Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Karena Tak Rela


__ADS_3

Minuman botol sudah tersuguh di atas meja di depan Kiara dan Agam, namun antara Agam dan Burhan belum mengeluarkan sepatah kata pun yang membuat Kiara heran. Padahal tadi mereka sepertinya saling mengenal satu sama lainnya.


Hingga akhirnya Kiara yang mengalah untuk memulai pembicaraan.


"Jadi? di mana kalian saling mengenal?" tanya Kiara.


"Itu...." ucap mereka bersamaan.


"Kenapa kalian seperti kaku begitu sih? Ada apa sih? Bang, tolong jelaskan! Di mana kalian kenal?" tanya Kiara pada sang suami.


"Dia adalah teman masa kecil Clara, aku pernah bertemu dengannya."


"Oh... begitu ya, tapi kenapa kalian tampak seperti memasang wajah tidak mengenakan? Apa kalian pernah saingan?" tanya Kiara.


Entahlah... saat hamil ini bicara Kiara sering asal-asalan.


"Tidak kok," sahut mereka bersamaan.


"Lagi?(maksud Kiara lagi jawaban yang sama) oh jadi gimana Pak burhan? apakah ada pekerjaan yang bisa suamiku lakukan disini?"


"Kiara tunggu! sebaiknya aku meneruskan pekerjaanku yang sebelumnya saja karena...."


"Oh tentu saja aku akan memberikanmu pekerjaan yang layak, yang lebih layak dari sebelumnya," sanggah Han.


Burhan tidak tahu, kalau sebenarnya Agam dan Kiara saling merahasiakan pekerjaan satu sama lainnya, Kiara sudah tahu pekerjaan Agam, namun Agam tidak ingin memberitahu pekerjaannya kepada Kiara.


"Pak Burhan, maafkan aku, tapi aku belum tertarik untuk pindah pekerjaan, karena aku merasa nyaman di pekerjaanku sebelumnya."


"Bang, yang aku ingin, Abang bekerja di perusahaan pak Burhan, karena Pa Burhan adalah teman ayahku dulu, tempat Ayah ku bekerja dulu, aku merasa berhutang budi pada beliau, jadi tolong otak Abang yang pintar itu investasi kan buat perusahaan Pa Burhan," pinta Kiara.


"Investasi? emangnya otakku bisa dicopot?"


Malah Agam bercanda dengan istrinya, sampai matanya pun melotot menatap sang istri.


"Ya bukan gitu juga, pokonya Abang bekerja disini saja!" ketus Kiara.


"Iya Gam, sebaiknya kau bekerja saja disini, daripada pekerjaanmu sebelumnya, kau pasti sangat kelelahan,"


"Tunggu...! Kiara, aku ingin berbicara berdua saja dengan Burhan," pinta Agam.


"Apa yang akan di bicarakan berdua? kenapa aku tidak boleh mendengarkannya?" gerutu Kiara lagi dengan nada cerewet nya.


"Kiara, sebentar saja, kau boleh keluar kan?"


"Bisa lah... tapi jangan terlalu lama ya!"


"Ya Sayang, sebentar saja, ini adalah percakapan antara sesama lelaki."

__ADS_1


Kiara pin dituntun oleh Agam menuju luar pintu dan Kiara disuruh duduk di depan yang ada kursinya, berdampingan dengan sekretaris Burhan.


Sementara Agam kembali menutup pintu dan masuk ke dalam.


"Tuan Burhan, aku tidak tahu apa yang kau katakan kepada istriku, tapi aku tidak mau pindah dari pekerjaanku sebelumnya."


"Agam, di sana kau sangat kelelahan, kau itu dulu seorang bos, otakmu itu cerdas, kenapa kau sia-siakan hanya menjadi seorang cleaning service?"


"Sssst."


Agam meletakkan telunjuknya di hidung, agar Burhan tidak terlalu keras menyebut pekerjaan Agam.


"Aku mohon jangan terlalu kencang, karena istriku tidak tahu pekerjaan ku sebelumnya, karena aku tidak pernah mengatakannya, dia pasti tidak mengizinkanku kalau,tau," imbuh Agam.


"Benarkah? kalau begitu, kau pindah saja dari sana, aku akan memberikan kamu jabatan di sini, pergunakan otak kecerdasan mu itu untuk membangun perusahaan yang lebih maju, ayo bangkit! mungkin suatu saat nanti kau bisa menanam saham kepadaku, sedikit demi sedikit, dan kemudian kau bisa bangkit kembali," desak Burhan dengan semangat berapi-api.


"Kenapa Tuan Burhan ingin membantuku?"


"Karena kau suami Kiara, Kiara adalah anak kecil yang pernah kukenal, dia adalah anak yang baik dan juga periang, aku tidak ingin dia terlantar apalagi sampai mempunyai utang pada orang lain, dia itu sudah menderita sejak belia, ayahnya bekerja di perusahaan ku, kemudian dia berjudi ,mempunyai banyak utang, kasihan Kiara bekerja untuk menghidupi keluarganya. sekarang dia harus bahagia, aku akan memberikan kamu gaji yang lebih banyak."


"Tapi... bagaimana kalau aku tidak mau!"


Agam memang keras kepala, pasti karena gengsi.


"Aku akan merebut Kiara darimu!"


"Ha!?" kaget Agam.


"Mungkin jodoh kami sudah habis."


"Pikirkan sekali lagi Gam!"


"Bulan ini, aku akan menerima tantangan Tian Hendri. Agar aku bekerja di perusahaan nya selama satu bulan."


"Tolong rahasiakan ini? aku tidak ingin dia tahu."


"Baiklah."


Agam pun kembali membuka pintu, mempersilahkan Kiara masuk kembali.


"Jadi apa yang kalian bicarakan? serius amat, sampai wanita saja tidak boleh mendengarnya." kata Kiara.


"Hanya membicarakan Clara."


"oooh... jadi gimana Abang? apa kau menerima pekerjaan ini?"


"Kiara, aku perlu berpikir dulu, aku harus menyelesaikan pekerjaan di perusahaan Pa Hendry. barulah aku bisa menjawabnya."

__ADS_1


"Abang harus bersedia bekerja di sini,, pokoknya harus bekerja di sini, titik."


"Kiara, kamu ngotot sekali, kenapa sih?"


"Sudah kubilang, kalau ini adalah permintaan jabang bayi...."


"Apa? jadi Kiara sedang hamil?"


"Ya Pak, aku sedang hamil, sekitar 3 bulan lebih."


"Alhamdulillah, aku bakal punya cu_cu." ucap burhan bingung antara mau mengatakan keponakan atau cucu.


" Hi hi hi. jadi Pa Burhan, pekerjaan apa yang akan kau berikan kepada suamiku?"


"Aku sudah menyediakan sebuah pekerjaan yang menjanjikan, itu tergantung Agam apa bersedia?"


"Abang harus menerimanya," desak Kiara lagi.


"Iya tapi aku perlu memikirkannya dulu, Kiara."


"Tidak pokoknya pokoknya Abang bekerja di sini, aku tidak mau tahu."


"Kiara, kamu kenapa sih? ngotot banget, aku sudah bilang aku akan memikirkannya, Kiara."


Tiba-tiba Kiara terdiam dan menatap sendu wajah sang suami, dan entah kenapa air mata itu pun mengalir


"Kiara, kenapa kau menangis? Apa aku berkata salah dan menyakitimu?" tanya Agam heran.


Tiba-tiba Kiara memeluk sang suami, air matanya tak bisa lagi di bandung, dia tumpah kan semua air mata, sehingga membasahi kemeja sang suami.


"Kiara kenapa, kok menangis?" tanya Burhan juga bingung.


"Aku tidak ingin kamu bekerja di perusahaan itu, aku tidak ingin, aku sudah tahu semua pekerjaan Abang di sana. Kemarin aku kantor Abang, aku melihat pekerjaan Abang, aku tidak pernah rela kalau Abang bekerja seperti itu, lebih baik kita jualan bubur keliling saja...."


"Jadi?"


"Ya, Abang jadi Cleaning service kan? aku tidak mau, tidak rela bang kalau Abang kerja di sana, aku pasti akan terus kepikiran tiap hari, dan akhirnya aku akan sakit, dan kalau sakit, aku pasti akan keguguran...."


"Kiara, apa yang kau katakan ini? kenapa kamu berbicara ngawur sekali? baiklah aku pasti berhenti, tapi bulan depan, tapi tolong beri aku waktu 1 bulan ini."


"Janji!" suara girang Kiara ini membuat Agam dan Burhan tersenyum.


"Ya, aku janji."


Kiara kembali memeluk Agam begitu juga agam.


"Terima kasih." batin Agam.

__ADS_1


Sementara Burhan merasa sangat terharu melihat Kiara bahagia.


bersambung


__ADS_2