
Sepertinya Clara baru saja ingin pergi meninggalkan rumah, namun saat melihat Agam sudah datang, dia pun menyambut suaminya itu dan menggandeng lalu membawanya masuk.
"Kau mau ke mana Clara?" tanya Agam.
"Tidak kemana-mana kok, cuma mau duduk santai di depan teras saja," ucap Clara.
"Oh iya. Apakah Mamah ada menelpon mu? kapan dia balik?" tanya Agam.
Karena mama Agam sudah beberapa hari ini sedang berada di luar kota, bersama teman-temannya, liburan di sebuah Villa. Maklum, beliau adalah sosialita tingkat tinggi.
"Mama belum ada mengabari, mungkin Mama akan pulang lusa depan, sepertinya mereka menikmati liburan kali ini, karena kau telah memberikan Villa untuk mama," ucap Clara.
"Mamah juga tidak ada menghubungiku, aku belum berbicara langsung dengan Mamah masalah Kiara, Mamah belum menanggapi masalah Kiara," ucap Agam.
"Mama sudah tau kok, dia sudah bertanya padaku, dan aku sudah menjelaskannya dengan rinci, dia mau menerima saja semua keputusan yang aku ambil, dan mungkin ketika aku juga menyuruh wanita itu pergi, Mama juga akan setuju kok," ucap Clara percaya diri.
"Jangan bahas itu lagi, sekarang aku ingin istirahat," ucal Agam.
Dia pun melerai tangannya dari tangan istrinya tersebut. Seraya berjalan cepat meninggalkan Clara di ruang tamu, sambil berjalan, Agam pun sempat menatap sekilas kamar Kiara.
Sebenarnya mungkin tadi dia ingin menemui Kiara. Namun sayang, Clara lebih dulu mencegatnya di depan pintu utama.
***
Pagi ini seperti biasa, tampak Kiara sudah memasak berbagai macam menu makanan, untuk disediakan pada suaminya, Agam. Bekal pun juga sudah disiapkan oleh Kiara di sebuah wadah bertingkat, untuk dibawa Agam ke kantor.
Tempat jam 07.30, Agam sudah turun, tak biasanya jam segini Agam sudah siap, secara biasanya dia akan siap-siap dan turun untuk makan jam 09.00 pagi, karena perusahaan itu adalah perusahaannya sendiri, dia adalah Bosnya, jadi suka-suka saja kalau mau pergi ke kantor, tapi hari ini tampaknya dia bangun lebih awal.
"Hello Bi!" sapa Agam, namun matanya melirik Kiara mencuri pandang.
Sementara Kiara tampak merasa malu, dia hanya menunduk kemudian mengambilkan piring nasi dan juga berbagai macam lauk, sedikit demi sedikit, di sisi piring Agam.
"ni Bang, makanannya," ucap Kiara.
"Bibi, kau boleh pergi meninggalkan dapur!" titah Agam.
Bibi pun menatap Kiara sejenak, kemudian menunduk.
"Ya Tuan," ucap bibi.
Bibi pun pergi meninggalkan dapur, menuju ruang belakang untuk mencuci pakaian, dan menjemurnya.
"Kiara. aku merasa tidak puas dengan sahutan mu tadi. Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu itu, Kiara," ucap Agam.
__ADS_1
Kiara tampak bingung dong, bagaimana cara menyampaikannya, kalau cuma ditulis kan bisa saja sembarang menulis, tapi kini Kiara malah disuruh mengucapkan dengan mulutnya sendiri.
"Bang, aku tidak bisa mengatakannya."
"Kenapa tidak bisa? bukankah kau tadi menulisnya sendiri? atau jangan-jangan bibi yang mengetik pesan untukku? ha ha ha," ucap Agam sambil tertawa.
"Itu memang aku yang mengetik nya, tapi aku merasa gugup kalau sudah berhadapan dengan Anda," ucap Kiara.
"Kiara, aku mencintaimu, sampai kapanpun aku akan mempertahankan mu, jadi jangan berpikir kau untuk pergi dari sini, kau akan melahirkan anakku atau tidak? aku akan tetap mencintaimu dan menahan mu di sini!" ucap Agam.
Kata-kata itu spontan saja membuat hati Kiara berbunga-bunga, perasaan takut yang selama ini dia rasakan, hilang sirna begitu saja, perasaan khawatir kalau nanti dia malah dibuang setelah melahirkan, Pupus begitu saja, yang jelas sekarang.
"Aku sangat bahagia Bang, aku juga mencintaimu," lirihnya.
Sangat pelan, walau begitu, suara tersebut terdengar sangat merdu di telinga Agam.
"Apa? Aku tidak mendengarnya, Kiara tolong lebih nyaring lagi," ucap Agam.
"Bang, aku mencintaimu," ucap Kiara lebih nyaring.
Namun lagi-lagi Agam menggodanya.
"Kiara kok berbisik? Aku tidak mendengarnya," goda Agam dengan memasang wajah cuek.
"Hari ini kau ikut aku ke kantor ya!" ajak Agam tiba-tiba.
"Ke kantor? untuk apa?"
"Agar kau tahu perusahaan milik suamimu ini, perusahaan seperti apa? aku juga akan mengenalkan mu pada karyawan," ucap Agam.
"Apa? Tidak Bang, aku tidak mau takut, nanti mereka malah bicara macam-macam," ucap Kiara.
"Mereka tidak akan berani bicara macam-macam, kau adalah istriku! tidak mungkin mereka berani macam-macam, kalau mereka berani macam-macam, dan mengatakan yang tidak tidak tentangmu? aku akan memecatnya seketika itu juga," ucap Agam.
"Tapi Bang...."
"Hari ini kau harus ikut denganku, titik, sekarang ayo makan! selesai makan, kau siap-siap," titah Agam tidak menerima penolakan.
"Tapi aku belum mandi," ucap Kiara.
"Setelah makan, mandi, jangan cerewet, Ayo cepat!"
Terpaksa Kiara pun menuruti semua permintaan Agam, dia pun makan setelah makan kemudian dia pergi ke kamarnya, dan bersiap, dia memilih baju yang paling bagus yang dia rasa cocok untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Tapi kan dia hanya punya celana katun dan baju blus biasa. Akhirnya baju itulah yang dia pakai untuk ke kantor Agam, saat Kiara keluar, tampak Agam sudah menunggu di depan kamar, duduk di sebuah kursi yang memang ada di depan kamar Kiara.
"Ayo!" ajak Kiara.
Agam pun menggandeng tangan Kiara. kini Agam sudah tidak memperdulikan lagi tentang omongan orang lain, hari ini dia bertekad untuk memperkenalkan Kiara kepada semua karyawannya, mereka sudah tampak di dalam mobil, dan melajukan mobilnya menuju kantor Agam.
"Kiara apapun yang kau dengar di kantor nanti, kau tidak boleh memasukkannya ke dalam hati, ingat! kau bukan orang sembarangan, karena kau dipilih oleh Clara untuk menjadi Ibu dari anakku, jadi kau harus percaya diri. Clara itu bukan orang sembarangan, dia memilihmu dengan instingnya, karena dia orang yang sangat hati-hati dalam menilai seseorang," ucap Agam.
"Iya Bang."
Sesekali Agam meraih tangan Kiara dan mengelus lembut, sepertinya Agam benar bucin saat ini, begitu juga Kiara. Dia sangat bahagia bisa duduk berdampingan dengan suaminya sendiri, tak berapa lama, mereka pun sampai di depan sebuah gedung yang sangat besar, bahkan mungkin gedung itu bertingkat tidak kurang dari 7 tingkat.
"Lihatlah ini! Ini adalah perusahaan suamimu! semua yang ada di sini adalah milikku, setiap tingkat gedung ini memiliki fungsi masing-masing, setiap tingkat di sini juga mereka memantau perusahaan cabang," ucap Agam.
Agam pun membawa naik Kiara memasuki lift, dan menuju sebuah pintu yang tertutup rapat. Kiara tidak tahu kalau sebenarnya di dalam ruangan itu semua karyawan sudah berkumpul, karena ini adalah kejutan buat Kiara.
Saat pintu dibuka oleh security, alangkah kagetnya Kiara, saat melihat semua mata memandang ke arahnya, ada ratusan karyawan yang hadir di sana.
"Ya Tuhan, apaan ini? apa yang Tuan Agam lakukan?" liriknya dalam hati.
Dia nampak gugup, gemetar, sampai dia pun *******-***** jemarinya untuk menenangkan diri.
"Halo semuanya. Perkenalkan, ini adalah Kiara, Kiara adalah istri yang dipilihkan oleh istriku Clara untuk mendampingiku. Apakah kalian paham maksudku?"
Semua orang terdiam. Mungkin merwka tidak mengerti.
"Baiklah, mungkin kalian kurang mengerti. Kiara adalah istri mudaku, yang dipilihkan Clara untukku," ucap Agam.
Tampak beberapa orang pun membuka mulutnya membentuk huruf ,o dan terciptalah bisik-bisik yang ada di belakang sana.
"Tidak mungkin Nyonya Clara menikahkan suaminya sendiri kan?"
Bisik-bisik itu begitu ramai terdengar di belakang, walaupun Agam dan Kiara tidak bisa mendengarnya, namun dari tatapan mereka Kiara bisa menebaknya, bahwa mereka mengatakan bahwa Kiara adalah pelakor.
"Dengar kalian! Aku tidak ingin ada kalian bisik-bisik di belakang, perlu kalian tahu, aku tidak ingin kalian menilai Kiara adalah seorang pelakor, tidak! dia adalah istri keduaku, istriku Clara lah yang telah memilihnya untukku, Kalian paham? sekian, aku tidak perlu menjelaskan lebih banyak, karena ini adalah urusanku, bukan urusan kalian, bekerja saja yang rajin!" ketus Agam.
Agam pun menggandeng Kiara dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kiara. kenapa tanganmu dingin sekali?" tanya Agam, dia menyadari kalau sekarang Kiara tampak nervous.
Agam pun membawa Kiara ke ruangannya, setelah masuk Agam pun menutup pintu dengan rapat. Agam *******-***** tangan Kiara agar menenangkan wanita itu, yang tampak gugup, namun tatapan Agam ternyata jatuh kepada bibir merah merona yang ada di depannya, membuat hatinya berdetak tak karuan, pelan dan pasti Agam pun mendekati bibir merah merona itu, dan mencicipinya pelan, sementara Kiara hanya terdiam merasakan semua sentuhan yang diberi oleh suaminya sentuhan pertamanya.
Bersambung
__ADS_1