
Salam Sayang🥰
Agam tampak beringas mendaki bukit kembar Clara, membuat Clara heran. Apa yang sedang terjadi dengan Agam? ini bukanlah cinta, tetapi sebuah emosi yang ditumpahkan Agam padanya. Namun walaupun begitu, Clara tetap bisa menikmati sentuhan demi sentuhan Agam tersebut, bahkan Clara tidak berani menanyakan hal itu, dia takut pertanyaan Clara malah akan merusak suasana Intens mereka.
Agam hanya diam, begitu juga Clara, hanya ******* demi ******* yang kadang terdengar lirih. Hingga Agam melepaskan semuanya dengan sekali hentakan. Saat Clara lebih dulu tergelepar bagai ikan yang pasrah terdampar di pantai. Hi hi hi.
***
Pagi menjelang, tak ada kata-kata sedikitpun dari mulut Agam, dia hanya duduk di kursi di depan meja makan. Sementara Kiara, dia tahu bahwa suaminya itu sekarang sedang kesal padanya, dia terus mengerjakan rutinitasnya sebagai istri atas permintaan Agam, untuk memasak dan melayani Agam setiap makan pagi dan makan sore.
Setelah semua makanan sudah tersaji, Kiara pun duduk di samping Agam dan mengambilkan nasi dan juga lauk pauk, tiba-tiba Agam menangkap tangan Kiara, dan menatap wajah istrinya tersebut.
Agam yang terlihat habis mandi basah karena akan pergi ke kantor, mungkin itu hal biasa saja yang dilihat Kiara, karena Kiara tidak tahu pergumulan panas antara Agam dan Clara tadi malam. Agam terus menatap wajah Kiara.
"Apakah dia sudah memadu kasih dengan Adi? Apakah mereka saling bercum*bu berbagi kehangantan?"
Pertanyaan demi pertanyaan kini bertumpuk di kepala Agam. Rasa cemburu dan membuat dadanya terasa panas oleh monolognya sendiri.
"Kiara, Apa kau jujur tidak pernah melebihi hubungan terlarang dengan Adi?"
Akhirnya Agam buka suara, dengan menanyakan hal yang aneh menurut Kiara.
"Bang, kenapa kau meragukan itu? bukankah kau sudah membuktikannya sendiri? darah itu sebagai bukti bahwa aku hanya milikmu," ucap Kiara.
"Tapi kenapa aku masih ragu padamu? lagian kenapa lelaki itu lebih tampan dariku?" ucap Agam asal. Agam merasa minder karena melihat ketampanan Adi.
"Bang, dia itu tidak tampan, hanya saja usianya yang masih muda. Abang lebih tampan kok! Percayalah! Abang tidak usah memikirkan hal yang sudah berlalu. Sekarang makanlah, nanti Abang terlambat ke kantor," titah Kiara.
"Aku ingin kau hari ini ikut aku ke kantor!" ajak Agam.
"Ikut ke kantor lagi?" Kiara heran.
"Ya, Aku ingin kau ikut ke kantor," jelas Agam.
__ADS_1
"Hei hai, kalian sudah mau makan? Aku ikut dong, kenapa nggak ngajak-ngajak," cerocos Clara yang juga tampak mandi basah, dan bahkan dia sengaja mengibas-ngibaskan rambutnya dengan senyum bahagianya pagi ini, tidak biasanya dia bangun terlalu pagi seperti ini.
"Silahkan Nyonya," sahut Kkara.
"Kiara, mulai sekarang aku tidak ingin kamu memanggil Clara sebagainya Nyonya, karena kalian di rumah ini sama-sama istriku. Aku ingin kau memanggilnya kakak saja," titah Agam.
"What?" kaget Clara, saat mendengar perkataan suaminya tersebut.
"Iya, aku ingin Kiara memanggilmu kakak, tidak Nyonya," sahut Agam.
"Tapi mengapa bisa begitu?" protes Clara.
"Pokoknya aku tidak mau lagi mendengar, Kiara memanggilmu Nyonya, karena kalian berdua di sini punya hak yang sama," ucap Agam .
Clara terdiam melihat wajah Agam tampak sedikit mengeras, dan sepertinya Agam sedang marah. Akhirnya Clara mengambil piring dan juga ikut makan di meja tersebut.
"Mamah, ayo makan!" ajak Kiara, saat melihat ibu mertuanya pun berdiri di depan pintu dapur.
"Iya, ada apa Clara? Bukankah aku ibu mertuanya?" ucap Nyonya Mentari.
Semua ini menambah bingung Clara. Bagaimana mungkin dalam sekejap mata, panggilan mereka kini berubah? tentu saja Clara merasa kesal, karena sekarang tidak ada lagi status antara Kiara istri muda, yang ingin diperlakukannya seperti pembantu, karena seperti yang Agam katakan, antara Kiara dan Clara mereka punya hak yang sama di rumah itu.
Clara pun segera menghabiskan makannya dengan perasaan yang sangat kesal jungkie balik.
"Dosa apa yang telah aku lakukan? mengapa jadi begini?" batin Clara
Setelah menyelesaikan makanannya, dia pun tergesa-gesa pergi ke kamarnya, karena merasa tidak betah tinggal di dapur menyaksikan sang mertua tampak akrab berbicara dengan Kiara.
Begitu juga Agam, setelah selesai makan, Agam pun pergi bersama Kiara, Agam benar-benar mengajak Kiara ke kantornya, tanpa sepengetahuan Clara.
***
Agam dan Kiara sudah berada di kantor, tentu saja mereka sangat menikmati siang ini berdua di ruangan khusus mereka, Agam merayu gombal istrinya setelah perselisihan kemaren.
__ADS_1
Sedang Clara baru tahu kalau Agam membawa Kiara ke kantornya.
Tak tak tak
Ketika suara derap kaki dari sepatu Clara terdengar mendekati ruangan Agam. Pak Haki pun panik, saat melihat Clara datang ke kantor tersebut. Sedangkan pak Haki tau, kalau saat ini tentu saja Agam sedang berduaan di ruangan rahasianya.
"Nyonya besar," sapa Pak Haki.
"Aku ingin bertemu mas Agam."
Clara pun memegang handle pintu. Sementara Pak Haki tentu saja tidak bisa melawan kehendak Nyonya besarnya tersebut, namun saat Clara memutar handle itu, ternyata terkunci dari dalam.
"Aku ingin masuk, tolong berikan kuncinya padaku!" ucap Clara.
"Maaf Nyonya, tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian, aku adalah Bos di sini, cepat!" gertak Clara.
Pak Haki pun terpaksa memberikan kunci tersebut, saat Clara masuk, karena kunci pintu utama milik Agam, menyatu dengan kunci pintu rahasia, jadi kunci yang ada di pintu tersebut telah diambil Agam dan di bawanya untuk membuka pintu rahasia.
Ruangan tersebut tampak sepi, Clara pun menutup pintu dan menatap satu-satunya pintu yang dicurigai Clara mereka sedang ada di dalam sana, perlahan dia mendekati pintu itu, Clara kaget, saat mengetahui pintu tersebut tidak terkunci, bahkan sedikit terbuka, perlahan-lahan dia menempelkan telinganya ke arah pintu tersebut, tentu saja Clara kaget karena apa yang dia dengar sungguh sangat menyakitkan baginya, saat mendengar ******* dari dua orang yang sedang dimabuk asmara di dalam. Clara gugup dag dig dug.
Perlahan Clara mundur dan menjauh dari pintu tersebut, namun ada perasaan penasaran yang kuat mendorong jiwanya untuk kembali mendorong pintu itu.
Kembali Clara maju dan menempelkan telapak tangannya di daun pintu siap untuk mendorong. Perasaan yang bergemuruh seakan bisa di dengar oleh jarak 1 meter dari dirinya berdiri.
"Aku harus melihat mereka, aku harus memastikan kalau yang aku dengar memang sama dengan perkiraan otakku? Atau malah ini hanya pendengaran ku saja?" batinnya.
Perlahan Pintu itu mulai bergerak oleh dorongan tangan Clara. Sedikit demi sedikit mulai terbuka lebar dan....
Tentu kaget syok juga marah. Katika pemandangan yang luar biasa itu terpampang nyata di matanya.
Bersambung
__ADS_1