
Aswin coba membujuk Mentari untuk keluar dari kamar, namun ternyata dia tidak mudah untuk di rayu. Merajuk tuanya kini kumat. Apa perlu di rayu dengan kata kata yang romantis ya?
"Mah, apa yang kau inginkan? Aku akan memenuhinya!" tawar Aswin pada sang istri.
"Kau hanya bisa merayu, namun tidak bisa membuktikan," sahut Mentari.
"Mah, aku janji, kali ini aku pasti akan menepati janjiku," sahut Aswin lagi.
"Aku meragukan kata-katamu Mas!" sahutnya lagi.
"Kau katakan saja apa mau mu?" tanya Aswin lagi lembut.
"Aku mau bekerja di kantor itu, dan menjadi Direktor utama, sementara kau diam di rumah menungguku pulang bekerja!" ketusnya.
"Apa?"
Semua orang yang ada di luar pun kaget bersamaan, Agam dan Kiara tersenyum setelah kagetnya hilang.
"Mentari..., itu keterlaluan, kau itu wanita, mana boleh mencari nafkah untuk suami, harusnya suami yang bekerja!" sahut Aswin.
"Baiklah, kalau begitu, jangan pernah bermimpi untuk kembali bersamaku lagi!" ketus Mentari lagi.
Agam dan Kiara memilih diam dan tak ikut campur, mereka hanya sesekali tersenyum sambil saling pandang.
"Mah, ayolah! Kita bukan anak kecil lagi, malu di lihat anak-anak, dan pasti cucu kita juga sekarang dia sedang menertawakan kita Mah!" bujik Aswin.
Sontak saja Kiara dan Agam pin tertawa mendengar candaan sang Ayah tersenut.
"Jangan membujukku dengan kata-kata aneh Mas, aku hanya mau itu, hanya itu syarat agar kau bisa kembali kepadaku," teriaknya dari dalam kamar.
"Agam, ayo bujuk mamah mu, aku tidak mengerti pemikirannya, masa iya dia yang bekerja aku yang diam di rumah? Apa dia juga ingin aku yang memasak dan mencuci bajunya? Aneh kan?"
"Sudahlah Pah, terima saja tawaran Mamah, lagian nanti dia tidak akan sanggup menghandle perusahaan besar itu, paling ujug-ujungnya juga bakal minta bantuan aki."
Agam percaya diri sekali dengan kata-katanya sendiri.
"Jadi kau mendukung mamah mu memperlakukan aku demikian? Maksudmu, kau setuju mamah mu jadi Direktur utama?" kaget Aswin pada Agam.
"Beri saja dia kesempatan Pah, kita liat saja nanti, paling sampai satu minggu dia akan ngacir dan pijit-pijit kepala sendiri kok," sahut Agam.
"Tapi bagaimana kalau dia bertahan sampai akhir, karena dia ingin berkarir beneran?" ucap Aswin khawatir.
"Ah, nggak mungkin Pah,"sanggah Agam lagi.
Sementara Kiara hanya diam dan senyum senyum sendiri mendengar pasangan suami istri yang baru bertemu itu saling adu mulut.
" Yakin?" tanya Aswin masih ragu.
"Iya kan saja Pah, biar malam ini aku carikan penghulu untik menikahkan kalian lagi," ucap Agam.
"Baiklah Mah, tapi kau mai kan kembali kepadaku?" tanya Aswin masih ragu.
__ADS_1
"Iya."
"Baik, sekarang kau keluarlah, aku mau kita bicara!" ajak Aswin.
"Apa kau janji?" tegas Mentari sekali lagi.
"Iya, aku janji!" sahut Aswin tidak ingin berdebat.
Ceklek...
Mentari pun keluar dari kamar dan berjalan menuju sofa kembali.
"Jadi Mamah yakin, ingin bekerja di perusahaan sebagai Direktur Utama? Apakah nanti nggak tambah pusing?" tanya Agam menggoda sang Mamah.
"Yakin kok! Apa kau meragukan kemampuanku?" balas sang Mamah lagi.
"Baiklah Mah, jadi aku akan menjadi anak buah mu ya!" goda Agam.
"Ah kau ini, jangan meledekku Gam!" seru sang Mamah.
"Ha ha ha, aku takut nanti kena depak mamah sendiri," imbuhnya sambil tertawa.
***
Semuanya sudah kembali seperti sedia kala, dan hanya satu yang berubah. Mentari Mamahnya Agam setiap pagi pergi ke kantor, sementara sang Suami melayani untuk makan pagi.
Kiara juga sudah berhenti jadi penjual bubur, karena Agam kini kembali memiliki kekuasaan di perusahaannya. Sementara sang Mamah hanya duduk santai di kantor pribadi Agam.
"Gam, aku tidak ingin Papah mu tau, kalau aku hanya duduk cantik di sini. Aku ingin memberi pelajaran padanya."
"Ya pelajaran, gimana rasanya melayani istri setiap pagi di rumah, menggosok baju dll."
"Mah, mamah ada-ada saja, trus? Selanjutnya bagaimana?" tanya Agam.
"Aku akan begini setiap hari, menemani mu ngobrol. Oh iya, aku akan mengalih namakan perusahaan ini atas namamu secepatnya, tapi awas! jangan sampai kau tertipu lagi. Kau jangan pernah percaya pada siapapun!"
"Baiklah. Aku mau meeting dulu mah, ini pertama kalinya aku akan meeting, setelah satu bulan menjadi pekerja keras. Apa mamah minta di temani seseorang?" tanya Agam.
Hari ini Agam akan meeting ke perusahaan rekan bisnisnya di gedung lain.
"Tidak usah, aku akan berjalan-jalan layaknya Bos, kau pergi saja!" titahnya.
"Baik Mah," sahut Agam.
Agam pun pergi meninggalkan tempat tersebut menuju tempat meeting siang ini. Tak sampai 30 menit, Agam lin sudah sampai di sebuah perusahaan sahabatnya Halim.
Setelah memarkirkan mobilnya, Agam pun masuk menuju ruangan yang telah di beritahukan oleh Halim lewat chat.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Tuan Agam, akhirnya kau kembali, senang bisa bekerjasama denganmu, ayo masuk!" ajak Halim.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke ruangan meeting, ternyata belum ada yang datang. Hanya Halim dan Agam yang masuk ke ruangan tersebut.
"Silahkan duduk Tuan Agam!"
Agam dan Halim pun duduk bersebelahan. Tak berapa lama, rekan-rekan bisnis Halim pun datang satu persatu.
Dan akhirnya, kursi di ruangan meeting itu pun penuh, tanpa sisa.
"Baiklah, karena semua tamu ku sudah datang, baiknya kita mulai saja rapat ini, sebelumnya. Assalamualaikumwarahmatullah...."
"Waalaikumsalamwarahmatullahi...."
"Sebelimnya, aku ucapkan selamat datang kepada Tuan Agam yang baru bergabung di bisnisku ini, mudahan kita bisa menjalin kerjasama yang baik," ucap Halim.
"Apa? Agam?" gumam Hendri, yang ternyata juga ada di rapat tersebut.
"Tuan Hendri sudah mengenalnya?" bisik pembisnis lain yang ada di sampingnya.
"I_iya." sahutnya gugup.
"Tuan Agam, silahkan berdiri perkenalkan diri Anda!" titah Halim.
"Oh iya, terima kasih banyak kepada sahabatku Tuan Halim, yang telah mempercayakan kerjasama ini juga dengan perusahaan ku, mohon bimbingannya kalau ada kekeliruan dalam tindakanku."
Setelah memperkenalkan diri, Agam pun duduk kembali. Hendri sesekali menatap tajam ke arah Agam, seakan dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Pembahasan tentang perusahaan berjalan dengan naik dan lancar. Hingga rapat ini pun di tutup oleh Halim.
Mereka pun keluar satu demi satu, sementara Halim sedang berdiri di luar pintu dan menyalami tamunya satu persatu.
Sementara Henri memang sengaja belum beranjak dari duduknya, sepertinya, dia ingin menemui Agam.
"Agam..., apa kau yakin ingin menginvestasikan saham mu di sini? Bukankah perusahaan mu sedang lenyap di curi pamanmu sendiri?" ejek Hendri.
"Itu bukan urusan anda Tuan, kita jalani saja Bisnis kita masing-masing. Nanti kita akan melihat hasilnya."
"Ha ha ha, sombong sekali kau Gam!"
"Tidak Tuan, aku merasa tidak punya apa-apa sekarang, makanya aku ingin investasi saham di perusahaan Tuan Halim ini."
"Kau liat saja nanti! Paling kau akan gigit jari."
Hendri pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan tersenyum sinis pada Agam.
Agam memang sekarang banyak diam, dan tidak ingin meladeni orang yang menurutnya tidak penting.
"Tuan Halim, kalau begitu aku pamit dulu!" ucap Agam lada Halim.
"Terima kasih Gam, mudahan kerjasama kita lancar. Aku sangat bangga kau mau bekerja sama denganku," puji Halim
"Ah jangan berlebihan, baiklah, aku pamit."
__ADS_1
Agam pun meluncur pergi meninggalkan gedung tersebut menuju pulang ke rumahnya, dia sangat senang bisa bekerja lagi dengan perusahaan ternama lainnya.,sehingga dia melupakan sang ibu yang menunggunya di kantor.
Sifat manusiawi kalau semakin tua itu semakin pelupa.