Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Fathan akan Melamar


__ADS_3

Fathan tampak menangis di atas gundukan sang ibu walaupun Clara hanya sebagai ibu kedua, namun dia sangat menyayangi Clara dengan sepenuh hati nya.


Fathan anak berusia 5 tahun tampak sangat sedih, dia terus menangis dan memanggil-manggil Clara pilu..


"Ibu ..., Ibu ..., Kenapa kau tinggalkan Fathan? bahkan Ibu belum pernah mengantar Fathan ke sekolah, Ibu mengapa pergi Bu. Hik hik hik." Fathan terus menangis.


Sementara Kiara Agam dan juga Mentari hanya bisa memandangi Fathan, sesekali mereka pun akan mengusap air matanya terutama Agam.


"Akhirnya seperti ini jalan hidup yang kita tempuh, Aku tidak menyangka ternyata kau lebih dulu pergi, Aku tidak pernah berpikir sebelumnya, kita akan terpisah dengan cara yang seperti ini," ucap Agam di dalam hatinya.


"Sayang..., sebaiknya kita pulang. lihatlah langit mulai mendung!" ajak Mentari kepada Kiara, sambil meraih tangan Kiara membawanya berdiri. Sementara Kiara yang tampak hamil besar seperti kesulitan untuk bangun dari duduknya.


Clara sejak masuk rumah sakit dan pingsan, selalu bolak-balik ke rumah sakit, karena penyakit yang dideritanya semakin parah, hingga akhirnya dia sempat beberapa hari koma, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat jam 1 malam.


"Iya Mah, Ayo Fathan, kita pulang! nanti hujan, nanti malah kita yang sakit."


"Terus bagaimana dengan Ibu.l? kenapa kita meninggalkannya di sini? Apakah ibu akan kehujanan?" tanya Fathan polos.


"Sayang ..., sebenarnya tubuh ibu itu setelah dikubur pasti diangkat Tuhan ke surga, jadi Fathan jangan khawatir ya! Fathan doain saja mudah-mudahan Ibu bisa secepatnya diambil dan di bawa ke surga!" ucap Kiara membujuk.


"Benarkah? jadi ibu akan lebih dulu pergi ke surga sebelum kita?" tanyanya.


"Iya Sayang, doain ibu ya! Fathan juga harus rajin sholat setiap sholat Fathan harus doain ibu, biar Ibu segera diangkat di,bawa ke Surga, karena orang tua itu hanya mengharapkan doa dari anak-anaknya."


"Baiklah. Bunda aku pasti mendoakan ibu. kalau begitu ayo kita pulang! Fathan ingin segera sholat dan mendoakan ibu, biar ibu segera dibawa Allah ke surga," ucap polos Fathan.


Dia pun menarik tangan Bunda berjalan mendekati mobil, sementara Agam dan Mentari mengiringi di belakang, semua orang juga sudah pergi dari pemakaman Clara. Aswin tampak menatap dari kejauhan hingga saat ini masih tidak memberitahukan pada istrinya Mentari, bahwa dia pernah menikahi Clara, mungkin rahasia yang akan membuat rumah tangganya retak ini, akan dia simpan sampai mati bersama Agam dan juga Kiara, yang bungkam, tidak menceritakan apapun kepada Mentari.


***



Kita kenalan dengan Fathan besar yuk.


Ini adalah Fathan


Anak Kiara dan Agam.


*************


20 tahun telah berlalu. Pak Aswin pun sudah pergi meninggalkan Mentari dan membawa rahasianya sampai mati. Agam pun sudah pensiun dari kantornya karena sudah berusia 65 tahun. Dan kadang sering lupa hal-hal penting.


Mentari juga sudah sangat tua dan mulai pikun. Dia hanya duduk di kursi rodanya, atau berjalan pelan dengan tongkatnya.


Fathan dan Kiara lah yang kini menghandle perusahaan besar juga perusahaan cabang. Sementara Agam juga sering ikut dan hanya duduk manis di ruangan Pribadi Kiara.


"Bunda, hari ini aku akan mengajak Naira ke mari, aku akan melamarnya minggu depan," ucap Rangga.


"Baiklah Nak, tapi orangtuanya sudah merestui kalian kah? Kau harus bisa mengambil hati orang tua Naira," pinta sang Bunda.

__ADS_1


"Sudah Bunda, Bahkan mereka yang menyuruhku untuk melamarnya secepatnya."


"Bagaimana dengan keluarganya? Apakah orang baik-baik?"


"Ayahnya hanya seorang marbut mesjid di dekat rumahnya Bunda."


Fathan pun makan dengan tergesak. Ini kali pertama Fathan membawa Naira ke rumah besar nya, karena selama ini Fathan hanya berpura pura menjadi orang biasa.


"Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak!" pesan Kiara.


"Bunda, boleh nggak aku beli ini dia motor matic hari ini, aku ingin kasih kejutan di hari ulang tahunnya," izin Fathan.


"Tentu saja boleh, selama ini kan kamu bekerja di perusahaan nggak pernah minta macam-macam?" sahut Kiara.


"Ada apa sih? anak dan Ibu ini berisik sekali dari tadi, nggak ngajak-ngajak kompromi sama Papa, apa karena papa sudah tua? Jadi nggak di ajak," ucap Agam yang baru datang dari kamar.


"Papah, kan papah tadi mandi, aku udah selesai nih, Pah, aku berangkat dulu ya!"


Fathan pun mencium tangan Agam dan juga pipinya, begitu juga dengan Kiara.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tak terasa kita sudah memiliki anak yang besar ya! Sebentar lagi punya mantu, pasti bakal seru rumah ini," ucap Agam.


"Iya Bang, hari ini ada rapat jam 2, apa Abang akan ikut rapat?" tanya Kiara.


"Masa sih Bang, kamu tetap the best buat ku, selamanya, sekarang ayi makan#"


Kiara dan Agam pun makan pagi bersama, sementara Mentari tampak masih enggan beranjak dari halaman rumah. Masih berjemur sampai jam 8.30. Di temani sang pembantu pribadinya.


"Helloooo, Bundaaaa ...emch... Papah ....emch."


Gadis tomboy dengan baju kaos dan celana katun 1/8 itu tampak sangat ceria, tentu saja dia adalah Nehla, anak ke dua Agam dan Kiara yang sekarang berusia 14 tahun.


"Ayo makan!" ucap Agam.


Nehla pun segera mengambil piring dan juga nasi.


"Bunda, apa Kak Fathan jadi mengajak pacarnya ke sini hari ini?" tanya Nehla.


"Iya, itu dia udah mau jemput. Kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Kiara.


"Pernah sih di kampus, karena Kakak satu kampus dengannya aku kan pernah ikut ke kampus Kakak," cerita Nehla pada sang Bunda.


"Bagaimana orangnya, apakah cantik?" tanya Kiara penasaran.


"Tentu saja Bun, bahkan Dengan fotonya itu nggak ada apa-apanya, dia sangat cantik dan mempesona, bahkan saat itu, semua mata lelaki menatap kecantikannya." ucap Nehla menceritakan.

__ADS_1


"Emang dia nggak pakai kerudung?" tanya Kiara heran.


"Nggak lah Bun, di sana kampus umum kan? Jadi bebas."


"Kamu kapan pakai kerudungnya?"


"Nanti lah Bun, aku masih muda."


"Kamu ini selalu ngeyel kalau di bilangin."


"Ha ha ha, pasti Bunda juga seperti aku dulu kan?"


Kiara hanya diam tanpa menjawab. Kiara ingat, seusia Nehla dulu, dia sudah banting tulang mencari uang untuk ongkos sekolah, dan juga beli alat tulis.


Dalam keheningan hingga acara sarapan pagi ini tampak hening dan Kiara juga sampai meneteskan air matanya. Mengingat ibu dan ayahnya juga sudah meninggal sejak 7 tahun silam.


***


Fathan tampak memarkirkan mobilnya di halaman mesjid, karena kebetulan rumah Naira di samping mesjid sebagai seorang marbut, dia mendapatkan rumah dinas dari kampung tersebut.


Beberapa orang menatap mobil mewah yang parkir itu, tak terkecuali ibu Naira yang lagi belanja sayur.


"Keren sekali mobil orang itu, kapaaaaan ya kita punya yang begituan?" ucap seorang ibu-ibu yang sedang belanja sayur.


"Ah cuma dalam Halu saja kita bisa naik mobil begituan," sahut yabg lain.


Sementara Ibu Naira hanya menatap mobil Fathan sekilas, dan kembali memilih sayuran.


"Eh Bu, lihat deh! Seperti pacar Naira?" ucap ibu yang lain.


Saat Fathan turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Naira yang ada di samping mesjid.


"Masa sih? Paling dia nyewa, kan sekarang enak saja kalau mau bergaya," ucap Ibu julid yang lain.


"Maaf aku duluan," ucap Ibu Naira yang merasa tidak enak mendengar gosip calon mantunya.


"Kalau itu mobil pacar Naira, jangan lupa ajak aku ke mall ya Bu!" teriak Ibu yang lainnya. Yang memang akrab dan baik dengan Naira.


"Heh, mimpi kaleeee... " sahut Ibu Julid.


Sementara Naira kaget saat melihat penampilan Fathan hari ini tampak sangat berbeda. Begitu tampan dan berkarisma kayak Bos bos berduit.


"Apaan,sih,kami, bergaya kaya bos bos aja!" gerutu Naira saat membuka pintu.


Naira sebenarnya terpesona dengan penampilan Fathan hari ini, namun dia merasa aneh dengan penampilan sang pacar.


"Emangnya kamu nggak suka ya punya pacar Bos?" tanya Fathan menggoda.


"Nggak, karena bos berduit itu paling pacarnya ada di mana-mana," sahut Naira.

__ADS_1


Fathan tersenyum mendengar jawaban Naira yang polos dan apa adanya.


Nex


__ADS_2