Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Kaget Tak Terkira


__ADS_3

Hari ini Agam akan membawa Kiara ke kantornya, tentu saja ini adalah rencana awal untuk mempertemukan Kiara dan ayah kandungnya, Agam sangat yakin bahwa lelaki itu adalah Ayah Kiara, walaupun Agam tidak menanyakan nama anak paman Alex dan juga istrinya, namun mendengar cerita Alex, Agam yakin memang benar Kiara lah yang dimaksud wanita yang menanggung hutang sang ayah.


"Sayang, tolong rapikan Dasi ku!" ucap Agam kepada sang istri.


Jam dinding menunjukkan tepat jam 09.00 pagi.


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Tiba-tiba suara sang mama juga datang ke apartemen Agam.


"Mah, kenapa kau ke mari lagi sih?Kenapa tidak bosen-bosen ke mari?" yanya Agam.


"Kamu ngapain sih Gam, nanya-nanya begitu sama mama? kamu kan sudah tahu Mama selalu ingin bersama dengan Kiara dan calon cucu mama," sahutnya.


"Tapi hari ini Kira mau aku bawa ke kantor mah."


"Hah! ngapain dia ke kantor?"


"Ya nemenin aku mah, Masa dia nemenin mama terus setiap hari! aku juga pengen ditemenin tahu!" ucap Agam sambil bercanda dan tersenyum.


Sedangkan Kiara sedang asyik merapikan Dasi sang suami.


"Kamu itu, manja sekali Gam! zaman dulu aja waktu sama Clara, tidak pernah tuh dirapikan dasimu seperti ini! ini istri lagi hamil juga disuruh-suruh pakaikan Dasi, kasihan dia!" kata mamanya.


"Dulu dengan sekarang tuh berbeda mah, sekarang aku lagi saingan sama bayi yang ada di kandungannya ini, sudah jangan diungkit-ungkit lagi, sekarang kami mau berangkat, Mama mau di sini atau gimana?"


"Ya aku ikutlah ke kantor. Aku kan direktur perusahaan itu," ucap sang mama.


Akhirnya mereka pun berangkat ke kantor setelah Kiara salaman sama ibunya. Sepanjang jalan tampak Agam menggenggam mesra tangan sang istri, seakan dia tidak mau berpisah.


"Sayang ..., sebenarnya Ayah kamu itu di mana sih? Apakah kamu tidak ingin mencarinya?" tanya Agam basa-basi.


"Aku bingung, kalau aku mencarinya pakah ibu akan menerimanya?" bingung Kiara.


"Kalau belum dicoba, mana tahu Sayang? Apa aku harus mencarinya?"

__ADS_1


"Mungkin sekarang aku belum siap, Bang, aku juga belum minta izin sama ibu, mungkin suatu saat kalau aku sudah siap," sahutnya.


Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di gedung perusahaan Agam. Kiara tampak anggun dibalut dengan setelan baju Syar'i dengan memakai baju tunik, Clara dan Agam juga sang Mama akan menaiki lift menuju kantor Agam, saat di depan lift tiba-tiba Kiara melihat kakek tua yang sedang membawa kresek, menuju belakang bangunan.


Kiara sangat kaget.


"Ayah? Apakah itu Ayah?" batinnya.


Sementara Agam yang memang melihat Kiara menatap lelaki itu hanya diam, dia ingin melihat reaksi sang istri. Agam tidak mengatakan apa-apa pada Kiara, sampai mereka masuk lift dan akhirnya mereka pun sampai di ruangan Agam.


Kiara langsung duduk termenung di sofa ruangan itu.


"Sayang ..., ada apa? kau memikirkan apa?" tanya Agam.


Padahal Agam tahu, kalau sebenarnya Kiara memikirkan laki-laki yang tadi di bawah.


"Oh tidak kok, Bang. Aku hanya merasa lelah saja, aku mau berbaring sini ya! nggak papa kan? tidak ada tamu kan? hari ini?" tanya Kiara.


"Kamu sih gam, istri lagi hamil begini dibawa-bawa ke kantor, kayak nggak ada kerjaan saja! kalau kamu nggak bisa jauh dengan Kiara, kamu enggak usah ke kantor, biarkan orang kepercayaan mu itu saja yang menangani kantor!" ketus Mamanya merasa khawatir dengan kondisi Kiara.


"Mah, aku tidak papa kok, cuma aku tidak bisa lama-lama duduk, karena rasanya pinggang aku sakit."


"Ya begini nih, Kiara, punya suami enggak pengertian sekali, umur udah tua, tapi enggak bisa mengerti kalau istri lagi hamil tua," ketus sang Mamah lagi.


Agam hanya diam saat dapat omelan sang Mamah, memang benar kata si Mamah, kalau bukan karena Agam ingin mempertemukan Kiara dengan ayahnya, tentu saja dia tidak akan membawa Kiara yang sedang hamil besar ke kantor.


"Mah, sebaiknya Mama jalan-jalan lagi sana! lihat karyawan Mama, beberapa hari ini kan Mama enggak ada ke kantor, padahal kan Direktur Utama itu Mama. Masa enggak tahu kantor sih?" Sindir Agam.


"Tapi aku kasihan sama Kiara."


"Aku pengen berduaan sama Kiara mah, malah Mama ikut juga ke mari." ucap Agam sambil bercanda namu serius juga.


"Baiklah, aku jalan jalan sebentar," ucap Mentari.


Mentari pun pergi meninggalkan mereka berdua, kemudian Agam mendekati Kiara.


"Sayang, kamu mau nggak ketemu sama ayahmu? nanti pasti aku bisa menemukannya," tanya Agam.

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga sangat merindukan ayah, tapi...."


"Kenapa? ayahmu pasti merasa bersalah denganmu, karena meninggalkanmu dengan banyak hutang, tapi kau bisa menjelaskannya padanya, kalau hutang Ayahmu itu sudah lunas, biar ayahmu tidak merasa bersalah lagi."


"Apakah kami bisa bersatu lagi?"


"Tentu saja bisa, seperti yang kau bilang saat kami juga terpisah dengan papa."


"Iya juga sih."


"Berarti kamu mau kan ketemu sama ayahmu?"


"Emangnya Abang tahu di mana Ayah?"


"Enggak tahu! mungkin saja aku tahu."


Kemudian dia mengambil teleponnya dan menelepon seseorang. Merska terus berbincang hingga...


Tok tok tok


"Tuan ..., ini airnya," ucap seseorang didepan pintu.


"Silakan masuk!"


Seorang laki-laki yang menggunakan topi pet masuk ke dalam dan meletakkan air di atas meja Agam, sedangkan Agam masih duduk di ujung kaki Kiara di atas sofa.


"Terima kasih Pak, Oh iya pak bagaimana kabarmu pagi ini? Apa masih demam?" tanya Agam.


Basa-basi Agam, agar lelaki itu bersuara.


"Alhamdulillah baik pak bos," sahutnya.


Kiara kaget saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, kemudian dia pun menengadah, karena posisi Kiara sekarang sedang berbaring di sofa, dan benar saja, laki-laki yang ada di depannya itu adalah ayahnya sendiri.


"Ayah..." sapa Kiara dengan suara gemetar.


Alex pun kaget saat melihat sang anak yang berbaring di dekat Agam dengan perut membuncit.

__ADS_1


__ADS_2