Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Kembalinya Pemilik Asli


__ADS_3

Sementara di rumah sakit, Adi sudah melewati masa kritisnya, sudah 3 hari dia dirawat di rumah sakit dan hari ini tampaknya dia mulai membaik. Adi mulai menggerak-gerakan tangannya dan mulai siuman,


"Adi ..., Sayang, Adi cucuku, kau sudah bangun?" bisik sang nenek sambil membelai lembut kepala Adi.


"Di mana aku, kenapa aku bisa di sini Nek? apa yang terjadi denganku?" tanya Adi pada sang nenek.


"Kau ada di rumah sakit Sayang, Apa kau ingat sesuatu?" tanya sang nenek, dia meremas genggaman Adi lembut.


"Tidak Nek, aku tidak mengingat apapun, Oh iya Mama di mana?" tanya Adi. Tidak biasanya dia menanyakan sang Mama.


Apakah Adi sekarang sudah sehat,dari depresinya?


"Kau ingin bertemu mamamu? sebentar ..., biar nenek panggilkan."


Sang nenek pun dengan tertatih-tatih berjalan keluar dari ruangan tersebut, tak berapa lama, dia kembali dengan seorang wanita yang terlihat kusam, karena terus menangisi Adi yang koma.


Wanita itu tidak berani mendekat, hanya jarak jauh saja menatap sang anak.


"Mama," seru Adi tiba-tiba sambil tersenyum.


Membuat Mama Adi lega dan mendekati anaknya yang memanggilnya dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Adi ...," lirih sang Mama.


Dia kaget saat mendengar Adi memanggil dirinya, sepertinya Adi tidak marah lagi padanya.


"Adi, Apa kau sudah sadar?" tanya sang mama.


"Iya Ma, kepalaku terasa pusing, apa yang terjadi denganku,"


"Kau kecelakaan, sudah 3 hari kau di sini, sekarang kau sudah sadar, syukurlah," imbuh sang mama merasa sangat senang.


"Kalau begitu kita pulang saja Mah!" ajak Adi.


"Eh jangan Sayang, kita tunggu pemeriksaan dokter dulu, kau juga harus kembali rontgen, itu yang dikatakan dokter ."


"Selamat pagi Bu, anak Ibu sudah sada?r syukurlah. Sekarang kita akan memeriksanya kembali, ayo perawat, bahwa dia ke ruang pemeriksaan!"


2,perawat membawa Adi, didorong ke ruang pemeriksaan, untuk memeriksa kondisi kepalanya yang terbentur hebat, setelah kurang lebih 20 menit Adi kembali ke ruangannya.


"Bagaimana hasilnya dok?"


"Alhamdulillah dia baik-baik saja, dan bahkan sekarang dia tampak lebih baik dari sebelumnya."


"Syukurlah. Jadi kapan kami boleh pulang?"


"Tunggu sehari atau dua hari lagi, Bu, kami ingin memastikan kondisinya benar-benar baik dulu."


"Baiklah."

__ADS_1


"Tapi aku ingin pulang aku tidak betah di rumah sakit," rengek Adi.


"Kau terluka sangat hebat, beberapa tubuhmu lecet dan keseleo, kami sudah memijat sehingga tulang-tulang mu yang keseleo itu sudah rapi ke tempatnya semula, untung kalau pingsan, jadi tidak merasakan sakit saat dipijat."


"Benarkah? Apakah begitu parah?"


"Ya Tentu saja, sangat parah."


"Oh iya, Mana Kiara, Kenapa dia tidak menengok ku?-


" Ooh ..., Dia... , sedang sibuk, Ibunya kan juga lagi sakit."


"Oh iya ya, nanti biar aku yang akan menjenguknya."


Sang Ibu Heran apa yang terjadi dengan anaknya? namun dia belum sempat bertanya dengan sang dokter.


"Sebentar..., aku mau keluar dulu."


Sang ibu kemudian pergi keluar dan mendatangi dokter.


"Dokter, Sebenarnya apa yang terjadi dengan anakku? dia sudah pulih kembali dari depresinya, Sepertinya Dia melupakan sesuatu."


"Oh iya Bu, kemungkinan besar memori anak ibu berjalan mundur, sehingga dia hanya mengingat hal-hal sebelum kejadian depresinya," penjelasan dokter membuat mama Adi kaget.


-Benarkah? Jadi maksudnya?-


"Iya, mungkin ingatannya kembali ke masa-masa dia pernah bersama dengan seseorang.-


"Apakah Kiara itu kekasihnya?"


"Iya Dok, kalau begitu terima kasih banyak.-


mamah Adi Pun kembali ke ruangan dan menemui Adi. Mereka berbincang kecil dengan Adi dan Nenek.


***


Di sebuah restoran besar, tampak seorang tuan berjas duduk santai ditemani seorang lelaki muda sedang menikmati makan siang mereka.


"Jadi Tuan Aswin, bagaimana rencana kita sekarang? Apakah anda akan segera menemui istri dan anak anda?" tanya seorang pemuda tersebut.


"Ya, habis makan siang ini, aku akan segera ke sana."


Mereka terus menikmati makan siang mereka sampai selesai. Dan berdiri.


"Baiklah, sekarang aku sudah siap untuk menemui mereka." baik Tuan.


Mereka pun pergi meninggalkan restoran tersebut menuju sebuah kota, untuk menemui seseorang. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di halaman mewah dan rumah besar yang ada di dalam gerbang tersebut.


"Maaf anda Siapa?" tanya Paman, saat Pak Aswin dan laki-laki itu berada di depan gerbang.

__ADS_1


"Aku adalah pemilik Rumah ini, sekarang buka pintunya!" ucapnya lagi.


"Bagaimana mungkin anda adalah pemilik rumah ini? pemilik Rumah ini adalah Tuan Alex."


"Apa maksudmu? Kenapa pemilik Rumah ini Tuan Alex? Kenapa tidak punya Mentari dan Agam?" tanya lelaki tersebut terlihat kebingungan.


"Karena rumah ini sudah diambil alih oleh Tuan Alex dan sekarang dialah pemilik rumah ini."


"Apa? keterlaluan Alex. Aku akan membalas mu," geramnya.


"Tapi maaf tuan, sekarang tuan Alex tidak ada di rumah, dia sedang terluka parah, karena terkena tembakan, katanya terjadi perampokan tadi siang di sini, saat aku istirahat pulang."


"Benarkah? sekarang di mana dia?"


"Dia ada di rumah sakit Tuan."


"Lalu di mana Agam dan Mentari?"


"Kalau itu Aku tidak tahu tuan, sudah seminggu yang lalu mereka pergi meninggalkan rumah ini, karena diambil alih oleh Alex."


"Dasar manusia serakah!"


Lelaki itu pun berjalan masuk menuju gerbang lewat sedikit celah yang terbuka.


"Tuan, Tunggu! Anda mau ke mana?"


"Iya aku akan masuk rumah ini, karena rumah ini adalah rumahku."


"Tidak Tuan, kau pasti berbohong, karena rumah ini adalah milik Tuan Alex."


"Kau ingin tahu siapa aku,-


"Maaf tuan, aku tidak mengenal Anda."


"Aku adalah Aswin Kakak Alex, pemilik rumah ini."


"Bagaimana aku bisa percaya?" sahut paman.


"Aku memiliki semua surat-surat asli rumah ini, dan aku tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka, bagaimana mungkin anak dan istriku bisa pergi dari rumah ini."


"Maaf, Tuan. aku tidak bisa membiarkan Anda masuk, karena tidak ada bukti."


"Baiklah, aku akan mengeluarkan bukti-buktinya, tapi aku perlu masuk dulu ke dalam rumah ini, agar aku bisa membuktikan kalau aku adalah pemilik rumah!" ketusnya.


"Pak, anda tidak diizinkan masuk!" sergah paman.


"Kalau begitu, Kau akan menyesal!"


Aswin pun pergi meninggalkan gerbang, entah ke mana kali ini tujuannya, sementara Paman satpam hanya menggerutu.

__ADS_1


"Ada-ada saja, sekarang banyak penipu pura-pura menjadi pemilik rumah lah, pemilik inilah, heh, Udin di lawan," gerutunya.


Bersambung


__ADS_2