Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Fathan menjenguk Ibu Tiri di Sel(Clara)


__ADS_3

Saat mobil Agam sudah sampai di pekarangan rumah, terlihat Kiara melompat dari dalam rumah dan berlari menyambut kedatangan Agam dan Aswin.


Agam yang baru membuka pintu pun kaget saat tiba-tiba Kiara sudah berada di depan pintu mobil dan merebut Fathan dari nya.


"Alhamdulillah yang Allah, terima kasih."


Kiara terus mengucap syukur sambil membawa masuk Fathan. Dan terus menciuminya, Fathan menggeliat, dan akhirnya menangis karena kelaparan, sudah 3 jam ini dia tidak menyusu.


Kiara langsung membawa Fathan ke kamarnya dan memberi ASI, bahkan sekarang pabrik ASI itu tampak menampung banyak airnya, karena sudah lebih dari 3 jam dia tidak menyusui bayinya.


"Sayang, kamu ke mana aja Nak? Bunda sampai lelah berpikir dan menerka-nerka ke mana Tante itu membawamu? sekarang Bunda janji. Bunda tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Bunda akan memeluk kamu setiap saat, kamu akan terlindungi sebelum bahaya itu mendekat," ucap Kiara.


Sementara Fathan dengan lahapnya mengisap pabrik itu, Kiara sangat senang, dan terus tersenyum dan merasa lucu melihat bayi itu lahap sekali seperti baru saja datang dari gurun.


"Sayang, sekarang aku sudah menepati janjiku untuk menemukan Fathan. Kamu jangan sedih lagi ya! Jangan marah lagi padaku, aku sungguh sakit saat kau marah-marah terus padaku," rayu Agam dengan menengok wajah Kiara.


Sementara Kiara tidak menghiraukannya, mungkin dia masih gengsi untuk menatap wajah suaminya, Kiara hanya asyik berbicara berdua dengan Fathan, seakan Fathan mengerti apa yang di bicarakan Bundanya.


"Aku janji, aku akan lebih hati-hati lagi. Tidak ada orang lain yang boleh masuk sembarangan ke kamar kita, atau ke rumah kita lagi!" ucap Agam.


Namun Kiara tetap diam. apakah dia masih marah sama Agam?


"Sayang...."


Tiba-tiba sang nenek datang dan langsung menciumi cucu mungilnya, yang terlihat sangat kelaparan itu.


"Kau harus penjarakan Kiara dengan seberat-beratnya! kau tidak boleh melepaskannya lagi kali ini, Agam! Biarkan saja dia mati sekalian di penjara!" ketua mama Agam.


"Ya Mah, aku tidak akan memaafkannya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Agam.


Sementara Kiara hanya terdiam, begitu juga Pak Aswin yang tampak hanya berdiri saja menatap sang istri, mungkin ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan, apakah dia akan mengatakan kalau dia telah menikahi Clara.


***


Beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian penculikan Fathan, kini keluarga Agam dan juga Kiara sangat bahagia. Fathan sudah mulai bisa bercanda, tertawa, cilukba dan lain-lain.


Tak sedetikpun Kiara meninggalkan Fathan dengan orang lain, kecuali saat dia mandi atau keperluan lainnya yang bersangkutan dengan kamar mandi, dan juga WC, itu pun dia akan memanggil satu pelayannya dan mengunci pintu dari dalam, kemudian membawa kuncinya ke dalam kamar mandi.


Memang sangat lucu. Namun karena Kiara sekarang memiliki curiga yang sangat berlebihan, dia akan mengurung pelayanannya di kamarnya saat dia mandi. Anak sultan emang nggak bisa sembarangan.


Suatu pagi...


"Bang, bukankah kita janji hari ini akan membawa Fathan pada mbak Clara? aku sudah melupakan masa lalu kita di beberapa bulan lalu, aku ingin Mbak Clara melihat Fathan, mungkin saja hatinya akan tergugah saat melihat bayi imut ini, karena rencana awal aku menikah dengan Abang agar aku bisa melahirkan pewaris Abang, kemudian Mbak Clara lah yang akan memeliharanya. Namun ternyata takdir berkata lain," ucap Kiara sambil sibuk mengoseng masakan kesukaan sang suami.


Sementara Fathan tampak diasuh oleh ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kamu itu Kiara, terlalu baik sama orang, kamu berbuat baik sama Clara, nanti gimana kalau di apa-apain lagi! apalagi kan dia sekarang di dalam sel penjara."


Ternyata Mentari belum tahu kalau Aswin suaminya telah menikah dengan Clara, karena Agam, Aswin ataupun Kiara melarang Mentari bertemu dengan Clara langsung, tentu saja mereka takut kalau Clara membuka rahasia mereka itu, yang penting kan Tuan Aswin tidak terjangkit penyakit menular tersebut, sehingga Mentari pun juga tidak diberi tahu kalau Clara memiliki penyakit kelamin.


"Walau bagaimanapun, aku tetap punya hutang pada Mbak Clara, aku harus mempertemukannya dengan Fathan, kami janji kok, lewat jarak jauh saja bertemunya, mudahan dia akan berubah dan menjadi orang baik," ucap Kiara meyakinkan sang mertua.


"Tapi awas kalau cucuku kenapa-kenapa, aku akan menghukum mu Kiara!" ketus Mentari.


"Iya Mah, aku janji kok, akan menjaga Fathan, lagian dia juga anakku Mah, tidak mungkin kan aku mencelakainya."


"Ya sudah, sekarang Ayo kita makan! Aku lagi lapar."


Mereka pun makan pagi bersama. Sekarang Mentari sudah mulai kembali ke asalnya, walau tak segaul dulu, namun kini wibawanya kembali pulih. Banyak teman-teman yang dulu meninggalkannya saat bangkrut, kini mulai sering berdatangan ke rumah, namun Kiara selalu memperingati mertuanya itu, agar ingat waktu mereka terpuruk, tak satu pun yang datang berkunjung. Dan itu membuat Mentari sadar dan membatasi diri. Dia akan menolak halus ajakan,sang teman-teman.


Mentari tidak pernah lagi jalan-jalan dan buang-buang uang, dia hanya jalan jalan, kalau Kiara mengajaknya, semua uangnya sekarang tampak hanya buat Kiara dan juga Fathan.


Setelah selesai makan, Agam dan Kiara bersiap untuk menjenguk Clara.


"Bang, apa yang harus aku bawa? Untuk membawakan oleh-oleh Mbak Clara?"


"Sebaiknya kita bawa buah-buahan yang banyak saja, karena mungkin dia akan kekurangan vitamin untuk kulitnya, sudah tiga bulan ini kita belum pernah menjenguknya, aku juga belum tahu seperti apa dia sekarang." ucap Agam.


Setelah Semua persiapan beres, mereka pun berangkat. Kiara pun singgah di sebuah toko buah dan membeli banyak buah.


Agam dan Kiara melanjutkan mobilnya menuju sel tahanan, sebenarnya Kiara sudah bermaksud untuk mengeluarkan Kiara dari sel tersebut. Namun karena Agam menolak keras permintaan Kiara, sehingga terpaksa Kiara pun mengalah.


"Tuan Agam dan Nyonya Kiara, silakan Ikuti saya," ucap seorang petugas. Kemudian mereka pun mengiringi petugas masuk ke sebuah ruangan untuk bertemu dengan Clara.


Agam dan Kiara tampak duduk menunggu kedatangan Clara, tak berapa lama tampak seorang perempuan berpakaian lusuh dan sangat kurus, bahkan kulitnya pun kini terlihat keriput karena tidak pernah perawatan lagi.


"Kenapa dia tampak buruk? Apakah dia tidak pernah memakai kosmetik handbody dll, yang ku berikan padanya?" batin Kiara.


Ternyata selama ini Kiara sering mengiriminya makanan dan juga kosmetik untuk Clara.


"Mbak Clara," sapa Kiara.


Dialah yang pertama kali menyapanya. Clara menatap Kiara, tatapannya terlihat kosong, bahkan dia seperti melamun, tak ada lagi emosi yang dulu dia tunjukkan kepada Kiara dan Agam, yang ada hanya wajah hampa.


"Mbak, ini aku bawakan buah-buahan, Oh iya, ini juga Aku bawakan Fathan, untuk menjenguk mu," ucap Kiara.


Sementara Agam hatinya sedikit sakit saat melihat wanita yang dulu berpuluh-puluh tahun pernah menemaninya dalam kebahagiaan, kini terkurung di sini. Memang takdir sungguh tidak bisa ditebak, tak terasa Agam meneteskan air matanya, dan saat Agam menangis Kiara sempat melihat wajah sang suami tersebut.


Kiara tahu bahwa Agam juga terluka saat ini. Tak ada cemburu di hatinya, hanya rasa kasian yang juga kini terasa di hatinya, pada Clara. Wajah glowing itu kini tampak kusut.


"Mbak Clara. Bagaimana kabarmu?" basa basi Kiara.

__ADS_1


"Seperti yang kalian lihat, ya ..., beginilah aku, mau bagaimana lagi?" jawab Clara dengan ekspresi datar.


Mungkin Clara sudah pasrah dengan takdir, mungkin air matanya sudah kering sejak 3 bulan ini.


"Aku harap Mbak baik-baik saja, dan aku masih membujuk Bang Agam untuk mengeluarkan Mbak dari sini," ucap Kiara.


"Kenapa kau harus membujuknya? kalau dia memang tidak mau mengeluarkan ku, Biarkan saja, karena aku bukanlah bagian dari hidupnya lagi, lagian aku juga tidak ada tempat buat pulang," sahut Clara.


Perkataan Clara tersebut membuat hati Agam sedikit terenyuh, kemudian dia pun berdiri dan meninggalkan ruang tersebut.


"Kenapa dia pergi? Bukankah dia merasa senang melihatku begini?" ketus Clara lagi.


"Aku pasti bisa mengeluarkan Mbak dari sini, aku masih menunggu persetujuannya," ucap Kiara lagi.


"Jangan sok-sokan baik kamu Kiara! Harusnya kamu bangga bisa menjadi wanita satu-satunya di dalam kehidupan Mas Agam, dan sementara aku? aku hanya seorang wanita pesakitan dan mungkin sebentar lagi aku juga akan mati kan?" ucap Clara.


"Jangan berkata begitu, aku juga tidak tega melihat Mbak seperti ini, tapi mengingat kelakuan Mbak kepada kami. Aku juga merasa bingung dengan perasaanku antara sedih dan juga puas dengan pembalasan Tuhan."


"Sok baik. Sok suci, kau masih ingat kan kalau kau itu masih berstatus sebagai pelakor."


"Mbak! Kenapa Mbak masih mengingat-ingat itu? Ini semua karena takdir."


"Sudahlah, sebaiknya kau pulang saja! tidak perlu pasang muka baik padaku, padahal hatimu busuk," ketus Clara.


Namun kali ini Clara tak sengaja menatap seorang bayi mungil yang sangat tampan. Tentu saja itu adalah Fathan, rasa ingin memeluknya sangat kuat, bahkan jiwanya memberontak untuk menghilangkan rasa egoisnya, agar dia bisa menyentuh bayi mungil tersebut.


"Baiklah Mbak, kalau mbak tidak senang keberadaan kami di sini, kami pamit."


Akhirnya Kiara pun pergi meninggalkan sel tersebut, namun saat Kiara menggendong Fathan di atas pundaknya menghadap belakang, Fathan malah tersenyum kepada Clara, membuat Clara sangat gemas dan jiwa keibuan ya kini muncul.


Dia benar-benar ingin memeluk bayi mungil tersebut.


"Kiara tunggu!" Panggil Clara pada Kiara.


Kiara pun berhenti.


"Bolehkah aku menciumnya?" liriH Clara tiba-tiba.


Kiara pun menatap Fathan yang ada di gendongannya. Fathan masih terlihat tersenyum-senyum ke arah Clara.


"Baiklah," sahutnya.


Mungkin ini adalah awal yang baik bagi Clara.


"Bukankah penyakit itu hanya menular lewat hubungan intim saja?" batin Kiara.

__ADS_1


Kemudian Kiara pun berbalik dan mendekati Clara, Walaupun dia Ingat pesan sang mertua, bahwa jangan mendekatkan Fathan pada Clara, karena takut Clara nanti malah menyakitinya, namun Kiara kali ini yakin, ada tatapan tulus di mata Clara.


Nex


__ADS_2