
Sang Nenek berteriak histeris, saat melihat cucunya berlumuran d*arah, dia pun segera memeluk tubuh yang kini terbujur kaku di tanah.
Orang-orang pun mencoba membangunkan nenek, namun nenek terus memeluk Adi sangat kuat. Sehingga kini baju kebaya pun ikut berumur an dara*h.
"Nek lepaskan Nek, kami akan membawa cucu nenek ke rumah sakit, kalau begini, bagaimana kami mau menolongnya?" ucap seorang pengendara.
"Tolong cucuku, tolong selamatkan dia!" desaknya.
Nenek pun berdiri, kemudian orang-orang mengangkat tubuh Adi yang masih bernafas untuk dibawa ke rumah sakit. Sepanjang jalan nenek terus menangis memanggil sang cucu, yang kini tidak bergerak. Tak berapa lama, merela pun sampai di rumah sakit.
Nenek segera menelpon orang tua Adi yang ada di kota.
"Apa? Adi kecelakaan!?" teriak sang mamah ditelepon.
"Cepatlah kau ke mari! Adi sangat kritis," ucap sang Nenek lagi.
Membuat Mamah Adi tambah panik. Nenek pun menutup HP jadulnya.
"Apakah anda keluarga pasien tabrakan tadi?" tanya perawat.
"Ya, saya neneknya, cucu anda mengalami kekurangan darah, dan harus segera mencarinya, tolong telepon keluarga untuk mencarikan darah golongan O!"
"Baiklah dokter," sahut nenek.
sang nenek menelpon nomor Kiara, karena Kiara juga memberikan nomor teleponnya, agar nenek bisa menghubunginya kalau Adi kenapa kenapa.
"Kamu ada dimana?"
"Ada apa Nek? aku masih jualan bubur, sedikit lagi, di pinggir jalan."
"Adi di tabrak dan sekarang Adi kekurangan banyak darah, apakah kau punya kenalan yang memiliki darah golongan O?"
"Apa? kecelakaan? bagaimana keadaan mas Adi?"
"Dia koma Nduk."
"Astaghfirullah, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia mengalami koma, dia kehilangan banyak darah, tolong Nduk, aku takut terjadi sesuatu dengan Adi."
"Iya nek, aku akan segera mencarinya."
Kiara pun menutup teleponnya.
"Ada apa Kiara?"
"Mas adi kecelakaan, katanya dia kehilangan banyak daerah, dan dia butuh golongan darah O, apakah mamah ada kenalan yang memiliki darah tersebut?"
"Agam, dia golongan O."
"Oh baiklah," sahut Kiara.
__ADS_1
Kiara pun menelepon Agam, namun tidak di angkat, berulang kali di telepon, namun tetap sama.
"Tidak di angkat mah, sebaiknya ku susul saja dia," ucap Kiara.
"Apa kau tau kantornya?" tanya sang Mamah.
"Kemaren ada nama kantornya di kartu nama Bosnya. Aku akan mencarinya," ucap Kiara.
"Baiklah, kau pergi saja! jualan kita juga sisa sedikit, aku pasti bisa menjualnya sendiri," ucap sang mertua
"Maaf bu, aku merepotkan ibu, aku permisi dulu bu," pamit Koara.
"Ya Sayang, hati-hati ya! Jangan ngebut!" pesan mertua.
Kiara pun pergi ke rumah dan mencari kartu nama, mengambil jaket dan kunci motor matic nya dengan berlarian.
"Mau ke mana Nak? Kok panik gitu?" tanya sang ibu.
"Oh ya bu, aku mau ke kantor Mas Agam sebentar," sahutnya.
Kiara pun berpamitan sama sang ibu, dan segera menaiki motornya.
Kiara melaju menuju alamat yang tertera di kartu nama tersebut, tak berapa lama, Kiara pun sampai di sebuah bangunan yang sangat besar. Dan membaca nama perusahaan itu.
"Ya benar, ini kan tempatnya." lirihnya.
Kiara pin celingukan men ari tempat parkir.
"Aku mencari Mas Agam, apakah paman mengenalnya? dia baru saja bekerja di sini," sahutnya.
"Ooh, paling juga di lantai atas, cari saja di gudang penyimpanan barang, biasanya dia kan nongkrong di depan situ," ucapnya.
"Ooh baik paman, terima kasih," ucap Kiara.
"Apakah mau ku antar?" tawar paman satpam.
"Oh gak usah, aku akan mencarinya sendiri,",sahut Kiara.
Kiara pun berjalan mendekati bangunan tersebut, dan masuk ke dalam, namun dia lupa sesuatu.
" Si**al, kenapa aku lupa menanyakan lantai berapa? sekarang aku harus tanya ke siapa? oh ya ya aku tanya ke orang yang ada di sana," gumamnya.
Kiara pun berjalan mendekati seseorang yang sedang menyapu di samping tangga.
"Aku ingin mencari Seseorang, yang bernama Agam, kira-kira doa di lantai berapa paman?" tanya Kiara.
"Ooh Agam, padahal baru saja tadi dia di sini, dia biasa di lantai 2 Nona."
"Benarkah? terima kasih paman."
"Sama-sama."
__ADS_1
Kiara pun pergi meninggalkan lantai dasar, menaiki lift. Sesampainya di lantai dua, dia pun jadi bingung. Jalan kemana yang harus dia datangi? Di sana ada 2 jalan antara ke kanan dan ke kiri.
"Aku harus ke mana? kenapa aku lupa menanyakan belok kiri atau kanan ya? mungkin ada baiknya aku memilih kanan saja," gumamnya.
Dia pun berjalan mengiringi jalanan di sebelah kanannya, terus berjalan menuju ke ujung namun ternyata di sana hanya jalan buntu dan ada beberapa ruangan karyawan, bukan sebuah gudang.
Dan tidak mungkin Kiara mengetuk setiap pintu karyawan mencari suaminya.
"Oh iya kenapa kau tidak menelpon nya saja."
Kiara pun garapan kembali menelpon namun tetap tidak ada jawaban, tentu saja tidak ada jawaban, karena telepon Agam sedang diletakkan nya di dalam celana bersih nya, sementara Agam hanya memakai celana cleaning service.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke sebelah kiri," gumamnya.
Kiara pun berjalan ke sebelah kiri dan tiba-tiba dia melihat sebuah ruangan yang terbuka, seperti ruangan kosong yang biasa dipakai untuk pertemuan penting. Kiara mendekati ruangan itu dan sedikit mengintip dari jarak yang agak jauh dari pintu.
Di sana tampak seseorang sedang mengepel meja-meja yang ada di ruangan tersebut, Kiara terhenti dan mendekati pintu, sebenarnya dia ingin bertanya, namun ketika dia sudah dekat, dia sangat kaget, karena dia sangat mengenal dari postur tubuh seseorang yang sedang bekerja tersebut.
"Itu... apa yang aku lihat ini? Bagaimana mungkin?" lirihnya dalam hati.
Kemudian dia pun mundur dan sedikit mengintip untuk memastikan apa benar apa yang dia liat sekarang.
"Sayang...."
Hati Kiara bergetar hebat apa yang dia lihat sekarang? Kiara bingung apa yang harus ia katakan. apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Sedang apa kau?" tanya seseorang yang sedang lewat mencurigai Kiara yang menatap ke dalam ruangan.
"Ooh sepertinya aku salah ruangan," sahut Kiara Dia pin mundur dan berbalik berjalan dan menghindari ruangan tersebut.
"Bang, kenapa bahkan kau merahasiakan pekerjaannya ini. sebegitu sayangnya kah kau padaku, sehingga kau berjuang susah payah seperti ini. Bang, dulu kau adalah seorang Bos, tapi sekarang kau bahkan menyapu dan melap meja-meja para Bos itu."
Air mata Kiara kini berjatuhan, hatinya sangat sakit saat melihat suaminya bekerja sebagai tukang bersih.
Kiara terus berjalan menuruni litf, sia tidak mau menemui suaminya, karena tidak ingin suaminya malu.
Bruk
Kiara menabrak seseorang yang sedang berjalan.
"Maaf." ucap Kiara.
"Kau tidak apa-apa Nona?"
"Tidak."
Kiara kembali melanjutkan jalannya menuju motornya. Niatnya memberitahukan tentang Adi sudah tidak Ada lagi. Yang ada sekarang, Kiara harus menyuruh suaminya berhenti bekerja. Tanpa harus memberitahu, kalau dia sudah tau pekerjaan suaminya.
Bersambung.
__ADS_1