
Resmilah sudah perusahaan PT. GAM kembali ke pemiliknya. Dan Alex juga sudah di laporkan dan di tangkap polisi dengan tuduhan pencurian perusahaan.
"Pak, karena sekarang urusan bapak sudah selesai, Saya izin pamit pulang ke kota saya, saya juga kangen dengan anak dan istri saya Pak," pamit Hasan lada Aswin.
"Aku merasa sangat sedih harus berpisah denganmu, tapi kalau aku sudah menemukan keluargaku, maka aku akan mengunjungimu, sebenarnya aku ingin kau tetap di sini dan bekerja padaku, sebagai manager perusahaan ku saja," tawar Aswin.
"Terima kasih banyak atas tawarannya pak, tapi aku tidak bisa, aku merasa nyaman tinggal di dalam lingkungan pesantren itu," sahut Hasan.
"Baiklah kalau memang itu yang kau inginkan, tapi kalau suatu saat kau ingin bekerja di sini, datanglah temui aku, oh iya, jangan sampai nomor ku hilang ya! kalau ganti kartu tolong hubungi aku. Perjalanan 3 jam dari kotamu ke kota ini juga tidak terlalu jauh," ucap Aswin lagi.
"Baik Pak, kalau begitu aku permisi."
Hasan pun bersalaman dan bersiap meninggalkan kantor itu. Namun...
"Tunggu! Aku ingin memberimu sesuatu."
Aswin pun membuka tasnya dan mengeluarkan uang segepok, perkiraan uang itu berjumlah 10 juta lebih.
"Pak, apa ini?" tanya Hasan bingung.
"Ini sebagai ucapan terima kasihku selama berpuluh-puluh tahun, kau merawat ku dengan baik, ini pun belum seberapa, nanti kalau perusahaan ku ini jalan kembali, aku pasti akan mengirimkan uang lagi untukmu," ucap Aswin.
"Tidak usah Pak, aku ikhlas. Lagian bapak itu bukan aku yang memberi makan, akan tetapi Pesantren kami, Yayasan kami," ucap Hasan lagi.
"Tidak apa-apa. Tapi yang menemukan aku itu, adalah kamu, dan merawat aku dengan sabar, itu adalah kamu. Bahkan kamu membantu Ingatanku kembali seperti sekarang. Terimalah untuk semuanya. Ini ..., aku tidak mau kamu menolaknya, kalau kau menolaknya, berarti kau bukan menganggap aku sebagai orang tuamu!" ancam Aswin lagi.
"Sebenarnya aku berat untuk menerimanya, Karena kalau aku menerimanya, berarti pahalaku sudah habis Pak, tapi baiklah, aku akan menerimanya, nanti akan aku sama sumbangkan ke pesantren ku, agar Bapak mendapatkan amal jariyah yang selalu berlimpah," ucap Hasan.
"Baiklah, terserah kau saja, terima kasih banyak, sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
Aswin pun memeluk erat Hasan kemudian mengantarkan Hasan sampai di depan pintu lift, Hasan merasa sedih bahkan setetes air mata pun menetes di ujung matanya, berpuluh-puluh tahun Hasan merawat Pak Aswin dengan sabar, saat dia menemukan Pak Aswin di sungai tempat para santri mandi saat itu, hingga Dia memutuskan untuk merawat Pak Aswin yang penuh luka, sejak saat itulah Aswin dirawat oleh Hasan hingga saat ini.
"Sebenarnya aku sangat sedih berpisah denganmu, Hasan. Kau sangat baik, merawat ku dengan sabar, bahkan saat istrimu hamil Kau sering mengabaikannya karena terus merawat ku yang saat itu belum bisa jalan," batin Aswin saat mengingat saat itu.
***
Kiara tampak gelisah menunggu sang suami di rumah, seharian ini dia tampak urip-uringan dan hanya sesekali mencat sang suami yang sedang bekerja, kali ini dia memesan empek-empek berkuah pedas. Entah mengapa dia sangat ingin makan makanan pedas itu, ia sudah menchat Agam dan chat itu pun sudah terbuka, namun Agam tidak membalasnya. Tak berapa lama...
"Assalamualaikum," ucap Agam dari luar rumah.
Dengan cepat Kiara melompat dari ranjangnya, bahkan dia lupa kalau sekarang dia sedang hamil, air liurnya pun menetes karena membayangkan makan Emlek-empek pedas itu.
"Abang!" sambut senyuman Kiara, saat sang suami menginjakkan kaki di depan rumah.
__ADS_1
Dia pun menyambut ransel sang suami, setelah bersalaman dia pun membawa tas itu ke sofa lalu membukanya dengan tergesa-gesek.
"Sayang ..., kau mencari apa?" tanya Agam yang heran melihat sang istri langsung merazia tasnya.
"Empek-empek Kiara mana Bang?" tanya Kiara sambil terus membuka tas tersebut.
"Empek-empek apaan? Emang kamu ada pesan?" tanya sang suami kebingungan.
"Bang jangan bercanda ya! aku lagi pengen banget tau!" ketus Kiara terus mengobok-obok tas suaminya, namun tak di temukan barang pesanannya itu.
"Kiara, ada lesan?" sambil menatap wajah sang istri yang mulai tidak,enak di lihat.
"Abang sedang mengerjai ku?" sahut Kiara, berharap Agam hanya bercanda dengannya.
"Beneran aku tidak tahu, emang kamu ada pesan?"
"Jadi beneran Abang nggak membelikan aku empek-empek itu?" tanya Kiara.
Agam pun merogoh sakunya dan membuka chat dari Kiara, Dia baru saja tahu kalau Kiara sedang memesan Empek-empek.
"Sayang... beneran aku tidak tahu kalau ada chat ini, Bahkan aku tidak tahu kalau chat ini sudah terbuka?" ucap Agam merasa bersalah, wajah Kiara pun kini murung.
"Nggak papa deh Bang, besok aja Abang belikan," ucap Kiara.
"Oke, aku akan membelikannya, sebentar ya!" Agam pun kembali masang jaketnya dan mengambil kuncinya.
Tidak usah Bang, besok aja," ucap Kiara.
"Kau tunggu saja, aku pasti akan membelikan mu, ini semua demi si cabang Bayiku, apapun yang akan dia pinta, aku pasti membelikannya, walaupun aku harus terbang ke langit, sekarang senyumlah."
Kiara pun tersenyum mendengar sang suami.Namin...
"Aku ikut ya! ikut ya!" rengeknya tiba-tiba.
"Jangan! nanti Kamu kecapean, nanti juga kamu terhempas saat di perjalanan, aku tidak mau kamu celaka, tunggu saja ya#" bujuk Agam.
"Tidak apa-apa kok, pelan-pelan saja ya! please...." pinta Kiara merengek, sambil memeluk sang suami dari belakang.
"Yah gimana ini? Baiklah kita pakai mobil saja ya!"
"Tidak, aku mau pakai motor saja," pintanya.
"Kenapa harus pakai motor?" Agam makin bingung lagi.
__ADS_1
"Karena pakai mobil itu tidak asik, tidak mesra," ucap Kiara sambil berbisik di telinga sang suami.
"Kalau mau bermesraan di rumah, bukan di jalan," ucap Agam lagi.
"Tapi aku pengennya di jalan, kayak orang pacaran," sahutnya.
"Huh ..., memang susah kalau berbicara dengan orang yang sedang mengidam!" gerutu Agam pasrah.
Sebenarnya Agam merasa kesal, dengan tingkah sang istri, namun sebenarnya juga dia suka saat Kiara bermanja-manja, namun saat ini dia khawatir dengan cabang bayi yang sedang dikandung oleh Kiara.
"Baiklah kalau begitu, kita pelan-pelan saja ya!"
Akhirnya Agan pun membawa Kiara dengan menaiki motor, sementara ibu dan Mamanya seperti biasa kalau sore selalu sholat ke musholla dan mendengarkan ceramah agama setelah sholat magrib.
"Memangnya mau Empek-empek yang mana?" tanya Agam.
"Yang biasa Abang beli."
"Itu kan jauh Sayang, itu hampir dekat dengan perusahaan Abang! yang di sini saja ya!"
"Aku tidak mau, pokoknya aku mau yang di sana" rengeknya lagi.
"Bagaimana kalau kehabisan, ini sudah terlalu sore!"
"Ya suruh saja pamannya bikin lagi."
"Masa bikin lagi? akan memakan waktu berhari-hari."
"Pokoknya aku mau yang itu, aku nggak mau diganti dengan yang lain," rengeknya.
"Kamu kenapa manja sekali Sayang?"
"Ini bukan aku Bang, sumpah! Ini kemauan anakmu," ucap Kiara dengan wajah polosnya.
"Ah sudahlah. Baiklah sekarang kita ke sana, tapi pelan-pelan saja ya!"
Agam terus mengalah dengan sang istri, memang baru kali ini dia menghadapi orang yang sedang hamil muda, namun sebenarnya Agam sangat senang bisa melayani istrinya yang sedang mengandung anaknya tersebut.
Akhirnya dia sampai di warung Empek-empek tersebut, semua itu mengingatkan Agam pada waktu masa kecilnya yang pernah merengek minta dibelikan Empek-empek yang banyak, namun sang ayah hanya memberikan dia Empek-empek 2 biji saja, karena saat itu sang ayah tidak memiliki uang, saat perusahaan mereka belum jaya.
"Saya pesan Empek-empeknya 20.000 ya!" ucap seseorang.
Agam mendengar suara tersebut pun kaget, dan menoleh. alangkah kagetnya dia saat mengenali orang yang sekarang ada di depannya.
__ADS_1
Bersambung