Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Bertemu Mantan Istri


__ADS_3

Agam pulang ke rumah dengan di hiasi senyum kebahagiaan, dia sangat senang bisa mendapatkan pekerjaan, walau hanya sebagai cleaning service.


"Kiara, aku akan membahagiakanmu, aku akan menjagamu dan anak kita. Maafkan aku, karena belum bisa memberikan kebahagiaan, Sayang, maafkan suami mu yang lemah ini. Mudahan Allah membalas perbuatan Alex," gumamnya di sepanjang jalan pulang.


"Aku harus membeli rujak sebelum pulang, Kiara pasti sedang ngidam dan ingin yang acem-acem." lirihnya.


Dia pun berhenti saat melihat gerobak yang menjual berbagai buah, kemudian membeli beberapa bungkus untuk Kiara.


"Paman, ini uangnya."


"Terima kasih Tuan."


Agam kembali melanjutkan perjalanannya. Namun dia juga merasa ingin membeli makanan di sebuah restauran, entah mengapa dia sangat ingin makan ayam bakar. Membayangkannya saja membuat air liurnya ingin menetes.


"Sebaiknya aku juga membelinya."


Agam pun berhenti di pinggir jalan, di sebuah restauran yang lumayan besar. Dia pun berjalan mendekati restauran tersebut. Namun alangkah kagetnya dia, saat melihat Mobil Clara terparkir manis di halaman restauran itu. Namun itu tidak mengurungkan niatnya untuk membeli makanan di sana.


Dengan santai Agam masuk dan memang karena penasaran, Agam pun sambil menyapu ruangan itu dengan matanya. Dan benar saja terlihat Clara sedang makan dengan Alex di meja makan yang tak begitu jauh dari pintu utama.


Agam mendekati meja itu, apa yang akan di lakukan Agam? Dengan santai dia berjalan dan berdiri tepat di depan meja mereka.


"Clara, selamat ya, kalian akan menikah bukan?"


Dooor


Betapa kagetnya Clara mendengar suara itu, suara yang sudah lebih 10 tahun ini menemaninya, namun kini hancur hanya dengan sekejap.


"Mas, ayo makan!" ajak Clara merasa gugup.


"Tidak usah, aku hanya sebentar kok, hanya ingin membeli makanan buat Kiara, karena sekarang,dia sedang mengidam," perkataan Agam itu membuat Clara terhenti dan bagai di tusuk seribu belati. Agam dengan sengaja mengatakan itu demi membuat Clara sakit.


"Agam, duduklah dulu, biar aku traktir," sahut Alex.


"Dasar manusia tidak tau malu, kalau saja kau bukan pamanku, sudah tentu aku akan mematahkan lehermu!" gerutu Agam pelan.


Agam pun pergi meninggalkan mereka dengan amarah. Kemudian dia menuju pemesanan untuk membeli.


"Tenang Agam, jangan emosi, ada Kiara dan anakmu yang sedang menantimu di rumah," batinnya menenangkan diri.


Setelah memesan beberapa menu, Agam pun pulang tanpa menoleh ke arah Clara. Sementara Clara menatap dedih kepergian Agam Rupanya hatinya masih sangat mencintai Agam, namun cintanya kandas karena Perusahaan yang telah di curi dari mereka.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku, aku akan kembali padamu, kalau aku berhasil mendapatkan surat surat penting kita." batinnya..


Sementara Agam sudah berada di dalam mobilnya, dengan menarik beberapa nafas dan menghembuskannya kasar, Agam pun menghidupkan mesin kendaraannya.


"Bismillah."


Agam pun meluncur menuju pulang ke rumah. Sebenarnya hatinya pun sakit, saat tadi dia melihat Clara sedang berduaan dengan Alex pamannya.


"Clara, bagaimana bisa kau merencanakan hal bodo*h itu. Hanya untuk mendapatkan kembali perusahaan itu, kau rela mengorbankan perkawinan kita?" batinnya.


Tanpa terasa Agam sudah sampai di halamannya, dengan wajah yang berseri seri, Agam pun turun dan membawakan rujak juga ayam bakar untuk sang istri.


"Assalamualaikum, Mah, Sayang, Ibu! Kalian di mana?" panggilnya dengan terus masuk ke dalam.


"Wa alaikum salam, kamu sudah pulang? Bagaimana? Apa kau mendapatkan pekerjaan?" tanya Mamahnya.


"Alhamdulillah dapat Mah, mana Kiara?" tanyanya.


"Di kamarnya, mungkin lagi istirahat, kasian dia sedang hamil."


"Ini ayam bakar, mama makan saja duluan sama Ibu, biar aku menemani Kiara dulu," ucapnya sambil berjalan menuju pintu.


"Iya Gam."


"Sayang, maafkan aku, maafkan Papa juga Nak!" serunya sambil mengelus perut Kiara.


Agam pun memijit mijit kaki Kiara, hingga Kiara terbangun.


"Bang, sudah datang?"


Kiara pun membuka mata dan menatap suaminya, melihat senyum kebahagiaan Agam, Kiara pun sudah tau, kalau Agam pasti mendapatkan pekerjaan.


"Iya Sayang, aki membelikan rujak untuk mu, ayo kita makan, ada ayam bakar juga," ajak Agam.


Kiara pun bangun dan berdiri perlahan. Agam dengan penuh kasih sayang merangkul sang istri dan menggandengnya menuju dapur.


"Ayo Sayang, kita makan!" ajak sang mertua yang sudah terlebih dahulu di dapur sudah menyajikan makanan di atas meja.


"Ikan itu masakan Mamah?" tanya Kiara heran, karena melihat menu ikan di atas meja. Ikan yang tadi pagi dia masukan dalam kulkas.


"Iya Nak," sahutnya.

__ADS_1


"Emang Mamah sudah bisa masak?" ejek Agam sambil tertawa.


"Kau jangan meremehkan Mamah! Setelah Mamah punya menantu yang pandai memasak, tentu saja Mamah juga harus pandai memasak, oh iya Kiara, apa kau sudah membicarakan mengenai wanita tadi pagi?" tanya Ny.Menyari.


"Emang ada apa Mah?" Agam penasaran.


"Nanti setelah makan aku ingin berbicara Bang, sekarang kita makan dulu," ajaknya.


Mereka pun makan berempat, suasana yang sangat harmonis. 3 wanita itu tampak bahagia, sementara Agam, sesekali dia melirik wajah Kiara. Hatinya merasa sangat sedih karena tidak bisa memberi lebih. Harta yang selama ini berlimpah malah hilang begitu saja.


"Bang, ayo makan yang banyak, tidak usah di hemat, hasil jualan bubur pun sudah cukup buat kita makan banyak setiap hari," ucap Kiara sambil kembali mengambilkan nasi Agam yang sudah hanis di piring.


"Oh, iya, besok aku akan mulai bekerja jam 5 pagi, aku harus sudah berangkat."


"Kok pagi sekali Bang, kayak mau bukain pintu ke pintu aja," sahut Kiara.


Padahal ya memang dia tukang buka pintu dan tukang sapu.


"Tempat kerja aku jauh Sayang, aku terpaksa lebih pagi berangkatnya. Agar aku bisa sampai ke sana lebih awal," bohongnya.


"Oh baiklah," sahut Kiara.


"Emang kamu kerja jadi apa?"


Door


Pertanyaan sang Mamah, membuatnya gugup dan grogi, bagaimana dia mengatakannya? Apakah dia harus berbohong? Agar orang terdekatnya ini bahagia.


"Itu hanya perusahaan biasa Mah," ucap Agam.


"Baiklah, ayo habiskan makan mu, biar kita bersantai duduk di teras, sambil makan rujak," titah sang Mamah.


Selesai makan,, mereka pun duduk santai di teras rumah. Kiara sangat senang. Suaminya sangat perhatian padanya.


"Bang, Tadi mama Adi ke mari." Kiara mulai membuka pembicaraan.


"Mama Adi? Siapa?" tanya Agam lupa.


"Itu... Mama Adi mantanku dulu."


Wajah Agam langsung berubah, bahkan dia mengira kalau Kiara di ajak untuk menikah dengan Adi. perasaan cemburu langsung merasuki jiwanya.

__ADS_1


Bersambung...


Tentu saja dia tidak akan


__ADS_2