
Agam duduk dan tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya, dia duduk di teras mesjid sambil menunggu Kiara. Tanpa sadar bahwa Kiara sudah dari tadi berdiri di belakangnya dan memperhatikan Agam.
"tidak ada yang lucu," lirih Kiara.
Agam lun kaget dan menoleh. Agam langsung menutup telepon dan berdiri.
"Sayang, udah selesai mandinya? Gimana, cukup nggak bajunya?" tanya Agam.
"Bajunya sih cukup, tapi yang dalem kegedean, emang Abang nggak tau ukuran Kiara apa?" tanya Kiara dengan nada menyindir.
"Mana aku tau? Aku kan bisanya memakai doang, hi hi hi."
Melihat Agam cengengesan begitu, bulu roma Kiara malah berdiri geli.
"Udah ah, ayo sekarang kita berangkat! Emangnya kita mau ke mana?" tanya Kiara lagi.
"Kita shoping."
Mereka pun pergi meninggalkan masjid, kali ini sepertinya Agam menepati janjinya untuk membawa Kiara shopping. Agam pun meluncurkan mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan. Sesampainya di bangunan yang menjulang tinggi. Agam pun memarkirkan mobilnya, kemudian bergegas turun dan membukakan pintu sang istri.
Kiara terdiam dan menuruti semua layanan yang diberikan Agam padanya, mereka berjalan memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Kiara tampak digandeng erat oleh sang suami, bahkan jalan mereka pun seperti pengantin saja.
"Bang, kenapa pelan sekali jalannya? Aki,kan nggak memakai abaya? kapan sampainya kalau begini?" bisik Kiara di telinga Agam.
Kiara merasa tidak sabaran untuk segera memilih-milih baju yang diinginkannya, juga memilih baju bayi yang sampai saat ini belum ada satupun di balinya.
"Nanti kamu terpeleset Sayang, begini saja jalannya, nanti juga sampai, kita di lantai dasar saja ya! tidak usah naik ke atas," ajak Agam.
Kiara hanya bisa memajukan bibirnya beberapa senti karena kesal dan tidak mau berdebat dengan sang suami. Sesampainya di dalam bangunan. Mereka pun menuju counter baju anak yang terlihat besar.
Kiara yang hanya memakai baju jubah biasa, dan kerudung biasa, juga sandal karet murahan, terlihat hanya seperti orang bawahan saja.
Semua itu Agam yang belikan tadi, karena tidak tau model baju, jadi dia membelikan baju seadanya, begitu juga Agam yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana panjang biasa, karena saat melarikan diri dari panggilan Clara tadi, dia baru selesai mandi dan memakai baju biasa.
"Silahkan dipilih Mbak," ucap penjaga counter.
Namun di sana ada seorang ibu yang menatap sinis ke arah pakaian Kiara, yang sangat biasa. Namun Kiara tetap masuk ke konter pakaian bermerek, bahkan satu baju bayi aja dibandrol dengan harga Rp150.000. tiba-tiba terdengar sepasang suami istri dan juga seorang ibu yang sedang bercakap-cakap.
Mereka juga sedang memilih barang tersebut, seperti ingin menyindir Kiara.
"Ayo Sayang, dipilih, beli yang banyak, ini sangat bagus lho, harganya ah gitu biasa, asal bahan adem," ujar sang suami.
"Mas, aku juga lagi milih nih, emangnya boleh berapa buah ambilnya?" tanya sang Istri.
"Ambil saja sesukamu," sahutnya bernada tinggi.
"5 buah permodel biar bisa sekalian sampai besar ya!" pinta sang istri.
"Harganya ini murah aja lo Sayang, apa tidak nambah aja, kita beli 10, biar kita pakai satu kali nanti kita berikan deh sama tetangga yang baru lahiran," ujarnya terlihat sombong.
"Bagus juga ide mu, iyalah ambil aja 10, sekali pakai nanti kasih ama tetangga."
Mereka memang sengaja ingin menyindir Kiara yang dari tadi belum mengambil satu pun, karena Kiara memang lagi memilih bahan yang nyaman buat sang anak.
Asik memilih, ternyata Kiara dan wanita itu bertemu di tengah pajangan, tak sengaja tangan Kiara bersentuhan dengan tangan wanita hamil itu, wanita hamil itupun kaget kemudian segera menarik tangannya, dan menyapu tangan itu, seakan-akan tangannya tersentuh oleh Najis.
"Kenapa Sayang?" tanya suaranya sang suami, saat melihat sang istri tampak sibuk menggosok gosok tangannya.
"Tidak apa-apa Mas, ayo kita ke sana aja, di sini kayaknya nggak ada yang bagus," ucap wanita tersebut.
__ADS_1
Kebetulan Agam yang sedang melihat kelakuan wanita tersebut pun, merasa panas dingin ketika sang istri seperti diremehkan begitu saja.
"Sayang, kamu sudah pilih berapa? kalau kamu bingung, ya aku beli saja satu counter ini, biar kamu nggak bingung lagi," ucap Agam.
Ucap Agam dengan suara yang lantang, sepasang suami istri itu pun menatap kearah Agam sinis.
"Memangnya kamu mampu membeli semua barang yang ada di sini? barangnya mahal-mahal lho!" ucap suami wanita itu kepada Agam, karena merasa tersaingi oleh kaya-kata Agam yang ingin memborong barang di sana.
"Emangnya aku ini terlihat miskin ya?" tanya Agam, sambil menatap tajam ke arah Lelaki itu.
"Bang, tidak apa-apa, kita beli seperlunya aja, jangan mubazir, lagian untuk apa beli satu counter kalau nanti tidak terpakai? malah menjadi beban di akhirat," sahut Kiara.
"Iya,Mbak, tidak usah beli satu counter, 1 baju pun juga udah cukup buat mbaknya, ya kan mbak?" ucap suami perempuan itu lagi, perkataannya itu menambah panas telinga Agam saja.
Kemudian Agam pun ke kasir.
"Mbak, aku beli semua baju bayi yang ada di konter ini, Cash, sekarang tolong totalkan, dan untuk hari ini langsung aja mbak tutup dulu, karena semua yang ada di sini aku beli," ucap Agam emosi.
"Untuk apa bang membeli satu counter begini? Seadanya aja sih bang, aku tidak apa-apa kok Bang," ucap Kiara.
"Tapi aku yang apa-apa, Kiara, kamu tuh sedang hamil, makanya aku tidak mengijinkan kamu keluar, setiap kali kamu mau beli pakaian pasti aku suruh sales yang ke rumah, begini nih banyak orang julid, aku tidak bisa kalau kamu direndahkan!" ketus Agam.
"Siapa yang merendahkan juga, cuma kasih saran, beli semampunya aja Mas!" ketus suami perempuan itu lagi.
"Aku neli semua baju yang ada di sini, aku juga mampu beli istrimu itu!" ketus Agam lagi.
"Eh Mas, jangan main-main kalau ngomong? berani sekali kamu mau beli istriku? Emang istriku barang?" balas suami wanita lagi.
"Bang, sudah, jangan bikin keributan malu tuh di liatin orang," bujuk Kiara.
"Aku mau beli satu counter ini Mbak, tolong bikin notanya, aku mau bayar tunai."
Agam pun mengeluarkan Black card-nya kepada pemilik toko, alangkah kagetnya pasangan suami istri itu ketika melihat Black card milik Agam, perlahan kemudian lelaki itu mendekati sang istri.
"Ayo cepat! kamu sudah selesai? kita bayar dulu!"
Namun sang istri belum mengambil satu pun pakaian karena asik mendebat orang tadi. Kemudian dia pun mengambil baju sembarang, dan,membawanya ke kasir.
"Ini aja Mbak!" ucap wanitanya.
"Maaf, semua barang di sini udah ku beli," ucap Agam santai, sambil duduk di kursi dan memainkan Handponnya.
"Apa,maksudmu? Aku lebih duku datang ke mari," ketus lelaki.
"Tapi aku lebih duku membayar, iya kan mbak?" tanya Agam lada kasir.
"Iya, maaf Tuan," ucap Kasir pada pasangan suami istri itu.
"Jadi baju yang ada di tanganmu itu juga milikku, tapi kau bawa saja, aku kasih,gratis," ucap Agam lagi dengan nada sinis.
Kiara hanya terdiam, tidak mau ikut campur.
"Loh kok bisa?" protes wanitanya.
"Ya nisa lah, aku kan sudah membelinya dari Mbak ini, semua barang bayi yang ada di konter ini jadi termasuk yang di tangan Mbak itu adalah milikku."
"Dasar breng*sek!" ketus wanita, lalu melangkah pergi.
Mereka sangat kesal, mereka pun pergi tanpa menoleh begitu juga sang ibu.
__ADS_1
"Jadi Tuan bagaimana. Apakah Tuan jadi membeli semua ini, atau bagaimana?" tanya Mbak penjual.
Ternyata Mbaknya juga tidak suka dengan tingkah laku pasangan suami istri tadi, makanya saat Agan bertingkah begitu dia pun mendukung kelakuan Agam, yang ingin memborong isi counternya.
"Yah aku akan tetap memborong nya, semua baju bayi ya, Aku tidak mau kalau baju dewasa, karena aku tidak mempunyai anak dewasa," sahut Agam.
"Apakah tidak mubazir Bang?" tanya Kiara.
"Ya tidaklah, nanti kamu yang jualan online, ha ha ha," tawa Agam pecah setelah tadi tampak kesal.
"Jadi Abang nyuruh aku jualan?" serius sekaki Kiara menanggapinya.
"Nggak Sayang, kamu sih cerewet, kebanyakan tanya."
Penjaga konter pun tersenyum. kemudian mengambil semua baju bayi yang ada di toko tersebut dan mentotal belanjanya.
"Semua belanjaannya ada sebanyak 12 juta Tuan,"
"Ha? Bang, untuk beli baju bayi sebanyak itu?" Kiara masih protes.
"Iya, Sayang, ini buat anak Pertamaku. Ayolah! kamu itu jangan menghalangiku untuk membelikan baju anak Pertamaku," ucap Agam kepada Kiara.
Sementara Mbak penjual pun hanya tersenyum.
"Mbak, ini toko punya sendiri atau milik bosmu?" tanya Agam.
"Aku hanya karyawan tuan, aku hanya menjagakan saja yang digaji tiap bulan.-
"Oh, baiklah kalau begitu, ini aku kasih bonus buatmu satu juta, terus kamu harus rapikan ya, satu-satu di plastikin, supaya nanti tidak kotor karena kehamilan Istriku itu baru 7 bulan!"
"Baik Tuan , terima kasih banyak."
"Kalau begitu, aku tinggal dulu ya! sebaiknya kau tutup saja toko ini, agar kau tidak kerepotan melayani pelanggan."
"Iya Tuan."
"Lagian kan, hari ini sudah banyak memperoleh uang, nanti kau terlambat menyusun bajuku, aku satu jam lagi akan kembali ke mari,"ucapnya.
"Baik Tuan," sahutnya.
Agam dan Kiara pun pergi meninggalkan toko tersebut.
"Sekarang kita mau ke mana Sayang?"
"Mau ke toko perhiasan."
"Ayo!"
"Apakah uangmu masih ada?" tanya Kiara menggodanya.
"Ya ada lah, oh iya, kau beli baju dan ganti dulu, biar nggak di remehkan orang,lagi," titah Agam.
"Tidak apa-apa Bang, penampilan seperti ini aku lebih enak kok, daripada penampilan yang wow nanti jadi bahan sindiran," ucap Kiara.
Mereka pun berjalan ke toko perhiasan yang ada di sekitar tersebut. Namun tiba-tiba Kiara tak sengaja melihat seseorang di sana, sangat dia kenal.
"Mas Adi?" lirihnya.
Agam yang mendengar Kiara pun menatap arah mata Kiara. Dan segera dia menarik Kiara berbalik pergi namun.
__ADS_1
"Kiara!" panggil Adi.