Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Tak apercaya


__ADS_3

Clara masih terlihat Syok kaget, kakinya kaku berdiri di tempat, saat mendengar Agam mengatakan akan berbulan madu dengan Kiara ke Luar Negeri. Rasa tak percaya seakan mimpi bagi Clara, di tinggalkan oleh suaminya untuk berlibur tanpa dirinya, bahkan kali ini suaminya dengan istri muda yang telah ia jodohkan sendiri.


Sementara Agam tak sedikitpun menatap mata istrinya, karena sesungguhnya dia tidak sanggup melihat wanita itu terluka, dia pun memasukkan tasnya ke dalam bagasi mobil.


"Kiara! Ayo Sayang! sini tasnya!"ucap Agam pada Kiara.


Sebenarnya perkataan itu sengaja dibuatnya, agar Clara tahu, inilah api yang dia buat sendiri. Sementara Clara semakin sok saat mendengar Agam memanggil Kiara sayang. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Clara untuk memarahi Agam, karena dia lah yang telah memilih jodoh untuk suaminya itu. Semua itu, dialah yang mengawalinya.


"Oh ya, Clara ..., mungkin kami akan berlibur selama satu minggu, jadi tolong sesekali kau pergi ke kantor untuk melihat kondisi kantor," ucap Agam.


Kemudian Agam berjalan ke depan dan membukakan pintu untuk Kiara, tanpa menunggu jawaban dari Clara.


"Masuklah!" ucap Agam pada Kiara.


Kiara pun menatap Clara sebentar, karena merasa takut, kalau Nyonya itu marah. Namun Clara sudah menguatkan hati dan mengangguk pada Kiara, pertanda dia menyuruh Kiara agar mematuhi Agam.


Clara berusaha menyembunyikan rasa cemburunya, dia hanya menatap Kiara datar, sebenarnya ada butiran air mata yang hampir menetes.


"Kiara, Cepatlah! Nanti kita terlambat," panggil Agam lagi.


akhirnya Kiara pun masuk ke dalam mobil, setelah di dalam mobil, Agam pun menutup pintu dan segera masuk ke ruang kemudi.


"Clara, kami pergi dulu ya, pamit Agam pada Clara. Clara tidak bisa menjawab, Dia hanya mengangguk dan menatap kaca spion, karena tangisnya seakan mau pecah, setelah kepergian Agam, akhirnya air mata Clara pun jatuh, dia terduduk di tanah dan terisak, air matanya pun bercucuran.


"Ya Tuhan ..., apakah ini salahku? mengapa Agam begitu padaku? mengapa dia tidak memberitahuku kalau dia akan bulan madu bersama Kiara? Apakah mereka sudah melakukannya? tapi kata Kiara tadi malam, mereka tidak melakukan apa-apa."


"Nyonya, Kenapa Nyonya di sini? apa yang terjadi?" ucap bibi.


Tiba-tiba Bibi datang dan mendekati Clara, sementara Clara terus terisak. Dan beberapa kali menyeka air matanya.


"Ayo kita masuk ke dalam Nyonya!" ajak Bibi.

__ADS_1


Akhirnya bini membantu Clara bangun, dan berjalan ke dalam.


"Bibi ..., Aku tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi? Mas Agam pergi dengan wanita itu Bi. Bahkan dia tidak memberitahuku, kalau mereka akan berbulan madu, apakah Agam sudah mengurangi cintanya padaku? Apakah dalam bulan madu mereka itu, Agam akan melupakan aku, dan menerima wanita itu?" tanya was-was Clara.


"Nyonya ..., Tuan Agam itu sangat mencintai Nyonya, tiba-tiba saja Nyonya menjodohkan dia dengan wanita lain, mungkin perasaannya pun sama sakit dengan Nyonya, karena dia harus menerima wanita lain pilihannya Nyonya."


"Tapi ini demi dia juga Bi," ucap Clara.


"Mungkin dia terpaksa Nyonya, mungkin dia sangat kesal pada Nyonya, namun dia tidak bisa marah pada Nyonya," ucap Bibi.


"Tapi melihat perlakuan Agam tadi l, sepertinya dia memang menyukai wanita itu, dia bahkan membukakan pintu untuknya, seperti dia memperlakukan pintu untukku."


"Nyonya, jangan su'uzhon, Nyonya berdoa saja, mudahan wanita itu menepati janjinya, ketika wanita itu hamil dan melahirkan, maka semua urusan dengan wanita itu sudah selesai," ucap bibi.


"Aku merasa sangat takut Bi, Kalau ternyata Mas Agam akan meninggalkanku. Bahkan dia pernah bilang padaku. Apakah aku siap kalau seandainya dia benar-benar tergoda oleh wanita itu? Dia pernah mengatakan itu padaku Bi," ucap Clara.


"Mungkin itu bentuk kecewanya pada Nyonya, Nyonya telah menjodohkannya begitu saja tanpa sepengetahuannya," ucap bibi menghibur.


Sementara di perjalanan, Agam dan Kiara tampak fokus ke jalanan. Kiara Diam seribu bahasa, dia tidak berani berkata apa-apa, karena melihat ekspresi dingin Agam dari saat memasuki mobil.


"Kiara, kau jangan ge-er, karena aku telah memanggilmu sayang tadi, aku hanya ingin menghargai pemberian dari istriku, karena dia telah memilihmu untukku, maka aku akan bersikap baik di hadapannya, ingat itu!" ketus Agam pada Kiara.


"Iya Tuan," sahut Kiara.


Agam terus fokus ke jalanan. Sementara Kiara pun kini mulai mengantuk, hingga akhirnya dia tertidur, namanya juga tidur, pasti tidak sadar kemanakah arah kepalanya bolak-balik. Tiba-tiba


Bugh


Kepala Kiara menyandar di pundak Agam, sehingga wangi sampo Kiara tercium oleh Agam, ketika Agam spontan menoleh ke samping kiri, wangi rambut yang begitu harum, entah mengapa Agam sangat menyukai wangi rambut Kiara itu.


Agam pun terdiam sejenak, membiarkan kepala itu bersandar di pundaknya, sesekali dia akan menoleh ke kiri dan menghirup aroma rambut Kiara, kemudian dia saling bergantian antara menatap jalanan dan mencium aroma rambut itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan ..., apa ini? kenapa wanita ini tertidur di pundak ku?" gumamnya pelan.


Namun saat dia menabrak lobang, maka saat itu juga kepala Kiara oleng dan hampir terjatuh dari pundaknya, dengan spontan Agam pun meraih kepala itu, hingga tangan Agam menyentuh pipi Kiara yang sangat lembut, Pipi Seorang Gadis yang tidak pernah memakai Skin Care atau pelapis bedak lainnya. Karena dia hanya menggunakan bedak bayi karena keterbatasan ekonominya sebelumnya.


"Lembut sekali pipinya? tidak seperti pipi istriku, yang Kadang kasar kadang berminyak dan apalah?" batin Agam.


Dia terus meletakkan tangannya di wajah Kiara, tanpa dia sadari, kimi dia sangat mengagumi harum rambut Kiara, dan kelembutan pipi Kiara.


Setelah perjalanan 1jam, akhirnya Mereka pun sampai di bandara, dia berhenti di sebuah parkiran inap, karena dia akan meninggal Mobilnya di sana, saat berhenti, Kiara mulai terbangun, tanpa sadar, Kiara pun menggeliat dan menarik kepalanya dari bahu Agam, sebelum membuka matanya. Agam pun turun dan membuka bagasi, mengeluarkan koper Kiara dan kopernya.


Selesai mengambil koper, Agam pun menutupnya kembali, Dia berjalan mendatangi tukang parkir dan menitipkan mobilnya untuk satu minggu.


Agam belum menemukan Kiara turun dari mobilnya, sehingga Agam pun kembali menengok ke dalam mobil.


"Ya Tuhan ..., kenapa dia nyenyak sekali? Bukankah dia sudah tidur 1 jam lebih?" ucap Agam.


"Hey ... Kiara, bangun! kita sudah sampai, Ayo cepat! Nanti kita terlambat," panggil Agam.


Namun Kiara tetap belum bangun, hingga akhirnya Agam pun terpaksa berjalan ke sebelah Kiara dan membuka pintu, dan menepuk pundak Kiara pelan, namun juga tidak bangun, semakin keras hingga akhirnya Kiara pun terbangun.


"Tuan! Ada apa?" tanya Kiara sambil mengelap mulutnya, karena dia merasa ada iler di sana.


"Heh jorok," ketus Agam.


"Ha?" heran Kiara.


"Cepat! Kita sudah sampai," ucap Agam lagi.


Akhirnya mereka pun pergi menuju bandara. Agam yang memang dingin dan membiarkan Kiara membawa sendiri pakaiannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2