Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Sedang di Buntuti.


__ADS_3

Kiara langsung menghapus air matanya, dia tidak ingin Fathan tahu kalau dia sedang menangis, dia akan bicarakan ini dengan pelan-pelan dengan anak kandungnya tersebut.


"Oh, tidak kok, ini cuma kecepretan air cuci piring saja," sahutnya.


"Oh ya, Bunda, Aisya belum pulang?" tanya Fathan.


"Belum, katanya nanti mungkin sekitar jam 01.00 an, kenapa kamu pulang lebih awal? apakah tidak mengantar Naira dulu?" tanya Kiara.


"Sudah Bunda, tadi aku langsung antar dia ke rumah, dan pulang kesini," sahutnya.


"Oh iya, bagaimana reaksi orangtuanya kau belikan Naira motor besar? apa dia bisa memakainya?"


"Dia belum bisa Bunda, dia kan belum pernah punya motor, mungkin nanti dia harus belajar dulu."


"Kamu juga sih, yang salah, dia kan belum pernah punya motor? seharusnya beliin dulu yang kecil, masa langsung dibeliin yang gede? pasti sangat berat bagi dia, apalagi tubuhnya tuh kan lumayan kurus."


"Iya Bun, aku juga tidak tahu kalau baru pertama belajar itu pasti sangat kesulitan, kalau makai motor gede, mungkin nanti ada temennya yang ngajarin dia. Biar dia bisa kuliah sendiri, aku kan sekarang sedang sibuk ngantor, lagian kami juga beda jurusan, jadi nggak bisa selalu antar jemput dia."


"Iya, nggak enak juga kalau kamu sering ke sana, nanti malah dikatain orang-orang. Apalagi ayahnya itu imam masjid di lingkungannya kan?" sahut Kiara.


"Ya Bunda."


"Kamu mau makan?"


"Aku masih kenyang Bunda, aku mau ke kamar dulu."


"Iya."

__ADS_1


Fathan pun berbalik meninggalkan dapur, sementara Kiara menatap punggung sang anak sedih.


"Apa mungkin itu adalah tulisanmu Fathaan, tapi mengapa kata-kata seperti itu kau terus di buku? bahkan di sana tertulis seakan-akan kau ingin membalas sakit hati Mbak Cara padaku?" batin Kiara lagi.


Perasaan Kiara kini benar-benar tidak karuan.


"Sayang... kau melamun?" tanya Agam yang baru datang ke dapur.


"Oh tidak. Mau makan Bang?" tanya Kiara.


"Iya, laper nih, aku memang selalu laper kalau ingat masakanmu Sayang," goda Agam.


Kiara pura-pura tersenyum, walau sebenarnya pikirannya seperti air terjun yang bergemuruh kacau tidak karuan.


Kiara pun mengambilkan nasi dan juga lauk pauk kesukaan sang suami.


"Belum tau Bang, nanti nunggu Aisya pulang dulu," sahutnya pelan.


Terlihat wajah Kiara mulai tidak bersemangat untuk pergi membeli perlengkapan lamaran Fathan, apakah dia mencurigai Fathan memang berniat jahat padanya?


"Ooh, beli yang mahal dan bagus ya!" pinta Agam.


Namin ternyata Agam tidak menangkap signal Kiara yang kurang baik moodnya.


"Iya pasti Banh," sahut Kiara.


Tak berapa lama. Agam sudah menghabiskan makannya. Terdengar Azan Zuhur dari kejauhan, Agam dan Kiara segera mengambil wudhu dan sholat berjemaah di musholla kecil di dekat ruang keluarganya.

__ADS_1


Kiara tampak khusus berdoa untuk keselamatan dan kedamaian keluarganya.


"Assalamualaikum, Bunda, Gadis cantik mu sudah datang nih?kau di mana?" panggil pelan Aisya dari ruang utama.


Aisya selalu mencari Kiara kalau baru datang, baginya Wajah Kiara itu adalah penawar segala lelahnya.


"Waalaikumsalam, lagi sholat Nak!" sahut Kiara yang sudah selesai berdo'a.


Aisya pun bergegas mendatangi arah suara dan salaman, sambil cipika cipiki.


"Kita jadi berangkat Bunda?" tanya Aisya.


"Ya jadi, sana kamu makan dulu!"


"Aku sudah makan Bunda, sekarang saja, biar tidak kemalaman," sahut Aisyah.


"Oke, Bunda ganti baju dulu," Ucap Kiara sambil berjalan meninggalkan musholla mini.


Tak berapa lama Kiara sudah tampak menggunakan,baju syar'inya dan kerudung panjangnya yang menutupi dada, tampak cantik walau,tanpa riasan mike up sedikit pun.


Setelah berpamitan sama Agam, mereka oun berangkat pergi menuju mall.


Mereka tidak menyadari, dari keberangkatannya tadi, telah di ikuti oleh seseorang yang mengintai di balik Hilem ninjanya.


"Apa kau berhasil mengikuti jejak mereka?" ucap seseorang,dari,sebrang telepon.


"Iya Bos, aku sudah berada tepat di belakang mereka," sahut orang itu.

__ADS_1


Nex


__ADS_2