Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Panik Karena Darah


__ADS_3

Akhirnya mereka sepakat, Kiara dan Agam tidur di kamar belakang, sementara Ibu dan Mamah Agam tidur di kamar utama. Mereka sudah selesai merapikan baju dan juga juga mandi sore.


"Nduk, malam ini ada pengajian di Mesjid sini, apa kamu mau ke sana? Sekalian sholat maghrib, kalau lagi hamil itu, bawa dengar yang baik-baik, dulu saat Ibu hamil kamu juga begitu, saat kamu masih kecil, sangat suka ikut ke pengajian mingguan sama ibu," tutur ibu Kiara.


Kiara tampak sibuk memasak di dapur, di temani Ibunya yang duduk di kursi roda. Kiara yang lagi membuat opor kesukaan sang suami itu tampak diam saja saat di nasehati Ibunya.


"Wangi sekali aroma masakan Bumil ini, jadi laper nih, apa sudah masak?" tanya Agam yang tiba-tiba datang ke dapur dan duduk di dekat Kiara berdiri sedang mengiris osengan sayur.


"Sebentar lagi Bang, ini baru mau bikin capcay," celetuk Kiara sambil terus memotong-motong sayur.


"Aku mau ke kamar dulu."


Ibu Kiara pun pergi meninggalkan mereka berdua, Ibu Kiara sepertinya paham, kalau Agam dan Kiara lagi angat-angatnya.


"Malam ini pengen berapa ronda?" Agam mulai nakal dan berdiri di belakang Kiara, sambil memeluk tubuh Kiara erat.


"Ronda apaan sih Bang? Emangnya pos kamling apa?" sewot Kiara merasa malu di tanyai begituan.


"Kita kan memang poskamling! setiap saat kita mau kita mainin tuh beberapa ronda, biar aman," celetuk Agam asal.


"Aman apaan, Bang, malah itu tidak aman namanya," gerutu Kiara.


"Kenapa tidak aman? kamu tidak suka itu ha ha ha," kelekar Agam lagi.


"Suka sih, tapi kadang Abang mainnya terlalu agresif!" sewot Kiara lagi.


Agam terus memeluk dan menciumi pohon jenjang jerapah tersebut. Membuat Kiara tidak fokus memotong sayur.


"Au...."


Tiba-tiba Kiara teriris jari telunjuk karena menggeliat saat di ganggu sang Suami.


"Sayang!" seru Agam kaget, saat melihat jari telunjuk sang istri kini mengeluarkan darah. Agam panik dan segera meraih telunjuk kiara.


"Emmmch.


Agam mengecup telunjuk itu dan membuang darahnya di washtafel. Agam kembali meraih tangan sang istri dan mengulangnya. Sementara Kiara hanya termangu melihat kepanikan sang suami.


"Bang, Aku tidak menyangka hubungan kita sampai sejauh ini? aku kira hubungan kita hanya sebatas memiliki anak, dan kita akan bercerai, rencana kita sebelumnya memang hanya sebatas membuat anak," batin Kiara sambil terus memandangi suaminya yang masih panik.


"Sayang, bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Agam, terlihat dia masih sangat khawatir.


Kiara hanya tersenyum menatap tingkah laku suaminya itu, selama ini dia tidak pernah melihat Clara di dapur apalagi sampai terluka dan sekarang saat usahanya bangkrut, dia merasa sangat senang namun kesenangan itu terhenti ketika melihat orang yang disayanginya kini terluka. Tentu saja Agam sangat panik, saat melihat darah yang begitu banyak menetes di telunjuk Kiara.


"Bang, ini tidak apa-apa kok, Aku bahkan pernah lebih parah daripada ini, saat aku bekerja di restoran dulu," ucap Kiara.


"Benarkah? bagaimana kau bisa mengatakan kalau ini tidak parah? Lihatlah! begitu banyak darah di meja, tisu juga penuh dengan darah, Aku bahkan berulang kali menghisap darahmu dan membuangnya ke wastafel," timpal Agam lagi.

__ADS_1


"Bang Agam. Kenapa kamu membawanya ke wastafel? Kenapa tidak sekalian saja Abang teguk itu darah, Biar Abang tahu rasanya gimana jadi vampir," canda Kiara sambil terus tersenyum di kulumnya.


"Eh... kamu ingin aku jadi vampir? sini!" Agam pun kembali memeluk Kiara dan kali ini dia memeluk Kiara dari depan dan mengahabisi leher itu dengan buas seakan dia sedang menjilati es kream. Kiara pun tertawa karena merasa geli atas tingkah laku suaminya tersebut.


"Agam! Apa yang kau lakukan? Jangan membuat Kiara tertawa terbahak-bahak, itu tidak bagus bagi bayinya, karena tawa itu bisa menekan rahim dan bisa menyebabkan keguguran!" bentak Mamah Agam yang baru tiba di dapur.


"Ha? Benarkah? Kenapa bisa begitu?" heran Agam sambil melepaskan pelukannya.


"Itu kata nenek moyangku dulu Gam, Hemmmmh...apa sudah masak? Aromanya enak sekali ini," imbuh Ny.Mentari lagi.


Mama Agam pun ikut mengambil bagian memasak sayur yang tadi Kiara potong-potong sebelum dia terluka, dan sekarang Kiara tidak diperbolehkan lagi untuk bekerja di dapur oleh sang mertua, sang mertua tampak menikmati kebersamaan bersama menantunya tersebut, sesekali dia akan bertanya bumbu kepada Kiara karena Ny.Mentari memang tidak pernah memasak dan dia benar-benar tidak pandai dalam hal memasak, karena sejak menikah dengan suaminya, Ayah dari Agam, dia tidak pernah menyentuh dapur. Sewaktu masih remaja pun dia tergolong orang berada, jadi dia tidak pernah memasak bahkan untuk suaminya sekalipun.


Saat itu Ayah Agam meninggal, Agam sudah remaja dan bisa mengendalikan perusahaan, namun hingga saat ini ayah Agam tidak diketahui mayatnya, karena saat kecelakaan tersebut hanya ada jasad seorang wanita yang ada di dalam mobil, di pinggiran sungai yang dalam. Namun jasad Ayah Agam tidak ditemukan dan diduga perempuan tersebut adalah wanita simpanan Ayah Agam, namun saat ditemukan wanita itu pun juga sudah tewas. Ibu Agam tidak pernah tau, cerita wanita itu. Karena orang tuanya atau kakek Agam merahasiakan kisah itu, agar anaknya bahagia.


Semua masakan sudah masak.


"Sekarang sudah siap, ayo panggilkan ibu mu Kiara!" titah sang mertua.


"Baik Mah."


Kiara pun berjalan meninggalkan dapur, sementara Agam tampak tidak sabaran untuk menikmati masakan yang ibunya buat.


"Baru kali ini aku akan menikmati masakan ibu, semoga saja tidak mengecewakan, ha ha ha," canda Agam sambil mengambil piring sendok dan juga garpu, namun dia tetap saja menunggu Kiara untuk mengambilkan makanan tersebut ke piringnya.


Karena Bibi dan juga Paman satpam yang dulu sudah diberhentikan oleh Agam, saat mengantar mereka tadi siang, dan mereka juga sudah diberi pesangon oleh Agam sebanyak 10 juta per orang.


Kiara mengambilkan makanan untuk suaminya, dan Agam pun mulai mencicipi makanan sayur osengan yang dibuat oleh ibunya. Bahkan dia takut untuk mencicipi banyak, jadi dia mengambil sedikit sayur itu dan mencicipinya terlebih dahulu.


"Lumayan Mah, ternyata Mamah juga pintar masak," ucap Agam memuji sang ibu.


Agam pun makan dengan santai makanan yang sudah disajikan, begitu juga Kiara dan juga Ibu Kiara, namun Mamah Agam merasa penasaran, saat melihat sekejap wajah Kiara tampak kecut.


"Benarkah makanannya enak?" timpal Ny.Mentari seraya mengambil dan memasukkannya ke piringnya.


Akhirnya dia pun mencicipinya namun...


"Bcuh ... Bcuh...(membuang) apa-apaan ini? rasanya garam semua, terlalu banyak micin" ucapnya.


"Ha ha ha," Agam tertawa puas.


"Kamu kok berbohong ya Gam, masa masakan kayak gini dibilang enak?" kata Sang mama merasa tertipu, oleh pujian sang anak.


"Ha ha ha. Ini adalah pertama kalinya mama memasak, Masa aku langsung menghina masakan mama, tidak adil kan? Untuk kali ini, biar aku beri pujian buat Mama. Tapi besok kalau rasanya seperti ini lagi, aku pasti langsung menghina masakan mama di depan semua orang," celetuk Agam sambil senyum-senyum.


Mereka pun tertawa bersama, akhirnya sayur itu hanya menjadi tontonan di atas meja karena rasanya memang sangat asin dan tidak akan mungkin cocok di lidah.


***

__ADS_1


Pagi menjelang, tampak Clara baru bangun dari turunnya, tepat jam 11.00 siang. Kebiasaannya ini memang sulit untuk di hilangkan, karena kebiasaan bangun siang itu sudah mendarah daging di jiwa Clara. Sepertinya dia berada di sebuah apartemen bernuansa putih. Kamar itu tampak rapi. Clara menggeliat dan duduk di sisi ranjang.


"Apakah dia sudah pergi bekerja?" gumam Clara.


Dia pun berdiri dan berjalan mendekati kamar mandi, dengan cepat dia membersihkan diri di kamar mandi tersebut.


Clara juga berdandan cantik dan wangi, sepertinya Clara akan pergi. Clara pun pergi meninggalkan apartemen tersebut, sambil berjalan merapikan rambutnya dan juga mengambil teleponnya.


"Hello, Han. Apa kau sudah di kantor?" tanya Clara.


"Iya, aku sudah di kantor, tadi kau belum bangun, makanya aku tidak membangunkan mu, makanan sudah aku siapkan di meja makan," ucapan.


Ternyata Clara bermukim di tempat Han, di sebuah apartemen mewah di kota tersebut.


"Baiklah, mungkin hari ini aku akan terlambat pulang, dan tolong jangan hubungi aku dulu ya! karena aku ada urusan hari ini," ucapnya.


"Apakah kau ingin mengurus masalahmu dengan Agam? Aku tidak mau mendapat masalah karena urusanmu dengan Agam, ingat itu! kita hanya berteman, jadi aku pun juga tidak mau kalau ada orang lain yang tahu bahwa kau tadi malam menginap di tempatku!" ucapnya.


Sepertinya walaupun satu apartemen, mereka tidak tidur bersama. Dan Clara mungkin tidak menceritakan perihal kebangkrutan Agam.


"Kau tenang saja! sudah ya dah...."


Clara pun menutup teleponnya. Sesampainya di parkiran Clara memasuki mobil mewah tersebut yang dia bawa dari rumah Agam, kemudian dia meluncur ke suatu tempat yang lumayan jauh dari tempat dia berada sekarang.


Tak Berapa lama dia sampai di sebuah bangunan yang tidak begitu besar, setelah Clara memarkirkan mobilnya, terlihat bergegas masuk ke gedung kecil itu.


"Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang karyawan, yang ada di depan perkantoran kecil tersebut.


"Aku Ingin bertemu Tuan anda," ucap Clara, sambil terus berjalan menuju pintu yang ada di ruangan ruangan.


"Tapi Tuan sedang sibuk, tolong tunggu sebentar!" pinta karyawan tersebut.


Namun Clara tidak menggubrisnya. Dia dengan percaya diri mendorong pintu itu kuat-kuat dan pintu itu pun terbuka.


Brak


Alangkah kagetnya Clara saat melihat adegan yang dia lihat di dalam.


"Clara!" pekik Alex kaget, saat melihat Clara masuk ke dalam ruangan tersebut. Clara kemudian menutup pintu.


Ada seorang wanita yang sudah bug**il di dalam sana, wanita itu tampak berpindah tempat yang tadinya duduk di pangkuan Alex sekarang dia dengan cepat pindah duduk di sofa dan menutupi bagian sensitifnya.


Clara tersenyum licik.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2