Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Bertemu Ayah


__ADS_3

Sementara di dalam mobil pribadi milik pemuda yang menolong Bapak Aswin, tampak mereka sedang berbincang-bincang dan menepi di pinggir jalan.


"Jadi bagaimana sekarang pak? ke mana aku akan mengantar Anda? karena istri dan anak Anda sudah tidak ada di rumah itu."


"Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengan mereka? tapi aku harus menemukan mereka bagaimana pun caranya, perusahaan juga sudah dikuasai Alex, aku akan mengeluarkan bukti-bukti kepemilikan perusahaan itu, setelah aku menemukan istri dan anakku, untuk sementara ini, biarlah perusahaan itu menjadi milik Alex," ucapnya.


"Baik Pak. Jadi bagaimana sekarang?"


"Entahlah, aku juga bingung ke mana aku harus mencari mereka?"


"Bagaimana kalau bapak mengirim berita ke media sosial saja Bapak, mungkin mereka ada yang tahu keberadaan anak dan istri Bapak.+


"Di usiaku yang sudah senja ini, Seharusnya aku bisa duduk santai bersama anak dan juga cucuku, tapi apa yang telah aku lakukan berpuluh-puluh tahun ini, aku hanya bermain wanita ke sana ke mari, sehingga aku mengalami kecelakaan itu, beruntung sekali kau bisa menyelamatkan nyawaku, dan sekarang terbukti bahwa perusahaan itu ingin dikuasai oleh adikku sendiri."


"Benar Pak, memang warisan yang bernilai sebuah harta akan saling direbutkan, akan tetapi kalau bernilai sebuah hutang pasti mereka akan melarikan diri," ucap pemuda yang terlihat alim itu.


"Iya..., aku sadar sekarang, lebih baik kita meninggalkan anak-anak kita dengan ilmu yang bermanfaat, daripada kita meninggalkan harta yang melimpah, yang akan membuat mereka saling bertengkar, saling memperebutkan satu sama lainnya."


"Pak. Bagaimana? apakah kau ingin menyebar luaskan berita kepulangan mu di media sosial?"


"Y, tentu saja, bantu aku, aku juga sudah lama tidak mempergunakan media sosial. Aku ingin kau membantuku sampai aku bisa menemukan anak dan istriku, mudahan saja istriku masih sehat, karena tentu saja sekarang usianya pun sudah tidak muda lagi."


"Baik Pak, aku akan mengambil foto Bapak dulu," izin Pemuda itu.


"Ooh ..., Aku ini suami dan ayah seperti apa? bahkan saat kecelakaan itu aku sedang bersama seorang wanita simpanan ku, pasti istriku sangat sakit saat itu."


"Baik Tuan, aku akan menyebarluaskan berita ini lewat media sosial," ucapnya.


Pemuda itu pun mengambil foto wajah Aswin, kemudian menshare di grup-grup besar yang ada di handphonenya.


***


Sementara Agam yang berada di perusahaan Henry tampak masih mengerjakan tugas hariannya, yaitu menyapu dan mempel ruangan demi ruangan satu persatu, hingga akhirnya semua pekerjaan pagi ini sudah selesai, saatnya dia untuk istirahat di dalam gudang bersama paman cleaning service yang lain.


"Agam ..., Kau sangat terlihat lelah, pastilah kau orang yang tidak pernah bekerja keras kan?" tanya paman.


"Iya paman."


Tampak Paman itu membuka-buka hp-nya. Di sela sela istirahatnya.


"Ternyata Paman Pintar juga ya pakai media sosial?" ucap Agam pada Paman tersebut.


"Ini adalah temanku sewaktu aku lagi istirahat, banyak di sini pemandangan yang seger-seger, jar mata tambah fres, apalagi kalau lagi lihat Tik Tok Wow ..., banyak gadis-gadis belia yang berjoget riang, membikin mataku seperti mata anak muda saja," ucapnya.


"Benarkah? Apakah Paman suka melihat wanita-wanita itu berjoget?"


"Kalau cuma melihat aku memang suka, tapi kalau keluargaku yang berjoget ya..., aku marah lah, aku hanya suka melihat, akan tetapi kalau keluargaku yang melakukannya, tentu saja aku merasa malu," sahutnya.


"Ooh begitu ya paman!"

__ADS_1


"Oh iya. Bagaimana denganmu? apa kau mempunyai anak gadis?"


"Oh tidak paman, istri Pertamaku tidak melahirkan anak, dan kami sudah bercerai, sementara istri keduaku dia baru hamil sekitar 3 bulan."


"Oh..., beruntung sekali kau diberi kesempatan, ku lihat usiamu sudah tidak muda lagi," ucapnya.


"Iya paman, aku sangat beruntung."


"Aku juga memiliki anak gadis. Sekarang dia sudah bersekolah di SMA, aku membatasinya untuk memakai media sosial, apalagi seperti Tik Tok ini," ucapnya.


Agam pun membaringkan badannya di lantai tanpa alas, hanya beralaskan kardus yang dibuka memanjang, dia memejamkan mata untuk beberapa saat.


"Ada berita seru nih Gam! Tapi kenapa lelaki itu mencari orang yang namanya mirip denganmu? dikatakan lelaki ini mencari seseorang anak yang bernama Agam dan wanita yang bernama Mentari!"


Agam langsung bangun mendengar perkataan Paman itu, yang mengatakan dirinya dan ibunya.


"Apa maksudmu? coba aku lihat Paman!"


Agam pun meminjam telepon Paman tersebut dan membaca sebuah berita, menatap lelaki yang sangat dikenalnya.


"Ayah," lirihnya pelan


Ya ..., Aswin adalah Ayah Agam, saat Agam baru duduk di bangku kuliah, lelaki itu mengalami kecelakaan dan dinyatakan hilang, tidak pernah ditemukan, kemudian Agam dan Nyonya Mentari menganggap lelaki itu sudah meninggal hingga Agam pun terpaksa melanjutkan usaha sang ayah, sambil kuliah, sehingga berhasil hingga saat itu, sebelum semuanya direbut pamannya.


Ayah? Apa dia ayahmu?" kaget sang Paman mendengar Agam Memanggil Ayah.


"Agam itu kan namamu? jangan-jangan kau anak orang kaya itu, ha ha ha," tawa Paman terdengar krenyes.


"Beruntung sekali aku kalau aku adalah anak orang itu, sudah ah, ini paman(menyerahkan Hp) aku mau istirahat lagi," ucap Agam sambil.


Kemudian Agam berbaring dan mengeluarkan teleponnya, dia pun diam-diam membuka medsos dan mencari nama grup yang sedang dibuka Paman tadi. Benar saja, itu adalah ayahnya.


"Apakah Ayah masih hidup? tidak! aku sangat ingat bagaimana ayah menghilang saat itu, saat berada di dalam mobil itu dia bersama seorang wanita yang sangat seksi. Tentu saja itu adalah wanita selingkuhannya," gerutu Agam di dalam hati.


"Untuk apa dia mencari kami? Tapi selama puluhan tahun ini Apa yang dia lakukan? tidak sekarang aku dan mama sudah bahagia, aku tidak ingin melihat lelaki itu lagi, aku takut dia akan kembali menyakiti hati Mama, memang saat lelaki itu menghilang dia tidak tahu kalau dia sedang bersama wanita itu di dalam mobil, karena aku segera mengambil wanita itu dan membawanya menjauh dari mobil, namun sebelumnya dia sudah sering kali menyakiti hati Mama, karena mama sering melihat chat mesra di telepon Ayah," batinnya lagi.


Brakh


"Hai! Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa malas-malasan? cepat bersihkan ruang rapat. Rapat pertama sudah selesai. Kami akan mengerjakan rapat kedua."


Tuan Henry yang lewat di depan gudang tersebut memukul keras pintu gudang, membuat Agam dan paman terbangun dan langsung duduk.


"Iya Tuan Hendri, kami akan melakukannya."


"Cepatlah! gaji besar kerja malas-malasan!" pedasnya kata kata Hendry menusuk hati Agam.


Hendry pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Begini kah rasanya jadi bawahan?" ucap spontan Agam.

__ADS_1


"Ya beginilah, kalau kita jadi bawahan, Enaknya kan kita jadi atasan, biar kita juga bisa berbuat seenaknya," ucap paman pada Agam.


"Ha ha ha iya juga ya! paman kau istirahat saja, biar aku yang membereskannya," ucap Agam.


"Apa kau tidak apa-apa? bukankah kau juga terlihat lelah,"


"Tidak apa-apa paman, aku kan masih muda, Aku harus punya banyak tenaga untuk ini ."


Agam merasa kasihan dengan paman itu, yang terlihat wajahnya tampak lesu, kemudian Agam pun membersihkan ruang meeting yang akan dipakai setelah siang nanti. setelah membereskan semuanya Agam pun kembali ingin keluar dari ruangan itu. Namun kembali dia bertemu dengan Tuan Saga.


"Tuan Agam, Apa kau masih bekerja di sini?" tanya Tuan Saga pada Agam.


"Iya Tuan."


"Kenapa kau tidak menerima tawaranku? aku akan menjadikanmu seorang manajer di perusahaan ku, mungkin itu lebih baik." ucap Saga lagi.


"Terima kasih tuan, Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku bulan ini, hanya 1 bulan bekerja di sini, bulan depan mungkin aku sudah berhenti dari perusahaan ini, karena aku sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan teman ayah mertuaku," sahutnya.


"Oh baiklah, aku merasa kecewa dengan jawabanmu itu, karena aku sangat berharap kita bisa bekerja sama."


"Maafkan saya Tuan Saga."


Agam pun pergi meninggalkan tempat tersebut. tanpa terasa waktu sudah berganti sore. Kemudian Agam pun Berencana untuk pulang di jam 05.30 dengan menaiki motor matic nya.


"Sebaiknya aku berikan saja Kiara es kelapa muda, katanya kalau minum es kelapa muda anakku nanti bekal terlihat bersih dan mulus," gumamnya.


Agam terus melajukan kendaraannya di jalanan yang mulai sepi, karena orang-orang sudah lama pulang bekerja, dia pun memasuki sebuah warung es kelapa yang ada di pinggir jalan .Tampak di sana juga ada dua lelaki yang sedang minum membelakangi Agam.


"Pak, tolong bungkus tiga buah es kelapa muda," ucap Agam.


"Baik Tuan," sahut si penjual.


Agam penduduk di sebuah kursi yang ada di dekat meja tersebut. Dan dengan jelas mendengarkan pembicaraan 2 lelaki yang duduk di sana.


"Tuan, di mana lagi Kita harus mencari Istri dan anakmu? kita sudah membagikan berita dan akan memberikan hadiah yang besar bagi orang yang menemukan mereka, namun sampai saat ini tidak ada berita tentang mereka."


"Iya, aku juga bingung, kalau begitu hari ini kita harus ke perusahaan ku dan merebut kembali perusahaan itu."


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? apakah kita langsung ke perusahaan itu?"


"Tidak! kita harus ke bank dulu untuk mengambil berkas yang asli."


Sementara Agam kaget mendengar apa yang mereka bicarakan, kemudian dia sedikit mengintip menatap wajah lelaki yang tidak jauh berada di sampingnya.


"Ayah?" liriknya kaget.


Dadanya bergetar, jantungnya dag dig dug, dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2