Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Menangis Pilu


__ADS_3

Kiara terus berjalan sambil terus menyeka air matanya yang terus mengalir, hatinya hancur ketika menyaksikan sang suami menjadi tukang sapu di perusahaan itu. Dulu suaminya yang gagah berjas dan berdasi sangat rapi ketika mau berangkat bekerja, namun sekarang lelaki itu terlihat kumal bahkan rambutnya acak-acakan, dengan serbet pun menempel di lehernya.


Dada kiara sangat sesak, dia terus sesunggukan menahan tangis nya, agar orang-orang di sekitarnya tidak mendengar tangisannya. Kiara pun memasang helm dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut, namun saat di depan gerbang karena kiara tidak fokus, Kiara malah menabrak sebuah mobil yang mau masuk ke perusahaan tersebut.


Kiara pun terjatuh, untungnya dia memakai helm dan juga busana yang panjang, sehingga kulitnya tidak lecet saat benturan keras itu terjadi. Baju syar'i yang dipakainya pun terlihat sedikit bolong, karena gesekan ke aspal.


"Aduuuh," pekik Kiara.


Dia pun mengusap-usap lututnya yang sakit, kiara juga kaget saat melihat kain yang tergilas ke aspal itu sobek.


Paman satpam dan juga pengendara mobil pun segera turun dan mendekati Kiara.


"Kamu kenapa menabrak ku? padahal aku sudah berhenti, kenapa kau malah terus maju?" ucap lelaki itu.


Lelaki itu sepertinya seumuran dengan Agam suaminya. Kiara masih diam, namin tiba-tiba dia menangis, dia tidak bisa lagi membendung air matanya, tangisannya bukan karena dia terluka karena jatuh, akan tetapi karena hatinya yang terluka melihat suaminya tadi.


Satpam dan pengendara mobil kebingungan, dia tidak melihat luka serius, namun Kiara malah menangis histeris.


"Apakah ada yang sakit Nona? Kalau begitu cepat kita ke rumah sakit!" ajak sopir mobil tersebut.


"Tidak, aku tidak apa-apa kok," sahut Kiara terbata.


Kemudian dia pun melepaskan helmnya, dan menatap lelaki yang tadi dia tabrak.


"Kau? bukankah kau Kiara?" ucap lelaki itu.


Saat melihat wajah Kiara.


"Pak? Pak Burhan Bos Ayahku? ayahku pernah bekerja di perusahaan mu kan pak? maaf aku merasa lelah, aku sedang tidak fokus," ucap Kiara.


"Cepat kita ke samping dulu, aku mau menepikan mobilku dulu ya!"


Burhan pun kembali masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobilnya di tempat yang luas dan jauh dari jalan raya. Kemudian dia kembali dan mendekati Kiara.


"Ayo kita duduk di pos paman Satpam dulu!" ajaknya.


"Terima kasih."


Mereka pun duduk di pos satpam. Paman satpam memberikan Kiara air.


"Apa kau mengantar makanan ke perusahaan ini?" tanya Burhan.

__ADS_1


"Tidak, sebenarnya aku mencari seseorang, namun aku mengurungkan niatku."


"Oh, bagaimana keadaan ibu mu dan ayahmu sekarang?" tanya Hans


"Ayahku sudah lama pergi, ibuku alhamdulillah sudah lumayan membaik," sahutnya.


"Begitu ya, kalau kamu bagaimana kabarnya? apakah masih bekerja di restoran itu?" tanya Burhan.


"Tidak, aku sudah menikah."


"Ooh benarkah? maaf aku tidak tahu, kalau kau sudah menikah," ucapnya.


Burhan adalah Bos sang ayah bekerja dahulu, namun sang ayah terus bermain judi sehingga dia pernah terlilit hutang di perusahaan Burhan, sehingga sang ayah dipecat oleh Burhan, dan menganggap hutang hutang Burhan lunas saat itu.


"Maafkan aku, aku juga tidak bisa membayar utang ayah saat itu," ucapnya.


"Kiara, itu bukan salahmu, itu adalah kesalahan ayahmu, aku sudah melupakannya, oh iya dimana suamimu?"


"Saya mohon maaf sebelumnya pak, apakah kira-kira di perusahaan bapak ada lowongan pekerjaan?" tanya Kiara.


"Apakah kau ingin bekerja? tentu saja kalau buatmu pasti ada, aku sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri, karena kau sangat baik dan periang, bahkan dulu waktu ayahmu masih jaya, dan tidak bermain judi, kau sering ikut ke kantor, kau ingatkan? kau sering ku belikan mainan," ucap Burhan.


"Baiklah, pekerjaan apa yang ingin kau cari? aku akan mengusahakannya, karena sekarang perusahaan ku mulai maju," ucap Burhan.


"Sebenarnya bukan aku yang ini bekerja, tetapi aku ingin suamiku bekerja di perusahaan bapak, tapi permintaan ku ini agak sedikit aneh, karena aku ingin suamiku bisa bekerja kantoran, kalau boleh jangan bekerja sebagai cleaning service," ucap Kiara .


"Oh tentu saja, kalau memang suamimu pernah berpengalaman, pasti akan dapat pekerjaan yang sesuai," sahut Han.


"Tentu saja suamiku sangat berpengalaman, karena dulu dia adalah bos besar, namun saat ini kami sedang mengalami kesulitan," ucap Kiara dengan wajah sedih.


"Ooh? jadi dulu dia seorang Bos?"


"Iya Pak."


"Bolehkah aku bertemu dengannya?"


"Oh Iya Pak, tapi sekarang dia lagi ada pekerjaan, apakah boleh nanti kami mampir ke perusahaan Bapak?" izin Kiara.


"Oh, boleh kok, masih ingat kan perusahaan ku? Biar nanti sekalian kau bawa Suamimu ke sana, biar sekalian kutanyakan, mungkin ada pekerjaan yang cocok untuknya," ujar Han dengan lembut.


"Baik Pak, terima kasih banyak, Oh ya Pak, kalau begitu aku pamit dulu, aku harus menemani Ibu di rumah."

__ADS_1


"Jangan ngebut !"


"Iya."


"Tapi apakah kau bisa bangun? Apakah bisa mengendarai motor sendiri? kalau tidak bisa, biar aku panggilkan grab, motormu nanti biar di antar oleh Paman satpam."


"Ini tidak apa-apa, aku bisa kok."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya!"


"Iya pak terima kasih."


Burhan dan Kiara pun berpisah, Burhan pun menuju perusahaan karena memang ada sedikit berkas yang harus diserahkan kepada rekan kerja nya. Sementara Kiara kembali ke rumah dengan perasaan hati lega, dia berharap Agam menerima pekerjaan di perusahaan teman ayahnya dulu, di perusahaan Burhan.


Takdir memang selalu mempertemukan orang-orang baik dengan orang baik pula, walaupun Kiara tidak tahu sebenarnya Burhan dan Agam sudah saling mengenal, apakah Agam akan menerima tawaran Burhan nanti?


Burhan sudah sampai di atas, dia pun mencari ruangan Pak Hendri, namun saat di jalan ia berpapasan dengan Agam yang sedang membawa pel dan juga sapu.


"Kau? Apakah kau Agam?" kaget Burhan saat melihat Agam yang berjalan terlihat kecapean, Burhan merasa ragu namun spontan.


Agam menengadah dan menatap wajah lelaki yang ada di depannya.


"Tuan Burhan?" balas sapa Agam juga dengan sedikit kaget.


Hanya dua kata tersebut yang bisa keluar dari mulutnya, rasa capek yang luar biasa sehingga membuatnya sudah tidak berdaya untuk sekedar mengucapkan kata yang lebih banyak.


"Oh iya, aku ingin bertemu dengan Pak Hendri, Ruangannya di mana ya?" tanya Burhan, karena dia juga tidak ingin terlalu membuat Agam malu saat bertemu dengan dirinya. Jadi dia tidak menanyakan hal menahan dia bekerja di sana.


"Silahkan bapak lurus dan belok kiri, itu ada ruangan Pak Hendri," ucapnya.


"Baiklah, terima kasih, kalau ada waktu nanti aku akan berbicara denganmu," ucap Burhan.


Burhan menjaga perasaan Agam, tidak menanyakan apa pun, karena ini di tempat umum. Mungkin nanti dia akan menemui Agam kembali. Walau Burhan sahabat masa kecil Mantan istrinya itu merasa aneh dengan pekerjaan Agam.


"Apakah dia sudah bangkrut?" batinnya sambil berjalan mencari ruangan Hendri.


Burhan pun terus berjalan meninggalkan Agam begitu juga Agam berjalan menuju ruangan istirahatnya, yaitu gudang penyimpanan peralatan kerjanya.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2