ancaman Clara benar-benar telah mengganggu pikirannya. Dia baru saja bersatu dengan istrinya, namun ternyata mantan menantunya itu sangat licik, demi mendapatkan uang, dia rela mengorbankan dirinya menjebak mantan mertuanya sendiri.


Setelah Aswin mandi dan menyegarkan diri, dia pun merasa lapar dan turun ke bawah, namun saat di dapur dia bertemu dengan Clara yang sedang duduk dan makan juga di sana.


"Papah mau makan juga? sini biar aku ambilkan!" tanpa merasa malu, Clara langsung mengambilkan piring dan mengambilkan nasi.


"Tidak usah, aku hanya ingin minum," ucap Aswin, kemudian dia mengambil gelas dan pergi meninggalkan dapur, dia pun mengurungkan niatnya untuk makan.


"Pah, kau harus memikirkan kata-kataku tadi, sebelum terlambat! sebelum semuanya aku beritahukan kepada mereka. Kalau papa menyetujuinya, Aku akan segera pergi dari sini Dan Kita akan mengaturnya, Bukankah papa akan mencarikan ku rumah?"


Aswin tidak memperdulikan pembicaraan Clara, dia terus meninggalkan Clara di dapur. Clara pun tersenyum.


"Kau boleh sombong sekarang, namun kartumu sudah ada di tanganku Aswin!" batinnya

__ADS_1


__ADS_2