Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Sidang Perusahaan


__ADS_3

Hingga akhirnya Burhan pun memutuskan untuk pamit pulang dari kantor polisi, dia bertekad akan mengeluarkan Clara dari jeruji besi tersebut, karena Clara adalah wanita yang pernah dicintainya dulu waktu kecil.


"Bersabarlah, aku pasti akan mengeluarkan mu dari sini!" ucap Han.


"Terima kasih Han, kau tahu kan aku tidak bisa hidup susah? Aku ingin kamu mengeluarkan aku dari sini, aku sangat frustasi," keluh Clara.


"Baik, Clara."


"Bagaimana mungkin aku makan nasi yang seperti itu? bagaimana mungkin aku tidur tanpa selimut hanya beralaskan lantai keramik?" keluhnya lagi.


"Baiklah, kau tunggu saja, aku juga harus mencari pengacara hebat agar kau bisa keluar dari sini," sahut Han.


"Terima kasih sekali lagi."


"Sama-sama, Aku tinggal dulu ya!"


"Tolong tepati janjimu, jangan seperti Mas Agam, dia pergi dan nggak kembali hingga sekarang."


"Baiklah aku pulang."


Han pun pergi meninggalkan Clara dalam kesedihan, matanya pun terus berkaca-kaca menatap kepergian lelaki yang dulu pernah memohon cinta padanya, kini ternyata Claralah yang balik memohon pertolongan pada lelaki itu.


***


Beberapa hari telah berlalu, tampak Aswin dan juga Alex berada di persidangan untuk memperebutkan perusahaan yang sekarang ada di tangan Alex, semua salinan berkas-berkas dari Alex dan juga Aswin sudah di tangan masing-masing pengacara.


Sebenarnya Alex merasa ketar-ketir karena beberapa kali Aswin sudah memperingatkan kepada Alex, bahkan surat-surat asli yang ada di tangan Aswin pun pernah difoto dan dikirim ke telepon Alex, namun Alex tetap tidak menyerah, dia bersikeras bahwa surat yang ada di tangannya adalah yang asli, sedangkan Alex berpikir kalau Aswin membuat surat-surat palsu, agar surat itu seperti tampak asli.

__ADS_1


Sidang pun dimulai masing-masing dari pengacara kedua belah pihak, tampak tegang. Semua berkas lun sudah masuk ke kejaksaan. Dan akan di bacakan hari ini.


"Alex, sebaiknya kau menyerah saja. Aku tidak ingin kau menangis di sini," sindir Aswin lada sang adik.


"Cui*h... Jangan mimpi kau? Dasar penipu! Kau pikir aku bisa kau bohongi?" ketus Alex tetap tidak mau mengalah.


"Aku hanya memberimu kesempatan, kau telah mengusir anak dan istriku, aku tidak akan memaafkan mu, kalau sampai kau kalah dalam sidang ini, maka aku akan menangkap mu dan menjebloskan mu ke penjara!" ketus Aswin geram.


"Terus saja menghayal, kau akan jatuh ke dasar jurang dan tak bisa bangkit lagi," sindir Alex.


Sementara di ruangan yang sama, tampak seorang lelaki sedang duduk paling belakang, dan menyaksikan sidang tersebut dengan cemas. Siapa dia?


3 jam sebelum sidang...


"Agam, apa kau tau? Ada seseorang yang,mengaku pemilik perusahaan mu datang dan melaporkan Alex pamanmu, katanya dialah pemilik asli perusahaan mu itu," ucap Hendry saat Alex sedang sibuk menyapu.


"Aswin namanya, apa kau,mengenalnya?"


"Aswin? Oh... Aku baru mendengar nama itu, baiklah, aku permisi pak," ucap Agam sambil berlalu membawa peralatan sapunya.


Kini Agam ada di ruang sidang ini, menyaksikan Ayahnya sedang berjuang untuk mendapatkan perusahaan itu kembali. Sebenarnya, Agam sudah bersiap, kalau seumpama jasanya akan di perlukan di sidang ini. Karena dia juga kasian pada sang Ayah.


Perdebatan antara pengacara Aswin dan Alex memanas. Semua sudah di bacakan dan karena belum ada titik terang, akhirnya sidang di tunda hingga minggu depan.


Aswin pun pergi dengan santai dan tenang. Sementara Alex tampak berkeringat dingin. Dia semakin gemetar, ketika semua bukti mengatakan kalau memang benar, berkas yang ada di tangannya adalah palsu.


Jaksa menjelaskan, kalau perusahaan itu tidak pernah di alihkan atas nama Agam sebelumnya. Melainkan masih jadi milik Aswin. Lalu kenapa ada berkas yang mengatakan kalau perusahaan dan rumah itu adalah milik Agam?

__ADS_1


Agam pun keluar dengan memegangi topinya. Dia takut ada yang melihatnya. Sambil berdesakan dengan beberapa orang yang juga ingin keluar, tiba-tiba tubuh Aswin goyah dan sempoyongan.


Brugh


Aswin hampir terjatuh, dan untung saja Agam menangkapnya. Agam memeluk tubuh renta itu kuat, dan membawanya ke tepi jalan.


"Pak!" panggil Hasan khawatir.


"Hasan... Kalau aku meninggal sedang aku belum memenangkan pertandingan ini, tolong kau teruskan ya!" pinta Aswin pada Hasan.


Sementara Aswin tidak menatap lelaki yang memangkunya itu. Karena posisi Aswin bersandar di dada Agam.


"Iya Pak, aku akan memperjuangkannya, aku akan mencari ahli waris bapak sampai dapat," sahut Hasan.


"Terima kasih, aku mungkin hanya kelelahan saja, karena harus memikirkan anak dan istriku, dan juga sidang ini."


Aswin pun di suguhkan minuman air putih oleh orang yang merasa kasian padanya.


"Ayo kita pulang!" ajak Aswin sambil bangun dan berdiri pelan.


"Agam masih memapah tubuh tua itu. Hatinya bergetar tak karuan, ada perasaan kasian, namun rasa kasian itu berubah ketika dia ingat wanita seksi yang meninggal satu mobil dengan ayahnya dulu.


"Terima kasih anak muda," ucap Aswin saat sudah sampai di mobil butut milik pesantren Hasan.


Agam hanay mengangguk, namun tiba-tiba Aswin memperjelas tatapannya ke wajah Agam, seakan dia mengingat-ingat sesuatu.


"Kenapa aku seperti mengenalmu?" tanya Aswin pada Agam.

__ADS_1


Agam pun segera memperbaiki posisi topinya dan menunduk.


__ADS_2