
Kiara terus membelai kepala Agam yang berbaring di pahanya, dia tidak bisa berkata apa-apa bahkan untuk sekedar kata-kata penghibur pun Kiara tidak bisa mengucapkannya, karena ini adalah masalah Agam dan istri tuanya yang sudah usai.
"Kiara, sekarang Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah suatu saat nanti kau juga akan meninggalkanku, kalau aku sudah menua dan tidak bisa lagi bekerja?" tanya Agam.
Mendengar pertanyaan yang seperti itu, Kiara pun mendekati wajah sang suami dan menciumi wajah itu seakan dia ingin mengatakan, bahwa dia sangat mencintai Agam, namun suaranya tertahan ketika air mata juga kini membanjiri pipinya, dan air mata itu jatuh ke pipi Agam.
"Kenapa kau menangis? Apakah kau menyesal mengenalku?" tanya Agam lagi.
"Tidak, Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, namun aku bangga aku bisa mengenalmu. Dan... sekarang aku menjadi satu-satunya di kehidupanmu, sebelumnya aku tidak pernah menyangka akan sampai ke titik seperti ini. Bahkan aku sering berpikir, bahwa kau akan mencampakkan ku, setelah aku melahirkan," ungkap Kiara dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kiara, Aku bukan orang seperti itu. Aku adalah orang yang bertanggung jawab, kau harus percaya padaku."
Agam membelai lembut pipi Kiara dan mengelus juga perut sang istri.
Akhirnya mereka pun sama-sama dalam kesedihan. Mereka sama-sama menangis, Agam semakin menenggelamkan wajahnya di pangkuan Kiara
***
Clara sudah berada di apartemen Burhan, kali ini dia tampak merapikan pakaiannya yang sempat dia simpan di kamar Burhan, sepertinya Clara akan pindah tempat. Selesai berkemas, Clara pun keluar. Di ruang tamu, tampak Burhan sudah rapi, karena akan berangkat kerja.
"Apa kau serius ingin menikah dengan paman mantan suamimu itu, Clara? Apa tidak kau urungkan saja niatmu itu?" tanya Han sambil mendelik ke arah Clara.
"Ya, aku akan mrmbalas sakit htiku, dan mengambil perusahaan itu, kalau aku tidak bisa mengambilnya, maka aku akan memb**unuhnya," ketus Clara penuh amarah.
"Ha ha ha, tidak mungkin kau berani melakukan itu, Cla... Kau itu gadis lemah, melihat ayam mati saja kau takut! Apalagi membun**h?" ejek Han pada Clara sambil tertawa lebar.
"Kau liat saja nanti!, aku rela mengorbankan lobangku untuk semuanya itu demi perusahaan., maka aku akan melakukan lebih dari itu pun , aku sanggup," ketusnya lagi penuh emosi dan penekanan.
"Apa kau tidak takut penjara?" tanya Han.
"Itu soal belakangan, aku tidak mau memikirkannya sekarang, mudahan saja aku bisa mendapatkannya secara baik-baik, agar peristiwa berdarah itu tidak bakalan terjadi," sahutnya lagi.
"Terserah kau lah! Tapi hati hati, dunia ini sangat keras! Ayo berangkat! Aku antar kau mencari taksi," ajak Han sambil berjalan keluar Apartemen.
***
Agam belum beranjak dari pangkuan Kiara, malah dia sekarang ketiduran, Kiara yang sudah lama duduk pun merasa penat, dan bahkan sekarang dia sudah mulai kesemutan kasian sekali ibu hamil itu.
__ADS_1
"Hua... Hua..."
Tiba-tiba Kiara mual dan ingin muntah.
Agam yang mendengar Kiara mual pun terbangun dan duduk.
"Sayang... Maaf, aku ketiduran."
Agam pun turun dari ranjang dan mencarikan minyak kayu putih. Segera dia mengolesi pundak Kiara. Namun mualnya tidak tertahan, saat Kiara mau berdiri, namun kakinya Kaku dan hampir tersungkur. Untung Agam,sigap menangkapnya.
"Ada apa Sayang?"
"Aku kesemutan Bang."
Hap
Agam lun menggendong Kiara menuju dapur dan menurunkannya di depan wastafel.
"Hua. Uhuk uhuk."
Kiara pun memuntahkan makanan yang banyak, sampai dia lun tersedak karena terlalu banyak muntah. Agam sangat khawatir dengan kondisi Kiara.
Tak tak tak
Terdengar suara berjalan mendekati dapur.
"Ada apa? Kiara mual lagi?" tanya sang Mamah.
Mertuanya pun sibuk membantu Kiara biar bisa rileks,lagi. Hingga mualnya benar-benar hilang.
Kiara sudah tenang dan kembali normal ke semula. Mualnya sudah hilang.
"Sudah Ashar, ayo kita sholat!" ajak Kiara.
Sudah beberapa hari ini Agam dan sang mamah slalu rutin mengerjakan sholat 5 waktu. Semua berkat ibu Kiara, dan juga Kiara.
Seeprti biasa, habis sholat mereka pun makan bersama. Dan istirahat malam.
__ADS_1
Pagi ini Agam tampak sibuk merapikan bajunya, karena dia akan melamar pekerjaan. Tekatnya untuk mendapatkan pekerjaan sangat kuat. Apa pun pekerjaan yang akan di dapat akan dia kerjakan dengan ikhlas, apalagi dia akan memiliki anak.
***
Di sebuah kampung yang lumayan sepi dari hiruk pikuk kendaraan, tampak seorang lelaki lusuh berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kata orang-orang, dia akan mengelilingi kampung itu hingga sampai puluhan kali tanpa berhenti.
"Adi, kamu pulang dulu Nak, makan dulu sana!" teriak seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di halamannya, saat melihat Adi berjalan jam 1 siang.
"Aku lagi mencari Kiara Bu, sebentar lagi ketemu," sahutnya layaknya orang normal, namun dia terus tertawa-tawa kecil sambil memilin-milin tangannya.
"Kasihan sekali dia bu ya, ini lah orang kota, tidak mau menerima wanita pilihan anaknya, sudah jadi begini malah menyesal, sudah di bawa berobat ke mana-mana, tak ada hasil," cecer ibu penjemur baju.
"Namanya juga hati, baiknya di kasih wanitanya saja sama dia, mungkin bisa sembuh," gosip ibu-ibu ketika saling bertemu.
"Katanya sang wanita sudah menikah dengan pengusaha kaya, dan hidup bahagia, tambah sakit hati kan Adi. Malah sekarang di buang ke kampung neneknya ini," gerutu penjemur baju lagi.
"Kalian sedang membicarakan Adi cucuku? Apa kalian melihatnya?" tanya Nini Adi
"Iya Mbah, dia arah sana, Mbah, sebaiknya pertemukan Adi dengan wanita oti, mungkin saja Adi akan sembuh kalau bertemu wanita itu," ucap salah satu dari mereka.
"Tapi dia sudah menikah, dan katanya menikah dengan lelaki kaya raya, pasti dia tidak mau bertemu Adi lagi, kelihatannYa dia orang matre," ucap Mbah.
"Tapi belum pernah bertemu kan Mbah, siapa tau dia mau membantu Adi, katanya mereka dulu pacaran 3 tahun kan? Pasti saling mencintai," sahut ibu ibu.
"Sudahlah, aku pasrah sja, orang,tua Adi juga sibuk bekerja."
"Tapi Adi itu anak satu satunya kan, ahli waris perusahaan anakmu."
"Iya, mungkin nanti aku usahain bisa menemukan wanita itu, karena orangtua Adi sudah tidak mau mengurusi Adi."
"Ya orang tua durhakim itu,mah, sewaktu anaknya mau menikah saja, sibuk urusin cari mantu idaman, giliran sudah begini? Lepas tangan, sama ibu saja kan jarang kunjungin, eh anak gila begitu malah di suruh rawat."
Ibu itu kayaknya emosi melihat kepada orang tua Adi yang egois. Seenaknya menitipkan anaknya yang gila pada orang tua yang sudah renta.
"Iya... Nanti aku akan mencari wanita yang bernama Kiara itu, tanpa sepengetahuan orang tua Adi, karena mereka sangat kekeh, tidak mau lagi cari tau wanita itu."
Mbah pun pergi meninggalkan 2 wanita itu. Jalannya pun terseok-seok karena badannya yang sudah mulai bengkok, karena usia.
__ADS_1
Bersambung...