
Agam kini sudah menghidupkan mobilnya dan mulai melaju dengan tergesa-gesa, karena dia tidak ingin Clara sampai menyusulnya, namun ketika tiba di depan gerbang utama, dia melihat mobil pribadi lainnya akan masuk ke gerbang tersebut, sehingga dengan cepat Agam pun mencegat mobil itu, dan sengaja berhenti tepat di depan mobil yang ditumpangi oleh Kiara dan Ibunya. Sopir sangat kaget, saat menyadari mobil Agam berada tepat di depan mobilnya.
Agan pun cepat turun kemudian menengok ke dalam mobil, saat dia memastikan bahwa itu adalah pintu di mana Kiara sedang duduk, dia pun membukanya dengan cepat.
"Ayo cepat!" ucapnya sambil menarik tangan Kiara membawanya turun dari mobil tersebut.
"Ada apa? Mau ke mana ini?" heran Kiara. sementara Nyonya Mentari pun tampak bingung melihat perlakuan Agam terhadap Kiara yang. Sepertinya di mata Ny. Mentari, Agam ingin menyakiti Kiara.
"Agam! mau kau bawa ke mana Kiara? biarkan dia tinggal di rumah, aku membutuhkannya." ucap Nyonya Mentari.
Nyonya Mentari khawatir kalau Agam menyakiti Kiara, karena tadi pagi dia tidak sempat pamitan, saat Kiara pergi ke rumah ibunya.
"Aku lebih membutuhkannya Bu, Ibu pulang saja, oh ya katakan kepada Clara, kalau Kiara tinggal di rumah ibunya. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku membawa Kiara pergi!" ucap Agam sedikit berteriak. Sambil terus menarik Kiara.
Kiara sudah ditarik dan masuk ke dalam mobil Agam, secepat kilat Agam pun pergi dengan menancap gas meninggalkan halaman gerbang.
"Paman sopir. Bagaimana ini? Apakah kita menyusulnya saja? bagaimana kalau Agam menyakiti Kiara?" tanya Nyonya Mentari.
"Nyonya, tidak mungkin Tuan seperti itu? Walaupun dia sangat membenci Nona Kiara, dia tidak akan berani menyakitinya, karena kan Nona Kiara itu pilihan Nyonya besar Clara, kalau sampai Tuan Agam menyakiti Non Kiara, pastinya Nyonya Clara sangat marah nanti," ucap Paman sopir.
Ternyata Paman sopir dan juga Ny.Mentari tidak tahu bahwa sekarang Agam sangat mencintai Kiara. Ny.Menyari sudah memasuki rumah besar mereka, tampak Clara menuruni tangga dengan perlahan, karena dia masih pura-pura sakit di bagian perut dan juga kepalanya, bekas tabrakan kemarin.
"Clara, apakah kau masih sakit?" tanya Nyonya Mentari.
"Iya Mah, aku masih merasa sakit, oh iya, apa Mama bertemu dengan Agam? aku panggil-panggil dia tidak menyahut," ucap Clara.
"Mungkin dia sudah pergi bekerja Clara, aku baru datang, mana aku tahu," ucap mertuanya.
"Bibi... bibi...," teriak Clara sambil menuju dapur.
"Iya Nyonya, ada apa?" tanya bibi.
"Mas Agam sudah berangkat kerja?" tanya Clara.
"Iya nyonya, dia sudah berangkat kerja, Apa Nyonya memerlukan sesuatu?" tanya bibi.
"Tidak, aku hanya mau makan saja, tolong ambilkan!" titah Clara.
__ADS_1
Clara pun duduk di depan meja tersebut, diikuti oleh sang mertua.
"Clara. Aku ingin bicara denganmu," ucap Mertuanya.
"Bicara apa Mah? serius sekali?" tanya Clara.
"Bagaimana reaksi Agam sekarang? apakah dia masih tidak menyukai Kiara?" tanya Mama Agam.
Clara diam, saat ditanya masalah Kiara dan Agam, dia bingung antara mau mengatakan kebenarannya atau sebaliknya, namun Clara berpikiran cerdik.
"Mah, Mas Agam masih membenci Kiara, bahkan dia sama sekali tidak mau menemui Kiara, aku takut Kiara sakit hati, apa sebaiknya Kiara kita suruh pergi saja dari rumah ini?" ucap Clara.
"Benarkah? Kenapa Agam bersikap demikian? Bukankah Kiara itu anak yang baik? Bahkan dia sangat hormat kepada ibunya," ucap Mama Agam.
"Maksud Mama Bagaimana? Mama tahu kalau dia hormat kepada orang tuanya?" tanya Clara tidak paham.
"Aku baru saja ikut ke rumah kontrakan Mama Kiara, aku melihat sendiri, betapa berbaktinya Kiara sama Ibunya, yang lagi sakit," ucapnya.
"Gawat, berarti mereka tadi pergi berdua," batin Clara.
"Jadi Mama tadi pergi ke rumah kontrakannya Ibu Kiara? Terus sekarang di mana Kiara?" tanya Clara.
Clara tidak tahu kalau Agam membawa Kiara. Dengan tergesa-gesa mama Agam pergi ke kamarnya, dan mengambil teleponnya. Dia segera menekan nomor Agam, karena mama Agam khawatir kalau Agam menyakiti Kiara.
"Hello, Mamah, ada apa menelponku?" tanya Agam.
"Kau sekarang ada di mana?" tanya sang mama.
"Kami lagi jalan-jalan Mah. Emangnya kenapa Mama tampak gugup dan khawatir begitu?" tanya Agam bingung dengan suara sang Mama.
"Kamu jangan ngapa-ngapain Kiara ya! Awas aja kalau kau berani menyakiti dia!" gertak sang mama.
"Menyakiti? Siapa bilang aku akan menyakiti Kiara? malah aku akan membahagiakannya Mah," ucap Agam.
"Yang benar..., katanya kau kan tidak menyukainya?" tanya mamahnya lagi.
"Siapa yang bilang?" tanya Agam.
__ADS_1
"Ya Clara yang bilang, katanya kau sangat menolaknya. Bahkan kau membencinya."
"Itu dulu Mah, sekarang Mah calon cucu Mama sudah on the way, udah ya Mah, ganggu aja, udah ya Mamah, dah...."
"Hah? tunggu! tunggu!" mama Agam tidak tau maksudnya calon cucu sudah on the way.
"Aneh-aneh aja, yang mana sih yang bener? Benci apa suka?" gumam sang Mama.
***
Agam dan Kiara tampak berhenti di sebuah hotel mewah di tengah kota, sepertinya Agam akan mengulangi belah duren kemarin siang. Sepanjang jalan tadi, Agam tampak menggenggam tangan Kiara sangat mesra, bahkan untuk menggaruk sesuatu yang terasa gatal pun, Kiara tidak diizinkan untuk melepas genggaman tangan suaminya tersebut.
"Emang kamu ada acara meeting di hotel ini? tapi lihatlah pakaianku, tidak pantas untuk menemanimu meeting dengan klien mu," ucap Kiara.
Merasa minder sendiri karena pakaiannya saat ini hanya menggunakan kaos dan celana jeans biasa.
"Untuk apa aku bertemu klienku? klienku itu kan kamu! ayo cepat! aku sudah pesan kamar," ucap Agam.
"Hah? kamar?"
Otak Kiara langsung traveling, dia mengerti apa yang akan dilakukan Agam. hasilnya Kiara pun hanya mengiringi suaminya tersebut, karena Agam sudah memesan kamar dan mentransfer sewanya.
Agam langsung mengambil kunci dan pergi ke kamar. Terlihat kamar itu sudah dihiasi oleh bunga mawar yang sangat indah. Rupanya Agam sudah memesan kamar Itu khusus untuk mereka.
"Bang, ini kamu yang mesan?" tanya Kiara.
"Iya dong. Kemarin kan kita asal-asalan aja, sekarang Aku ingin serius, Ayo masuklah! biar aku Kunci pintunya," titah Agam.
Membuat bulu kuduk Kiara merinding. Kiara pin masuk dengan perasaan was-was, dia masih merasa trauma karena sakit yang kemarin dia rasakan begitu perih, saat Kiara berjalan pelan menuju kasur, tiba-tiba....
Hao
Agam mengangkatnya dan membaringkannya di atas kasur tersebut. Agam menatap wanita yang sekarang ada di bawahnya itu.
"Sayang..., Aku ingin kau merasakan surga yang sesungguhnya, kemarin kan hanya rasa sakit yang kau rasakan, hari ini aku ingin kau menikmati semua yang aku berikan padamu," ucap Agam.
Kiara hanya terdiam, sambil merasakan sentuhan pembuka di bibirnya dari telunjuk Agam.
__ADS_1
Bersambung