
Kiara sudah berada di ruang bersalin tampak Agam menemani dengan setia, memijat-mijat tangan dan kepala Kiara, sementara para perawat sudah memeriksa pembukaan Kiara sudah berjalan pembukaan 7, Kkara tampak terus meringis karena menahan sakit, mules di perutnya, sementara Agam juga terlihat panik dan sesekali menanyakan kondisi sang istri kepada para perawat.
"Sayang, apakah kita operasi saja?" tanya Agam lada Kiara.
"Nggak Bang, aku mau normal saja, tekat ku sudah bulat," sahut Kiara.
"Tapi kamu kesakitan, aku sangat takut," sahut Agam.
"Bang, sudahlah, semua irang yang... Huh ... Huh seperti ini, kakau lahiran," sahutnya lagi, nafas Kiara pun tersendat-sendat.
"Mah, bagaimana ini?" Agam terus saja panik.
"Gam kita tunggu saja, Kiara yang lahiran kok kamu yang seperti kesakitan?" gerutu sang Mama, yang merasa gemes dengan tingkah sang anak.
"Aku nggak tega liat wajah Kiara kesakitan Mah!" lirih Agam lagi.
"Kalau begitu, sana! pulang! Biar aku yang jaga Kiara," ketus sang Mamah.
"Mah! Apaan sih?" sahut Agam di buat kesal oleh sahutan,sang Mamah.
"Habis dari tadi kamu terus merengek, sampai bidan saja di buat brisik oleh suara mu yang kaya bayi minta ***** saja!" ketus sang mamah.
"Mah, aku kan khawatir, bagaimana kalau kenapa-kenapa?" sahut Agam.
"Tidak akan,terjadi apa-apa, kata bidan,semuanya normal, jadi jangan khawatir, kalau operasi 5 tahun lagi baru bisa melahirkan, sedang kamu udah tua," ucap sang mama.
"Nggak papa mah aku punya anak satu aja, asal Kiara sehat dan tidak kesakitan,+ ucap Agam.
"Itu katamu, operasi itu banyak keluhannya kalau pasca operasinya, tuh Othor habis Secer nggak sembuh-sembuh, malah sampai sekarang jahitannya itu membekas nggak rapi."
Agam pin akhirnya terdiam dan hanya bisa menatap wajah istrinya yang kesakitan. Hanya terus berdo'a di dalam hatinya.
Hingga wajah Kiara kini di penuhi keringat seperti biji jagung. Dan sering ngejan. Para perawat pun berdatangan dan memeriksa kondisi Kiara.
Benar saja, pembukaan sudah full 10 dan akhirnya para Perawat itu bersiap menjemput malaikat kecil.
__ADS_1
Dengan arahan sang perawat, kiara pun di tuntun untuk mengejan yang benar.
"Sayang, ayo! Seperti kamu mau BAB ya! Terus Sayang!"
Kiara terus berusaha, dan Agam malah terus meringis menahan perihnya.
"Pak, kalau anda tidak kuat, silahkan anda keluar saja, kami akan menangani istri anda," ucap perawat. Karena melihat Agam tampak lemes dan keringetan.
"Tidak Bu, aku mau melihatnya hingga selesai," sahut Agam.
"Kalau begitu, anda tenang dan jangan berisik," ucap perawat.
Agam pun diam, sementara mamahnya yang ada di ujung dekat agam menyenggol Agam karena greget dengan anaknya itu.
"Terus Sayang, ayo! Ayo Sayang, sedikit lagi...."
"Huh ..., eeeeeeeeeh."
Hening...
"Uweeeeek... Uweeek..."
Suara malaikat kecil itu kini menggema di seisi ruangan kecil itu, semua perawat yang ada di situ pun mengucap syukur, begitu juga Agam dan sang Mamah.
"Anda anda laki-laki Pak," ucap suster.
"Terima kasih ya Allah."
Agam sangat bersyukur hingga akhirnya dia bersujud di lantai.
Sang bayi pin di bawa untuk di bersihkan dari darah dan lendir.
"Mau di bawa ke mana bayiku Bu?" tanya Agam heran.
"Mau dibersihkan dulu pak, apa bapak mau menggendong dengan kondisi berdarah begini?" canda perawat.
__ADS_1
"Oh iya, aku tidak sabaran untuk mengazankan nya Bu," ucap Agam.
"Baik, sebentar ya!"
Perawat pun membersihkan bayi itu dengan tissu basah dan menyelimutinya.
Setelah di bersihkan dan di beri baju, bayi itu pin kembali di bawa ke Agam untuk segera di azankan.
"Kau tampan sekali Nak, bak pinang di belah dua dengan papah dulu!" pujinya.
"Emang kau ingat wajahmu waktu kecil dulu?",ejek sang mamah, menggoda.
"Kan ada fotonya Mah," sahut Agam.
Sang mamah pin tersenyum karena dia yang lupa, foto masa kecil Agam terpampang di ruang tamu rumah mereka hingga kini.
Setelah di Azankan, Bayi mungil itu pun do dekatkan ke Kiara dan di bero ASI.
"Yaaah, sekarang berbagi deh sama kamu, pasti nanti malah banyakan kamu dari pada Papah," ucap Agam sambil tersenyum.
Mamahnya hanya tersenyum mendengar Agam menggerutu lucu, sementara Kiara hanya menatap Agam dengan melototkan matanya merasa malu.
"Ha ha... M Fathan, sang penakluk. Itu nama yang aku inginkan untuk anak ini."
"Kalau dia memakai nama itu, aku takut nanti dia selalu menaklukkan hati wanita," goda Kiara.
Sementara perawat masih sibuk menjahit area jalan lahir Kiara.
"Bu, apa memang harus di jahit?" tanya Agam.
Karena sesekali wajah Kiara meringis menahan nyeri.
"Iya Pak, tenang saja, masih di sisain kok buat Bapak."
__ADS_1
Perawat itu tersenyum sambil mencandai Agam. Sementara Agam juga tersenyum malu begitu pun Kiara.