
Nyonya Mentari, Agam dan Kiara tampak makan bersama di dapur sore ini. Agam dan Nyonya Mentari tampak lahap menikmati makanan yang dimasak oleh Kiara. Sementara Kiara hanya menyuap sedikit demi sedikit nasinya, karena dia masih terbayang-bayang wajah sang Ibu dan memikirkan ibunya. Apakah Ibunya sudah makan atau belum sore ini?
"Kiara, kenapa makan mu lambat sekali? Ayo cepat habiskan makanan yang ada di atas meja ini! biar kamu subur dan benihku cepat tumbuh dan besar," ucap Agam.
Agam sebaiknya Kau Berikan dia susu kesuburan dan juga susu vitamin, agar dia sehat dan banyak gizi!" ucap sang mertua.
Agam heran dengan ibunya itu, karena dia tahu sebelumnya, ibunya sangat cuek kepada Kiara, bahkan sempat Agam mendengar sang ibu berkata tidak enak di dengar mengenai perihal status Kiara, yang hanya penjaga warung makan.
"Begitu ya Mah?aku belum terpikirkan ke sana," ucap Agam.
"Ya iyalah kamu belum memikirkannya, kamu kan hanya ingin bermesraan saja dengan dia, tidak memikirkan hal lainnya," ketus sang Mama tanpa menoleh, dan terus memakan makanannya.
"Mas Agam.... Mas.... Kau di mana?"
Ketika teriakan dari atas loteng memecahkan keheningan dapur.
"Clara apa-apaan sih, teriak-teriak? kayak anak kecil saja!" Ketus Nyonya Mentari.
Entah mengapa Nyonya mentari sekarang kurang suka dengan tabiat Clara, yang sepertinya semakin manja dan selalu ingin dekat dengan Agam.
"Sebentar Mah, aku akan melihatnya," ucap Agam.
"Tdak perlu, kau tidak usah ke sana, biar Bibi saja..., Bi... kau lihat Clara ke atas, mungkin saja dia memerlukan sesuatu," ucap Nyonya Mentari, merasa tidak senang menantunya itu berteriak tidak sopan kepada suaminya sendiri.
Akhirnya Agam pun kembali duduk dan menikmati makannya.
"Iya Nyonya."
Bibi pun pergi ke atas, tak berapa lama Bibi sudah sampai di kamar Clara.
"Nyonya, Ada apa? Apakah Nyonya perlu sesuatu, atau mau makan sekarang?" tanya Bibi.
"Mas Agam mana Bi? aku kan memanggil dia! Kenapa kau yang datang?"
Clara merasa tidak senang, karena yang datang bukanlah suami, melainkan bibi.
"Tuan Agam lagi makan bersamanya Ny.Mentari, jadi aku yang disuruh Ny. Mentari kemari. Apakah Nyonya mau makan?" tanya Bibi.
"Makan bersama? Kiara mana?" ketus Clara.
"Nona Kiara juga sedang makan, mereka bertiga sedang makan bersama, Nyonya."
"Apa? mereka makan bersama, kenapa tidak mengajakku?" tanya Clara.
"Katanya tadi Nyonya sedang tidur, jadi Tuan Agam tidak membangunkan Nyonya."
"Sejak kapan mas Agam datang?"ucapnya.
__ADS_1
"Sudah setengah jam yang lalu Nyonya."
"Bantu aku berdiri, Aku ingin ke bawah."
Kemudian Bibi pun membantu merangkul Clara untuk bangun dari kasur, dan berjalan pelan menuruni anak tangga.
"Kalau bukan karena ingin mendapatkan perhatianmu Mas Agam. Tentu saja aku tidak akan berbuat sedemikian bodoh, ke pura-puraanku ini yang buat Aku semakin tersiksa saja," batinnya.
Clara dia masih berpura-pura sakit perut, dan juga sakit kepala, saat di dapur.
"Mas. Kenapa kau tidak mengajakku makan? aku jiga lapar, aku kira kau belum datang, makanya aku menunggumu di kamar. Menunggu kau datang untuk makan bersama," ucap Clara.
"Saat aku datang tadi, kau sedang tidur, jadi aku tidak ingin membangunkan mu, kau kan masih sakit?" tanya Agam.
"Tapi aku lapar Mas. Lihatlah jam sekarang ! sudah jam 5 lewat, cepat-cepat! Aku mau makan."
Clara dengan sengaja mengusir Kiara yang duduk di samping Agam.
"Clara! apaan sih, di sini kan ada kursi kosong? Kenapa kamu mengusir Kiara?" ucap sang mertua.
Ny.Mentari benar-benar merasa kesal dengan ulah menantunya tersebut, padahal dulu Clara adalah menantu kesayangan Nyonya Mentari, karena Clara yang bisa menjilat pada mertuanya tersebut.
"Tapi aku sudah berjalan ke sini mah, aku kan sakit perut, tidak mungkin aku mengelilingi meja ini untuk duduk ke sana?" alasan ya.
"Sudah, sekarang makan dulu, apa mau makan bubur? biar dibelikan di depan," ucap Agam.
"Tidak usah Mas, aku makan ini saja. Kiara, ambilkan nasi dan juga lauk pauk untukku!" titahnya.
Bahkan kali ini Clara menganggapnya seperti pembantu, menyuruhnya untuk mengambilkan makanan untuk Clara.
"Kiara, tidak usah, ayo duduk di sini! Biar Bibi yang mengambilkan makan Clara!" ucap sang mertua.
Ny.Mentari menyuruh Kiara duduk di samping Nyonya Mentari, tentu saja Clara merasa sangat jengkel. Karena sekarang bahkan terlihat mertuanya itu mulai berpihak kepada Kiara. Clara terpaksa terdiam dan membiarkan Bibi mengambilkan nasi dan juga lauk untuk di santapnya sore ini.
"Tidak usah terlalu banyak Bi, aku merasa belum berselera makan," ucap Clara berpura-pura.
Padahal dia sangat kesal dan kesalnya itu menghilangkan selera makannya. Setelah selesai diambilkan, Clara pun makan pelan, sedangkan Nyonya Mentari dan Agam sudah selesai makan.
Agam pun berdiri meninggalkan dapur.
"Mas! Mas mau ke mana?" panggil Clara, yang masih makan.
"Aku mau ke atasnya mau istirahat sebentar, lalu nanti mandi," ucap Agam.
"Tungguin aku Mas, nanti aku tidak bisa naik ke atas, aku masih sakit Mas..."
Suara manja Clara yang di buat buat pada Agam. Membuat sang mertua merasa geli sendiri.
__ADS_1
"Clara! kamu itu apa-apaan sih? ngomong kok kayak orang baru menikah saja?" ejek sang mertua.
Sebenarnya mertuanya juga tidak enak dengan Kiara, dia takut kalau Kiara merasa cemburu, padahal kan sekarang dia sangat berharap kalau kira merasa senang Happy, agar bayi yang nanti dikandung Kiara juga sehat.
"Mah, Aku ini lagi sakit mah, jarang-jarang kan aku sakit? ini juga pertama kalinya aku sakit begini, biasanya pun kalau aku sakit kan cuma baring berbaring di kamar saja. Paling semenit 2 menit juga sudah sembuh," ucap manja Clara lagi.
"Baiklah, akan aku tunggu sebentar," ucap Agam.
Agam pun kembali duduk, sementara Kiara sudah selesai makan dan merapikan meja dari piring-piring kotor.
"Kiara, sebaiknya kau istirahat saja di kamar! biar Bibi yang merapikan itu!" kata sang mertua sambil berlalu meninggalkan dapur.
"Iya Kiara, kamu istirahat saja!" titah Agam, namun Agam bermain mata dan mengerlipkan sebelah matanya.
Kiara pun menuruti perintah Agam, karena memang Kiara tidak mau mengganggu Agam dan Clara. Akhirnya dia pun pergi meninggalkan dapur.
"Apakah Mas Agam tadi mengusirku? batin Kiara.
Kiara merasa cemburu saat Agam kembali duduk di sisi Kiara. Dan bahkan Kiara malah berpikiran buruk saat Agam menyuruhnya untuk pergi dari dapur, Kiara tampak melamun dan berjalan menunduk.
"Kiara! Kenapa murung?" tanya sang mertua.
Ternyata sang mertua setelah keluar dari dapur dia pun berdiri di depan pintu dapur, dan mantap Kiara yang baru keluar dari dapur.
"Oh tidak, Nyonya...."
"Sekarang jangan lagi kamu manggilku Nyonya! panggil saja aku mama, atau Ibu, karena aku ini adalah mertuamu, Oh ya... malam ini kita belanja ke mall ya? Temani aku untuk membeli sesuatu," ucap sang mertua.
"Ke mall? Tapi aku tidak pernah ke mall Ma! aku takut nanti mempermalukan mama di sana," ucapnya.
"Memperlukan bagaimana? kita kan di sana cuma untuk belanja, bukan untuk bermain-main, sekarang kamu istirahat dulu, biar nanti jam 06.00 kita berangkat," titah mertuanya.
"Maaf Nyonya, Apa tidak sebaiknya setelah shalat magrib saja?" tanya Kiara.
Karena sekarang Kiara ingat pesan ibunya tadi siang, bahwa Kiara tidak boleh meninggalkan shalat dan sekarang Kiara sangat Ingat pesan ibunya itu.
"Oooh... Setelah maghrib ya? kamu shalat?" tanya sang mertua.
"Iya Ma, setelah sholat maghrib nanti kita berangkat."
"Okelah, aku ke kamar dulu," jawab mertuanya.
Mereka pergi ke kamar masing masing.
"Ya Allah... apakah ini keberuntunganku? mendapatkan seorang menantu yang sholehah," Batin Ny.Mentari.
Ny.Mentari termenung, karena selama ini dia sudah lupa tentang shalat, dan mungkin saja dia juga sudah lupa tata cara shalat yang sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung...