Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Dendam Tertulis


__ADS_3

Kiara kaget saat melihat tulisan itu tertulis di sana, tanggal saat orang itu menulis, adalah saat seminggu sebelum Clara meninggal, kemudian Kiara membuka lagi lembar berikutnya, ternyata di sana juga ada curhatan sang penulis.


"Siapa sebenarnya yang menulis ini? apakah ini tulisan Clara? tapi bagaimana mungkin tulisan ini ada di kamarnya Fathan?" batinnya.


Dia terus mencoba menyelidiki. Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang yang menulis ini? Dia pun kembali membuka lembaran demi lembaran kertas itu, hingga dia menemukan sebuah goresan yang dia sangat kenal yaitu tulisan Fathan anaknya sendiri.


"Ibu ..., aku pasti akan membalaskan sakit hati ibu, Ibu tenang saja, ibu akan lihat wanita itu akan bertekuk lutut di Batu Nisan mu."


Seperti itulah goresan di lembar terakhir.


"Fathan. Bagaimana mungkin Fathan menulis hal seperti ini? mengapa dia marah padaku? bahkan di sini dia mengatakan kalau dia akan membebaskan dendam Ibu, Ibu adalah panggilan Fathan pada Clara, Apa salahku? Benarkah anakku sendiri membenciku?" batin Kiara, dia menjadi bingung, kini pikirannya tidak menentu.


Kemudian dia pun membawa buku diary itu keluar dari kamar Fathan. Selama ini dia belum pernah sampai membersihkan kolong ranjang, jadi hari ini baru menemukan buku itu.


"Tidak! tidak mungkin anakku sendiri membenciku? Bagaimana mungkin anak yang aku lahirkan membenciku?" batin Kiara.


Kini air matanya pun kembali menetes dari sudut matanya, dia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada Agam, pasti Agam akan langsung menanyai Fathan, dia ingin menanyakan sendiri dengan Fathan dengan cara lain.


Kiara pun membawa diary itu ke kamarnya dan menyembunyikannya di balik baju-baju jubahnya, diletakkannya di paling bawah antara lipatan baju syar'i nya, agar Agam tidak tahu, dan tidak mungkin Agam sampai menemukan diary itu.

__ADS_1


"Sayang, kau di kamar? bukankah tadi kau ingin membereskan kamar Fathan?" tanya Agam heran melihat sang istri berdiri di depan lemari.


"Oh Abang, I_ Iya, aku sudah selesai kok," ucapnya sambil menyapu air mata di pipinya dengan ujung kerudungnya.


"Apa yang kau lakukan di situ? Apa Kau menangis?"


Ternyata Agam menyadari kalau suara Kiara tampak serak dan dia juga melihat bahwa Kiara sedang menyapu wajahnya dengan kerudung.


"Oh tidak kok, ini cuma kemasukan debu," sahutnya.


Kiara pun menghela nafas dalam dan menghempaskan nya pelan.


"Oh baiklah, aku mau istirahat dulu."


"Aku mau ke bawah dulu, Bang. Mungkin ada sesuatu yang bisa aku kerjakan di dapur," ucap Kiara.


"Sebaiknya kau istirahat dulu, kau kan sudah capek, di bawah juga ada bibi," ucap Agam.


"Abang kan tidak suka masakan Bibi, masakan kesukaan Abang kan cuma masakan Kiara sejak dulu? tidak apa-apa Bang aku kan sudah terbiasa. aku ke bawah dulu."

__ADS_1


Kiara pun langsung meninggalkan kamar tanpa menoleh pada sang suami, kalau dia menoleh Agam pasti akan tahu kalau sekarang matanya memang benar-benar bekas menangis. Kiara berjalan ke dapur dan membersihkan beberapa piring kotor yang ada di dalam wastafel, sementara Bibi sedang menjamur pakaian di belakang, namun dia tidak bisa menahan air matanya, sehingga dia pun kembali menangis.


Hiks ..., Hiks ..., apa yang terjadi dengan Fathan? Apakah diary itu benar milik Fathan? tapi bagaimana mungkin dia menulis begitu? sepertinya Diary itu milik Clara, namun Fathan mengambilnya dan kemudian menjadikan itu miliknya sendiri."


Kali ini bahkan Kiara terisak sangat nyaring dan pundaknya pun bergetar hebat.


"Bunda!"


Tiba-tiba dari pintu dapur rupanya Fathan sudah lama berdiri di sana, saat melihat ibunya mencuci piring dan terdengar sedang terisak.


"Oh ..., Fathan."


Dengan cepat Kiara pun menyapu air matanya kembali, mencoba menahan Isak tangisnya.


"Kau sudah pulang?" tanya Kiara.


"Bunda menangis? tanya Fathan lagi.


...#####...

__ADS_1


Selamat berpuasa, jangan baca yang pedes pedes ya, agar pahala puasanya tidak berkurang🄰


Nex ....


__ADS_2