
Mikael tampak sudah berada di perusahaan Agam, dia pun pura-pura mencari Agam dengan berjalan ke ruangan pribadi Agam. Saat orang kepercayaan Agam mencegatnya di depan pintu.
"Maaf tuan Mikail. Bos Agam sedang di luar. Apakah anda memerlukan sesuatu?" tanya orang kepercayaan Agam tersebut.
"Benarkah? Baiklah, aku akan menunggunya di dalam," ucap mikail sambil nyelonong melewati orang kepercayaan tersebut, dan memegang handle pintu.
"Maaf Tuan, Tuan ada pesan dari Bos Agam, tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke ruangan ini, kecuali orang-orang terdekat beliau, seperti istri dan ibunya saja," ucap orang kepercayaan itu.
"Aku ini adik sepupunya! Kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Michael.
"Tapi Tuan, itu yang dikatakan Tuan Agam, kalau Tuan ingin memastikan, silakan Tuan telepon Tuan Agam," ucapnya.
Mikail pun memutar otak, kemudian dia mengambil teleponnya dan menchat seseorang.
"Ayah, aku akan menelpon mu, berpura-pura lah kau menjadi Agam, dengan suara yang di buat buat," chat Mikail pada sang ayah.
Alex yang dichat pun mengerti. Kemudian Mikail pun menelpon ayahnya, mereka sudah sepakat bahwa mereka pura-pura menelepon Agam.
"Hello Kakak, kau sedang di mana?" tanya Mikail.
"Aku sedang di hotel, ada apa?" ucap suara di seberang sana.
"Kakak, Aku ingin masuk ke ruanganmu, tetapi orang kepercayaan mu tidak mengizinkanku," ucapnya.
"Kau masuk saja, tidak apa-apa, aku masih lama," suara itu sengaja pake speaker, agar orang kepercayaan Agam mendengar, karena tidak terlalu nyaring, orang kepercayaan Agam mengira bahwa itu memang Agam.
Mikail pun menutup teleponnya.
"Kau dengar dia? Dia mengijinkan aku masuk," ucap Mikail lercaya diri.
"Baik Tuan, silakan Tuan," ucapnya.
Mikail pun tersenyum menang, kemudian dia masuk ke dalam ruangan itu dan menguncinya dari dalam, tanpa rasa curiga, orang kepercayaan Agam pun juga pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara Mikaill kini meluncurkan aksinya, dan mencari surat-surat penting milik perusahaan Agam.
***
Kiara sengaja di panggilkan sebuah taksi oleh Agam, untuk pulang ke rumah. Sementara Agam dia akan kembali ke perusahaannya untuk mengurus meeting jam 03.00 siang ini.
Rambut mereka tampak basah, karena kembali mereka baru saja menyelesaikan olahraga siangnya.
"Sayang, maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu pulang, Oh iya, kalau Clara bertanya, bilang saja kau baru datang dari rumah ibumu Ya?" ucap Agam.
"Baik Bang, oh ya. Besok pagi aku akan ke rumah Ibu lagi, untuk mengurus kepindahan ibu ke rumah baru," ucap Kiara.
"Iya Sayang, nanti biar Pak sopir yang mengantar kamu, sekalian membantu kepindahan rumahmu, Oh ya kau juga harus beli perlengkapan dapur, untuk kita, ini kartu ATM untukmu, di situ ada banyak tabungan, kau bisa memakai apapun yang ingin kau beli, untuk perabotan rumah tangga di rumah Ibu itu, nanti kau juga akan sering memasak di sana, dan aku akan sering mampir ke sana saat makan siang."
__ADS_1
"Iya Bang, Udah ya, aku berangkat dulu."
Cup
Agam mendaratkan kecupannya di jidad Kiara. Kiara pun bersalaman dan cium punggung tangan Agam. Hal seperti ini tidak pernah di lakukan Clara. Mereka hanya cipika cipiki saat akan berangkat kerja.
Kiara yang sudah berada di dalam taksi pun pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara Agam pun masuk ke dalam mobilnya dan meluncur menuju kantornya.
***
Saat Agam sudah berada di halaman gedung bangunan tersebut, tampak Mikaill baru keluar dari ruangan Agam dengan tergesa-gesa, karena mata-mata Mikail mengatakan, kalau Agam sudah berada di parkiran mereka, Mikail sengaja mencari jalan pintas, lewat jalan belakang, agar tidak bertemu dengan Agam.
Barang-barang yang tadi di obrak-abriknya pun sudah kembali rapi, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada Agam. Agam tampak berjalan santai sambil sesekali tersenyum menetap handphone yang ada di tangannya, di sana tampak fotonya dengan Kiara di dalam selimut yang sama, saat Kiara memejamkan mata. Kiara tidak tahu kalau Agam mengambil foto mereka.
"Selamat siang Bos," sapa semua karyawan yang ada di sana.
"Mmmm." lirih Agam.
Dengan wajah dinginnya Agam berjalan menuju ruangannya.
"Bos, tadi sepupu Anda menunggu Anda di ruangan pribadi anda," ucap orang kepercayaan.
"Benarkah? Baiklah, aku akan menemuinya," ucapan.
Agam pun masuk ke ruangannya, namun dia tidak menemukan Mikail di sana.
"Mungkin dia sudah pergi Tuan Bos," ucap lelaki paruh baya itu.
"Baiklah, aku mau istirahat sebentar."
Agam pun kemudian masuk ke ruang pribadinya, yang ada di samping lemari. Ruangan kecil di mana kemarin dia memadu siang pertama bersama Kiara. dia pun berbaring dan memejamkan mata.
"Kiara, Ya Tuhan... Mengapa aku jadi begini ya? aku sangat candu padanya, rasanya aku tidak bisa berpisah dengannya, walau hanya sedikitpun, bagaimana bisa aku sebuncin ini dengan dia? sementara aku bahkan sekarang mulai menghindar bertemu Clara Istriku, yang dulu pernah sangat kucintai itu," gumamnya.
Agam terus menatap menatap layar hp-nya dan tersenyum bagai remaja yang baru pubee.
***
Kiara sudah sampai di rumahnya, jam 02.30. Saat dia ingin melewati ruang tamu, ternyata di sana ada ibu mertuanya.
"Kiara... Aku ingin bicara!" ucap sang mertua.
Kiara pun mendekati sang mertua.
"Ayo ke kamarku!" ajaknya.
__ADS_1
Kiara pun mengiringi sang mertua. Mereka pun sudah berada di kamar Ny. Mentari.
"Aku ingin menanyakan hubunganmu dengan Agam," ucapnya.
"Iya Nyonya. Silahkan, apa yang ingin Nyonya tanyakan?"
"Bagaimana sikap Agam denganmu? dan tadi kau dibawa Agam ke mana?" tanya sang Ibu. penasaran.
Karena dari keterangan Clara, Agam tidak menyukai Kiara. Nyonya Mentari takut kalau tadi Agam menyakiti Kiara.
"Kami cuma jalan-jalan Nyonya," ucapnya.
"Benarkah? Apakah Agam tidak menyakitimu? maksudku apakah dia bersikap baik padamu?" tanya Nyonya Mentari.
"Maksudnya gimana? Mana Mungkin Tuan Agam menyakiti?" ucap Kiara heran.
"Oh iya, aku juga mendengar perkataan Agam, saat dia bilang cucuku sedang on the way, apa maksudnya Kiara?" tanya mentari.
Kiara terdiam, dia harus menjawab apa? Masa iya dia harus bercerita kalau mereka sudah bercocok tanam?
"Itu... Saya tidak mengerti Nyonya... Apa maksud Tuan Agam?" ucap Kiara gugup.
"Kiara! kenapa kamu gugup? Apakah dia menyakitim?" u tanya Mentari lagi.
"Tidak Nyonya, tapi kami memang sudah melakukannya," Kiara keceplosan.
"Kiara! melakukan apa? apa yang kalia lakukan?" cerucus Mentari.
Mentarai penasaran. Sebenarnya dia sedikit curiga, dan sedikit paham atas perkataan kami sudah melakukannya, namun Ny. Mentari penasaran ingin jawaban langsung dari Kiara.
"Eh,anu... Seperti kata Tuan Agam, cucu Nyonya sedang on the way," ucap Kiara lagi.
"Maksudnya? kalian sudah kikuk kikuk?" tanya Mentari.
"He oh," sahut Kiara dengan mengangguk dan menunduk.
Mentari pun membulatkan mulutnya tak percaya. sedetik kemudian dia tertawa.
"Ha ha ha."
"Kenapa Nyonya tertawa?" heran Kiara.
"Sudah berapa kali?"
Eh malah tanya berapa kali lagi, Kiara sangat malu. Wanita karismatik judes dan gengsian ini tak ada malunya menanyakan mereka kikuk kikuk berapa kali.
__ADS_1
bersambung